Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cincin Dendam : Janji di Balik Rahasia

Cincin Dendam : Janji di Balik Rahasia

Terjebak rahasia kelam keluarga Ariatama Marten, Lara tak sengaja merusak hubungan adiknya dengan Leon akibat rasa cemburu. Leon yang merasa dikhianati namun memiliki agenda tersendiri terhadap keluarga itu justru menawarkan pernikahan kontrak. Demi melindungi kehormatan keluarga dan rasa cintanya yang terpendam, Lara pun setuju. Akankah ikatan formal ini berujung pada cinta sejati, atau justru menguak luka lama dan misteri yang jauh lebih berbahaya bagi mereka?
Bab
Bagikan

Bab 3

Lara mengingat dengan jelas awal mula kedekatannya dengan Leon, pria yang kini menjadi Direktur Keuangan di Marten Energy. Sebagai manajer perencanaan keuangan, interaksi profesional mereka seharusnya biasa saja. Namun, semuanya mulai berubah ketika Leon menunjukkan ketertarikannya pada Cantika, adik tirinya.

Pada saat itu suasana kantor pagi itu terasa tenang, dengan hanya suara keyboard dan percakapan pelan antar karyawan yang mengisi ruangan. Lara sedang serius menatap layar komputer ketika ia merasakan sentuhan ringan di pundaknya.

"Permisi," terdengar suara yang dalam dan formal. Lara menoleh dan mendapati Leon berdiri di belakangnya. Sontak, ia menahan napas sesaat, jantungnya berdebar lebih cepat. Dengan sedikit gugup, ia bergeser ke samping untuk memberi jalan.

"Silakan, Pa Leon," ucapnya dengan sopan.

Leon membalas dengan anggukan kecil, senyum sekilas di wajahnya sebelum ia melangkah melewatinya menuju ruang kerjanya yang berdinding kaca. Setelah kepergian Leon, Lara menghela napas panjang, mencoba meredakan debaran di dadanya. Dari mejanya, ia bisa melihat Leon yang langsung duduk dan mulai bekerja dengan sikap yang begitu fokus. Lara terpaku sejenak, memandangi bagaimana pria yang diam-diam ia kagumi itu berbicara serius dengan beberapa anggota timnya, menunjukkan dedikasi yang membuatnya tampak semakin mengagumkan.

Panggilan dari Leon untuk menghadap ke ruangannya datang lebih cepat dari yang ia kira. Lara menyiapkan laporan yang diminta dan memasuki ruang kaca Leon dengan sikap tenang, meskipun di dalam hati ia tak bisa menutupi kegugupannya.

"Silakan duduk, Lara," kata Leon, menyapanya dengan nada ramah yang sedikit mengejutkan.

Lara duduk dengan rapi dan menyerahkan laporan yang ia bawa. Leon mulai membuka pembicaraan dengan komentar singkat tentang pekerjaannya, sesekali menanyakan detail yang membuatnya terkesan karena Leon mendengarkan setiap kata yang ia katakan dengan penuh perhatian.

Setelah selesai membahas laporan, Leon bersandar dan, tanpa diduga, menanyakan sesuatu yang lebih personal.

"Jadi kalian kalau berangkat ke kantor kamu bareng ayahmu, dan Cantika bawa mobil sendiri?" katanya, menatap Lara dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Lara terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut, namun ia segera menjawab dengan bahasa formal.

"Iya, Pak. Gaji dan pendapatan saya belum cukup untuk membeli mobil, dan saya juga lebih nyaman jika bersama dengan ayah," jawabnya, mencoba menjaga nada yang profesional.

Leon mengangguk pelan, masih memperhatikannya dengan tatapan yang penuh minat. "Bisa dimengerti," katanya singkat, sebelum kembali mengarahkan pembicaraan ke hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya.

Lara hanya tersenyum, tak ingin menanggapi lebih dalam tentang hal ini. Namun, bagi Lara, pertanyaan tadi menyisakan tanda tanya. Perhatian Leon terhadap keluarganya, meskipun sekilas, membuatnya merasa ada sesuatu yang lain di balik sikap ramah pria itu. Ia tahu Leon mungkin hanya berbasa-basi, ia tak bisa menahan diri untuk merasa lebih dekat padanya. Namun, ia juga menyadari bahwa ini mungkin hanya perasaan sesaat, karena perhatian Leon sebenarnya mungkin bukan untuknya, melainkan untuk Cantika.

Hari itu jam kantor telah usai, Lara bergegas membereskan mejanya dan seperti biasa di keruangan Ayahnya untuk mengajak ayahnya pulang bersama. Setelah mengetuk pintu dan masuk ke ruangan ayahnya, Lara mendapati dua pria yang paling ia sayangi berada di sana, ayahnya, Pak Darma, dan paman Jeri, yang tidak lain adalah asisten ayahnya.

Lara masuk dan menyapa kedua pria yang sangat ia sayangi dengan senyum hangat. Ia meraih tangan pamannya, Paman Jeri, dan menyalaminya penuh hormat. Pria paruh baya itu tersenyum lembut, mengangguk kecil, seolah memahami betapa Lara menempatkannya di hati sebagai sosok panutan kedua setelah ayahnya.

"Paman Jeri, bagaimana kabarnya?" Lara bertanya, sambil tersenyum.

"Baik, Lara. Selalu senang melihat keponakan kesayangan paman," jawab Jeri sambil membalas senyuman Lara. "Kamu semakin sibuk saja, ya, di divisi yang baru?"

Lara tertawa kecil. "Sedikit, tapi masih bisa ditangani, kok, Paman."

Setelah percakapan hangat sejenak, Pak Darma mengangguk, isyarat bahwa ia punya tugas penting untuk Lara. "Lara, ada sesuatu yang ayah ingin kamu lakukan," katanya sambil menyerahkan sebuah file berwarna cokelat yang terkesan begitu rahasia.

Lara menerima file itu dengan ekspresi serius, menunggu instruksi lebih lanjut.

"Antarkan file ini kepada Cantika," Pak Darma berkata pelan namun tegas. "Dia sedang menunggu di ruangannya. Tapi ingat, file ini harus kamu berikan langsung ke tangannya, jangan sampai diketahui siapa pun."

Lara mengangguk, memahami pentingnya pesan itu. Setelah mengucapkan pamit kepada ayah dan pamannya, ia melangkah keluar, menyembunyikan file itu di tasnya dengan hati-hati.

Lara melangkah keluar dari ruangan ayahnya dengan hati-hati, menghela napas panjang setelah menutup pintu di belakangnya. Kantor sudah begitu sepi, menyisakan ketenangan malam yang anehnya terasa berat di udara. Hanya ada gemerisik langkahnya sendiri yang terdengar, setiap bunyi sepatu yang mengenai lantai marmer memantul, mengisi ruang kosong di sekitar. Penerangan yang mulai diredupkan membuat bayangannya sendiri tampak memanjang di sepanjang lorong.

Lara mempercepat langkahnya menuju lift, mengeratkan genggaman pada tas berisi file yang ayahnya percayakan padanya. Setiap instruksi ayahnya kembali berputar di kepalanya. File ini penting, harus sampai ke tangan Cantika secara langsung dan tanpa diketahui siapa pun.

Sesampainya di lift, Lara menekan tombol dan menunggu pintu terbuka. Ia menyandarkan bahu pada dinding di sebelah lift, mencoba menenangkan diri sambil memandang ke arah koridor yang gelap dan sunyi. Suasana kantor yang biasanya ramai kini terasa begitu berbeda di malam hari-seperti dunia lain yang menunggu untuk mengungkapkan sesuatu yang tersembunyi.

Saat pintu lift akhirnya terbuka, Lara melangkah masuk dan menekan tombol lantai tujuan, lantai di mana Cantika menunggu. Ia merasa lega, setidaknya hanya perlu menuruni beberapa lantai lagi dan ia bisa menyerahkan file ini sebelum pulang. Namun, begitu lift bergerak, lift berhenti lebih awal dari yang seharusnya.

"Kok berhenti disini, siapa yang dari divisiku belum pulang ya" gumam Lara sempat bingung mengapa pintu lift terbuka di lantai yang bukan tujuannya. Pintu itu perlahan membuka, dan di sana, berdiri seseorang yang tak pernah ia duga akan ditemuinya dalam situasi seperti ini.

"Pa Leon."

Lara seketika merasa kaget, pandangannya terpaku pada sosok pria yang berdiri di depan lift dengan ekspresi tak terbaca. Leon memandangnya, sejenak menurunkan pandangan ke arah tasnya, sebelum kemudian mengangkat alis tipis dengan senyuman"Oh, permisi, ini mau turun kan," Leon berkata dengan nada rendah yang tenang namun cukup untuk membuat Lara merasakan gelombang kegugupan yang tidak biasa.

Lara berusaha menelan ludah, mencoba tersenyum meski ia tahu pipinya mungkin sudah memerah. "Iya, Pak... silakan masuk," jawabnya, suaranya sedikit bergetar.

Leon melangkah masuk ke dalam lift, dan pintu menutup perlahan, menyisakan mereka berdua dalam ruang kecil yang tiba-tiba terasa semakin menyempit. Aroma maskulin dan segar khas Leon membuatnya semakin gugup, seakan menutupi setiap sudut lift yang sunyi.

Lara berdiri sedikit kaku, mencoba menjaga jarak tanpa terlihat canggung, namun jantungnya masih berdegup kencang. Ia mencuri pandang ke arah Leon yang berdiri tenang di sisinya, matanya terfokus pada angka-angka di atas pintu lift yang menunjukkan lantai.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HPC" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HPC
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A.M.O.R.E.G.A
8.3
Waktu membawa kita pada pertemuan yang tak terduga, namun perpisahan sering kali menjadi misteri yang sulit dipahami. Melalui kehilangan, kita dipaksa menyadari betapa berartinya kehadiran seseorang bagi hati kita. Meski rasa sakit bisa disembuhkan, luka yang tertinggal akan tetap membekas selamanya. Apa yang telah patah tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala, meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan emosional yang penuh makna ini.
Sampul Novel Dokter Forensikku, Kakakku
9.7
Sejak tragedi lima tahun lalu yang menewaskan Yani, sang tunangan, kakak Suzanne menaruh dendam mendalam dan berharap adiknya mati. Yani tewas demi melindungi Suzanne dari serangan pisau, meninggalkan luka batin yang tak termaafkan. Kini, takdir membawa jasad Suzanne yang hangus terbakar ke atas meja autopsi kakaknya sendiri yang bekerja sebagai dokter forensik. Keinginan sang kakak untuk melihat Suzanne tiada akhirnya terwujud, namun kenyataan pahit ini justru menghancurkan kewarasannya hingga ia menjadi gila.
Sampul Novel I Love You Chef
8.9
Renata Deanita akhirnya jatuh hati pada atasannya yang dingin dan angkuh, Arjuna Tunggajaya Nuraga. Meski terlihat galak, Arjuna ternyata menyimpan rasa yang sama namun takut terluka lagi setelah ditinggal sang istri. Sebuah ciuman spontan di Bandung membawa mereka ke dalam malam penuh gairah hingga sepakat untuk menikah. Namun, saat hubungan mereka semakin serius, ancaman tak terduga mulai mengintai. Sanggupkah cinta mereka bertahan dari gangguan orang asing?
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta, Ini Hanya Kontrak
7.9
Demi menyembunyikan kelemahan pribadinya, Arga Satria Wicaksana memutuskan untuk mencari seorang istri sewaan. Tak disangka, keputusan kontrak tersebut membawa perubahan drastis dalam hidupnya. Penyakit kronis yang telah membelenggu Arga selama bertahun-tahun secara ajaib mulai membaik berkat kehadiran wanita yang ia bayar tersebut. Hubungan formal ini pun menjadi kunci kesembuhan yang selama ini mustahil ia dapatkan dari pengobatan mana pun.
Sampul Novel Kepingan Hati
9.5
Rafa Dwindra Athaya harus menghadapi kenyataan sulit saat jatuh hati pada gurunya sendiri, Khafa Aseanda Zayn. Meski Khafa terus menolak karena perbedaan usia dan status sosial, takdir justru menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang tak terduga. Kini, Rafa berjuang keras memenangkan hati sang istri yang masih menutup diri. Baginya, mencintai Khafa adalah pilihan hidup, namun membangun masa depan bersama perempuan itu adalah tujuan akhirnya yang paling utama.
Sampul Novel Kesetiaanku Dibalas Pengkhianatan
8.8
Menikahi suami yang tidak mampu memuaskannya di ranjang membuat wanita berusia 30 tahun ini memendam hasrat terpendam. Pertemuan tidak terduga dengan seorang montir berbadan kekar hampir membuatnya goyah, meski ia akhirnya memilih mundur demi menjaga pernikahan. Namun, pengorbanannya sia-sia saat ia memergoki sang suami justru berselingkuh dengan tetangga hamil di seberang rumah. Kecewa karena kesetiaannya dikhianati, kini ia mulai mempertimbangkan untuk membalas dendam dengan cara yang sama.