
Cinta Dalam Hati
Bab 2
Misi Hamzah dan Rangga dimulai!
Drttt! Drrtt! Ddrt!
Suara ponsel berdering dengan meraba-raba nakas Yudi berusaha menjangkau ponselnya.
"Halo .... " jawabnya sambil merem.
"Dasarr anak tidak, berbakti! Kapan kamu akan pulang menjenguk bundamu? Bunda sudah tua, Nak?
"Sangat menginginkan cucu kamu tega, sekali! Hiks ... hiks .... " suara di seberang berteriak dan mulai terisak.
Yudi tahu semua itu hanyalah drama bundanya Yudi mencoba membuka matanya dan tersenyum.
"Assalamu'alaikum, Bun!" sapa Yudi.
Yudi seorang pemuda tampan putra semata wayang dari pasangan Rangga dan Rini. Yudi seorang konstruksi bangunan meneruskan usaha ayahnya, dengan talenta yang dimilikinya.
Ia menjadi pengusaha sukses. Usianya sudah memasuki kepala tiga. Namun, belum berkeinginan menikah karena belum ada satu wanita pun yang berhasil menyentuh hatinya.
"Wa'alaikumsalam. Apa kamu nunggu bundamu mati dulu baru menikah sih, Yud? Kamu tahu ... anak Pakde Reno sudah menikah dan bentar lagi akan menimang cucu ...
"Bukde Sri juga sudah menimang, cucu! Lha, giliran bundamu ini kapan?" jawab Rini.
"Bundaaaa, mang pagi-pagi telepon cuman buat ghibah Bun? Besok-besok juga, aku akan bawa mantu ke rumah. Bunda do'ain aja deh!"
Yudi berusaha menenangkan bundanya karena dia tahu bundanya akan mengomel terus.
"Hah! Payah ngomong sama kamu?Bunda, sudah jodohin kamu sama anak Pakde Anto! Kalau tiga bulan ke depan ... kamu nggak nemu jodoh juga."
"Jangan dong Bun? Kayak zaman Siti Nurhayati aja eeh Nurbaya, Bun. Bunda sehat? Jangan marah-marah Bun entar cepat tua! Ingat penyakit Bun, memang mau belum nimang cucu sudah stroke"
Yudi sambil bercanda sambil melenggang ke kamar mandi.
"Kamu do'ain bundamu cepat mati, gitu? Dasar anak kurang ajar!" Rini menahan geramnya.
Andaikan Yudi dekat pasti tangannya sudah menjitak putranya.
"Bunda sayang? Bukan do'ain cuman ngingetin, Bun! Hm, memang ada apa sih Bun? Tumben pagi-pagi buta, masih jam 05.00 juga sudah nelepon." Yudi ke luar dari kamar mandi melirik jam di dinding"
"Bunda, mau mintol .... !"
"Haah! Mintol tuh apaan Bun?" Yudi mulai melanglang buana di kamus bahasa Indonesia.
"Minta tolonggg! Idih, pantesan kamu gak laku-laku. Bahasa Gaul aja gak tahu!" jelas Rini.
Yudi cuman menaikkan alisnya dia hapal benar kelakuan bunda tersayangnya yang berbeda terbalik dengan ayahnya.
Bundanya sedikit nyentrik dan gaul perhatian juga penyayang, beda dengan ayahnya yang tegas dan banyak diam.
"Memang mau mintol apaan sih, Bun? Kayaknya penting banget? Kalau soal jodoh-jodohan lagi ... Aku ogah, akhhh! Jodoh sudah ada yang atur Bun?"
Yudi sambil memakai celana jeans butut sobek-sobeknya.
"Kepedean! Siapa juga yang mau jodohin Kamu lagi? Bosan akh! Itu ... kamu ada waktu nggak?
"Ada yang mau minta buatin rumah, cuman dia mintanya kamu yang buatin rumahnya. Katanya, 'Semua rumah buatan kamu itu bagus-bagus Le,'
"Kakeknya, Paman, juga Ayahnya, langganan Ayah kamu juga! Hm ... Ayah lagi gak enak badan, kata Dokter Anto, 'Harus banyak-banyak istirahat! Gak boleh ke proyek-proyek lagi,' bantuin bunda ya? Nggak enak! Bunda sudah iyakan," terang Rini.
Jika sudah mendengar bundanya mulai memelas Yudi mulai tidak sanggup apa pun akan dilakukan kecuali, ide aneh bundanya yang kepingin cepat punya cucu.
Bukan Yudi tidak mau, cuman belum ada seorang wanita yang mampu membuat Yudi merasa nyaman dan ingin berumah tangga.
Dia sadar usianya sudah kepala tiga, cuman mau gimana lagi? Jodoh urusan Allah bukan hansip.
"Memang rumah siapa sih, Bun? Memang harus aku, Bun? Hm, terus proyekku di sini bagaimana Bun?"
"Arman yang ngawasi lagian ini, cuman rumah sebuah, Nak" Bunda Rini mencoba meyakinkan Yudi.
"Ya, sudah deh! Memang kapan Bun?"
Yudi membuka kulkas mencoba mencari makanan. Namun, di dalam kulkas hanya ada susu cair. Yudi melihat label kadaluarsa dan masih layak diminum.
Sudah lama, aku tidak berbelanja batinnya mengingat-ingat, kapan terakhir mengisi kulkasnya dengan makanan dan minuman Manusia.
"Lusa ... jadi kamu harus pulang hari ini!" jawab Bunda Rini sekenanya.
Bbrrruuuuslpppp ....!
Yudi menyemburkan susu dari mulutnya,
"Ya Allah ... Buuunnn kok gak bilang dari kemarin-kemarin, sih? Bagaimana mau nyelesaiin kerjaan di sini, Bun?" Yudi puyeng.
"Ayah sudah telepon Arman tadi malam, Arman yang ngawasi untuk sementara ini. Sudah sholat Subuh, gih! Terus sarapan dan pulang. Assalamu'alaikum," Bunda Rini langsung mematikan sambungan telepon.
"Wa'alaikumsalam" Yudi cuman memandang hand phonenya bengong, dengan sekotak susu di tangan kanan.
"Dasar Bundaaaa ... !! seenaknya saja!" Yudi melenggang ke kamar mandi, mandi dan melakukan semua aktivitas seperti yang diperintahkan bundanya.
Yudi mengendarai mobilnya dari Kota M ke kota kelahirannya di Kota R, delapan jam perjalanan.
Akhirnya dia memasuki rumah orang tuanya.
Sebuah rumah bergaya klasik megah juga indah semua masih sama, Yudi memandang bunga-bunga mawar kesukaan bundanya mekar dengan indah.
"Assalamu'alaikum, Bunda sayang !!" Yudi dengan manjanya memeluk seorang wanita separuh baya berhijab wajahnya masih memancarkan pesona kecantikan,
"Wah, anak ganteng bunda sudah sampai. Bersihkan dulu tubuhmu! Terus turun ke bawah makan, Ayah di belakang tuh!"
Bunda Rini mengelus puncak kepala Yudi Kemudian ia pun mencari ayahnya .
"Assalamu'alaikum, Ayah" Yudi menyalam tangan Rangga dan memeluknya dengan erat.
"Ayah minta maaf, Nak! Akhir-akhir ini, ayah selalu tidak enak badan. Mungkin faktor umur kali! Jadi ... maaf kalau sudah merepotkan kamu ya, Le?" ucap Rangga sembari terbatuk.
"Uhuk ... uhuk." Rangga terbatuk-batuk, Yudi menuntun ayahnya ke dalam rumah.
"Gapapa, Ayah! Maaf ... seharusnya, Yudi sering-sering menjenguk Ayah sama Bunda," ada secuil penyesalan di hati Yudi.
***
Seminggu sebelumnya ....
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu'alaikum" seorang lelaki paruh baya datang ke kantor Rangga
"Wa'alaikumsalam, Zah" Rangga berdiri dan memeluk sahabat lamanya.
"Apa kabarmu kawan? Bagaimana anak-anak?" Rangga mempersilahkan Hamzah duduk.
"Alhamdulillah, sehat! Anak-Anak ... Tito sudah punya anak dua, Tantri punya anak satu, tinggal Tania yang belum.
"Tidak tahu itu anak! Hadeh, susah diatur? Tania perempuan tapi tingkahnya seperti laki-laki." Ucap Hamzah
"Kamu tahu sendiri ... bagaimana kelakuan Tania? Tapi dari semua anak-anakku, cuman Tania yang mengikuti jejakku jadi pengacara dia kopianku Ngga," ucap Hamzah sambil menyeruput teh yang sudah dihidangkan Pak Muri.
Rangga dan Hamzah adalah sahabat karib dari bangku SMP, keduanya terus berhubungan hingga sekarang.
Rangga pemilik PT. Jaya Mandiri Konstruksi, yang tidak lain adalah ayahnya Yudi.
Sedangkan Hamzah seorang Pengacara terkenal di negara ini yang memiliki seorang putri bernama Tania.
"Bagaimana lagi? Namanya kamu yang buat adonannya, masa semua mirip Noni?" Rangga tertawa.
"Hahaha! Kabar Rini dan anak semata wayangmu bagaimana? Aku tahu di tangan anakmu, bisnis propertimu maju pesat Ngga. Hebat anakmu!" puji Hamzah.
"Ya, alhamdulillah Zah! Cuman masih enakkan kamu, sudah nimang cucu. Lha anakku? Entah kapan mau nikahnya? Hadeh! Bundanya sudah pengen banget punya cucu Zah.
"Bagaimana kalau kita jodohin saja Tania sama Yudi, Zah?" entah dari mana ide itu terlahir di kepala Rangga.
"Kalau aku ya ... oke oke sajalah Ngga, kamukan temanku dari SMP, aku mau aja toh?! Tapi ... Apakah kamu yakin mau punya mantu seperti Tania? Masak saja nggak jelas ngalor ngidul rasane! Hahahaa. Hm, apa mungkin Yudi juga mau?" tanya Hamzah.
"Hmm ... kita jangan terang-terangan jodohin mereka, kalau terang-terangan ya pasti gak mau! Kamukan tahu ... kalau dari kecil Yudi sama Tania seperti tikus sama kucing, setiap ketemu.
"Hadehhh ... hahaha. Kamu ingat gak masih kecil mereka bagaimana?" mereka tertawa mengingat masa silam.
"Wah, kebetulan Ngga! Sebenarnya aku itu kemari, Tania mau minta tolong mau buatkan rumah miliknya. Itu anak sudah sangat mandiri, aku takut nggak ada satu pria pun, yang mau menikahinya, Ngga.
"Jadi ... dia mau minta tolong, berikan ini ... nih" Hamzah mengeluarkan lembaran-lembaran kertas berisi denah rumah.
"Wah! Rumah yang bagus, selera Tania luar biasa, pantesan dia ingin segalanya luar biasa gini. Jangan khawatir! Aku pengen liat cucuku, kalau Mereka menikah Zah."
Hayalan tingkat Dewa Rangga memenuhi segala kemungkinan akhirnya, Ia manggut- manggut sudah ada ide di dalam pikirannya.
"Aku ada ide! Tania minta tolong sama kamu, untuk bikinin rumahnya. Jadi, aku harap Yudi aja yang buat rumah itu bagaimana?" Hamzah memberi saran.
"Wah, ide kamu bagus tuh! Entar Aku pura-pura sakit, biar Yudi yang nangani di sini. Jadi, aku ada alasan mau liburan, entar aku hubungi Anto biar buat surat rekomendasi aku butuh istrahat" pasangan lelaki separuh baya itu pun tertawa.
Rangga tersenyum simpul di kamarnya, mengingat semua rencana yang ia buat dan Hamzah, apa lagi Rini sang istri juga mendukung rencana mereka.
***
Tok tok tok!
"Masuk!" Yudi tidak bergeming dari kertas-kertas di meja kerja di kantor ayahnya.
Mengamati, meneliti dan mereka- reka semua denah gambar rumah yang diberikan ayahnya.
"Hm, rumah yang indah! Siapa pun pemiliknya memiliki cita rasa yang luar biasa." Ujarnya tanpa disadari sepasang mata ikut mengamati gambar tersebut.
"Benarkan? Aku sangat ingin rumah impianku itu selesai, sebelum Idul Fitri" suara wanita yang tidak asing menembus ke syaraf-syaraf otaknya.
Bagaikan palu menghantam jantungnya secepat kilat yudi menoleh ke arah suara.
"Taniaa! Sedang apa kamu di sini?"
Tania seorang wanita berparas cantik, tegas juga sedikit tomboi anak bungsu dari pasangan Hamzah dan Noni, Tania seorang Pengacara muda yang sedang naik daun karirnya.
"Yudi, aku perlu ketemu sama Om Rangga. Itu denah rumah yang kamu amati itu, rumahku" ujar Tania sedikit angkuh.
Namun, mata mereka masih mengunci satu sama lain tanpa mau melepaskan pandangan.
"Wangi dan wajah ini selalu menghantuiku, tapi Xena satu ini ampun nyebelin! Siapa juga yang bakalan mau jadi suaminya? Kalau punya istri Xena gini .... "
Yudi memutar bayangan-bayangan Tania kecil, remaja, dan secuel film Wonder Women Xena, Yudi bergidik bayanginya.
"Eh, kamu bayangin apa, sih? Om Rangga ke mana? Ada yang mau Aku diskusikan sama Om?" cecar Tania.
Tania memilih duduk di sofa yang ada di ruangan itu tanpa ada yang mempersilakannya, karena dia tahu Yudi tidak akan pernah bermanis-manis kata dengannya.
Seingat dan setahu dia Yudi lebih baik bersikap manis pada Kucing dari pada yang namanya Tania.
"Ayah lagi sakit! Jadi dr. Anto nyaranin agar Ayah banyak-banyak istirahat. Memang, Kamu ada perlu apa?
"Soalnya untuk sementara waktu ini, kerjaan Ayah aku yang handle." Jelas yudi berusaha untuk profesonal.
"Lagian apa salahnya? Tania adalah anak Om Hamzah teman Ayah dan juga dari kecil yudi sudah berteman dengan Tito, Tantri, kecuali Tania.
"Entah mengapa dengan mahkluk yang satu ini selalu ada saja yang diributkan." Batin Yudi mengenang masa kecil mereka.
"Om, sakit apa Yud? Sudah lamakah?" tanya Tania tulus walaupun Tania jutek, judes, tapi sebenarnya hatinya baik.
"Opo iyo?!" sebagian hati yudi berbicara tidak karuan.
Tanpa sadar tania menghampiri Yudi, menyentuh pergelangan tangannya untuk sementara dunia di sekitar mereka terhenti sekejap.
Deg deg deg ....
Jantung keduanya melonjak-lonjak tidak karuan, tanpa sadar keduanya menarik tangan masing-masing rona merah di wajah bak kepiting rebus.
"Ap-apaan, sih? Kamu ini, tidak pernah liat cowok ganteng ya?" Yudi menyembunyikan tangannya yang entah sejak kapan, menggenggam erat tangan Tania.
"Iish, nyebelin tahu! Kamu tuh ya gak ada ganteng-gantengnya malah gantengan si Vito tahu? Aku cuman khawatirin Om Rangga kamu memang gak peka. Bisa-bisanya jadi anak Om Rangga sama Tante Rini"
cecar Tania nggak mau kalah ia melangkah kembali ke tempat duduknya.
Keheningan terjadi ....
"Akh, sial kenapa sih? Aku slalu jadi kacau kalau di samping Xena warrior ini?" batin Yudi berbicara.
Walaupun, terlihat tenang sebenarnya Yudi agak salah tingkah dibuat tania.
"Um, makasih sudah mengkhawatirkan Ayahku, sebenarnya kamu kemari ada apa?" akhirnya Yudi mengalah.
Profesional kerja menuntutnya agar selalu tenang dan berwibawa.
"Sebenarnya aku ada janji sama Om Rangga, aku mau buat sebuah rumah. Buat aku tinggal dan aku ingin rumah itu selesai sebelum lebaran Idul Fitri.
"Aku ingin keluargaku ngumpul semua di rumah itu dan semua desain-desain, denah , warna, cat dinding dan semuanya. Sudah aku serahin sama Om Rangga," terang Tania.
"Oh, kalau boleh tahu yang mana denah rumah kamu?" Yudi meraih tumpukan kertas.
"Yang lagi kamu lihat itu rumahku, yang kamu bilang, 'Siapa pun si pemilik rumah pasti memiliki cita rasa yang tinggi,' itu rumahku!" jawab Tania.
Anda Mungkin Juga Suka





