
CHRONOPHILE
Bab 3
◤─────•~❉✿❉~•─────◥
Aero membuka lemari es lalu mengambil kotak susu. Ia meneguknya sampai habis.
Dibukanya lemari makanan. Aero mengambil roti dan mengolesinya dengan mentega lalu melahapnya.
"Oh iya, hari ini ibuku datang," gumam Aero yang mulutnya masih penuh dengan roti.
Siang harinya, para pelayan tampak sibuk membereskan rumah.
"Tolong bereskan piala di lemari juga, Bibi. Ibuku sangat teliti," ucap Aero.
"Baik, Tuan."
Aero mendengar suara mobil berhenti di depan pelataran rumahnya. Ia berjalan gontai menuju ke depan. Seorang wanita paruh baya berambut cokelat curly keluar dari mobil.
"Putraku." Wanita itu memeluk Aero.
Aero membalas pelukan ibunya. "Ibu langsung datang dari Indonesia?"
"Sebenarnya Ibu sudah di sini sejak kemarin. Ibu menginap di hotel. Tapi, Ibu takut bertemu ayahmu, makanya Ibu meneleponmu terlebih dahulu semalam," jawab wanita paruh baya itu.
"Kalau begitu, masuklah." Aero merangkul ibunya dan berlalu memasuki rumah.
Para pelayan menatap ibu dan anak itu.
"Dibalik ekspresi dan sikap dinginnya, ternyata Tuan Muda Fernanda berhati lembut dan memperlakukan ibunya seperti seorang Ratu."
"Iya, Tuan Muda memang gambaran seorang pangeran di dunia nyata."
Pelayan senior menghampiri kedua pelayan yang sedang bergosip itu. "Apa yang sedang kalian bicarakan? Bekerja dengan benar, Nyonya sudah tiba."
Kedua pelayan muda itu pun segera melakukan tugas mereka.
Ibunya Aero menatap piala-piala di lemari. Semua piala itu tampak berkilau. "Wah, pelayan melakukan pekerjaannya dengan baik kali ini."
Ada banyak hidangan di meja.
"Kau menyiapkan semua ini untuk Ibu?" Wanita paruh baya itu tampak senang.
"Iya, tadi aku memesannya," jawab Aero. "Ayo, kita makan."
"Spageti dan steak. Kau pasti sudah terbiasa dengan makanan-makanan barat. Apa kau tidak merindukan masakan Indonesia?" tanya ibunya.
"Aku merindukan masakan Indonesia, tapi di sini tidak ada restoran Indonesia," jawab Aero.
Mereka pun makan siang bersama. Saat menikmati makan siang, terdengar suara mobil berhenti di pelataran rumah.
Ibunya Aero tampak panik. "Itu ayahmu."
"Benarkah? Bagaimana bisa Ibu tahu kalau itu Ayah? Aku saja tidak yakin," tanya Aero.
"Aku mencium baunya dari sini," jawab wanita paruh baya itu.
Aero memundurkan wajahnya.
Ternyata benar, pria paruh baya berjas biru gelap memasuki ruang makan. Langkahnya terhenti melihat mantan istrinya duduk di meja makan bersama putra tunggal mereka.
"Jessica? Kau di sini?"
"Nicholas?"
Aero melirik kedua orang tuanya bergantian.
Kini Aero duduk di kursi utama, sementara kedua orang tuanya duduk berhadapan sambil menyantap hidangan di meja makan.
"Kau tidak pergi ke kantor?" tanya Nicholas pada putranya. Tampaknya ia ingin berbasa-basi untuk memecahkan kesunyian.
"Seperti yang Ayah ketahui, ini hari Sabtu. Itu sebabnya aku dan juga Ayah tidak pergi ke kantor, kan?" jawab Aero diakhiri dengan pertanyaan.
Nicholas tersenyum kaku. "Sebenarnya aku ada janji temu dengan teman lamaku, jadi aku tidak ingat kalau sekarang hari Sabtu."
Jessica melirik mantan suaminya dengan sinis lalu ia bertanya pada putranya, "Aero, kau terlihat kurus sejak dua tahun terakhir. Apa kau nyaman tinggal di Amerika? Kau terlihat lebih sehat saat tinggal bersamaku di Indonesia."
Nicholas mendelik mantan istrinya.
"Sebenarnya berat badanku bertambah empat kilo. Aku juga ingin menambah berat badanku lagi untuk memperbesar otot di tubuhku," kata Aero.
Jessica tertawa kaku. "Begitukah? Kalau begitu, Ibu mendukungmu."
Nicholas mendecih pelan.
Jessica melirik kesal pada Nicholas lalu ia menatap Aero. "Kau bilang, kau akan mengatur agar aku tidak bertemu dengan ayahmu. Kenapa kau tidak melakukan apa pun? Kau sama saja seperti ayahmu suka melanggar janji dan tidak bertindak sesuai perkataan."
Aero tidak merespon. Ia tetap menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Nicholas tampaknya tidak senang dengan ucapan Jessica. "Aero, katakan pada ibumu kalau aku juga tidak ingin bertemu dengannya."
Jessica tidak mau kalah. "Bilang pada ayahmu, aku benci padanya."
"Aero, katakan pada wanita di sampingmu, kalau aku lebih membencinya," gerutu Nicholas sambil menatap kesal pada mantan istrinya.
Jessica mendelik tajam pada Nicholas. "Aero, bilang pada pria di sampingmu, kalau setelannya hari ini sangat buruk membuat penampilannya terlihat jelek dan tua."
Nicholas menatap jas dan kemeja yang dikenakannya. Ia kembali mendongkak menatap Jessica. "Aero, katakan pada ibumu kalau rambut cokelat kritingnya seperti jagung."
Seketika Jessica menyentuh rambutnya sendiri.
Aero tidak peduli sama sekali. Ia hanya menonton pertengkaran yang tidak berguna itu sambil terus makan.
Nicholas dan Jessica sama-sama membuang muka.
Aero meneguk air sampai setengah gelas lalu ia mengambil camilan dan memakannya.
"Berhenti makan camilan, kau sudah operasi amandel berapa kali?" gerutu Jessica.
Seperti anak kecil, Aero meletakkan kembali camilan ke meja melihat ibunya yang marah.
"Kau harus makan sayuran. Ibu akan membuat capcay atau tumis buncis," kata Jessica.
"Aero, ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu empat mata," kata Nicholas.
Greedd.
Aero dan Nicholas terkejut mendengar suara kursi bergeser. Kedua pria itu menatap Jessica yang beranjak dari kursinya dan berlalu pergi menaiki tangga.
"Ibumu tidak berubah, dia masih menyebalkan," kata Nicholas.
Aero menyandarkan punggungnya ke kursi. "Ayah dan Ibu sama saja, tidak berubah sama sekali. Sama-sama seperti anak kecil."
"Aero, apa kau punya pacar?" tanya Nicholas mengalihkan pembicaraan.
Aero mengernyit. "Kenapa Ayah tiba-tiba menanyakan itu?"
"Ada perusahaan besar yang sedang dalam masalah. Perusahaan pusat kita, Fernanda King akan menyuntikkan dana ke perusahaan itu. Kau tahu itu adalah keuntungan besar?" jelas Nicholas diakhiri dengan pertanyaan.
Aero mencondongkan tubuhnya ke depan. "Perusahaan besar? Mana ada perusahaan besar yang memiliki kesulitan sampai membutuhkan dana?"
"Mau perusahaan besar, mau perusahaan kecil, semuanya bisa saja terkena masalah," kata Nicholas.
"Lalu, kenapa Ayah membicarakan masalah ini denganku? Ayah 'kan mengurus Fernanda King. Itu terserah Ayah," ucap Aero.
Nicholas menepuk bahu Aero. "Karena kau putra tunggalku, artinya kau akan mengambil alih Fernanda King suatu hari nanti. Jadi, kau berperan penting dalam hal ini."
"Lalu, apa hubungannya aku sudah punya pacar atau belum dengan masalah perusahaan?" tanya Aero yang memiliki firasat buruk.
"Pemilik perusahaan besar itu memiliki anak perempuan. Aku ingin kau dan gadis itu menjalin hubungan. Aku harap sampai kalian menikah," kata Nicholas.
Aero tampaknya tidak senang. Ia menatap kesal pada ayahnya. "Kenapa Ayah seperti sedang menjualku untuk bisnis?"
"Gadis itu cantik dan memiliki kepribadian yang baik. Aku sebenarnya mengkhawatirkanmu juga, karena kau tidak pernah terlihat bersama perempuan. Aku hanya takut kau menjadi berubah setelah dua belas tahun lamanya tinggal di Amerika," kata Nicholas.
"Aku akan mencari pasanganku sendiri. Ayah tidak perlu repot-repot ikut campur dalam hidupku."
◣─────•~❉✿❉~•─────◢
08.52 | 10 Maret 2022
By Ucu Irna Marhamah
Anda Mungkin Juga Suka





