
Cinta Joanna
Bab 3
Pov¹ Joanna
Kini hubunganku dengan Jacobs semakin membaik. Kami sudah seperti biasa lagi setelah pertemuan kami Minggu kemarin di cafe Jetski, kami bahkan sangat sering memberi kabar saat ini antara satu sama lain.
Aku benar menempati janjiku pada Jacobs untuk menjauhkan diri dari Adam. Beberapa kali Adam mencoba untuk menghubungiku dan juga mengirimkan pesan chat padaku, namun aku tidak menggubrisnya sama sekali.
Aku tidak mau hubunganku dengan Jacobs akan bermasalah lagi seperti yang sudah-sudah.
Malam ini, aku sangat merasa bosan. Sudah beberapa kali aku mencoba untuk menghubungi Jacobs, tetap juga tidak dijawab panggilan dariku.
"Mungkin saja dia sibuk, kali ya?" Aku berasumsi positif thinking terhadanya, mungkin saja Jacobs lagi sibuk seperti yang aku pikirkan.
Kali ini, aku mencoba untuk menghubungi Rihanna, mungkin saja dia tidak ada kegiatan apapun.
Sekali telpon dia tidak menjawab panggilanku, kedua kali telpon baru dia menjawab sambunganku.
"Hallo, Jo," ujarnya diseberang sana.
"Hallo juga Rihanna, Lo lagi di mana?" Aku bertanya padanya sambil rebahan.
"Eumm ahhh a-a-aku s-sibuk, nanti telpon lagi ya!" Rihanna langsung menutup panggilanku sepihak tanpa aba-aba lagi.
"Dasar mesum." Ujarku sambilan tersenyum sendiri. Bagi Rihanna hal berhubungan badan itu sudah lumrah baginya.
Walaupun aku masih Virgin, tapi aku tahu itu bentuk suara apa, aku geli sendiri bila harus mengingat desahan yang keluar dari mulut Rihanna saat tadi.
Mungkin dia keceplosan dalam mengeluarkan rasa kenikmatannya. Dan akhirnya grogi sendiri sampai ketahuan lagi mendesah keenakan.
Kemudian aku mencari kontak Katty, dia merupakan sahabat terbaikku.
Kalau dengan Rihanna hanya berteman seperti biasa, tidak terlalu akrab sekali, malahan Katty yang lebih akrab dengan Rihanna.
Tut..
Tut..
"Hallo, Jo," terdengar suara Katty yang menyapaku diseberang sana.
"Hallo juga Katty. Ngapain kamu, ganggu enggak gue telpon Lo?" Ujarku.
"Ya, enggaklah. Gue lagi enggak ngapain-ngapain kok. Kenapa memangnya?" Katty bertanya kembali.
"Aku bosan sendirian di rumah. Bokap dan Nyokap gue enggak tau kemana, Sinilah temani gue!" Ucapku dengan berharap Katty memenuhi keinginan aku.
"Oke, gue otw sekarang ke rumah elo," jawaban Katty, membuat mata aku berbinar seketika, akhirnya aku tidak sendirian lagi malam ini.
"Lo nginap di sini ya, bawa baju gantinya sekalian!" Perintahku.
"Iya deh, gue mau. Lagian Mama gue entah pergi kemana, kebiasaan kalo pergi enggak bilang-bilang sama gue," dari suara Katty, dia terlihat kesel dengan tingkah mamanya.
"Udah, mending Lo ke sini terus, kita happy-happy di sini," usulku.
"Oke, gue berangkat ke situ sekarang juga, gue mau siap-siap dulu ni," ucap Katty, kemudian akupun memutuskan sambungan telepon dengannya.
Selang lima belas menit, Katty sudah mengetuk pintu rumahku. Aku segera turun ke bawah untuk membuka pintu untuk sahabatku itu, Katty.
Aku mencapai gagang pintu dan benar saja, Katty sudah berdiri dihadapanku dengan senyum nyenyirnya.
"Sampaipun. Gue pikir Lo enggak akan datang ke sini," ucapku, lalu menariknya masuk ke dalam rumahku.
"Gue ini orangnya tepati janji, enggak kayak elo, sesekali suka ingkar janji sama gue," ucapnya dengan nada sewot.
"Hehe, sesekali enggak apa-apa. Yang pastinya itu jangan keseringan," balasku dengan kekehan kecil.
"Bye the way, rumah Lo kok sepi udah kayak kuburan aja?" Katty berucap sambil bercanda.
"Hussss ... ngomongnya kok ngelantur. Merinding bulu kuduk gue tau, enggak. Lo ngomongnya gitu sih?" Aku menakuti dia dengan memperkeruh suasana.
"Lari ..." Katty malah berlari naik ke atas ninggalin gue sendirian di sini.
"Tunggu! Dasar penakut, cemen banget sih Lo ..." ejekku, seraya mengikuti langkahnya dari arah belakang. Padahal aku juga terbilang penakut, sama seperti Katty.
Sesampainya di kamarku, sangat terlihat nafas Katty yang ngos-ngosan akibat berlari menaiki anak tangga dengan kecepatan turbo, sehingga aku juga ikut ngos-ngosan sama seperti Katty ulah mengejarnya.
"Emangnya bibik Lo pergi kemana, biasanya juga sibuk mondar-mandir di bawah?" Katty berucap dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Mending kita duduk dulu, daripada mati berdiri! Jantung gue enggak stabil ni, debarannya terlalu kuat," ucapku memberi instruksi padanya.
"Jawab dong pertanyaan gue, jangan Lo gantungin kayak hubungan gue sama doi!" Aku terkekeh dengan ucapan Katty. Memang sih, nasib Katty dalam kisah percintaannya yang kurang beruntung.
Perasaannya suka digantung terus, tanpa penjelasan yang jelas dari pacarnya.
"Bik Nani kalo malam dia pulang kerumahnya, sekarang enggak nginap lagi di sini, jadwalnya udah berubah. Kalo yang lain, memang udah diwajibkan pulang, kecuali pak supir dan satpam depan sana yang berjaga di gerbang," aku menjelaskan tentang pembantuku yang menjadi tumpuannya Katty.
"Kalau satpam sana Lo pecatpun enggak akan bisa peah, bukan Nyokap Bokap Lo yang gaji mereka," balas Katty kesel.
Aku hanya terkekeh kecil dengan mimik wajah Katty.
"Trus, kalo Lo lapar tengah malam, siapa yang masak buat Lo?" Ucapnya lagi.
"Ya masak sendirilah. Kalo tidak tinggal pesan di aplikasi pemesanan makanan, gampang kan. Hidup itu jangan dibuat pusing, kalo ada yang enak kenapa harus yang sulit," balasku sambil merebahkan diri di atas bantal buluku.
Kami menonton drama kesukaan kami, habis itu karaokean. Kami benar-benar membuat malam ini seperti party besar-besaran di kamarku.
Aku dan Katty hampir banyak kesamaan dalam hal faforit, ataupun yang kami tidak suka.
Bukan bearti karena kami ini sahabat dekat, tapi ... memang banyak kecocokan yang ada pada diri kami.
Aku menguap besar, jam sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam, waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa kami sudah hampir empat jam bersuka ria.
Aku melirik ke arah Katty, seketika aku terkekeh melihat Katty yang sudah molor. Begitu seriusnya aku menonton drama Korea setelah karoke tadi, sehingga Katty yang sudah tertidurpun aku tidak tau sama sekali.
Setelah mematikan Tv, aku juga ikut mengejar mimpi yang belum tercapai. Segera aku menarik selimutku dan terus memejamkan mata sampai lupa sesaat dengan kisah cintaku di dunia nyata.
****
"Berisik sekali sih?" Aku bergumam sendiri. Kepalaku yang berada di bawah bantal, masih sangat Terdengar dengan jelas suara alarm di handphoneku.
"Perasaan baru sebentar aku tertidur, dan sekarang harus bangun lagi." Mulutku merepet dengan mataku yang masih terpejam.
"Apaan sih Lo, pagi-pagi udah bernyanyi?" suara combrengan khas bangun tidurnya Katty, sangat tidak enak Terdengar didaun telingaku.
"Alarm sangat menggangu gendang telingaku, aku masih mengantuk berat ni. Malas untuk aku beranjak sekarang dari tempat ternyamanku," jawabku, dengan tanganku masih setia memeluk bantal guling kesayanganku.
"Memangnya udah jam berapa sih sekarang?" Katty bertanya, matanya masih terpejam.
"Biasanya aku setelan alarmnya jam sembilan pagi," jawabku jujur.
"Apa?" Jeritan Katty memekak gendang telingaku, aku yang merasa terganggu dengan jeritannya juga ikut terbangun sekalian.
"Kenapa sih elo, sakit gendang telingaku, tau engga?" Aku merasa kesel sekaligus terkejut dengan suaranya yang combrengan.
"Gue enggak biasanya bangun tidur kesiangan begini. Kalo di rumah gue udah diomelin sama Nyokap gue," jawab Katty dengan mimik wajahnya yang sangat serius.
"Haha, ini kan di rumah gue Kat, bukan di rumah elo. Jadi, enggak apa-apa kali, apalagi hari ini hari Minggu," ucapku dengan kekehan kecil. "Gimana sih elo itu, belum tua udah pelupa?" Sambungku lagi.
"Iya, aku tahu ini rumah elo. Yang jadi permasalahannya, aku tidak terbiasa bangun tidur setelat ini. Seketika tubuhku menjadi refleks tau enggak, untunglah jatungku kuat dari gantungannya," Katty masih sempat bercanda sebentar, padahal dia sendiri lagi syok berat, akibat senam jantung pagi-pagi.
KROK.. KROK.. KROK..
kami berdua saling berpandangan, lalu tertawa bersamaan. Saat mendengar keroncongan yang berasal dari perut Katty.
"Biasanya kalo di rumah jam segini aku udah sarapan pagi. Berbeda di rumah elo jam segini baru bangun tidur, apes bener aku pagi ini," ucapnya mendengus manja.
Aku mendelik ke arah Katty. " Jadi Lo enggak ikhlas ni kawanin tidur gue tadi malam?" Ucapku dengan cemberut.
"Bukan begitu maksud gue Jo, hanya saja aku kelaparan sekarang ini. Sedangkan di rumah elo, enggak ada persediaan makanan dijam segini, begitu," Katty memperjelaskan maksudnya tadi, supaya aku tidak salah paham.
"Iya, aku hanya pura-pura tadi ngambeknya hehe. Ayo, kita turun ke bawah cari makanan!" Ajakku, sambil terkekeh kecil.
"Memangnya Bibik Nani udah dateng?" Tanyanya.
"Biasanya udah, jam tujuh sarapannya juga udah tersedia di atas meja," jawabku.
Kami langsung turun ke bawah menuju meja makan. Benar saja, Bik Nani sudah menyediakan nasi goreng dan juga beberapa menu lain untuk santapan kami pagi ini.
Saat makan, kami bercerita tentang banyak hal. Kami juga lagi memilih tempat kuliah yang cocok untuk kami daftar.
"Gimana kalau kita kuliahnya di Amerika, disana pasti seru, atau enggak di Korea aja?" usul Katty.
"Gue masih bingung, mau kuliah di mana," Balasku.
"Ya elah, itu aja kok bingung. Secara 'kan Bokap dan Nyokap Lo banyak duitnya, jadi ... apa yang harus Lo pikirkan lagi?" Katty berujar dengan menepuk dahinya.
"Gue kepikiran sama Jacobs, kalau kami LDR-an pasti hubungan kami akan renggang. Sedangkan baru kemarin kami baikan lagi, setelah timbul permasalahan dengan kedekatan aku dengan Adam," curhatku.
"Maksud Lo gimana, kok Lo enggak pernah cerita sih sama gue? Tak Aci tau engga!" Katty sangat kepo dengan jalan ceritaku yang tak dia ketahui.
"Kan kemaren gue ulang tahun ni, Adam hadir diacara gue. Terjadilah suatu obrolan antara aku dan Adam ni. Nah, rupanya Jacobs enggak suka kalau gue terlalu akrab sama si Adam. Terus si Jacobs merajuk panjang sama gue, gitu ..." aku menceritakan semua perinciannya sama Katty. Dia hanya mengangguk sambil ber oh, iya saja.
"Jadi Lo sama Adam itu gimana perkembangannya, sedangkan dia itu sahabat dekat Lo juga? Dari masa kecil loh kalian kenal, masak Jacobs cemburu sama Adam?" Katty juga ikut mengomentari sedikit tentang Jacobs yang cemburuan.
"Jadi aku mengantungkan persahabatan aku dengan Adam. Ya, walaupun aku tidak bicara langsung sama si Adam, tapi dengan cara menjauhinya. Aku enggak mau kehilangan Jacobs, dia cinta mati gue, tau engga?" Ucapku, sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutku.
"Bik ... Mama dan Papa kemana?" Tanyaku pada Bik Nani yang sedang membereskan dapur.
"Nyonya dan tuan sudah berangkat kerja Non," jawab Bik Nani.
"Oeh ..." hanya itu yang keluar dari mulutku.
"Lo kayak anak kecil, enggak bisa jauh dari orang tuanya," ejek Katty.
"Ya iyalah. Secara kan gue anaknya mereka, bukan kayak elo anak tirinya. Kemanapun Nyokap Lo pergi tidak pernah dikasih tahu sama elo," ejekku balik.
"Kok Lo ngomongnya gitu sih say, aku jadi sedih tau engga? Bukan anak tirinya kali, aku itu lahir dari rahimnya. Cuma ya gitu deh, seperti enggak dianggap sama sekali. Tapi ... jangan salah, rekening gue tetap mengalir seperti biasanya," ujarnya sambil nyenyir.
"Gue serius ini nanyak sama elo, Lo itu sebenarnya sedih enggak sih dicuekin sama Mama Lo sendiri?" Tanyaku ingin tahu.
"Ya tentu sedih donk, secara kan aku ini masih punya perasaan bukan sebuah robot. Hanya saja saat aku bertanya sama Mamaku, dia hanya terdiam tanpa menjawab satu patah katapun," sangat terlihat kesedihan Katty diwajahnya saat dia bercerita tentang mamanya.
"Setelah Papaku angkat kakinya dari rumah, Mamaku berubah seratus persen. Dulu Mama ke gue enggak kayak gini. Sikapnya dan juga perhatiannya ke gue sangat manis sekali,
berbeda sekarang. Secara kan aku itu tidak tahu apa-apa, kenapa Mama dan Papaku berpisah. Tapi ... kenapa Mama mengorbankan aku sebagai pelampiasan sakit hatinya kepada Papa ya?" Ungkap Katty pilu.
"Jujur, gue sangat iri sama lo Jo. Kamu masih mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuamu. Sedangkan aku malah begini jadinya," Katty mengelap pelupuk matanya yang sudah berair dengan tisu.
"Kamu yang sabar ya, aku yakin kok suatu hari nanti pasti Mama lo akan kembali menyayangi Lo lagi seperti dulu!" aku memberikan sepatah semangat pada sahabatku itu.
"Hehe, tapi aku tetap harus bersyukur. Walaupun Mamaku cuekin aku, tapi dia tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Setiap jam setengah enam, Mama selalu mengetuk pintu kamarku,"
"Dalam dua menit aku belum bangun juga, dia akan menggedor pintu kamarku dengan begitu kuat. Mangkanya tadi pagi aku sangat terkejut saat kita bangun tidur sudah diangka sembilan. Seakan-akan aku tidur di kamarku, aku takut Mamaku memarahiku karena terlambat bangun," Katty menghela nafas panjang, dia nampaknya begitu tertekan sekali, namun tetap berusaha baik-baik saja.
Walaupun hidup dengan Mamanya sendiri, seolah-olah seperti tinggal bersama ibu tiri yang kejam.
"Jadi kalo Lo mau kuliah, dapat biaya dari mana? Sorry ya, bukannya aku bermaksud ingin merendahkan kemampuan Lo," tanyaku dengan hati-hati.
"Kalo soal biaya kuliah, itu tidak menjadi masalah. Mamaku udah pernah bilang kok, kalo aku mau lanjut kuliah tinggal bilang saja sama dia. Mau kuliah di mana, terserah sama gue, dia akan memberikan semua biaya kuliah gue sampai tuntas," jawabnya dengan tersenyum kecut.
"Yang terpenting, kamu jangan putus asa ya, ada aku kok yang selalu setia mendengarkan curhat Lo di setiap waktu!" ucapku, sambil menepuk bahu Katty.
"Terima kasih ya beb, Lo memang sahabat gue yang terbaik," aku menanggapi ucapannya Katty dengan sebuah senyuman.
"Sama-sama say, aku udah anggap Lo seperti saudaraku kok. Tenang saja aku akan bersedia mendengar curhat Lo, dalam situasi apapun itu!" kataku lagi.
Kemudian Katty pamit pulang, aku mengantarkan sahabatku itu hanya sampai di depan pintu rumahku.
Mobil Katty sudah mulai menghilang dari pandangan mataku, lalu aku masuk lagi ke dalam dan menuju ke kamarku yang ada di lantai atas.
Tiba di kamarku, aku baru ingat dengan gawaiku yang dari semalam aku abaikan. Setelah mengirim beberapa pesan chat pada sang kekasihku. Mungkin saja Jacobs sudah membalas pesanku, atau menghubungiku kembali.
Ternyata zonk, apa yang aku harapkan ternyata tidak ada. Aku sangat kecewa dengan Jacobs. "Apakah dia tidak merindukan aku seperti diriku merindukan dirinya?" Ungkapku dalam hati.
Hanya pesan Adam yang berjejeran masuk di aplikasi berwarna hijau itu. Tanpa berniat ingin membalas pesannya langsung aku menutup layar handphoneku.
Lalu aku melempar handphoneku ke atas kasur dengan perasaan yang kusut.
Lalu aku segera meraih handuk yang ada di tempat jemuran, kemudian segera aku membawanya ke kamar mandi.
Dua puluh menit berkutik dengan air mawar di dalam bathub, terus mengelap tubuhku sampai kering. Terus baru aku keluar dari kamar mandi dan langsung menggenakan setelan keseharianku di rumah.
Hari ini aku enggak ada kegiatan apapun, terkadang kebosanan melanda diriku. Biasanya kalau hari aktif sekolah kemaren banyak sekali teman kelas yang bisa diajak untuk mengobrol.
Karena aku ini bukan tipe yang sok terhadap teman yang lain. Bukan maksudku ingin memuji diriku sendiri, hanya saja apa yang aku katakan ini benar faktanya.
"Aku jadi rindu dengan suasana waktu sekolah SMAku dulu." Gumamku sendiri.
Baru satu bulan lulus dari SMA, sudah bikin rindu saja ini hati, memang sulit move on dari lingkungan yang ramah.
Sekarang aku lagi mencari universitas yang mana yang mau aku daftarin kuliah.
Sudah sekitar dua puluh menit aku berselancar di internet. Pilihanku jatuh pada universitas Harapan Pelita.
Universitas ini termasuk lima universitas terbaik yang ada di Indonesia.
Aku segera menelpon Katty, untuk memberitahukan universitas mana yang mau aku daftar.
"Hallo Kat ... Lo udah sampe belum ke rumah Lo?" Tanyaku basa-basi dulu sama dia, setelah panggilanku dijawabnya.
"Aku udah sampe ni. Kenapa?" Katty berbalik tanya padaku.
"Aku ingin beritahu Lo, kalau aku udah dapat universitas yang terbaik untuk kita daftar kuliah nanti," ucapku, sambil menyandarkan tubuhku di headboard.
"Universitas mana?" Tanyanya lagi.
"Universitas Harapan Pelita, kira-kira Lo mau enggak? Soalnya universitas itu termasuk kategori lima terbaik di Indonesia Lo," aku memberitahu Katty.
"Universitas itu kan yang ada di Tanggerang?" Ujarnya lagi.
"Yup, betul. Jadi Lo setuju enggak kita daftarin kuliah di sana?" Aku mengulangi lagi pertanyaan yang sama.
"Jurusan apa, yang mau Lo ambil?" Ucap Katty.
"Kedokteran, secara kan gue bercita-cita jadi Dokter. Kalau Lo?" Aku bertanya padanya jurusan apa yang mau digelutinya.
"Kan, Lo tau sendiri, cita-cita kita itu sama," jawabnya terkekeh.
"Kalo itu mah, aku tau. Mungkin saja keinginan Lo udah berubah haluan. Seperti cinta Lo yang enggak kesampaian," aku tertawa lepas.
"Lo jangan suka ngejek gue ya, nanti giliran Lo patah hati, nangisnya guling-guling. Baru tau Lo!" Katty berucap dengan kesel.
"Jadi, kesimpulan elo itu bagaimana sih? Mau enggak kuliah di sana?" Mulutku udah capek mengulang pertanyaan itu terus.
"Asal bersamamu, aku mau ke mana saja," jawaban Katty membuat aku terkekeh.
"Kayak Romeo dan Juliet kita berdua ya say, enggak akan terpisahkan. Yang terpenting satu cinta jangan kita bagi," ucapku bernada serius.
"Ya elah. Gini-gini gue enggak tega embat punya teman gue sendiri. Gue masih punya hati nurani, masih ada rasa perikemanusiaan," balas Katty.
"Seharusnya sih gitu, jangan sampe persahabatan kita bubar hanya gara-gara seorang cowok," sambungnya lagi.
"Betul itu. Kalau persahabatan yang tulus itu susah dicari, kalau cowok yang enggak setia, bisa terganti dengan yang lain," sambungku.
BERSAMBUNG..
Anda Mungkin Juga Suka





