
Cinta Bisa Tumbuh Lagi
Bab 3
Dia memakai baju dan perhiasanku. Kalau dilihat sekilas, memang ada sedikit kemiripan denganku.
Toh, ibu kami adalah saudara kandung.
Dia memandangku dengan sinis, sorot matanya dipenuhi dengan kecemburuan dan keangkuhan.
"Kak, kamu sudah sangat baik padaku. Kasih aku uang, hadiah, bahkan rumah. Tapi, boleh nggak kasih aku satu hal lagi?"
Aku menjawab dengan nada datar.
"Apa yang kamu inginkan?"
"Bagaimana kalau Kak Doni? Kamu tahu nggak? Aku hamil anaknya. Dia senang sekali. Setiap hari nggak sabar nunggu anak kami lahir. Nanti kami akan jadi keluarga kecil yang bahagia. Kamu mestinya sudah nggak cocok lagi buat dia."
"Tahu nggak, selama ini dia sering diejek orang gara-gara kamu yang nggak bisa lihat."
"Kalau kamu benaran sayang dia, lepaskan dia buat kami. Biar dia bisa dengan bangga bilang ke orang-orang kalau dia punya istri yang sehat, bukan yang nggak bisa diajak ke mana-mana."
Aku langsung melemparkan makanan di meja ke arahnya. Dia pun naik pitam, lalu mencengkeram daguku.
"Memang kenapa kalau kamu cantik dan keluargamu lebih baik daripada keluargaku? Sekarang, faktanya, Doni memilihku untuk menemaninya menghadiri acara."
"Jadi, sebaiknya kamu sadar posisi dan bersikaplah baik. Aku dan Doni pasti akan memperlakukanmu dengan baik."
"Toh, kalau dulu kamu nggak menolongku keluar dari Kota Saroja, mungkin aku sudah nggak ada. Aku nggak pernah lupa budi itu."
Selesai bicara, dia pergi sambil melenggak-lenggok.
Perasaan puas karena merasa dirinya di atas angin membuatnya tak menyadari tatapan penuh emosi di belakangnya.
Tiga hari kemudian.
Ibu datang dengan gaun yang dibawakannya untukku. Dia baru menyadari bahwa aku sudah bisa melihat kembali. Dia sangat senang.
Kami baru saja sampai di depan pintu ruang pesta saat ibu dipanggil seseorang dan pergi meninggalkanku. Jadi, aku masuk sendirian.
Tak disangka, Doni dan Mita sudah datang lebih dulu. Mereka berjalan bergandengan tangan seperti pasangan kekasih. Mita sesekali menyentuh perutnya. Setelah orang-orang menyadari jika dia hamil, dia tersenyum malu.
Begitu aku masuk, seseorang memberi kode pada Doni. Saat dia menoleh dan melihatku, ekspresinya langsung cemberut.
Teman-teman Doni langsung menghampiri, mengamatiku dari atas hingga bawah dengan tatapan penuh sindiran.
Aku mengenal mereka semua. Mereka dulu sering memujiku saat aku masih bisa melihat, berharap aku bisa membujuk ayahku agar memberi mereka kesempatan kerja sama. Namun, setelah aku berpacaran dengan Doni, mereka malah berusaha mendekati Doni.
"Amel, biasanya ‘kan kamu sangat mengerti situasi, aku sudah bilang jangan datang, kenapa kamu malah datang?"
Doni terlihat kesal.
Aku menatap Mita yang sedang memutar matanya dengan acuh, lalu bertanya dengan nada dingin.
"Kenapa kamu ada di sini?"
Keduanya langsung terlihat kaget dan cemas, tetapi Doni lebih dulu bereaksi.
"Amel, mata kamu sudah sembuh? Wah, akhirnya kamu bisa jadi pengantin yang sempurna."
Mita menghapus tatapan penuh kebencian di matanya dan pura-pura terkejut.
"Kakak, ini luar biasa. Akhirnya kamu kembali seperti semula. Aku sangat mengkhawatirkanmu selama ini."
Dia berbicara sambil menyeka air mata yang tidak ada, lalu mengulurkan tangannya seolah ingin memelukku.
Saat aku menghindar, entah bagaimana dia tiba-tiba terjatuh.
"Ah, Kak Doni, tolong bantu aku."
Doni yang tampak khawatir segera mendekat dan membantu dia berdiri, dengan ekspresi muram menatapku.
"Amel, minta maaf! Selama ini Mita merawatmu tanpa henti, kenapa sekarang kamu malah bersikap sombong?"
Aku membalas dengan nada keras.
"Dia sebenarnya merawat siapa, aku atau kamu?"
Setelah itu, ekspresi wajah keduanya langsung berubah. Mita mulai meneteskan air mata.
"Kak Amel, aku mengerti kalau kamu jadi sangat sensitif dan curiga karena sakitmu, tapi aku ...."
Dia mencoba bangkit dan meraih bajuku untuk menjelaskan. Namun, ketika aku menepisnya, dia terjatuh lagi dan memegangi perutnya sambil menangis.
Doni tidak bisa lagi menyembunyikan rasa cemasnya, dia menggenggam lenganku dan segera menarikku keluar.
"Amel, ini adalah acara pertunangan Keluarga Barata. Kamu nggak bisa bertindak sembarangan di sini."
Tiba-tiba, seluruh ruangan menjadi gelap, kecuali satu cahaya yang menerangi pintu aula. Cahaya itu mengarah pada seorang pria yang sangat tampan, Devan, pewaris Keluarga Barata. Dia sudah sadar dari komanya.
Semua orang terkejut, tidak ada yang menyangka pria yang terbaring koma cukup lama bisa tiba-tiba bangun.
Dia berjalan melewati kerumunan. Saat bertatap mata denganku, dia menyunggingkan senyumnya.
"Kemarilah, calon istriku."
Aku mencoba melepaskan tangan Doni dan bergerak maju, tetapi dia kembali menghalangiku.
"Amel, kalau kamu tetap bersikeras, jangan salahkan aku kalau Keluarga Halim memutuskan hubungan dan membatalkan pernikahan kita."
"Kak Amel, Devan sudah punya tunangan. Meskipun kamu ingin mendekati orang berkuasa, bukan berarti kamu harus buru-buru seperti sekarang."
Mereka saling menatap, lalu berdiri di sisi kiri dan kananku, berusaha menarikku keluar.
Devan tampak marah. DIa mendekat dengan langkah cepat, lalu menggenggam lenganku.
"Aku penasaran siapa yang begitu berani mengganggu tunanganku."
Anda Mungkin Juga Suka





