Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Berawal Dari Diary

Cinta Berawal Dari Diary

Hidup Alya yang tenang sebagai siswi kutu buku berubah drastis setelah menemukan buku harian usang di perpustakaan sekolah. Diary tersebut mengungkap sisi kelam Arka, siswa populer yang dikenal sangat dingin. Alih-alih marah karena rahasianya terbongkar, Arka justru meminta Alya menjaga luka masa lalunya yang tersembunyi di balik kesempurnaan fisiknya. Permintaan tak terduga ini memicu rasa penasaran Alya untuk mengenal sosok asli Arka lebih dalam lagi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu, kamar Alya gelap kecuali cahaya meja belajar yang remang. Suara jangkrik terdengar dari luar jendela, seakan ikut menyembunyikan rahasia yang ia pegang.

Tangannya gemetar ketika menarik diary hitam itu dari dalam tas. Sampulnya dingin, seolah menyimpan energi asing. Alya membuka halaman yang belum sempat ia baca.

Tulisan Arka rapi, tapi kata-katanya seperti berbisik penuh tekanan.

"Aku benci semua sorotan ini. Semua orang menganggap sempurna, padahal aku nggak bisa jadi diriku sendiri. Di siang hari aku jadi Arka yang mereka mau. Tapi di malam hari... aku bebas. Malam hari adalah satu-satunya tempatku bernapas."

Alya menggigit bibir. Jadi benar, Arka punya sisi lain. Ia membalik halaman berikutnya.

"Aku tahu nggak boleh ketahuan. Sekali saja ada yang melihatku di tempat itu, semua selesai. Mereka akan lihat betapa lemahnya aku. Mereka akan tahu aku bukan Arka yang dingin dan kuat. Aku hanya seorang pengecut yang bersembunyi di balik basket."

Alya menahan napas. Jadi gosip Intan soal gitar itu... benar. Tapi kenapa Arka menulisnya seolah itu rahasia yang begitu besar? Apa sekadar main gitar bisa menghancurkan reputasinya?

Ia melanjutkan membaca.

"Aku akan ke sana lagi. Taman kota, bangku ketiga dekat air mancur. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa bernapas sebelum semuanya benar-benar mengekangku."

Mata Alya membelalak. Tangannya bergetar memegang diary itu.

Bangku ketiga. Air mancur.

Ya Tuhan... aku bahkan tahu persis tempatnya sekarang.

Alya menutup diary dengan cepat, seakan takut ada yang mendengar isi rahasia itu. Jantungnya berdentum keras.

Satu sisi dirinya berteriak agar ia segera mengembalikan diary ini ke Arka. Tapi sisi lain, yang didorong rasa penasaran, ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan Arka di malam hari.

Dan tanpa sadar, Alya sudah membuat keputusan. Besok malam... ia akan pergi ke taman kota itu.

**

Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu jalan di sekitar taman kota memantulkan cahaya kekuningan, menciptakan bayangan panjang di trotoar. Alya menarik jaketnya rapat-rapat, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.

Ia berdiri di balik pohon, menatap sosok yang sudah ia ikuti sejak tadi.

Cowok itu berjalan santai, seolah taman kota memang rumahnya sendiri. Tidak ada teman, tidak ada geng penggemar yang biasanya mengelilinginya di sekolah. Hanya dirinya dan sebuah gitar yang ia sandarkan di bahunya.

Alya menahan napas ketika Arka berhenti di bangku ketiga dekat air mancur, persis seperti yang tertulis di diary. Ia duduk, meletakkan tas, lalu mengeluarkan gitarnya.

Suasana sepi. Hanya suara gemericik air mancur yang terdengar. Lalu... senar gitar itu mulai dipetik.

Alya membelalakkan mata. Nada-nada yang keluar lembut, sendu, penuh emosi. Jauh berbeda dari sosok Arka yang dingin di sekolah. Cowok itu menunduk, matanya terpejam dan untuk pertama kalinya melihat sisi Arka yang rapuh.

Suara rendahnya perlahan mengikuti alunan gitar. Bukan sekadar bernyanyi, tapi lebih mirip melampiaskan isi hati yang tidak pernah bisa ia katakan.

Alya terpaku. Ini... ini Arka yang sebenarnya?

Namun, saat ia terlalu hanyut dalam momen itu, sebuah ranting kering tak sengaja ia injak. Krak!

Arka langsung berhenti. Kepalanya menoleh cepat, tatapannya menusuk ke arah pepohonan.

Alya panik, bersembunyi di balik batang pohon dengan napas tersengal. Suasana hening beberapa detik, hingga suara Arka terdengar pelan, nyaris berbisik tapi jelas menusuk.

"Aku tahu ada yang ngikutin aku..."

Alya menutup mulut dengan tangannya, tubuhnya gemetar.

Cowok itu berdiri, matanya menyapu sekitar taman. Seolah berbicara langsung padanya, ia melanjutkan.

"Kalau itu kamu... keluar sekarang!"

Napas Alya semakin cepat. Ia berdiri mematung di balik pohon, berharap Arka menyerah dan kembali duduk. Tapi tatapan cowok itu tidak beranjak dari arah persembunyiannya.

"Aku hitung sampai tiga," suara Arka terdengar jelas, rendah, dan penuh tekanan.

"Kalau nggak keluar, aku bakal nyari sendiri."

Alya menelan ludah.

Ya ampun, gimana ini?!

"...Satu."

Jantung Alya berdentum keras.

"...Dua."

Tangannya berkeringat, lututnya lemas.

"...Tiga."

Sebelum Arka sempat melangkah, dia akhirnya menyerah. Keluar perlahan dari balik pohon, wajahnya pucat, tangan meremas ujung jaket.

"E... e-eh... aku cuma kebetulan lewat," katanya gugup, suara bergetar.

Arka menatapnya tajam. "Lewat? Jam segini? Di taman yang sepi?"

Alya tersenyum kaku, mencoba berbohong. "Iya, hehe... aku kan habis dari minimarket..."

Tatapan Arka makin menusuk. Ia melangkah mendekat, hingga jarak mereka tinggal beberapa langkah saja.

"Jangan bohong."

Alya terdiam. Matanya refleks menunduk.

Dan saat itu, Arka melihat sesuatu menyembul dari tas Alya sampul hitam yang begitu familiar.

Dalam sekejap, tangannya terulur dan meraih benda itu. Alya mencoba menahan, tapi tenaga Arka terlalu kuat. Diary itu pun berpindah ke tangannya.

Arka menatap sampul hitam itu lama sekali, lalu mengalihkan pandangan ke Alya. Ekspresinya sulit ditebak antara marah, terkejut, dan... kecewa.

"Jadi... kamu yang selama ini..." suaranya pelan, tapi penuh tekanan.

"Kamu udah baca ini?"

Alya membeku. Tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya.

Dan di detik itu juga, ia sadar, rahasia Arka sudah terlanjur ia sentuh... dan sekarang tidak ada jalan kembali.

Arka menatap diary hitam di tangannya lama sekali. Angin malam meniup rambutnya yang sedikit berantakan, tapi sorot matanya tetap tajam.

Alya berdiri kaku, tubuhnya gemetar. Ia sudah siap kalau Arka akan marah, membentak, atau bahkan langsung pergi. Tapi yang

membuatnya makin panik Arka justru tersenyum tipis. Senyum yang dingin.

"Jadi kamu udah baca semua?" Tanyanya pelan.

Alya menunduk. "Maaf... aku nggak sengaja..."

Arka tertawa lirih, bukan tawa bahagia, melainkan seperti mengejek. "Nggak sengaja? Kamu buka, kamu baca, kamu simpan... tapi itu semua nggak sengaja?"

Alya menggigit bibirnya. Kata-kata itu menusuk seperti pisau.

Cowok itu melangkah mendekat, hingga jarak mereka tinggal satu langkah. Alya bisa merasakan aura dingin dari tubuhnya.

"Tahu nggak, kamu..." Arka berbisik, suaranya tenang tapi membuat bulu kuduk merinding.

"Lebih baik kamu dengar gosip buruk tentang aku, daripada kamu tahu kebenaran langsung dariku."

Alya mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. "Aku... aku cuma penasaran. Aku nggak akan cerita ke siapa pun, sumpah."

Arka menunduk, menatap langsung ke dalam matanya. Untuk sesaat, Alya bisa melihat sesuatu, rasa sakit, rapuh, tapi tersembunyi.

Lalu senyum itu kembali muncul.

"Kalau gitu..." ia mengulurkan diary hitam itu ke tangan Alya, membuat gadis itu terperangah.

"Teruskan baca. Tapi siap-siap, ya. Karena setiap halaman yang kamu buka... kamu bakal makin susah tidur."

Alya terdiam. Tangannya gemetar saat menerima kembali diary itu.

Arka berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Sementara Alya berdiri terpaku di bawah lampu taman, dengan jantung berdegup kencang dan sebuah pertanyaan besar di kepalanya.

Rahasia apa yang dia sembunyiin?

**

Suara bel istirahat menggema, disusul riuh murid-murid yang buru-buru keluar kelas. SMA Negeri 6 Surabaya siang itu terasa penuh energi. Dari koridor lantai dua, Alya bisa melihat lapangan basket yang ramai dipenuhi siswa, sebagian duduk di tangga sambil menikmati jajanan kantin.

Alya melangkah pelan, menenteng buku catatannya. Ia berusaha menghindar dari kerumunan, tapi tetap bisa mendengar suara-suara heboh cewek-cewek yang membicarakan Arka.

"Astaga, Arka makin keren aja kalau pakai seragam gitu!"

"Besok ada tanding basket antar SMA kan? Duh, nggak sabar nonton dia main lagi."

Alya hanya menarik napas, pura-pura tidak mendengar. Hatinya berdebar karena diary itu masih ada di tasnya, tersimpan rapi dalam plastik bening. Sejak membaca beberapa hal rahasia di dalamnya, ia merasa canggung setiap kali melihat Arka.

Sampai akhirnya suara langkah cepat menghentikannya.

"Alya."

Suara berat itu membuat tubuh Alya menegang. Ia menoleh, dan benar saja, Arka berdiri tak jauh darinya, masih dengan wajah datar yang sulit ditebak. Seragam putih abu-abunya sedikit berantakan, kancing atas tidak tertutup, dan rambutnya berkilau terkena sinar matahari yang masuk dari jendela.

Jantung Alya seketika berdegup kencang.

"Aku... aku mau ke kantin," ucap Alya cepat, mencoba menghindar.

Tapi Arka mengangkat tangannya, menghentikan langkahnya. "Bisa kita ngobrol bentar? Di belakang perpus."

Alya menelan ludah. Belakang perpustakaan adalah tempat yang jarang dilewati orang saat istirahat. Suasana sepi di sana... hanya ada pohon flamboyan besar yang menaungi bangku semen. Mau gak mau, Alya mengikuti.

Sesampainya di sana, suasana benar-benar kontras dengan riuhnya sekolah. Hanya suara burung dan angin yang terdengar. Arka bersandar di tembok, menatap Alya dengan mata teduh namun menusuk.

"Diary itu... kamu masih simpan, kan?" Tanyanya lirih.

Alya mengangguk pelan. "Iya. Aku... aku nggak cerita ke siapa-siapa."

Arka menatapnya lama. Senyum samar muncul di bibirnya, tapi justru membuat Alya makin gelisah.

"Bagus. Tetap begitu. Karena kalau ada orang lain yang tahu isinya..." Arka berhenti sejenak, menunduk, lalu melanjutkan dengan suara rendah. "...hidup aku bisa berantakan."

Alya menegang. Kata-kata itu seperti menambah beban di pundaknya. Ia ingin bertanya, ingin tahu lebih dalam, tapi bibirnya kelu.

Lalu, tanpa diduga, Arka menatapnya lagi kali ini lebih dalam.

"Kamu satu-satunya orang yang aku percaya buat nyimpan rahasia ini, Alya."

Ucapan itu membuat dada Alya terasa sesak. Bagaimana bisa cowok paling populer di SMA 6, yang punya segalanya, justru menaruh rahasia terbesar hidupnya pada seorang gadis biasa sepertinya?

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya Alya merasa... dia bukan lagi gadis tak terlihat di sekolah ini.

Malam itu, kipas angin di kamar Alya berputar lambat. Buku-buku berserakan di meja belajar, namun pikirannya tak bisa fokus ke pelajaran. Diary itu yang sejak siang tadi ia sembunyikan di laci seolah berteriak minta dibuka.

Dengan jantung berdebar, Alya menarik napas dalam-dalam lalu membuka halaman berikutnya. Tulisan tangan Arka yang rapi tapi sedikit tergesa membuatnya semakin penasaran.

"Kadang aku malas pulang ke rumah. Bukan karena rumahku kecil, tapi karena di balik tembok itu terlalu banyak rahasia. Ayahku bukan sosok yang sempurna seperti yang dilihat orang. Semua orang mengira dia seorang diplomat sukses, padahal... terlilit hutang rentenir."

Alya membekap mulutnya. Matanya membesar, membaca kalimat demi kalimat.

"Aku juga masih dihantui masa lalu. SMP kelas 3, aku hampir dikeluarkan sekolah karena ikut tawuran. Hanya karena ayahku 'membayar' pihak sekolah, namaku aman. Tapi rasa malu itu masih ada. Kadang aku pengin semua orang tahu siapa aku sebenarnya... tapi aku takut semua akan pergi kalau mereka tahu kebenarannya."

Tangannya bergetar. Alya buru-buru menutup diary itu, lalu menatap langit-langit kamar dengan pikiran kacau.

"Ya Tuhan... jadi selama ini..." Bisiknya lirih.

Ia merasa sesak. Besok di sekolah, ia harus bertemu Arka, menatap mata cowok yang selama ini terlihat sempurna. Tapi kini, setelah tahu rahasianya, Alya merasa memikul beban berat.

Suaranya bergetar sendiri, seolah ingin menolak kenyataan itu.

"Kenapa aku? Kenapa aku yang harus tahu semua ini...?"

Di luar, suara klakson motor lewat di jalan raya Surabaya yang tak pernah tidur. Tapi di kamar Alya, waktu terasa berhenti. Diary itu membuatnya terjebak di antara dua pilihan, menjaga rahasia atau menghancurkan segalanya.

*****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akupun Menandatangani Namanya
8.4
Dikhianati oleh suaminya, Marvin Kurniawan, dan diracuni hingga tewas oleh putra kandungnya sendiri demi kekuasaan Irma Fasnitan, sang protagonis mendapatkan kesempatan kedua. Ia terbangun tepat di hari sumpah pernikahannya dua puluh tahun lalu. Bertekad menyelamatkan keluarganya, ia tidak menandatangani namanya sendiri di perjanjian nikah, melainkan nama Irma. Ia memilih membawa lari seluruh harta warisan peninggalan orang tuanya dan menghilang, menolak mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Beri Aku Kesempatan Kedua
9.2
Pasca ayahnya wafat, Ishvara terjebak dalam pernikahan paksa dengan Kalandra Ranjaya, pria yang sudah memiliki kekasih. Dianggap wanita kuno yang membosankan, Ishvara menderita dalam jebakan hidup yang penuh tangis. Namun, perubahan drastis Ishvara menjadi sosok cantik dan pengungkap hubungan misteriusnya dengan pria lain memicu kecemburuan Kalandra. Saat Kalandra mulai peduli, Ishvara justru memilih pergi dan menutup pintu hati demi mengakhiri sandiwara mereka.
Sampul Novel Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka
7.9
Brama Wijaya memenjarakanku selama lima tahun atas fitnah pembunuhan Kania. Setelah bebas, ia menyiksaku di kandang anjing dan memaksaku meminum obat mandul. Saat Kania terungkap masih hidup, Brama membiarkan adikku tewas di tangan Kania. Aku pun mengakhiri hidup demi membalas dendam. Kini, aku terbangun tepat di hari kebebasanku. Dengan kesempatan kedua ini, aku bersumpah akan menyeret Brama dan Kania ke neraka atas segala penderitaan yang telah mereka perbuat.
Sampul Novel Godaan Di Balik Jebakan Untuknya
8.4
Wade menjalani profesinya sebagai fotografer khusus foto pribadi dengan profesional. Namun, kedatangan sahabat lamanya sejak masa kuliah mengubah segalanya. Setelah meminta sesi pemotretan intim bersama sang istri, sang sahabat justru mengajukan permohonan yang tidak masuk akal agar Wade menuruti keinginan istrinya. Di tengah kebingungan antara profesionalisme kerja dan kesungguhan sang teman, Wade terseret dalam situasi misterius yang penuh motif tersembunyi dan godaan tak terduga.
Sampul Novel Kakak Iparku, Pengagum Rahasiaku
9.4
Berniat memberikan kejutan manis untuk suaminya, seorang wanita memutuskan untuk menanggalkan pakaiannya dan bersembunyi di dalam lemari asrama proyek konstruksi tempat sang suami bekerja. Namun, situasi berubah tak terkendali ketika sang suami tidak kunjung tiba, dan justru tiga rekan kerjanya yang masuk ke ruangan tersebut. Terpancing oleh pakaian dalam yang tertinggal, ketiga pria itu melampiaskan hasrat mereka pada bibi juru masak di sana. Menyaksikan adegan panas tersebut secara langsung membuat gairah sang istri ikut memuncak hingga ia tidak sengaja mendesah saat memuaskan dirinya sendiri. Seketika itu juga, pandangan ketiga pria tersebut langsung tertuju ke arah lemari tempat persembunyiannya.
Sampul Novel Masa lalu Marni (Wewe gombel)
9.7
Marni hidup menderita akibat dosa masa lalu dan kebencian ibu tirinya yang memicu fitnah kejam dari tetangga. Meski sempat menikah dengan Ari, ia tetap dikucilkan hingga akhirnya diceraikan karena tak kunjung memiliki anak. Penderitaan Marni memuncak saat ia menjadi gila akibat pelecehan warga sebelum akhirnya tewas dibunuh secara brutal. Kini, arwahnya yang penuh dendam menghantui, menyisakan misteri apakah ia bisa beristirahat dengan tenang.