Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Joanna

Cinta Joanna

Dunia Joanna Alexander seketika hancur berkeping-keping saat mendapati kekasih yang sangat dicintainya tega berkhianat dengan teman dekatnya sendiri. Namun, penderitaan Joanna tidak berhenti di situ saja. Sebuah rahasia besar yang telah disembunyikan orang tuanya selama belasan tahun akhirnya terungkap ke permukaan. Di tengah badai emosi yang mengguncang hidupnya, mampukah Joanna melapangkan dada dan memaafkan kesalahan besar orang tuanya tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pov¹ Joanna

Sinar matahari menusuk mataku melalui celah jendela kaca. Aku yang terjaga dari tidur nyenyak aku, langsung mengucek mataku karena silaunya matahari.

Suara burung berkicau saling bersahut-sahutan, bertambah asrinya dipagi hari ini.

Beberapa kali aku menguap besar, dengan mulutku yang terbuka lebar.

Segera aku menutupnya dengan kedua telapak tanganku.

Rasa pegal diseluruh tubuhku sangat terasa, mungkin akibat kecapean semalaman berjalan kesana-kemari, dengan memakai sepatu hak tinggi.

Aku segera meraih benda berbentuk segi panjang di atas meja tidurku, dan betapa terkejutnya aku saat melihat angka yang tertera dilayar kaca handphoneku.

"Sshhhttt.." umpatku.

Aku segera bangun dari tempat tidurku, lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Segera aku menguyurkan tubuhku dengan air hangat yang berasal dari shower.

Lima belas menit kemudian, aku sudah siap dengan ritual mandi pagiku. Tubuhku juga sudah terasa enakan sedikit. Tidak pegal-pegal lagi seperti saat bangun dari tidur tadi.

Aku segera memilih baju untuk aku gunakan sekarang, aku menelisik satu persatu pakaianku kira-kira mana yang cocok untuk aku gunakannya.

Pilihanku jatuh pada celana jeans import dari Amerika, dan kaos oblong biru polos. Tidak lupa sedikit aksesoris di rambutku, dan juga jam tangan mahal hadiah dari sang kekasih.

Polesan makeup tipis juga tidak lupa, terus lip balm biar bibirku tidak mengering. Sekarang aku sudah siap dengan rapi dan tentunya juga terlihat berkelas.

Aku bukannya sombong ya say, tapi aku hanya sedikit nge-share sama kalian, kalau aku ingin berjumpa dengan Jacobs tentunya harus waw gitu.

"Pagi Ma, Pa," sesampainya aku ke bawah, aku segera menyapa orang tuaku yang sedang memakan sarapan mereka.

Kemudian, aku menarik sebuah kursi yang terletak di samping kiri papa.

"Mau kemana Jo, tumben pagi-pagi begini udah rapi?" Tanya mama.

"Biasa Ma, aku ingin berjumpa dengan Jacobs Aku ingi membahas masalah yang semalam," jawabku, sambil meneguk susu favoritku.

"Kenapa awal sekali, kenapa enggak nanti malam aja?" Mama bertanya lagi, dengan interogasinya.

"Hari ini, Jacobs ada hal yang harus dia uruskan ma. Jadi aku udah buat janji sama dia diwaktu jam pagi ketemunya," aku menjelaskan perinciannya sama mama.

"Oeh, begitu. Titip salam Mama pada Nak Jacobs ya!" Nyuruh mama.

"Iya, Ma. Nanti aku sampaikan salam Mama padanya," jawabku.

"Aku udah siap, kayaknya aku harus pergi sekarang," beritahuku sama mama dan papa.

"Da Papa, da Mama. Jo berangkat dulu," aku mencium tangan mereka. Setelah itu aku terus keluar meninggalkan mama dan papa yang masih berada di meja makan. Lalu aku melajukan kendaraan yang papa kasih sebagai hadiah ulang tahunku kemarin.

Handphoneku berbunyi, bertanda ada panggilan yang masuk. Segera aku menjawab panggilan tersebut.

"Hallo, sayang.." ucapku.

"Iya, ini udah mau sampe kok. Paling lima menit lagi udah sampai," Jawabku.

"Da.. jumpa lagi di sana ya," Aku memutuskan sambungan telponku dengan Jacobs.

Aku membelok ke arah kiri jalan, menuju ke cafe Jetski. Cafe Jetski terkenal dengan pandangan laut yang sangat indah sekali, cafe Jetski ini masih berada di kawasan Jakarta Utara.

Aku akan berjumpa dengan Jacobs di sana. Jacobs sudah memesan meja pribadi cukup untuk kami berdua.

Tidak butuh waktu lebih lama lagi, aku sudah memasuki kawasan cafe Jetski.

Pengunjungnya terbilang cukup ramai, apalagi hari ini hari Minggu. Para suami ataupun pria yang belum menikah, akan membawa pasangan mereka ke tempat ini.

Cafe Jetski sangat terkesan kemewahannya, dan juga pandangan yang sangat menyejukkan mata.

Aku menghubungi Jacobs, sesampainya aku ke sana. Terlihat Jacobs melambaikan tangannya ke arahku yang masih berada di

area pintu masuk.

Aku yang melihat lambaiannya, langsung saja mendekat ke arah kekasihku itu yang lagi duduk tampan di ujung sana.

"Hai.. sayang. Udah lama nunggunya?" Aku membuka suara, untuk mencairkan suasana hati Jacobs.

Sangat terlihat dari wajahnya yang tidak bersahabat sama sekali, mungkin saja masih merajuk panjang padaku.

Aku segera menarik kursi, lalu melabuhkan dudukku di atas kursi yang terbuat dari jenis kayu jati, kursi ini sangat terlihat unik dan cantik dengan desainnya.

"Kok gitu sih, kamu enggak suka aku meminta kita ketemuan hari ini?" Ujarku dengan mengharapkan penjelasan darinya.

"Kau yang buat hal, kau pulak yang meminta aku untuk ketemuan. Cepat jelaskan apa mau mu, u sebentar lagi ada kegiatan yang harus aku selesaikan hari ini juga!" bentakan Jacobs sangat membuat ngilu dihatiku.

Aku melirik ke sembarang arah, aku malu bila ada yang memarahiku di depan orang banyak.

Syukur, pengunjung di sini sedikit berjarak dengan tempat duduk kami.

"Kamu masih marah sama aku, kan aku udah meminta maaf beberapa kali sama kamu, apa kamu belum juga bisa memaafkan aku?" Aku mencoba untuk bersabar menghadapi kemarahan Jacobs dan sering mengucapkan kata maaf padanya.

"Itu si Adam yang katamu itu best friend, kenapa kamu tak bersamanya?" Ujar Andrean tanpa melihat ke arahku sama sekali.

"Kamu masih bahas hal yang sama, Adam dan Adam? Dia itu sahabatku, tidak lebih dari itu," aku mencoba untuk menjelaskan lagi pada Jacobs yang masih terlihat kesal padaku.

"Kamu yang jalang sama dia, terus kamu korbankan perasaanku. Sedangkan kamu asik mengobrol dan bercanda sama dia, seperti semalam. Lalu aku ini kamu anggap apa?" Jacobs sedikit membesarkan nada suaranya, sedangkan aku menunduk malu dihadapannya.

Kata-kata jalangnya itu sangat menusuk jantungku. Sebegitukah dia membenciku, hanya karena aku dekat dengan sahabatku.

Aku menangis dalam tundukku, sesekali aku menghapus air mataku yang sudah tumpah sejak dari tadi.

"Sudahlah, enggak usah berpura-pura menangis, hanya untuk menarik perhatian dariku! Aku mau berjumpa denganmu hanya karena paksaan yang berterusan dari kamu." Ujarnya, yang membuat hatiku kembali merasakan sakit tapi tidak berdarah.

"Sebenarnya aku sudah muak dengan tingkahmu, sudah beberapa kali aku memperingati kamu, supaya kamu jangan dekat-dekat lagi sama si Adam itu. Namun peringatan dariku tidak kamu pedulikan, dan kamu masih saja mengulangi kesalahan itu," Andrean terus-menerus memojokkanku.

Es kelapa muda yang tadi Jacobs pesan, belum sama sekali tersentuh sedikitpun. Niat hati ingin meminta maaf, namun semua itu berubah suasana hatiku menjadi murung seketika.

Hanya pojokan yang aku dapatkan dari Jacobs saat bertemu.

"Aku benar-benar ingin kita baik-baik saja. Aku berjanji, akan menjauhi Adam demi kamu. Aku akan mengorbankan persahabatanku dengan Adam demi hubungan kita," aku mencoba untuk membujuknya lagi, aku enggak mau Jacobs memutuskan hubungan kami.

Kami sudah cukup lama membina hubungan ini. Sudah lebih 4 tahun lamanya kami berpacaran.

Aku enggak mau hubungan ini akan putus ditengah jalan. Enggak ada haluannya dan terhempas begitu saja.

Kami sudah berencana ingin kejenjang keseriusan. Kami akan bertunangan dulu, sambilan aku kuliah nanti.

Habis wisuda, kami akan berencana untuk menikah dengan menggelar pesta yang sangat mewah.

Aku enggak mau, impian itu sirna begitu saja.

"Kamu serius mau memutuskan persahabatan kamu demi aku?" Akhirnya, Jacobs berkata dengan nada lembut lagi, setelah aku mengatakan akan mengorbankan persahabatanku dengan Adam.

Aku mengangguk. "Iya, itu hanya demi kamu, demi cinta kita," aku berujar dengan mengukir senyumanku. Dari sinar mataku, aku mengisyaratkan ketulusan dalam ucapanku.

"Aku lega kalo kamu benar-benar akan menjauhi Adam demi aku," balas Jacobs kemudian dengan senyumnya.

Aku benar-benar sangat bahagia, bila dia sudah kembali lagi dalam hidupku.

"Kamu enggak akan meninggalkan aku kan, sayang, setelah aku mengorbankan persahabatanku dengan Adam" Aku bertanya lagi dengan berharap sebuah kepastian dalam hubungan kami.

"Kamu meragukan aku, Joanna?" Kata Jacobs sambil menatap lekat ke dalam bola mataku.

Aku menggeleng. " Aku tidak pernah meragukan-mu, aku tetap mempercayaimu dan hubungan kita," jawabku, dengan membalas tatap ke dalam matanya.

Kami saling tersenyum, akulah yang paling bahagia hari ini. Pandangan mata kami saling bertemu, senyuman manis itu tidak pernah lekang dibibir kami.

Bertambah lagi tiupan lembut angin laut yang menyapa tubuh kami.

"Mau pulang sekarang, atau mau menikmati angin laut disiang hari dulu?" Jacobs bertanya padaku sambil menggenggam tanganku.

"Katanya hari ini ada hal yang harus kamu selesaikan, lupa, atau bagaimana sih?" Ucapku mengingatkannya.

"Hehe itu semua, hanya alasanku saja sayang," jawabnya tanpa rasa bersalah.

Aku mencubitnya dengan sangat kuat. "Kamu ini ya, kebiasaan suka berbohong," ujarku, dengan wajah pura-pura merajuk.

"Janganlah ngambek sayang, aku minta maaf, karena telah membohongimu!" ujarnya dengan membujukku.

Aku tetap memasang wajah ngambek-ku. Enak saja setelah membohongiku dengan alasan sibuk sekarang ingin aku ramah padanya.

"Aku janji, enggak akan membohongimu lagi. Tapi.. kali ini, tolong maafin aku ya!" Dia bersimpuh di kakiku, dengan menggenggam kedua tanganku.

Aku tersipu malu dengan perlakuannya padaku, banyak mata yang melihat adegan yang dilakukan Jacobs terhadapku.

"Aku janji akan jujur padamu, tanpa berniat ingin membohongimu lagi. Aku tidak ingin kamu marah padaku," ujarnya dengan serius.

Aku melihat ke dalam mata lelaki yang di hadapanku ini, apakah ada kebohongan di sana. Beberapa kali aku menelisik ke dalam biji matanya, saat Jacobs berbicara, tetap saja aku tidak menemui apa yang aku inginkan.

"Janji itu harus ditepati sayang!" Ucapku, dengan serius.

"Iya, aku tidak mau kamu marah padaku, hanya karena aku membohongimu semalam," kemudian Jacobs memelukku dengan erat, aku juga membalas pelukannya dengan tak kalah erat.

Semua pengunjung yang ada di sini memberi tepukan yang gemuruh untuk kami berdua.

"Waw, cowok yang romantis." Aku sempat mendengar ucapan memuji dari salah satu pengunjung di sini.

Aku bangga memiliki pacar yang super romantis seperti Jacobs.

Jacobs ini keturunan Jerman, kulitnya yang putih kemerahan, tubuhnya yang tinggi, hidungnya juga mancung. Bertambah lagi rambutnya yang perang, tak mengurangi ketampanan Jacobs sedikitpun.

Dia mampu menggetarkan hatiku sampai ke ulu hatiku.

Cintaku padanya begitulah besar, jangan bertanya padaku segitu besarnya cintaku padanya, tentunya aku tak bisa menjawab itu semua. Karena aku tidak bisa mengukur rasa itu sebesar apel atau lainnya.

Kami menikmati semilir angin laut yang sejuk. Genggaman tangan kami tidak pernah lepas, aku bersandarkan diri pada dadanya, kami seperti pasangan kekasih pada umumnya.

Jam terus berputar, tanpa lelah sedikitpun. Kini sudah beranjak diangka satu siang, tanpa basa-basi-pun matahari sudah menegak di atas kepala.

Kami memesan beberapa menu andalan, yang terpopuler di cafe Jetski ini.

"Mau nambah lagi enggak, sayang?" Jacobs bertanya padaku.

"Enggak, Udah cukup ini. Perut aku udah enggak muat lagi," ujarku.

"Makan yang banyak juga enggak apa-apa, biar bertambah gendut!" Jacobs mencubit pipiku dengan gemes.

"Enak aja bilang aku gendut. Sexi begini kok dibilang gendut," aku membantahnya, aku tidak terima dengan omongannya.

"Iya, hehe.." Jacobs terkekeh dengan bantahanku.

Setelah makan siang, aku dan Jacobs meninggalkan cafe Jetski. Sesampainya di parkiran cafe Jetski, kami cipika-cipiki dulu sebelum berpisah. Karena kami membawa mobil yang berbeda.

"Da sayang.. hati-hati dijalan ya!" Ujar Jacobs padaku.

"Kamu juga ya, bye sayang!" balasku lagi.

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Jacobs, terus aku menekan pedal gas mobilku dan meninggalkan pekarangan cafe Jetski.

BERSAMBUNG.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bercinta dengan Playboy
9.1
Hati Risa hancur berkeping-keping setelah dikhianati oleh Alan, tunangannya sendiri. Didorong rasa sakit hati, ia nekat menerima tawaran kencan satu malam dari Alva, rekan kerjanya yang dikenal sebagai playboy. Risa berniat menggunakan Alva demi membalas dendam pada Alan. Namun, situasi menjadi rumit karena Alva ternyata sepupu Alan. Akankah pembalasan ini berakhir lancar saat Alan menyadari hubungan terlarang antara tunangan dan saudaranya?
Sampul Novel Cinta Dari Masalalu
9.7
Ratih tidak pernah menduga bahwa perasaannya terhadap Arsenna, teman masa SMA yang ia sukai, akan kembali terusik setelah sebelas tahun berlalu. Pertemuan tak terduga membawa mereka ke dalam rangkaian mimpi aneh yang saling bertautan secara misterius. Di antara batas realita dan dunia fantasi yang tidak biasa, mampukah mereka memahami takdir ini? Ikuti perjuangan Ratih dan Arsenna dalam mencari jawaban atas ikatan masa lalu demi bersatu di masa kini.
Sampul Novel Dendam Cinta dan wanita
8.3
Zheyya hanyalah gadis sederhana, sementara Kanha dikenal sebagai pemuda playboy. Meski berasal dari latar belakang kontras, kebencian di antara mereka perlahan berubah menjadi benih cinta. Di tengah dinamika obsesi dan keikhlasan, mereka belajar tentang arti mempertahankan serta melepaskan perasaan. Kisah ini mengeksplorasi emosi mendalam layaknya hujan di gurun pasir yang gersang. Akankah cinta mereka berhasil berlabuh di muara yang sama pada akhirnya?
Sampul Novel Draco&Luna
7.9
Sejak yatim piatu, Luna menderita di bawah asuhan bibinya yang kejam hingga ia dijual ke pasar gelap. Di pelelangan itu, hidupnya berubah saat dibeli oleh Draco Riordan, pria misterius dengan masa lalu kelam. Pertemuan ini menyatukan Luna yang lugu dengan Draco yang penuh dendam dan rahasia besar. Di tengah perbedaan latar belakang yang kontras, akankah kehangatan Luna mampu melunuhkan hati Draco, ataukah takdir justru membuat hubungan mereka mustahil untuk bersatu?
Sampul Novel I love you driver handsome
9.4
Bryan Alyson Becker, bintang sepak bola internasional yang kini berkarier di Indonesia, harus menjalani peran tak terduga sebagai seorang sopir rahasia dengan nama samaran Geo. Di balik kemudi, ia dipertemukan dengan Jesica Angeline, sosok wanita yang dikenal sangat angkuh dan sombong. Akankah pesona serta kesabaran Bryan mampu meluluhkan hati Jesica yang keras? Ikuti perjuangan sang atlet dalam menaklukkan keangkuhan wanita tersebut dalam kisah romansa modern ini.
Sampul Novel I Love You, Om
8.2
Vina, seorang mahasiswi, harus menghadapi kenyataan pahit setelah ditinggal pergi oleh ayahnya tanpa alasan yang jelas. Sebelum menghilang, sang ayah menitipkannya untuk magang di perusahaan milik sahabat dekatnya. Namun, kedekatan yang terjalin selama mereka tinggal bersama justru menumbuhkan benih asmara yang tak terduga. Vina jatuh hati pada pria berusia 29 tahun tersebut. Kini ia terjebak dalam dilema, akankah ia tetap bertahan atau memilih pergi?