
Cinta dari Pria yang Tak Terduga
Bab 3
Hasrat yang tak dapat terpuaskan menguasai Jacob. Ketika dia berniat untuk bertindak lebih jauh, suara Sardi yang saat itu sedang mengemudi, menyelanya.
"Tuan Guntur, kita sudah tiba di Vila Krian." Ini merupakan vila yang menjadi tempat tinggal Jaka, di mana dia tinggal sendiri sejak dirinya dianggap telah cukup dewasa.
Jacob menggigit kecil bibir Emily dan kemudian dengan lembut melepaskan ciumannya. "Putar balik mobilnya, kita pulang ke Kediaman Tiara Abadi." Jacob memberi perintah kepada Sardi, nada suaranya penuh dengan rasa tidak senang.
"Baik, Tuan Guntur!" Sardi tidak memiliki keberanian untuk mencuri lihat apa yang sedang terjadi di kursi belakang. Namun, sebagai seorang pria normal, dia dapat mengetahuinya hanya dengan mendengarkan suara-suara yang sampai di telinganya.
'Nona Badia adalah kekasih Tuan Jaka. Tapi bagaimana bisa Tuan Jacob ....' Sardi bertanya-tanya dalam benaknya.
Suara pasangan yang bermesraan di kursi belakang terus terdengar di telinganya. Saking berisiknya hingga dia berharap dirinya tuli dan tak mendengar apa yang sedang mereka lakukan saat itu.
Mobil yang dia kemudikan melaju kencang di jalanan. Tak lama kemudian mereka sampai di Kediaman Tiara Abadi.
Jacob membantu Emily yang masih dalam kondisi mabuk keluar dari mobil, dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dia memeluk tubuh Emily dengan lembut, membantunya menaiki tangga dan membawanya ke kamar tidur utama di rumah itu.
Emily sudah merasa sangat lelah saat itu, dengan pekerjaannya, dan semua kejadian yang baru saja menimpanya. Begitu melihat tempat tidur di depannya, dia merasa ingin bisa tertidur dengan segera. Tetapi Jacob, yang nafsu membaranya telah dibangkitkan oleh perbuatan Emily, mana mungkin melepaskannya begitu saja.
Setelah cinta satu malam mereka...
Sore hari berikutnya, Emily akhirnya terbangun dari tidurnya yang panjang dan nyenyak. Seluruh tubuhnya terasa sakit, seakan dia baru saja digilas oleh kereta api tadi malam.
Dia menebarkan pandangan ke sekelilingnya, melihat apakah ada orang lain yang bersamanya di ruangan itu, lalu menyadari bahwa dia hanya sendirian saja di atas ranjang. Dia berbaring di atas tempat tidur, melamun dengan pandangan kosong menatap ukiran indah di langit-langit kamar. Penggalan demi penggalan ingatan akan kejadian tadi malam perlahan berkumpul dalam benaknya, membuat susunan seakan teka-teki, membentuk gambaran dan urutan kejadian ....
Blar!
Mengingat kembali setiap kejadian yang terjadi semalam, mendadak Emily merasa ingin menangis. 'Aku ... sepertinya aku telah tidur dengan seorang pria tadi malam! Dan, pria itu ... pria itu adalah Jacob, paman Jaka! Oh, Tuhan!' Emily berusaha berpikir jernih, dalam keterkejutan yang menerpanya.
Tahun ini Jacob berusia 27 tahun. Meskipun tidak ada hubungan darah antara Jaka dengan pamannya, Jacob, akan tetapi selama ini Emily selalu menganggapnya dan menghormatinya sebagai paman Jaka dalam arti sesungguhnya. Bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi di antara mereka berdua?!
Saat ini, Emily hanya bisa menyesali keputusannya pergi ke bar tadi malam. Andai saja dia tidak semabuk itu, dia tak akan bertemu dengan Jacob, dan mereka tidak akan ....
Kejadian ini adalah akibat dari perbuatan bodohnya sendiri!
Tiba-tiba, terdengar sebuah suara ketukan di pintu kamar, membuat Emily yang tengah tenggelam dalam lamunan terkejut, isi pikirannya sama kacaunya dengan debaran jantungnya.
'Apa yang harus aku perbuat sekarang? Bagaimana aku harus menghadapi pria itu?'
Sebelum Emily selesai berpikir, suara seorang pelayan wanita terdengar dari depan pintu, "Nona, apa Anda sudah bangun?"
Mendengar suara itu, Emily menghela napas lega. Setidaknya, bukan Jacob yang saat ini ada di depan pintu kamar. "Ya, aku sudah bangun, silakan masuk."
Ketika Emily duduk dengan tegak di atas ranjang, selimut yang menutupi tubuhnya luruh ke bawah, memperlihatkan jejak-jejak percintaan semalam, yang terlihat dengan jelas di atas kulitnya yang seputih salju.
Dan sudah sangat terlambat untuk mencegah pelayan itu masuk sekarang. Pelayan wanita itu masuk ke kamar, dan dapat melihat semua bekas percintaan itu di seluruh tubuh Emily. Dengan ekspresi samar yang tidak dapat dibaca oleh Emily, pelayan itu berkata, "Saya bawakan beberapa pakaian baru untuk Anda kenakan, Nona."
Emily mengerutkan keningnya karena rasa malu. Ketika dia hendak membuka mulut menolak pakaian yang diserahkan pelayan itu, dia melihat sekilas pakaiannya yang saat ini tercecer di lantai. Emily tersipu dan berkata dengan pelan, "Terima kasih!"
Emily berusaha mengembalikan ketenangannya, saat akhirnya dia bertanya, "Di mana Paman ... Tuan Guntur?"
"Tuan Guntur sudah berangkat ke kantor, Nona." Hati pelayan wanita itu dipenuhi rasa iri, karena Emily adalah wanita pertama yang dibawa oleh Jacob ke rumah ini. Dikuasai oleh rasa cemburunya, pelayan itu tidak menyampaikan pesan yang dititipkan oleh Jacob kepadanya untuk Emily.
Emily dapat merasakan sikap permusuhan dari pelayan itu, sehingga dia enggan untuk berbicara lebih lanjut dengannya. Segera setelah pelayan itu meninggalkan ruangan kamar tempatnya berada, Emily bergegas berpakaian dan memanggil taksi. Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Kediaman Tiara Abadi sebelum Jacob kembali.
Tepat setelah taksi yang dinaiki Emily pergi, Jacob baru tiba kembali di Kediaman Tiara Abadi.
Dia merasa kecewa setelah menyadari bahwa kamarnya telah kosong, Emily sudah benar-benar pergi.
Setelah beberapa saat, Jacob kemudian menarik selimut yang masih memiliki sisa aroma Emily padanya. Dia melihat bekas tetesan darah di seprai putih di atas ranjang itu, bekasnya terlihat sangat jelas, menegaskan bahwa Jacob adalah pria pertama yang melakukannya dengan Emily.
Tatapannya beralih dari seprai itu, dan berbagai hal melintas di benaknya.
Sebagai seorang pria dewasa, Jacob seharusnya bisa bertahan dan menolak godaan Emily tadi malam. Akan tetapi, alih-alih melakukan itu semua, dia lebih memilih untuk bertindak berdasarkan instingnya.
Dia harus mengakui, bahwa Emily telah berhasil merayunya. Kontrol diri yang selama ini dia banggakan, telah runtuh di hadapan Emily. Rayuan gadis itu telah membangunkan seekor binatang buas dalam diri Jacob, yang telah tertidur untuk waktu yang lama. Tadi malam, ketika Jacob memeluk Emily, dia membiarkan dirinya kembali tenggelam, lagi dan lagi dalam keinginan untuk memenuhi hasratnya ....
Karena Emily-lah yang telah membangkitkan binatang itu dari dalam dirinya, maka tak mungkin dia akan membiarkan gadis itu pergi dan lari begitu saja.
...
Emily memutuskan untuk pulang ke apartemennya dan tidak pergi bekerja setelah dia meninggalkan Kediaman Tiara Abadi. Dia menelepon kantor tempatnya bekerja dan meminta cuti selama satu hari.
Setiba di apartemen miliknya, Emily beristirahat hingga keesokan harinya. Pagi hari itu, Emily terbangun, dan setelah menyiapkan dirinya, dia pun berangkat bekerja.
Melihat mobil Aston Martin milik Jaka yang terparkir di depan gerbang perusahaan tempatnya bekerja, Emily menyimpulkan bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat berat bagi dirinya.
Rosa dengan anggun melangkah keluar dari mobil Jaka, mengenakan sepatu hak tingginya, dengan gaya yang luar biasa dan senyum manis yang terpasang di wajahnya.
Ketika Jaka kemudian ikut melangkah keluar dari mobil, dia melihat Emily dan mengabaikannya. Jaka kemudian menarik Rosa untuk mendekat pada dirinya, dan memberikan sebuah ciuman panas yang penuh gairah ke bibir Rosa, tanpa memedulikan ada banyak orang di sekitarnya.
Rosa terengah-engah dan hampir kehabisan napas karena ciuman dari Jaka, dia tak menyangka Jaka akan melakukannya.
"Jaka, semua orang sedang melihat kita. Kamu jangan berbuat begitu ...." Rosa berkata dengan nada genit, tangannya mengusap lembut dada Jaka.
Jaka kemudian melingkarkan tangannya di pinggang ramping Rosa dan berkata dengan menggoda, "Kamu benar-benar pandai merayu."
Emily melirik mereka berdua dengan jijik. Dia kemudian berjalan lurus memasuki gerbang, tanpa menoleh sama sekali ke belakang.
Jaka sengaja melakukan semua drama itu agar Emily melihatnya, demi memberinya sebuah peringatan. Sayangnya, Emily tidak memberikan reaksi seperti yang dia harapkan, dan terus berjalan dengan santai seperti tak terjadi apa pun. Melihat reaksi dingin Emily, Jaka tiba-tiba merasa sakit hati, bahkan marah.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang."
Jaka mendorong Rosa agar menjauh dengan lembut, dia kemudian menaiki mobilnya dan pergi dari tempat itu.
Sejak kejadian malam itu hingga saat ini, tak terbersit sedikit pun rasa bersalah di benak Jaka akan apa yang telah dia lakukan. Mempertimbangkan status sosialnya, dia menganggap, bermain-main dengan wanita adalah hal yang lumrah dan wajar bagi dirinya. Lalu, apa masalahnya?
Emily adalah wanita yang sudah dia pilih untuk dia nikahi pada akhirnya, dan tidak ada yang dapat mengubah rencana itu. Itu adalah cinta terbaik yang dapat dia tawarkan kepada Emily.
Apa yang dia lakukan di depan Emily baru saja adalah demi kebaikan Emily sendiri. Jika kejadian seperti itu saja tidak bisa dia terima, bagaimana mungkin dia dapat menjadi seorang istri yang lembut dan pengertian bagi Jaka?
Sementara itu, di Perusahaan Hogan.
Emily memutuskan bahwa cara terbaik untuk mengatasi pengalaman traumatis yang dia alami adalah dengan fokus dan menyibukkan diri dalam pekerjaannya. Namun dalam satu atau lain cara, ada saja yang mengganggu rencananya untuk dapat berjalan dengan baik.
"Hei, Rosa! Apa Tuan Jaka sudah memutuskan hubungannya dengan Emily? Lihat betapa tertekannya dia saat ini!"
"Apalagi menurutku, kamu dan Tuan Jaka jauh terlihat lebih cocok sebagai pasangan!"
"Aku sudah menduganya! Bagaimana mungkin tuan muda Jaka sanggup bertahan menghadapi wanita semacam dia? Rosa dan tuan muda Jaka lebih cocok untuk satu sama lain ...."
Mendengarkan komentar dan sanjungan dari rekan-rekan kerjanya, membuat ego Rosa meningkat dan membangkitkan kesombongannya. Berpura-pura tidak senang mendengar itu semua, dia menjawab, "Jangan membicarakan hal ini lagi! Aku dan Emily adalah teman baik. Aku tak mau menyakitinya ...."
"Apa kamu sudah selesai dengan semua kepalsuanmu?" ucap Emily sambil menatapnya dengan jijik, "Jika sudah, tolong berhentilah, aktingmu membuatku merasa jijik."
"Kenapa kamu tega berkata seperti itu padaku, Emily?" Rosa menggigit bibir bawahnya, dia tak mau menelan kata-kata Emily begitu saja.
Rekan kerja di sekitar Rosa tak ada bedanya, semuanya oportunis dan licik. Mereka melihat kesempatan dan melancarkan provokasinya, "Ya ampun! Coba lihat tingkah laku wanita ini! Kamu tak perlu berbicara dengan nada sopan kepadanya, Rosa! Dia pantas mendapatkan ini semua!"
Anda Mungkin Juga Suka





