
Cinta Buta Gadis Mafia
Bab 3
Tepat tengah malam sampailah aku di rumah. Kulihat lampu di ruang tamu masih terang. Apakah Andin belum tidur? Apakah dia menunggu kepulanganku? Ah, bodoh amat dengan wanita itu.
Setelah memarkirkan mobil, kemudian aku masuk. Kulihat Andin tertidur di meja makan, drama apalagi yang dia lakukan, huft.
“Mas, sudah pulang? Aku menunggumu sejak tadi,” ucapnya sambil mengucek kedua matanya. Lalu dia mendekat dan mengambil tas kerjaku. Setelah itu, dia melangkah menuju kamar. Aku mengikutinya dari belakang.
“Makan dulu yuk, Mas, kamu belum makan, kan?”
Sebenarnya malas, tapi entah mengapa kali ini aku tak keberatan dengan ajakannya. Setelah mengganti pakaian dengan kaos santai dan celana pendek, aku menuju ke meja makan.
Dia mempersiapkan piring dan sendok serta menghindangkan makanan yang memang kesukaanku. Dengan lahapnya kumakan makanan yang dia hidangkan. 'Hmm, enak juga masakannya, apa benar ini masakan dia? Ah, ga percaya, dia itu anak mami, anak manja, mana bisa dia masak begini.'
“Gimana rasanya, Mas, enak gak? Ini hasil aku Googling lho. Beberapa kali coba memasak dan gagal, baru kali ini aku berhasil,” ucapnya sedikit manja. Oh ya, ini mas minumnya, pasti seret kan?”
Aku meneguk minuman yang dia berikan langsung sampai habis.
“Itu juga minuman hasil kreasiku, Mas, enak kan Mas?”
Aku mengangguk karena memang rasanya enak, manisnya pas banget, ada rasa kopi campur moka.
Setelah itu, aku merasa ngantuk, mungkin akibat rasa kenyang, duh, kenapa dadaku mendadak panas.
“Kenapa, Mas?" kata Andin. “Yuk kekamar, kamu pasti mengantuk!”
Andin membimbingku ke kamar dan merebahkanku.
Seperti biasa, dia selalu memancingku. Namun aku tidak pernah terpancing, entah kenapa kali ini dia begitu menggoda. Sial! Kenapa libidoku naik? Tidak! dia terus menggodaku, dasar!
Akhirnya....
Skip.
**
Pagi tiba, badanku serasa berat, seperti barusaja dipukul-- Pegel. 'Kenapa badanku pegal semua? Kenapa ini.' Gubrak! Sial! Sial! Apa yang terjadi semalam, apakah-- Kulihat Andin tidur dengan pulasnya, badannya hanya terbungkus selimut. Aku terbelalak.
'Sial, sial, sial ah, gue gagal mempertahankan keperjakaanku.’
“Eh Mas, dah bangun?” sapa Andin sambil menggeliat. Wajahnya tampak ceria. ‘Apakah kejadian semalam membuatnya bahagia? Ah dasar wanita. Wait! kenapa semalam aku begitu bernafsu? Biasanya melihatnya saja aku sudah mual. Ah pusing mending gue mandi.'
Seusai mandi, Andin menyiapkan sarapan dan teh manis. Entah mengapa pagi ini aku tak bernafsu untuk sarapan.
“Aku langsung ke kantor ya, sorry gak sarapan,” ucapku sambil berjalan menuju garasi. Sedikitpun aku tak menoleh kearahnya, aku merasa gak selera.
“Tunggu!” cegah Andin. Seketika itu aku menghentikan langkah dan menengok ke arahnya. “Mas, makasih, ya. Semalam kamu telah memberikan hakku, aku bahagia sekali,” ucapnya sambil tersenyum puas seolah-olah menang dalam kompetisi.
‘Semprul, kenapa gue bodoh sekali sih sampai kecolongan gitu—khilaf—khilaf.’ Setelah mendengar ucapan Andin, aku langsung pergi, tak kuhiraukan ocehannya.
Haha, bagaimana readers.. seru kan??
Anda Mungkin Juga Suka





