
Cinta berlapis Dusta
Bab 2
Setelah menenangkan diri, aku baru keluar dari ruangan itu dengan kursi roda.
Di depan, aku berpapasan muka dengan suami dan putraku yang sedang mencariku.
"Ibu …."
Wajah putraku terlihat kikuk, ada kekhawatiran yang tidak dapat disembunyikannya.
Simon menyesuaikan raut wajahnya dan mulai berbicara dengan gugup.
"Molly, tadi kamu masuk ruangan ini?"
Aku tersenyum tenang tanpa mengatakan apa pun.
Melihat raut wajahku yang biasa saja, suami dan putraku pun saling memandang satu sama lain, kemudian mereka menghela napas lega.
Melihat reaksi mereka, hatiku terasa kecut. Aku muak melihat sandiwara mereka, aku pun mengeser roda kursi rodaku berbalik dan bersiap untuk pergi.
Melihat ini, Simon bergegas maju. Bingkai matanya tampak agak memerah. Dengan hati-hati, Simon membopongku ke sofa.
"Molly, jangan khawatir. Aku sudah menghubungi dokter spesialis bedah tulang terbaik di dunia. Dia pasti bisa menyembuhkanmu."
"Kalaupun kamu tak bisa sembuh, aku akan menjadi kakimu dan membawamu berkeliling dunia," lanjut Simon.
Dulu aku mengira dia benar-benar sayang padaku, tetapi sekarang sepertinya semua ini hanyalah air mata buaya.
Bodoh sekali aku, bisa sampai ditipu oleh Simon selama lima tahun.
Simon menatapku seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering.
Melihat nama yang muncul di layar ponsel tersebut, tanpa sadar Simon langsung menyampingkan badan sambil mengengam ponselnya dan menutupi bagian layar ponsel. Dengan panik dia menatapku sekilas dan berbicara dengan lembut.
"Ada panggilan pekerjaan, aku pergi mendengarkan telepon dulu."
Usai berkata demikian, Simon berbalik dan pergi ke balkon. Aku tidak bisa mendengar percakapan panggilan itu dengan jelas, tetapi aku tahu kalau panggilan itu dari Clarisse.
Aku menundukkan kepala dan tidak membongkar kebohongan Simon. Setelah beberapa saat, Simon datang dan berkata padaku dengan penuh rasa bersalah.
"Molly, hari ini aku mungkin tidak bisa menemanimu untuk pemeriksaan lanjutan."
"Guru anak kita barusan menelepon dan bilang ada pameran dirgantara yang sangat jarang diselengarakan. Anak kita sudah lama menantikannya, jadi aku akan mengajaknya pergi melihat pameran," jelas Simon.
Simon pun bertanya, "Bagaimana kalau besok aku baru menemanimu pergi ke rumah sakit?"
Aku mendongak dan menatap Simon, raut wajahnya masih penuh dengan rasa bersalah, seakan-akan dia memang merasa bersalah terhadapku.
Lima tahun kami menikah, aku tidak pernah menyadari kalau dia memang aktor yang handal dan bisa berbohong dengan mudah.
Aku menahan kepedihan dan menatap Simon.
"Simon, bisakah kamu tidak pergi?"
Ini kesempatan terakhir yang kuberikan pada Simon. Kalau dia memilih untuk tinggal, aku akan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.
Simon ragu sejenak. Dia berbalik, lalu memelukku dan mencium keningku dengan lembut.
"Pameran dirgantara ini akan membantu memperluas wawasan Stanley. Ini akan bermanfaat bagi perkembangannya kelak. Molly sayang, tunggulah kami pulang. Kami akan bawakan kue lapis kesukaanmu."
Aku tidak menjawab Simon dan berbalik bertanya pada Stanley.
"Benarkah begitu?"
Putraku mengangguk tanpa ragu.
"Ya! Aku sudah lama ingin pergi ke sana."
"Bu, istirahatlah di rumah. Ayah dan aku akan menceritakannya setelah kami selesai menontonnya," lanjut Stanley.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya melirik kedua orang itu, lalu berbicara dengan tenang.
"Oke."
Melihat aku setuju, Simon pun menitipkan aku pada pengasuhku. Dia menyuruh pengasuh itu merawatku dengan baik, lalu bergegas pergi bersama putra kami.
Menatap mereka pergi, air mata diam-diam mengalir di pipiku.
Entah berapa lama waktu sudah berlalu, aku pun mengeluarkan ponselku dan menelepon pengacaraku.
"Bantu aku siapkan surat cerai. Selain itu, ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu."
Anda Mungkin Juga Suka





