
Cinta Karena Kesalahan
Bab 3
3 bulan sebelum kepindahan Keira ke kota..
Ia sedang memeluk dirinya sendiri, terduduk di pojok lantai kamarnya dan menghadap ke arah tembok. Tatapan matanya kosong, hanya meratapi dinding kamar yang telah usang tanpa arti apa-apa. Gadis itu berharap bahwa hari ini hanyalah mimpi buruk dan ia berharap akan segera terbangun dari mimpi tersebut, lalu bisa melihat kehidupannya yang masih sama seperti hari kemarin. Disaat Ibu masih menyapanya dengan senyuman hangat. Sayang ia tak pernah benar-benar terbangun, karena ini adalah kenyataan yang harus ia hadapi seorang diri.
Beberapa jam yang lalu, Ibu Keira telah pergi untuk selama-lamanya karena sakit jantung yang tidak pernah ia ketahui.
Ibu Keira bernama Namira Ayu, seorang Ibu tunggal yang harus bertahan hidup dengan berjualan kue basah di pasar demi memenuhi kebutuhan putri kesayangannya. Beruntungnya Keira tumbuh besar menjadi gadis pengertian yang tak suka akan kemewahan sehingga sangat membantu Namira untuk menyambung kehidupan mereka. Selain itu Keira juga gemar menoreh prestasi agar bisa mendapatkan beasiswa dengan maksud menekan biaya sekolah sampai seringan-ringannya. Keira berharap, kepintarannya akan membawa ia dan Namira keluar dari permasalahan ekonomi yang acap kali menghimpit hari mereka. Sekarang semua hanyalah mimpi indah yang tidak akan pernah terwujud. Ibunya sudah pergi untuk selama-lamanya bahkan sebelum Keira lulus sekolah menengah.
Tuhan pasti membencinya. Dari milyaran juta manusia yang hidup di muka bumi, mengapa harus Ibu yang diambil? Ia hanya memiliki Ibu dan rumah sederhana sebagai harta yang paling berharga di hidupnya.
"Jangan melamun terus, nanti kau kerasukan." Suara bariton anak laki-laki yang mengejutkan Keira, membuatnya menoleh ke belakang.
Di ambang pintu ia melihat, ada seorang anak laki-laki tinggi jangkung sedang menatapnya tanpa ekspresi. Kulit putih, hidung mancung dan bibir tebal yang terlihat tidak asing meski ia tak mengenalnya. Siapa dia?
"Hei, jaga bicaramu." Tak lama muncul laki-laki paruh baya yang sepertinya dikenali Keira. ".. Keira, apa kau baik-baik saja? Apa kau sudah makan?" Katanya sambil mengulas senyum di wajah menua laki-laki tersebut.
Keira terdiam membisu masih dengan menatap kosong kedua anomali yang terasa asing meski familiar di matanya. Dalam benaknya Keira mengisi tanya, sedang apa mereka berdua ada di kamarnya? Siapapun mereka, ia merasa sangat terganggu.
Laki-laki paruh bayar itu kembali angkat suara. "Aku tahu kau marah padaku. Ini sudah kesekian tahun aku tidak lagi bersamamu, melihatmu dan menjalankan peranku sebagai seorang Ayah yang seharusnya. Tapi aku berjanji, mulai hari ini kita akan membangun kembali keluarga kita. Aku akan ada bersamamu sampai aku mati, Keira." Ia berkata seraya ingin mengusap pucuk kepala Keira, namun gadis itu menghindarinya.
Sekarang ia ingat, laki-laki ini adalah manusia pertama di muka bumi yang paling ia benci setengah m*ti. Laki-laki paling egois yang menggunakan kekuatan keluarganya yang berpengaruh untuk memisahkan Ibu, Keira dan adik laki-lakinya demi sebuah ego. Dia Ayah kandung Keira. Ayah yang rela menceraikan Ibu dan memaksanya pergi jauh bersama Keira dengan sejumlah ancaman yang sungguh-sungguh dilakukan. Seperti membakar rumah sewaan mereka berdua sampai tidak tersisa.
Keira menatap kosong wajah Ayah yang seperti tak memiliki urat malu, menemuinya setelah membuang ia dan Ibu selama 11 tahun. Apakah ada ego yang lain dalam diri Ayah hingga ia menebalkan muka dengan menemuinya?
"Biarkan saja dia, Ayah. Biarkan dia merasa sendirian sampai m*ti di tempat kecil dan sempit seperti ini," Ucap remaja laki-laki yang Keira sadari, seperti Ayah versi muda. Terlihat angkuh dan sangat kasar.
"Kau diamlah! Hari ini Ibumu yang meninggal dunia, tidakah kau sedikit bersedih?" Ayah menegur anak laki-laki tersebut, yang ternyata adik Keira.
"Tidak," Ucapnya, benar-benar tanpa menunjukan emosi apapun. Datar dan menjengkelkan untuk dilihat.
Ayah menghembuskan nafas kasar seraya berkata. "Astaga.."
Keira menyunggingkan sebelah ujung bibirnya ke atas sepintas lalu. Seperti inikah cara keluarga Ayah membesarkan adik laki-lakinya? Dahulu ketika perceraian itu terjadi tepat diusia Keira yang ke 6 tahun dan adiknya, 5 tahun. Ibu dan Ayah memperebutkan hak asuh anak namun Ayah hanya meminta adik Keira untuk tinggal bersamanya. Ayah dan keluarganya memperjuangkan hak asuh tersebut m*ti-m*tian sampai menggunakan cara paling haram sekalipun agar memenangkan hak asuh. Tentu saja, yang punya uang maka ia yang akan menang. Hal lumrah yang selalu terjadi di negeri berkembang, bukan?
Ia bersyukur tidak hidup lama di lingkungan keluarga Ayah setelah melihat tingkah laku adik laki-lakinya yang kurang bisa berempati pada duka oranglain.
"Keira, kau tinggal sendiri sekarang. Bagaimana jika kau tinggal kembali bersama Ayah? Aku janji kali ini, aku akan merawatmu dengan baik. Kita bangun kembali keluarga kita meski tidak akan seutuh dulu, tapi Ayah akan berusaha melindungi kalian berdua. Ayo nak," Ayah mengulurkan tangannya di hadapan Keira.
Butuh waktu setidaknya satu menit sebelum Keira menerima uluran tangan tersebut. Selain ucapannya yang ada benarnya juga. Keira memang sudah tidak memiliki siapapun kecuali Ayah dan adiknya, namun ia mempertimbangkan hal lain. Balas dendam. Ia ingin balas dendam dengan semua keluarga Ayah dengan menunjukkan kepada mereka, bagaimana Ibu mendidiknya dengan baik sedangkan mereka gagal. Melalui perbedaan sikap antara Keira dan adiknya, mereka akan tertunduk malu dan membungkam semua mulut sampah keluarga Ayah.
Anda Mungkin Juga Suka





