Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cincin Dendam : Janji di Balik Rahasia

Cincin Dendam : Janji di Balik Rahasia

Terjebak rahasia kelam keluarga Ariatama Marten, Lara tak sengaja merusak hubungan adiknya dengan Leon akibat rasa cemburu. Leon yang merasa dikhianati namun memiliki agenda tersendiri terhadap keluarga itu justru menawarkan pernikahan kontrak. Demi melindungi kehormatan keluarga dan rasa cintanya yang terpendam, Lara pun setuju. Akankah ikatan formal ini berujung pada cinta sejati, atau justru menguak luka lama dan misteri yang jauh lebih berbahaya bagi mereka?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Kalau Leon tahu semuanya... apa dia masih mau mengenalku?" gumamnya pelan, seolah bertanya pada keheningan.

Lara menatap kosong ke dinding kamar, bibirnya gemetarBayangan wajah Leon kembali menyeruak, membuatnya semakin tersiksa. "Haruskah aku jujur? Atau aku menyimpan semua ini sampai mati?" pikirnya dalam hati, tapi bahkan imajinasi Leon yang penuh amarah membuat tubuhnya melemas.

"Kenapa harus begini?" gumamnya lirih, menggenggam erat selimut di dadanya. "Leon yang malang" Matanya memandang kosong ke arah jendela, seolah mencari jawaban di balik malam yang kelam.

Malam itu, Lara terbangun dengan napas tersengal. Tubuhnya menggigil meski kamar terasa hangat. Matanya basah, dan rasa bersalah yang menyesakkan memenuhi hatinya. Dalam mimpi, wajah Leon yang penuh kekecewaan kembali menghantuinya-tatapan tajam itu muncul ketika Leon mengetahui kebenaran tentang Cantika.

Lara teringat bagaimana Leon secara tak sengaja mengetahui bahwa Cantika, adik tirinya, tidak benar-benar mencintainya. Bagi Cantika, Leon hanyalah salah satu pilihan, bukan satu-satunya pria di hatinya. Dan itu, tragisnya, terjadi karena kecerobohan Lara sendiri.

Bagaimanapun, di lubuk hatinya, Lara diam-diam sangat mencintai Leon. Perasaannya begitu dalam, namun ia tak pernah berani mengungkapkannya. Yang diinginkannya hanyalah melihat Leon bahagia bukan sebaliknya.

Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Ingatan lain menyusup ke benaknya, lebih mengerikan dari sebelumnya. Dokumen-dokumen rahasia yang ia temukan di ruang kerja Paman Jeri muncul dalam bayangannya. Kertas-kertas itu dengan jelas menunjukkan bagaimana keluarga Ariatama, keluarganya sendiri, memiliki hubungan gelap dengan masa lalu kelam keluarga Leon termasuk kematian tragis kedua orang tuanya.

..keesokan harinya..

Matahari pagi mengalirkan cahaya lembut ke dalam kamar Lara, membangunkannya dengan perlahan. Setelah bermimpi buruk sepanjang malam, dia merasa kepalanya berat, namun dia berusaha menepis perasaan itu dan memulai harinya. Lara bangkit, mengenakan seragam kerjanya yang elegan, lalu bersiap turun ke ruang makan. Aroma roti panggang dan kopi memenuhi udara, membawa sedikit kenyamanan di tengah kekacauan pikirannya.

Di ruang makan, ayahnya, Tuan Darma, sudah duduk di ujung meja, membaca koran seperti biasa. Ibu tirinya, Vina, duduk di sebelahnya, menyesap teh dengan anggun, sementara Cantika sibuk dengan ponselnya, sesekali tertawa kecil saat membaca pesan-pesan yang muncul.

"Pagi, Lara," kata Vina sambil melirik sekilas. Senyumnya sopan, tapi dingin.

"Selamat pagi," jawab Lara, mengambil tempat duduknya di seberang Cantika.

Ayahnya menurunkan korannya dan menatap Lara dengan mata tajam. "Kenapa kemarin kamu tiba-tiba pergi dari pesta, Lara? Semua orang bertanya-tanya."

Lara menarik napas, berusaha menjawab tanpa menimbulkan kecurigaan. "Maaf, Ayah. Aku merasa kurang nyaman, dan saat itu aku mendengar Paman Jeri kurang sehat, jadi aku ingin memastikan kabarnya," katanya sambil menundukkan pandangannya ke piring.

Tuan Darma mengangguk pelan, ekspresi khawatir di wajahnya sedikit memudar. "Paman Jeri, tapi hari ini dia bisa berangkat kekantor tidak ya," gumamnya, sebelum kembali memusatkan perhatian pada sarapannya.

Namun, Vina mengambil alih pembicaraan, tatapannya melayang ke Cantika dengan senyum menggoda. "Ngomong-ngomong tentang pesta, Cantika, semua orang tak berhenti membicarakan kamu dan Leon. Kalian berdua tiba bersama dan kelihatan sangat serasi."

Cantika tersenyum malu-malu, meletakkan ponselnya. "Ayah, Ibu, kita hanya teman. Leon kebetulan menawarkan untuk pergi bersama karena dia juga diundang," jawabnya dengan nada ceria namun wajahnya sedikit memerah.

Tuan Darma tersenyum, sorot matanya penuh pengharapan. "Leon itu pemuda yang cerdas dan berbakat. Aku selalu melihat masa depan yang cerah untuknya."

Vina menimpali dengan tawa kecil, "Benar sekali. Jika hubungan kalian lebih dari sekadar teman, itu kabar baik. Dia bisa menjadi partner yang baik, Cantika."

Lara merasakan dadanya berdebar saat mendengar percakapan itu. Suara mereka seperti gema yang menyakitkan, menggoyahkan hatinya. Namun, dia meneguhkan diri, menyesap kopi dengan tenang sambil menyembunyikan kerisauan di balik wajahnya yang datar.

Namun, pikirannya tak bisa berhenti mengembara. Ingatannya melayang ke pesta kemarin, saat Leon dengan pesonanya yang memukau menjadi pusat perhatian. Senyum ramahnya, cara ia berbicara, dan sikapnya yang hangat membuat semua orang terpesona, termasuk dirinya. Tapi bayangan itu seketika berubah menjadi wajah Leon yang penuh amarah dan kekecewaan. Perkataan Cantika, yang tak menyadari bahwa Leon mendengarnya telah melukai harga diri dan hatinya.

Lara menelan ludah. Semua itu masih begitu jelas di kepalanya.

Tiba-tiba pintu depan terbuka, suara langkah kaki bergema di koridor, dan suara Vina yang menyapa terdengar dari kejauhan. Lara mengangkat pandangannya, dan detak jantungnya seolah berhenti. Di ambang pintu, Leon berdiri dengan elegan, mengenakan setelan kasual yang membuatnya semakin tampan. Mata mereka bertemu sejenak, senyum Leon yang hangat dan bersahaja terpancar seperti kilat yang menyambar hati Lara.

"Selamat pagi," sapa Leon dengan nada ramah, tatapannya yang dalam menghujam tepat ke arah Lara.

Lara terdiam, sekujur tubuhnya menegang.

Vina langsung menyambutnya dengan senyum lebar. "Leon, selamat pagi! Sini masuk, duduk nak, Bergabunglah sebentar sebelum kalian berangkat," katanya sambil melirik Cantika, yang terlihat semakin sumringah dengan kehadiran pria itu.

Cantika mengangguk kecil, matanya berbinar. "Ayo, Kak Leon, duduk dulu. Kopi pagi ini enak sekali," ujarnya sambil memberikan kursi kosong di sampingnya.

Namun, Leon hanya melirik sekilas, pandangannya langsung mencari Lara yang duduk di seberang Cantika

Lara tersentak saat mata Leon menatapnya lekat. Leon berjalan lurus ke arahnya tanpa ragu.

"Lara," panggil Leon, suaranya berat namun tegas. "Aku duduk di sini."

Lara menatapnya bingung. "Leon... i..iya?" jawab lara, tangannya meremas cangkir kopinya.

Leon duduk di kursi di sampingnya, tidak memedulikan Cantika yang menatap mereka dengan mata membelalak. Begitu juga Pa Darma dan Vina Ibu Cantika.

"Bagaimana pesta semalam, Leon?" tanya Tuan Darma, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa tegang. "Aku dengar kamu menjadi pusat perhatian bersama Cantika."

Leon tersenyum kecil, menatap Tuan Darma dengan sopan. "Ah, pesta itu luar biasa, Pak. Monic terlihat sangat bahagia, dan semua tamu tampak menikmati suasana."

Vina menyahut dengan tawa lembut. "Tentu saja, apalagi dengan kehadiranmu, Leon. Kamu memang selalu membawa aura positif."

Suasana di ruang makan keluarga Ariatama terasa hangat, diiringi suara ceria Cantika dan Tante Vina yang memuji Leon atas kehadirannya di pesta pernikahan Monic kemarin. Namun, Lara hanya duduk diam, matanya sesekali melirik Leon yang terlihat tenang meski aura di sekitarnya terasa berbeda.

Leon akhirnya meletakkan sendoknya, menegakkan punggung, dan menatap semua orang di ruangan itu.

"Pak Darma, Tante Vina, izin bicara sebentar," Leon membuka percakapan dengan nada tegas namun sopan.

Tante Vina tersenyum hangat. "Tentu, Leon. Ada apa? Jangan terlalu formal begitu. Kamu sudah seperti keluarga sendiri."

Leon mengangguk kecil. "Terima kasih, Tante. Sebelum saya melanjutkan, izinkan saya untuk mengucapkan rasa terima kasih saya. Selama ini, saya sudah diterima dengan sangat baik di rumah ini. Saya benar-benar menghargai kesempatan untuk berteman dengan Lara dan Cantika."

Lara tertegun, merasakan kegelisahan mulai merayapi hatinya. Leon terlihat terlalu serius pagi ini. Apa yang ingin dia katakan?

Leon menghela napas, pandangannya menyapu seluruh ruangan. "Namun, hari ini saya ingin membahas sesuatu yang sangat penting bagi saya."

Pak Darma yang sejak tadi memperhatikan dengan tenang akhirnya berbicara. "Silakan, Leon. Saya sudah mengenal kamu cukup lama, bahkan sebelum kamu akrab dengan anak-anak saya. Jika ini penting, katakan saja."

Leon menatap Pak Darma dengan penuh penghormatan. "Terima kasih, Pak. Begini, selama beberapa minggu terakhir, saya telah menjalin kedekatan pribadi dengan salah satu putri Bapak."

Cantika mengangkat alis, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Lara, di sisi lain, membeku di tempatnya, perasaan tak menentu memenuhi dadanya.

"Awalnya, hubungan ini murni profesional. Kami bekerja dalam satu tim di kantor. Tapi seiring waktu, saya mulai mengenal dia lebih dalam, dan saya merasa... saya serius dengan perasaan saya," lanjut Leon, nadanya tegas.

Pak Darma mengangguk, memberikan isyarat agar Leon melanjutkan.

Leon menarik napas panjang, menatap Lara langsung dengan mata penuh keteguhan. "Saya berniat untuk menikahi Lara."

Seisi ruangan mendadak sunyi. Cantika menoleh cepat ke arah Lara, ekspresi bingung tercetak jelas di wajahnya.

"Lara?" gumam Cantika, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Lara merasa tubuhnya kaku. Matanya melebar, menatap Leon tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun. Semua ini terasa seperti mimpi yang aneh.

Pak Darma akhirnya memecah keheningan. "Leon, ini pengakuan yang besar. Kamu yakin dengan keputusanmu?"

"Sangat yakin, Pak," jawab Leon mantap dan berdiri. "Namun, dengan segala hormat, saya tidak ingin melangkahi batasan. Keputusan ini tidak hanya ada di tangan saya. Saya menyerahkan semuanya kepada Lara, juga kepada Pak Darma dan Tante Vina sebagai orang tuanya."

Namun, Lara tetap diam, masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Di dalam hatinya, perasaan bercampur aduk, pria yang selama ini dia kagumi, dia cintai dan ikuti diam-diam, Pria yang dia ketahui rahasia kemalangan masalalu nya karena keluarganya sendiri, Pria yang selama ini dia lihat perjuangannya untuk mengejar adik tirinya, tiba-tiba berkata ingin menikahinya, perasaannya bercampur antara cinta, kebingungan, dan rasa bersalah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A.M.O.R.E.G.A
8.3
Waktu membawa kita pada pertemuan yang tak terduga, namun perpisahan sering kali menjadi misteri yang sulit dipahami. Melalui kehilangan, kita dipaksa menyadari betapa berartinya kehadiran seseorang bagi hati kita. Meski rasa sakit bisa disembuhkan, luka yang tertinggal akan tetap membekas selamanya. Apa yang telah patah tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala, meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan emosional yang penuh makna ini.
Sampul Novel Dokter Forensikku, Kakakku
9.7
Sejak tragedi lima tahun lalu yang menewaskan Yani, sang tunangan, kakak Suzanne menaruh dendam mendalam dan berharap adiknya mati. Yani tewas demi melindungi Suzanne dari serangan pisau, meninggalkan luka batin yang tak termaafkan. Kini, takdir membawa jasad Suzanne yang hangus terbakar ke atas meja autopsi kakaknya sendiri yang bekerja sebagai dokter forensik. Keinginan sang kakak untuk melihat Suzanne tiada akhirnya terwujud, namun kenyataan pahit ini justru menghancurkan kewarasannya hingga ia menjadi gila.
Sampul Novel I Love You Chef
8.9
Renata Deanita akhirnya jatuh hati pada atasannya yang dingin dan angkuh, Arjuna Tunggajaya Nuraga. Meski terlihat galak, Arjuna ternyata menyimpan rasa yang sama namun takut terluka lagi setelah ditinggal sang istri. Sebuah ciuman spontan di Bandung membawa mereka ke dalam malam penuh gairah hingga sepakat untuk menikah. Namun, saat hubungan mereka semakin serius, ancaman tak terduga mulai mengintai. Sanggupkah cinta mereka bertahan dari gangguan orang asing?
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta, Ini Hanya Kontrak
7.9
Demi menyembunyikan kelemahan pribadinya, Arga Satria Wicaksana memutuskan untuk mencari seorang istri sewaan. Tak disangka, keputusan kontrak tersebut membawa perubahan drastis dalam hidupnya. Penyakit kronis yang telah membelenggu Arga selama bertahun-tahun secara ajaib mulai membaik berkat kehadiran wanita yang ia bayar tersebut. Hubungan formal ini pun menjadi kunci kesembuhan yang selama ini mustahil ia dapatkan dari pengobatan mana pun.
Sampul Novel Kepingan Hati
9.5
Rafa Dwindra Athaya harus menghadapi kenyataan sulit saat jatuh hati pada gurunya sendiri, Khafa Aseanda Zayn. Meski Khafa terus menolak karena perbedaan usia dan status sosial, takdir justru menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang tak terduga. Kini, Rafa berjuang keras memenangkan hati sang istri yang masih menutup diri. Baginya, mencintai Khafa adalah pilihan hidup, namun membangun masa depan bersama perempuan itu adalah tujuan akhirnya yang paling utama.
Sampul Novel Kesetiaanku Dibalas Pengkhianatan
8.8
Menikahi suami yang tidak mampu memuaskannya di ranjang membuat wanita berusia 30 tahun ini memendam hasrat terpendam. Pertemuan tidak terduga dengan seorang montir berbadan kekar hampir membuatnya goyah, meski ia akhirnya memilih mundur demi menjaga pernikahan. Namun, pengorbanannya sia-sia saat ia memergoki sang suami justru berselingkuh dengan tetangga hamil di seberang rumah. Kecewa karena kesetiaannya dikhianati, kini ia mulai mempertimbangkan untuk membalas dendam dengan cara yang sama.