
Cinta Dari Masalalu
Bab 2
Pada tahun itu, lima tahun lalu, saat asyik membenahi hidupnya yang sedikit berantakan. Dia pikir dunia juga tengah berlari kepadanya. Apakah itu waktunya, apa akhirnya dia menemukan, kemudian menjalani hidup normal sama seperti perempuan lainnya.
Laras menoleh ketika terdengar suara langkah kaki. Riza suaminya, menjemputnya untuk pulang. Laki-laki itu merasa tak perlu bertanya perkembangan Ratih. Wajah istrinya menjelaskan semuanya. Mereka lalu duduk di kursi yang di sediakan di situ.
“Bagaimana Raya.”
“Di rumah Mami.”
“Matamu sembab. Kau masih menangis.”
Laras tak menjawab.
“Apa Senna masih belum diketahui keberadaannya?”
Riza menggeleng.
“Tadi ....” Riza kelihatan ragu-ragu.
“Tadi apa?
“Rendy menghubungi Mas. Mobilnya sudah ditemukan. Keadaannya hancur!” Laras menutup mulutnya, mencegah jeritan keluar dari mulutnya.
Riza memandang istrinya dan menghela napas, seolah ada hal lain yang lebih mengejutkan daripada itu. Laras mengejarnya dengan tatapan yang sama. ‘Apa lagi?’
“Rem mobilnya blong.”
“Hah!” Mata Laras membulat.
“Ada yang sengaja membuatnya begitu.” Sambung Riza
Laras masih belum bisa mencerna, otaknya seperti blank sesaat.
“Pembunuhan!” Laras merasa dirinya hampir pingsan mendengar itu. Pembunuhan?
“Astaga. Ratih ....” tak ayal dia terjatuh lunglai, lemas seketika. Laras menangis lagi. Sesenggukkan.
“Bagaimana dengan Andin, Mas.” Riza tak sempat menjawab, seseorang mendekat. Jingga. Adiknya Ratih. Riza menggeleng, sebagai bertanda mencegah untuk bicara lagi.
“Kak Laras, Mas Riza.” Jingga menyapa “biar aku yang gantian menunggu di sini.” Laras bangun dari duduknya dan memeluk gadis itu.
“Yang tabah ya, Jingga. Kabarin Kakak kalau dia bangun.” Jingga hanya tersenyum dan mengangguk. Sebenarnya Ratih ditinggal juga tak mengapa, ada perawat dan dokter yang selalu mengawasinya. Tetapi mereka ingin menjadi orang pertama mengetahui ketika Ratih sudah bangun. Mereka ingin Ratih tak merasa sendirian saat dia bangun.
Dalam perjalanan pulang, mereka berdua membisu. Hening begitu lama, Laras memejamkan mata, kelebatan beberapa bayangan menghantui benaknya.
Senna. Andini.
Ratih!
***
Sashi Andini.
Laras menatap wanita itu, yang dilihat darimana saja tetap anggun dan elegan. Tak ada satu pun dari tubuhnya menjadi sia-sia. Terlepas figur publik yang sekarang dicintai banyak orang, Laras mengakui wanita jawa keturunan bangsawan itu sempurna.
Jadi bagian mananya, wanita sempurna itu bisa dikalahkan oleh seorang Dayang Ratih. Bagian mananya dari perempuan itu, yang tidak bisa di lihat dengan baik oleh Senna.
“Andin.”
“Kita telah saling mengenal bukan?” Andini melepas kacamata hitamnya, bola matanya yang legam langsung menohok ke dalam mata Laras.
“Kau juga ingin menginterogasiku seperti polisi-polisi itu?” Andini tertawa. Berita kecelakaan Senna, suaminya sudah menyebar kemana-kemana, rumor Andini diselingkuhi juga mewarnai rumor itu. Tidak sedikit bullyan yang Ratih terima, tentu saja semua warga negara di negeri ini akan sangat senang hati membela Andini habis-habisan, sekaligus membully Ratih habis-habisan, apalagi mengetahui latar belakang Ratih yang biasa saja, makin semangat saja bullyannya.
“Aku heran, kenapa ya, wanita selingkuhan siapapun itu, tidak lebih cantik daripada sang istri sah.”
“Wanita tak tahu malu.”
“Cih mati saja.”
“Lakinya Sashi sih ganteng. Tapi sayang tukang selingkuh.”
“Kabarnya sang selingkuhan cinta pertama si laki sih.”
“Kemaruk, udah beruntung banget dapet wanita secantik Sashi, masih aja main belakang.”
“Pasti main dukun nih cewek.”
“Sebenarnya dia cantik juga sih, vibesnya mirip Desi Ratnasari jaman dulu, manis-manis gimana gitu.”
“Le mineral kali.”
“Hus, ga boleh sebut merk.”
...
Anda Mungkin Juga Suka





