
Cinta Gadis Bunga
Bab 2
Keesokan harinya seperti yang sudah dijanjikan Lucyana, Ia datang lagi dijam yang sama ke rumah janda kaya itu. Lucy mengetuk pintu pagar besar itu.
“Iya, cari siapa?” Tanya satpam membuka pintu kecil dengan panjang 50cm itu.
“Apa nyonya rumah ini ada? Dia kemarin memesan bunga padaku.”
“Nyonya sedang pergi. Nanti saja.” Satpam itu berniat menutup pintu lagi.
“Tunggu, tunggu sebentar pak!”
“Apa lagi?”
“Kemarin, nyonya itu bilang, jika dia tidak ada, aku harus menemui tuan Javier. Apa dia ada?’ Tanya Lucy harap harap cemas. Bunganya baru laku sedikit. Padahal Lucy sanagt yakin akan laku keras hari ini. Bahkan Lucy membawa dua keranjang bunga.
Satpam itu nampak memperhatikan Lucyana. Memandanginya dari atas hingga bawah.
“Darimana kau mengenal semua orang disini? Apa kau yakin kemarin kemari dan nyonya memesan bunga padamu?” tanyanya lagi.
Lucy sedikit dongkol. Rasa panas, pegal dan haus membuat suasana hatinya sedikit buruk.
“Tentu saja pak. Mana mungkin aku berbohong padamu. Makanya tolong panggil saja Pak Javier, tanyakan padanya. Namaku Lucy. Lucyana.”
Satpam itu hanya mendengkus kesal. Beberapa penjual sudah datang sejak pagi. Selalu seperti itu. Terkadang Ia merasa terganggu. Para penjual itu selalu datang jika kemarin nyonya rumahnya memanggil mereka untuk memborong dagangannya.
Tidak berapa lama, Javier sudah berada didepan Lucyana.
“Ah tuan Javier. Untung kau datang. Aku mengantarkan bunga pesanan nyonya itu kemarin. Apa dia tidak ada?’ Tanya Lucyana menyerahkan rangkaian bunga pada Javier. Kali ini Lucyana merangkainya khusus.
“Maaf ya Lucy. Nyonya berhalangan kali ini. Beliau sedang berada diluar kota. Mungkin lusa akan kembali.” Terang Javier membuat raut wajah Lucy sedikit kecewa.
“Tapi jangan khawatir. Nyonya menitipkan uangnya padaku. Dia bahkan meminta kau untuk datang lagi besok.” Javier menyerahkan satu lembar uang berwarna biru dan potongan uang merah yang kemarin Lucyana robek.
“Apakah itu benar?’ Tanya Javier.
“Iya tentu saja. Terima kasih tuan.”
“Jangan panggil aku tuan. Aku bukan tuanmu. Panggil aku Javier saja.”
“Tapi kau tetap lebih tua dariku Pak Javier.” Lucyana tersenyum lagi.
“Lucy apa kegiatanmu selain menjual bunga? Apa kau sekolah? Kuliah? Bekerja yang lain?” Tanya Javier lagi.
“Tidak tuan, aku sudah 21 tahun. Tidak kuliah juga tidak bekerja. Aku hanya dirumah saja.”
“Oh begitu rupanya. Apa kau masih punya ayah dan ibu? Saudara barang kali?” Javier bertanya lagi. Kali ini sambil mengajak Lucyana duduk di dekat pos satpam. Dibawah pohon rindang. Lucy terpana sesaat melihat halaman depan rumah yang nampak sangat mewah dan belum pernah dilihatnya sebelumnya.
“Ibuku sudah meninggal, baru beberapa pekan yang lalu. Ayahku ada. Dia juga tidak bekerja. Dan satu lagi, iya aku punya saudara. Kakakku Pablo. Apa kau punya pekerjaan untuk kakakku?” Lucyana menatap Javier lekat. Berharap pria dihadapannya itu menjawab iya.
“Aku tidak punya Lucy. Tapi mungkin aku punya pekerjaan untukmu nantinya.” Javier tersenyum menganggukkan kepalanya.
“Untukku? Benarkah? Apa itu? Bisa aku bekerja besok?” Tanya Lucy penuh semangat dan kegembiraan.
“Kau semangat sekali nak. Tapi bukan aku yang memutuskan. Tunggulah beberapa hari lagi sampai nyonya kembali. Sampai saat itu tiba, datanglah terus tiap hari mengantarkan bunga kemari.” Javier tersenyum.
“Tentu saja. Aku akan datang lagi besok. Aku juga akan setia menunggu. Semoga rejeki untukku. Terimakasih sekali Pak Javier.” Lucyana berpamitan. Javier tersenyum dan mengantar Lucyana sampai depan gerbang.
“Tuan Javier, biar ku bisikkan sesuatu.” Lucyana mendekati Javier dan berbisik.
“Satpammu cukup galak. Aku tak suka jika dia sedikit cerewet begitu.” Keluhannya di telinga Javier.
“hehe, baiklah Lucy. Terimaksih untuk masukkannya.” Javier mengangguk dan tertawa kecil. Satpam mereka memang cukup bawel, tapi nyonya menyukai cara kerjanya yang bawel itu.
Lucypun kembali kerumah. Satu keranjangnya habis. Sedangkan satu keranjang lainnya masih bersisa. Ia menaruhnya dalam vas berisi air dan menaruhnya diruang tamu.
“Kau sudah kembali?” Tanya Pablo.
Lucy hanya menoleh dan tidak menjawab, Ia lalu berpindah ke dapur. Lucy menyiapkan makan siang. Ia sengaja mampir ke pasar kecil didekat rumah dan membeli beberapa lauk serta sayuran.
“Mana uangmu Lucy? Berilah aku sebagian?’ Tanya Pablo mendekati Lucy.
“Untuk apa uang? Bukankah rokokmu masih ada?”
“Bukan membeli rokok. Aku mau main game. Kemarin aku juga meminjam uang pada temanku untuk main game. Aku janji hari ini membayarnya. Hanya sedikit Lucy, hanya Rp 150.000,-saja,” terang Pablo.
“Kenapa meminjam uang pada orang jika kakak tidak tahu cara membayarnya. Berhentilah bermain game itu kak. Itu sudah termasuk judi. Apa kakak tak tahu?”
“Jangan banyak bicara. Mana uangnya!” desak Pablo.
“Tidak ada lagi. Apa kakak tidak lihat, aku sudah menghabiskannnya untuk membeli ini semua,” ucap Lucy sambil mencuci beberapa potong ikan.
“Untuk apa kau beli ikan dan sayuran? Aku tidak memintamu. Ayah juga tidak menyuruhmu bukan? Kenapa menghabiskan uang untuk membeli makanan Lucy?”
“Habis main game, apa kakak tidak lapar? Apa cukup dengan hanya main game slot itu?”
“Akh sudahlah jangan cerewet. Mana uangmu?” paksa Pablo mendorong adiknya. Merogok saku belakang celana Lucy dan mengambil paksa uangnya. Lalu pergi. Lucy berusaha mengejarnya, tapi Lucy didorong Pablo hingga jatuh ke semak semak depan rumah.
Bukannya membantu sang adik, Pablo malah tertawa, lalu meninggalkan Lucy dan pergi menegndarai motor bersama temannya yang sudah menunggu dari tadi. Lucy sangat kesal. Ia berencana untuk menabung. Bayaran listrik bulanan mereka harus segera dibayarkan. Beberapa hari lagi tagihan listrik pasti akan datang.
Lucy kembali masuk dan mendapati ayahnya sudah bangun dan duduk diatas meja. Ayah nampak memegangi kepalanya.
“Ayah sudah bangun? Mau kopi?’ Tanya Lucy.
“Iya buatkan ayah kopi Lucy. Apa gula masih ada? Jika tidak ada, buat kopi hitam saja.”
“Ada ayah. Lucy baru saja membelinya.”
“Darimana kau uang Lucy?”
“Lucy menjual beberapa tangkai bunga di kebun ibu. Beberapa orang membelinya. Dari kemarin Lucy melakukannya. Hasilnya lumayan. Hari ini Lucy bisa membeli beberapa potong ikan dan sayuran,” ucap Lucy sambil menyodorkan secangkir kopi pada ayahnya.
“Kau pintar sayang, tak seperti ibumu.” Keluhnya pelan.
“Ibumu hanya bisa menadahkan tangan pada ayah saja.” Umpatnya lagi.
“Sudahlah ayah.” Lucy mengusap pelan punggung tangan ayahnya.
“Iya. Maafkan ayah. Ibumu tetaplah ibu yang baik. Dia juga istri luar biasa untukku, hiks hiks. Maaf Lucy kau malah ikut mencari uang. Ayah belum bisa bekerja, pikiran ayah kemana mana.” Jorge menangis, Lucy menepuk pundaknya pelan.
“Apa yang mengganggu ayah? Jangan terlalu bersedih dengan kepergian ibu. Dia sudah tenang sekarang.”
“Ada sesuatu yang tak bisa ayah katakan padamu. Kepala ayah masih pusing. Ayah mau mandi dulu.” Jorge pindah ke kamar mandi.
Sudah berhari hari kelakuannya begitu. Bangun di siang hari bolong dengan kepala sakit. Selepas magrib pergi. Pulangnya pagi hari dan mulut Jorge bau minuman keras. Berkali kali boros kerja, dan tertidur di kantor membuat Jorge dipecat dari pekerjaannya.
Lucy hanya bisa bersabar menghadapi kelakuan ayah dan kakaknya. Sejak dulu kakak dan ayahnya sudah begitu. Tapi jika ada ibunya, Mariana, maka keduamya masih bisa mengerem. Ayah walau suka mabuk, tidak pulang pagi hari. Pablo juga, walau suka berjudi online, tidak pernah sampai separah sekarang dan merampas uang Lucy.
Anda Mungkin Juga Suka





