
Cinta Buta Gadis Mafia
Bab 2
________________________
Hampir tiap malam selalu terbayang masa-masa indah bersamanya. Dia seorang gadis yang baik, cantik, mandiri, lembut, dan cerdas. Hana Silvia Putri Agustin, di mana dirimu.
**
“Mas! kenapa kamu diam? Mas! aku ingin menuntut hakku, hak sebagai seorang istri,” lanjut Andin merajuk. Aku masih bergeming. Biarlah aku dicap sebagai pria yang tidak normal, laki-laki bodoh atau apalah, tetapi ini nyata bahwa sembilan tahun menikah dengan Andin, aku belum pernah menyentuhnya, apalagi berhubungan badan dengannya.
“Maafkan aku Andin.” Hanya itu jawabku setiap kali dia meminta.
“Mas, mungkin ini untuk kesekian kalinya aku bersujud. Aku minta maaf atas peristiwa waktu itu, tetapi tolong berikan hakku, setelah itu akan kuturuti permintaanmu, aku ikhlas apabila ingin kamu ceraikan.”
Andin bersujud meminta dan memohon agar aku menggaulinya.
“Sekali lagi maafkan aku.”
Jawaban itu yang selalu kuberikan. Ada semburat kecewa di matanya, tetapi aku memang tidak bisa.
**
Sepulang kerja, seperti biasa aku ke apartemen milikku yang tak jauh dari kantor. Rasanya enggan pulang, apalagi bertemu dengan Andin.
“Bro, bisa ke apartemenku sekarang?” tanyaku pada Hadi melalui sambungan telepon. Hadi adalah sohibku yang paling mengerti. Dia yang selalu menemaniku di saat aku terpuruk.
“Oke, Bro, tunggu lima belas menit lagi,” jawabnya disebrang sana.
“Jangan lupa bawa minuman!”
“Enggak, Bro, sorry, gue dah tobat gak mau minum-minum lagi.”
“Dasar lo belagu, dikit aja!"
“Enggak!”
“Ya udah, terserah lo, dech.”
Lima belas menit kemudian, Hadi sampai di apartemen. Ia membawakan nasi goreng campur kesukaanku. Rasa lapar yang aku rasakan, membuatku tak tahan untuk langsung melahapnya.
"Hem, ini baru nasi goreng mantap," ucapku sambil mengunyah.
“Bro, sudahlah, lupakan Hana! Hadapi kenyataan. Sekarang lo punya Andin, jalani aja pernikahan lo."
“Ngomong apa sih lo, lo gak tahu perasaan gue, kan. Sakit tau! sakit banget rasanya dihianati, difitnah, dan sekarang, orang yang memfitnahku harus hidup denganku, gak banget.”
"Iya. Gue ngerti, tapi kan--"
Belum sempat Hadi melanjutkan ucapannyanya, tiba-tiba gawaiku berbunyi.
Kriiing ....! kulihat panggilan masuk dari Andin, malas banget.
“Angkat, Bro!” ucap Hadi.
“Malas!"
“Jangan begitu, bro, kasihan dia, dah angkat saja, barangkali ada yang ingin disampaikan.”
Rasanya enggan untuk mengangkatnya, tetapi tidak enak sama Hadi.
“Ya, ada apa, Ndin,” jawabku malas.
“Mas, kamu ada di mana? Kamu pulang, kan? Aku dah masakin makanan kesukaanmu, ayo pulang, Mas! sayang nih gak ada yang makan.”
Suara Andin disebrang sana penuh harap.
“Ya nanti, aku masih lembur,” jawabku sekenanya.
“Aku tunggu ya, mas, udah ya, bye.”
Kututup gawaiku, aku menghela nafas dalam-dalam. Dasar cewek!
“Dah sana pulang! kasihan dia menunggumu,” ucap Hadi.
Aku diam dan masih menikmati nasi goreng campur.
“Entar aja, masih menikmati nasi goreng. Eh kenapa sih elo ngebelain Andin melulu.”
“Ya bukan gitu sih, bro, Allah mempertemukan kita dengan pasangan kita itu pasti ada maksudnya, jodoh tidak akan tertukar, dan elo menikah dengan Andin karena dia memang jodoh elo, tetapi dengan jalan seperti itu, jalan yang tidak lo senangi.”
Ada benarnya juga apa yang Hadi ucapkan, tetapi butuh waktu, entah kapan aku bisa dan mampu menerimanya.
“Elo kayak ustadz aja, sih.”
“Kalau ucapanku bener, kenapa gak lo ambil,” ucap Hadi sambil menepuk-nepuk pundakku. Sohibku yang satu ini memang memiliki pemikiran yang luas dan agamis, dia sering menasehatiku ketika aku sedang lemah.
“Thanks bro, akan gue pikirkan.”
“Nah, begitu. Ini baru sobatku.”
**
Anda Mungkin Juga Suka





