
Cinta dari Pria yang Tak Terduga
Bab 2
"Jaka, aku kedinginan." Sambil tersenyum manja, Rosa melanjutkan rayuannya kepada Jaka, berusaha membangkitkan binatang buas dalam diri pria itu. Suaranya menawarkan kelembutan dan godaan yang tak dapat ditolak oleh pria mana pun.
Jaka kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Rosa dan berkata, "Oh, kalau begitu ayo masuk ke dalam mobil, aku akan membuatmu merasa hangat di sana."
Bagi Jaka, bercinta dengan seorang wanita dapat dia lakukan dengan sangat mudah, semudah membeli makanan di restoran.
Namun, sampai sekarang Emily masih menjadi satu-satunya wanita favoritnya. Meskipun sudah lama sekali Jaka ingin memilikinya, dia tetap berusaha menahan nafsunya, karena dia ingin menyimpan yang terbaik untuk dinikmati terakhir. Jaka ingin Emily menyerahkan diri secara sukarela, sebelum dia mengambil langkah inisiatif lebih dulu.
...
Selama tiga tahun mereka bersama, Emily selalu memberikan cintanya dengan tulus. Menyadari perselingkuhan pria yang dicintainya, serta pengkhianatan yang dilakukan sahabat terbaiknya di waktu bersamaan memberikan guncangan yang besar bagi Emily.
Masih dalam keadaan linglung karena kejadian itu, Emily pergi ke bar dan berusaha melupakan kesedihannya dengan menenggelamkan diri dalam alkohol.
Saat itu sudah pukul 2 dini hari. Ketika akhirnya Emily memutuskan untuk pulang, dia keluar dari bar sendirian, dalam kondisi sangat mabuk. Dia melepas sepatu hak tingginya, dan berjalan terhuyung-huyung ke tengah jalan raya.
Pancaran lampu yang sangat terang dari sebuah mobil, yang melaju dengan kencang ke arahnya, menarik perhatiannya. Emily membeku di tempatnya berdiri, dia kebingungan dan tak dapat berpikir jernih tentang apa yang harus dilakukannya. Dia terus berdiri di tengah jalan itu, tak berdaya, dan hanya bisa menyaksikan mobil Maybach hitam yang terus melaju kencang ke arahnya.
"Aduh——" Emily terjatuh, tepat saat mobil itu mendecit dan akhirnya berhasil berhenti di depannya.
Sementara di dalam mobil itu, sebagai akibat dari rem yang diinjak dengan mendadak, penumpang yang sedang beristirahat memejamkan matanya di kursi belakang, terlempar dari tempat duduknya. Dia membuka matanya, wajahnya dihiasi ekspresi penuh ketidaksenangan. Pria itu melirik dengan tajam ke arah sopirnya, Sardi, yang juga merupakan asisten pribadinya.
"Ada apa?"
"Tuan Guntur," jawab Sardi merasa panik, butiran-butiran keringat yang keluar di dahinya menujukkan kecemasannya. "Seseorang tiba-tiba muncul di depan mobil entah dari mana, karena itu saya menginjak rem dengan mendadak. Saya yakin saya tidak menabraknya. Orang itu pasti sedang mencoba memeras kita."
"Pergi dan lihatlah."
"Baik, Tuan Guntur."
Sardi kemudian segera keluar dari mobil dan memeriksa orang yang tadi dilihatnya di depan mobil. Hal pertama yang dapat dia lihat di bawah penerangan jalan, adalah seorang wanita cantik yang saat ini tergeletak tak sadar di depan mobil. Saat Sardi menghampirinya untuk memeriksa lebih dekat, bau alkohol yang kuat langsung tercium dari tubuh wanita itu. 'Wanita ini tak terlihat seperti pemeras,' pikirnya.
"Hei, Nona! Bangunlah!"
Sardi merasa terkejut ketika dia melihat wanita itu dengan lebih jelas dari dekat, karena ternyata dia mengenal wanita itu.
'Bukankah dia Emily Badia, pacar Tuan Jaka? Kenapa dia bisa berada dalam kondisi begitu mabuk di sini?' Sardi bertanya-tanya dalam hatinya.
Untungnya, dialah yang mengemudikan mobil itu. Jika pengemudinya adalah orang lain, dia mungkin sudah tertabrak!
Sardi tidak berani mengambil keputusan tanpa persetujuan bosnya, maka dia bergegas ke mobil dan bertanya kepada atasannya itu. "Tuan Guntur, wanita yang saat ini terbaring tak sadarkan diri di depan mobil kita adalah Nona Emily Badia, pacar tuan muda Jaka. Dia tampaknya sudah dalam kondisi mabuk berat ...."
Mata Jacob Guntur terbuka lebar, terkejut dengan penjelasan Sardi. Dia masih dapat mengingat dengan baik, wanita yang pernah diajak Jaka ke rumah sebelumnya. Seorang wanita yang sangat cantik, dengan senyumnya yang manis. Tanpa merasa ragu, Jacob kemudian memberi perintah kepada Sardi, "Angkat dia ke dalam mobil."
Setelah mendapat perintah dari bosnya, Sardi segera mengangkat Emily dan membaringkannya di kursi penumpang di bagian belakang mobil.
Karena merasakan posisi berbaringnya di kursi penumpang yang tidak nyaman, kesadaran Emily perlahan mulai kembali. Bergumam tak jelas, dia membuka matanya dan menatap kosong pada pria yang duduk di sampingnya, yang saat itu sedang menekan-nekan dahinya. Merasa bingung, Emily pun bertanya, "Kamu siapa?"
Pria di sebelahnya menoleh dan menatapnya kosong, tak ada ekspresi di wajahnya.
Setelah berusaha melihatnya dengan lebih jelas, Emily melebarkan matanya karena dia akhirnya dapat mengenali pria itu. Emily pun tergagap, "Ja ... Jacob? Ternyata ... kamu!"
Jacob mengabaikan pertanyaannya dan memerintahkan Sardi untuk mengemudikan mobil langsung menuju rumah Jaka.
Mendengar nama Jaka diungkit lagi, sudah cukup untuk kembali menyalakan api amarah yang ada di dalam hati Emily. "Aku tidak ingin pergi ke rumahnya. Aku sudah putus dan tak memiliki hubungan apa pun lagi dengannya!"
"Putus?" Jacob bertanya dengan santai, berniat memastikan, ada sedikit rasa penasaran terkandung dalam kalimatnya.
"Ya, kami sudah putus," jawab Emily terisak. Air mata mengalir di pipinya begitu dia teringat kembali tentang semua kejadian yang dialaminya malam tadi. Sambil menangis, dia melanjutkan perkataannya, "Dia telah tidur dengan wanita lain .... Dan ditahan di kantor polisi karena dicurigai atas tuduhan prostitusi!"
Dia menceritakan semua kejadian itu dengan sangat rinci dan serius, hingga terdengar seakan dia adalah seorang siswi sekolah dasar yang sedang mengadu kepada gurunya.
Jacob menyipitkan matanya yang panjang dan sipit ketika mendengar kata-katanya. 'Prostitusi? Sepertinya Jaka sudah terlalu lama tidak mendapatkan pelajaran tentang kedisiplinan, ' pikirnya.
Namun faktanya, Jacob tak pernah menuntut terlalu banyak dari keponakannya itu, karena sesungguhnya dia tak memiliki hubungan darah dengan Jaka. Dia tak keberatan jika keponakannya itu sesekali bermain dengan wanita, selama dia tetap bisa menjaga nama baik keluarga Guntur, dan tidak menyeretnya dalam kasus memalukan semacam "prostitusi".
"Jacob, kamu harus memberinya pelajaran!"
Jacob tetap mengabaikan apa yang Emily ucapkan, meskipun Emily mengulanginya kembali dengan nada penuh kemarahan. Menyimpulkan bahwa Jacob tak mendengarkan apa pun yang dikatakannya, Emily kemudian mendekati Jacob. Dia mencengkeram kerah Jacob dan menariknya mendekat ke wajahnya. Emily kemudian berkata, "Apa kamu mendengarkan apa yang baru saja aku katakan?"
Jacob mengerutkan keningnya keheranan, dan kemudian merenggut tangan gadis itu untuk melepaskan kerah bajunya, mengakibatkan Emily kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan posisi wajah berada di dekat area kemaluan Jacob.
Tanpa Emily sadari, ketika dirinya bernapas, bau alkohol yang dikombinasikan dengan napasnya yang hangat, menyebar ke seluruh area pribadi Jacob, yang hanya terpisah oleh dua lapis kain tipis.
Berada dalam kondisi seperti itu, Jacob mengatur napasnya dan berusaha untuk tetap tenang.
"Kamu harus memberinya pelajaran!" Emily berkata dengan lembut dan manja, suaranya yang memikat membuat banyak pria ketagihan untuk mendengarnya.
"Aku harus memberimu pelajaran terlebih dahulu." Jacob mendorong kepala Emily agar menjauh, dan kemudian berbisik dengan suara serak, "Bangunlah!"
Beraninya wanita ini merayunya di dalam mobilnya sendiri? Apakah Emily sengaja melakukan ini semua?
"Jaka benar-benar pria berengsek! Dan kamu ... kamu sepertinya sama saja! Semua pria di dunia ini memang berengsek ...," ucap Emily. Dia tetap menyandarkan tubuhnya pada Jacob, enggan untuk duduk tegak sebagaimana diminta Jacob. Dia bertingkah seperti anak kecil yang keras kepala, nakal dan manja.
Jika berada dalam kondisi yang berbeda, Emily mungkin tak akan berani menatap Jacob seperti sekarang, dia pasti akan merasa takut dengan kekejaman pria di sampingnya ini. Akan tetapi, karena saat ini dia sedang dikuasai oleh pengaruh alkohol, maka dia menjadi sangat ceroboh dan memuntahkan apa pun yang melintas di benaknya, tanpa memikirkan konsekuensi yang akan menimpanya kelak.
"Jaka mengatakan padaku, bahwa aku harus mulai membiasakan diri dengan hubungan terlarangnya dengan wanita-wanita lain sejak sekarang. Persetan dengannya, sungguh pria bajingan yang tak tahu malu!" Emily mengutuk Jaka dengan penuh kemarahan. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke Jacob dan berkata penuh emosi, "Jangan-jangan kamu juga sama seperti dia! Kamu sendiri adalah seorang CEO, pasti banyak sekali wanita di sekelilingmu, begitu banyak hingga cukup untuk memenuhi sebuah stadion sepak bola, dan para wanita itu mengharapkan dirimu sepanjang waktu ...."
Jacob mulai kehilangan kesabarannya mendengarkan kicauan Emily, perlahan-lahan ekspresi tidak senang muncul di wajahnya. Dia akhirnya menyadari, betapa sulitnya menghadapi seorang wanita yang sedang mabuk berat. Jacob terus berusaha mendorongnya menjauh, namun Emily terus saja jatuh dan menempel kepadanya seperti permen karet yang lengket. Emily benar-benar kehilangan rasa malunya di hadapan Jacob.
Rupanya, kecerobohan Emily tidak berhenti di situ saja. Dia mengulurkan tangannya, dan meletakkannya di bahu Jacob. Dengan wajah yang dipenuhi senyum mengejek, Emily bertanya kepada pria itu, "Jacob, apa kamu memiliki masalah dengan kejantananmu? Hah?"
Sungguh sebuah pertanyaan yang menohok dan menyerang harga diri seorang pria. Emily seakan sedang mencoba mempermainkan harga diri Jacob sebagai seorang pria. Mendengar pertanyaan itu, Jacob tak lagi dapat menahan rasa amarah yang berusaha dia tekan sejak tadi.
Sedangkan Emily, tanpa merasa bersalah dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, kembali tersenyum dan menatap wajah Jacob. Mata indahnya seakan bisa menghipnotis, meskipun bengkak karena menangis, akan tetapi sedikit pun tidak mengurangi keindahannya, berkilauan seperti berlian di bawah sinar bulan. Bayangan Jacob menari-nari di iris matanya, membuat seolah-olah Jacob sungguh berharga baginya.
Ketika bibirnya yang merah dan seksi terbuka untuk bicara, mereka tampak seakan sedang memikat pria untuk segera menciumnya dengan penuh gairah.
Jacob teringat, bahwa bibir itulah yang menghembuskan napas penuh aroma alkohol, yang membuatnya terganggu di sekitar area pribadinya... Wanita ini sungguh seorang iblis penuh nafsu!
"Sialan, kamu benar-benar wanita ceroboh! Kamu yang merayuku terlebih dahulu, kamu sendiri yang mencari masalah denganku."
Jacob tak dapat menahan dirinya lebih lama lagi, dia memegang bagian belakang kepala Emily dan menariknya, agar wajah gadis itu mendekat pada wajahnya. Dia kemudian dengan penuh gairah menempelkan bibirnya ke bibir Emily, membuat kata-kata Emily tertahan oleh bibirnya.
"Eh ...." Semua racauan mabuk yang belum terucap oleh bibir Emily, tertelan oleh ciuman panas yang seakan tak pernah dapat terpuaskan.
Anda Mungkin Juga Suka





