
Cinta dan Gairah 21+
Bab 3
Hari-hari di rumah mewah itu terus berlalu, membawa dengan mereka perasaan yang rumit dan hubungan yang semakin terjalin di antara Tati dan Bara. Meskipun Dina masih sempat merasa agak curiga oleh insiden sebelumnya, namun Bara dan Tati tidak bisa menahan hasrat mereka untuk melanjutkan hubungan terlarang itu.
Suatu malam, ketika rumah sepi dan gelap, Bara menyelinap ke kamar Tati. Lampu malam yang lembut menyinari keintiman mereka yang tersembunyi dari pandangan yang tidak diinginkan.
"Tati sayang," bisik Bara dengan suara lembut.
Tati, yang sedang mulai terlelap di tempat tidur, menoleh ke arah Bara dengan mata penuh nafsu. "Apa ini tidak beresiko, Bara?"
Bara terus mendekat, meraih wajah Tati dengan penuh hasrat. "Kita harus terus melanjutkan ini, Tati. Kita tak bisa terus menerus menahan hasrat kita lagi."
Tati pun tersenyum menggoda, merasakan getaran keinginan yang sama. "Kita akan berhati-hati, Bara. Tak ada yang boleh tahu."
Keduanya pun kembali terlibat dalam keintiman yang tak terbendung, melupakan sementara dunia luar yang penuh dengan rahasia dan risiko. Mereka menyadari bahwa setiap pertemuan adalah permainan berbahaya, namun hasrat dan keinginan mereka melebihi segalanya.
Meski malam itu mereka tak bisa lama-lama bercinta, target mereka paling tidak bisa menuntaskan hawa nafsu birahi yang tak tertahankan. Dengan nafas terengah-engah, Bara segera memakai kembali semua pakaiannya yang berserak di lantai kamar Tati, sementara sang pembantu masih telanjang bulat terlentang di atas ranjang kamarnya.
Tati tersenyum puas menatap Bara yang sedang sibuk memakai pakaiannya kembali.
“Terima kasih, Bara!” meski gak lama, tapi tadi cukup bikin aku puas, besok-besok kita lakukan lagi yah!” ucap Tati sambil mengedipkan satu matanya pada Bara dan sang majikan pun membalasnya dengan memberikan kecupan mesra di bibir Tati.
“Ehmmpphh...ceppp..cuppp..cuuppp...ehmmpghh...! Pasti Tati sayang! Heheh!” balas Bara dengan wajah penuh hasrat. Bara pun segera keluar dari kamar tati dengan mengendap-endap malam itu untuk kembali masuk ke kamarnya dimana Dina saat itu sedang terlelap tidur.
***
Beberapa hari berlalu, Dina terlihat semakin terlibat dalam bisnisnya yang sedang berkembang. Sibuk dengan pertemuan dan perjalanan bisnis, Dina lagi-lagi menjadi kurang memperhatikan perubahan yang terjadi di rumahnya. Bara dan Tati terus menjalani hubungan terlarang mereka, mencuri-curi waktu di antara keterpisahan yang semakin jauh dengan Dina.
Suatu pagi, setelah Dina pergi urus bisninya dan anak-anaknya pergi ke sekolah, Bara dan Tati kembali bersatu di dalam rumah yang sunyi. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk mengejar hasrat yang tak pernah pudar.
Tati, yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk tipis, melangkah mendekati Bara yang duduk di sofa. Bara meliriknya dengan mata penuh hasrat birahi.
"Tati, kau membuatku gila," ujar Bara sambil menggenggam tangan Tati.
Tati tersenyum, menarik Bara lebih dekat. "Dan kau membuat hatiku berdebar-debar, Bara."
Mereka pun lagi-lagi terlibat dalam keintiman yang semakin memanas, terlena oleh hasrat yang tak terbendung.
***
Pagi itu, sinar matahari yang lembut memasuki kamar Tati. Dina sudah berangkat ke tempat bisnisnya dan Arya pergi ke sekolah, meninggalkan rumah dalam keheningan. Hanya tinggal Bella, si bungsu, yang baru saja terbangun dari tidurnya. Tanpa ragu, ia menuju ke arah kamar Tati untuk meminta Tati membikinkannya segelas air susu.
Pintu kamar yang kebetulan tak terkunci membuat Bella dengan mudah masuk ke dalam. Saat melihat Tati dan Bara yang sedang bergumul dan tubuh telanjang berada di kasur, Bella berkata dengan polosnya sambil kucek-kucek mata.
"Sedang apa Ayah dan mbak Tati, koq di kasur?" tanya Bella dengan matanya yang lucu.
Bara dan Tati pun terkejut lalu saling melihat satu sama lain, panik karena ketahuan oleh Bella. Mereka berdua coba menyusun ekspresi wajah yang terlihat santai, meski hati mereka berdua berdegup kencang.
"Oh, Bella, kita sedang bermain-main saja," ucap Bara dengan senyum yang terasa kaku.
Tati menambahi dengan tergagap, "Iya, Bella. Kita berdua hanya sedang bercanda di kasur. Kamu tahu kan, kadang-kadang orang dewasa juga suka bermain-main."
Bella membulatkan matanya, mencoba memahami alasan yang diberikan oleh Bara dan Tati. "Oh, seperti itu ya. Kenapa di kasur?"
Bara dan Tati saling pandang, mencari jawaban yang tepat. "Karena kasur ini nyaman, Bella. Kadang-kadang kita suka duduk-duduk di sini," ujar Tati dengan tersenyum.
Bella tampak masih penasaran. "Boleh aku ikutan bermain?"
Bara dan Tati melirik satu sama lain, kemudian kembali tersenyum. "Tentu saja boleh, Bella. Tapi kita harus diam-diam ya, jangan ceritakan ke Arya atau Mama," pinta Bara.
Bella mengangguk dengan polos. "Oke, Ayah."
Mereka berdua kemudian melanjutkan permainan yang telah terhenti akibat kehadiran Bella. Bara dan Tati berusaha memainkan peran dengan lebih hati-hati agar tidak terlihat mencurigakan. Namun, ketidaknyamanan menjadi terasa di kamar Tati itu.
Beberapa saat kemudian, Bella yang telah ikutan duduk di kasur menyadari sesuatu. "Eh, Ayah, Mbak Tati, tadi pintu kamar tidak dikunci ya?"
Bara dan Tati saling pandang dengan ekspresi terkejut. Mereka kelupaan mengunci pintu setelah Dina dan Arya pergi. Hatinya berdebar-debar ketika menyadari betapa besar potensi bahaya dari situasi ini.
Tati berusaha tersenyum sambil berkata, "Oh, itu hanya kelupaan kami. Kamu tidak boleh memberi tahu siapa pun, ya, Bella?"
Bella mengangguk penuh semangat. "Tentu saja, Tati. Rahasia kita, ya!"
Bara dan Tati saling pandang dengan rasa cemas yang tidak bisa mereka ungkapkan. Mereka tahu bahwa rahasia mereka semakin terancam dengan Bella yang mengetahui insiden di dalam kamar.
Beberapa jam kemudian, Dina dan Arya kembali ke rumah. Bella dengan riangnya menceritakan hari-harinya, namun diam tentang apa yang dilihatnya di kamar Tati. Bara dan Tati merasa lega, berharap bahwa kejadian itu tidak akan mencuat ke permukaan.
***
Malam itu, suasana rumah mewah milik Bara dan Dina dipenuhi ketegangan. Bara duduk di ruang tamu dengan ekspresi khawatir yang sulit untuk disembunyikan. Tati, yang berdiri di hadapannya, mencoba memberikan kabar yang tidak terduga.
"Bara, aku merasa mual-mual belakangan ini, dan gejala itu semakin sering muncul," ucap Tati dengan hati-hati.
Bara terdiam, matanya memancarkan rasa panik. "Apa maksudmu, Tati?"
Tati menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Aku pikir, Bara, mungkin aku hamil."
Bara melongo, tidak percaya dengan berita yang baru saja didengarnya. "Hamil? Bagaimana ini bisa terjadi? Kita harus melakukan sesuatu!"
Tati mengangguk, "Saya tahu ini sulit, Bara. Saya pikir kita harus menyusun rencana agar saya bisa resign dari pekerjaan ini."
Bara berpikir sejenak, mencoba menemukan solusi. "Ya, kita perlu mengurus ini dengan hati-hati. Dina pasti akan curiga jika tiba-tiba kau resign tanpa alasan yang jelas."
Anda Mungkin Juga Suka





