
Cinta dan Gairah 21+
Bab 2
Saat malam itu, di dalam kamar Tati sedang dipenuhi oleh suara desahan dan bisikan cinta dari dua tubuh telanjang Bara dan Tati yang tenggelam dalam kenikmatan tak terbendung. Lalu saat pakaian telah berserakan di lantai, menyaksikan momen terlarang yang mereka alami. Namun, takdir memutuskan untuk memainkan peranannya.
Tanpa diduga, terdengar suara derap langkah dan suara tawa riang di luar kamar. Bara mengernyitkan kening, mendengar suara sang istri, Dina dan kedua anaknya, Arya dan Bella, pulang lebih awal dari rencana. Kamar yang semula penuh dengan keintiman kini berubah menjadi panggung kepanikan.
"Bara, apakah itu suara bu Dina dan anak-anak?" desis Tati panik dengan wajah penuh ketegangan.
Bara menggigit bibirnya, mencoba menahan kecemasan. "Itu pasti Dina dan anak-anak. Mereka tidak boleh tahu!"
Tanpa ragu, mereka berdua bergegas mengumpulkan pakaian mereka yang berserakan di lantai. Pintu kamar terbuka dengan cemas, dan mereka berdua saling memandang, menahan getaran kecemasan yang terus berkobar.
"Bara, apa yang kita lakukan sekarang?" Tati berbisik dengan napas yang terengah-engah.
Bara meraih pakaian Tati dan membantunya mengenakannya dengan cekatan. "Kita harus rapih-rapih sebelum mereka masuk ke dalam rumah. Jangan biarkan mereka tahu apa yang sedang kita lakukan."
Tati mengangguk setuju, merasa detak jantungnya semakin cepat. Mereka berdua melangkah keluar dari kamar dengan hati-hati, berusaha sekuat tenaga agar tak ada yang mencurigakan. Namun, suasana yang terbentuk tak bisa disembunyikan sepenuhnya.
Di pintu depan, Dina dan kedua anaknya terlihat gembira, membawa aroma makanan dari luar. Mereka tidak menyadari situasi genting yang tengah terjadi di dalam rumah mereka.
"Hai, sayang! Kami pulang lebih awal karena rindu," sapa Dina sambil memberikan senyuman manisnya kepada Bara.
Bara berusaha tersenyum meyakinkan. "Hai, sayang. Aku merindukanmu."
Tati mencoba menyamarkan ketegangan dengan tersenyum lebar. "Selamat pulang kembali, Bu Dina, Arya, dan Bella."
Dina menyeringai senang. "Terima kasih, Tati. Kami membawa makanan dari restoran favoritmu, Bara."
Bara dan Tati saling pandang, merasa cemas namun bersyukur bahwa Dina dan anak-anaknya masih belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah mereka.
Mereka semua duduk bersama di ruang makan, suasana yang tercipta pun terasa aneh. Bara berusaha memutar otak untuk menjaga kewajaran, sementara Tati terus berharap agar keberadaan mereka di dalam kamar tidak terbongkar.
Tiba-tiba, Arya yang duduk di samping Tati menarik lengan bajunya. "Mbak Tati, kenapa kalian terburu-buru tadi saat keluar dari kamar?"
Tati terkejut sejenak mendegar pertanyaan tiba-tiba dari Arya, namun kemudian tertawa canggung. "Oh, tidak ada, Nak. Ayahmu hanya sedang membantu angkat-angkat barang di kamarku tadi."
Dina sedikit mengangkat alisnya agak curiga. "Memangnya kenapa, Tati? Kamu butuh suasana baru di kamar?”
Bara dan Tati saling pandang, merasa kaget dengan respon Dina yang cenderung curiga dengan jawaban Tati dari pertanyaan Arya tadi. Untungnya Dina tak meneruskan kecurigaannya itu dan memilih untuk segera beristirahat di kamar setelah makan bersama selesai.
Malamnya, setelah Bara melihat Dina dan anak-anaknya telah tertidur, Bara dan Tati pun terduduk di sofa, merenungkan pada apa yang hampir terjadi. "Kita harus lebih hati-hati, Tati. Ini benar-benar hampir menjadi bencana," ujar Bara dengan serius.
Tati mengangguk, masih terkesan oleh insiden yang baru saja terjadi. "Kita tidak bisa terus begini. Kita harus menemukan cara untuk melanjutkan hubungan ini tanpa ketahuan."
Bara meraih tangan Tati, mencoba memberikan keberanian. "Kita akan mencari waktu yang tepat, Tati. Sampai saat itu, kita harus bisa menahan diri."
Tati tersenyum, sekaligus merasa lega bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan hubungan terlarang ini. Meski penuh risiko dan ketidakpastian, Bara dan Tati memutuskan untuk menjaga rahasia mereka dan menanti waktu yang tepat untuk kembali terjerumus dalam kenikmatan yang terlarang.
***
Pagi dinihari itu, cahaya keemasan mulai menyapu langit ketika Dina merasakan kegelisahan dalam hatinya. Sesuatu yang tidak biasa terjadi di dalam dirinya, keinginan dan hasrat yang begitu mendalam. Ia memandang Bara yang masih tertidur pulas di sampingnya. Tanpa berpikir panjang, ia menggoda Bara dengan lembut.
"Bara," bisik Dina dengan suara yang menggoda.
Bara membuka matanya, masih setengah terlelap. "Ada apa, sayang?"
Dina tersenyum penuh keinginan. "Aku ingin kau menyentuhku, pagi ini."
Bara terkejut, namun ia merasakan getaran kegembiraan dalam dirinya. Dina jarang sekali mengajaknya bercinta duluan, jadi momen ini terasa spesial. Tanpa banyak bicara, mereka berdua pun langsung terlibat dalam keintiman yang dipenuhi oleh kehangatan dan nafsu birahi yang tinggi.
Bara dengan cepat melucuti pakaian Dina,s ang istri dan juga pakaiannya sehingga pagi dini hari yang dingin itu dua tubuh telanjang sedang mencari kehangatan di tengah cuaca yang dingin dengan bergumul panas di atas ranjang.
Suara desahan manja dari bibir Dina cukup terdengar di kamar itu, sementara Bara dengan suara dengusan kasarnya dengan penuh nafus menyetubuhi sang istri dengan begitu beringas dan itu membuat tubuh keduanya menyatu seolah tak ingin terpisah saat itu.
“Owhhh...ahhh..ahhh.terusss.Baraa...ahhh..ahhhh!” desahan Dina membuat Bara makin meningkatkan gerakan genjotannya pada tubuh sang sitri yang sedang ditindihnya.
“Plokkkk...plokkkk..ahhh...ahhhh....plokkkk....plokkkk..ahhh!” genjotan Bara cukup terdengar di kamar itu dan tanpa disadari oleh Bara serta Dina kalo ada yang bisa mendengar aktivitas bercinta mereka saat itu di luar kamar.
Sementara itu, Tati, pembantu setia mereka, terbangun lebih awal untuk mempersiapkan sarapan. Ia melewati pintu kamar Bara dan Dina dengan langkah ringan, tidak menyangka bahwa pagi ini akan menjadi saksi dari adegan yang tak seharusnya ia lihat.
Suara desahan dan lenguhan yang memenuhi suasana di sekitar kamar sang majikan membuat hati Tati berdebar. Ia berhenti sejenak di depan pintu kamar itu, mendengarkan dengan rasa cemburu yang sulit diungkapkan. Tati merasa kecewa dan tersakiti karena mengetahui keintiman antara majikannya dan sang istri. Hati Tati terasa hancur, namun ia tahu ia harus mengatasi perasaannya dengan segera.
Tati segera melanjutkan langkahnya menuju dapur, berusaha menyembunyikan rasa cemburunya. Ia mencoba menyusun pikiran dan menenangkan diri agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Namun, bayangan Bara dan Dina yang sedang bercinta masih membayangi setiap langkahnya.
Di dalam kamar, Bara dan Dina masih terus melanjutkan momen pergumulan mereka di atas ranjang mereka tanpa menyadari bahwa ada saksi yang tidak diinginkan di pagi itu. Kebersamaan mereka terasa mendalam, namun tak jauh dari situasi yang rumit. Setelah selesai, Dina mencium lembut bibir Bara.
"Terima kasih, sayang. Entah kenapa pagi ini Aku tiba-tia pengen banget, hihi!" ucap Dina sambil tersenyum nakal sekaligus menunjukkan kepuasannya setelah berhasil mendapatkan klimaksnya tadi.
Bara mengangguk, merasa campur aduk oleh berbagai perasaan. "Aku juga jadi pengen ngentot banget pas kamu bilang lagi pengen, heheh!"
Namun, di luar kamar, Tati mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan kekecewaannya. Ia merasa terabaikan dan hina oleh kejadian tadi. Saat Dina dan Bara keluar dari kamar, Tati berusaha menunjukkan senyuman dan kegembiraan palsu.
"Selamat pagi, Bu Dina, Pak Bara. Sarapan sudah hampir siap," ucap Tati dengan suara yang bergetar.
Dina tersenyum ceria, tidak menyadari rasa tidak nyaman yang dirasakan Tati. "Terima kasih, Tati. Kau luar biasa."
Bara juga mencoba tersenyum, tetapi matanya menatap Tati dengan perasaan yang rumit. "Ya, terima kasih, Tati."
Tati mengangguk, mencoba menyembunyikan rasa cemburunya yang dalam. Setiap percakapan dan senyuman yang terjadi di meja sarapan menjadi pahit bagi Tati. Ia merasa tersingkirkan, menjadi saksi dari kehidupan yang selalu ada, namun tidak pernah menjadi miliknya.
Saat sarapan berlangsung, suasana menjadi canggung. Tati mencoba untuk tidak terlihat terlalu terpengaruh, tetapi setiap pandangan dan senyuman Dina dan Bara membuatnya semakin terluka. Hati Tati berteriak untuk mengungkapkan perasaannya, namun ia tahu itu tidak mungkin dilakukan.
Anda Mungkin Juga Suka





