
CEO Tampan dan Gadis Desa
Bab 2
***
Semua orang punya pilihan dalam hidupnya. Benar, bukan? Namun tampaknya kasus Ashila berbeda dari yang umum terjadi. Ashila merasa pilihan hidupnya sudah ditakdirkan. Alaric telah melunasi hutang kakeknya dan sebagai gantinya Ashila harus meninggalkan desa, menjadi penjaga anak di kota besar.
Ashila yang dulu riang kini berjalan lesu seakan tenaganya baru saja disedot monster menakutkan, mungkin monster berdarah dingin. Secara harfiah Alaric bukan orang menakutkan berdasarkan visual. Dia adalah pria tampan dengan tubuh tinggi tegap laksana model Eropa, matanya agak coklat kemerahan persis seperti pria blasteran.
"Posisi apa yang ditawarkan Pak Alaric?"
Kakek Ashila terlihat bersemangat, membuat sang gadis desa tidak mampu memberitahukan mengenai apa yang sudah Alaric inginkan padanya. Bohong pun bukanlah pilihan tepat bagi gadis itu. Selama ini, dia tak pernah berbicara bohong kepada kakeknya. Akhirnya dia mengatakan sebagian informasi kepada kakeknya.
"Dia memintaku kerja di Jakarta, Kek. Ashila tidak bisa pergi ke sana. Desa inilah dunia milik Ashila."
Sulit bagi Ashila meninggalkan desa tempat dia tumbuh dewasa. Di satu sisi, dia tak akan tega menjauh dari orang yang merawatnya sejak kecil, memberinya makanan dan kehidupan bahagia. Di sisi lainnya, dia mesti meninggalkan desa untuk lunasi hutang kakeknya.
"Itu sangat bagus, Nak. Segera tanda tangani kontraknya. Jangan tunggu lama-lama. Kesempatan tidak datang dua kali maka bila kesempatan itu datang segera gunakan kesempatan itu dengan baik."
Ashila belum bilang apa-apa soal jenis pekerjaannya di masa depan. Apakah kakeknya akan se-antusias ini kalau tahu dia bekerja sebagai penjaga balita? Sang kakek terlalu bahagia sehingga gadis itu tak sempat beritahu yang sebenarnya.
Ashila belum tanda tangani kontrak kerja. Dia masih bimbang. Dia pamit masuk ke kamar. Dia butuh waktu sendirian, merenungi apa yang akan dilakukannya di masa mendatang, atau sekadar membayangkan seperti apa kehidupan di kota. Semakin dipikirkan, semakin intuisi gadis itu memintanya pergi demi menebus hutang kakeknya. Lagipula ini penawaran yang cukup bagus, kerjaan barunya pun tak terlalu berat dikerjakan.
Malam hari, Ashila keluar rumah bertemu pujaan hati. Dia akan memberitahu soal kepergiannya dari desa. Keputusan gadis itu telah bulat. Dia akan menandatangani kontrak kerja dengan Alaric. Takdir membawanya ke sana dan dia tak bisa menolak semua itu.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut Ashila. Rambutnya tergerai, menari-nari di udara. Suhu udara dingin. Langit menggelap, hanya ada hitungan bintang yang menerangi hamparan bumi. Suara jangkrik bak alunan musik desa, menghiasi malam dengan desahan manjanya.
Ashila duduk di jembatan sendirian. Hanya ada pelita raksasa berukuran sepetiga meter yang membuat suasana malam jadi oranye. Pelita itu terbuat dari bambu kemudian bagian atasnya ditambahkan kain tebal. Bermodalkan minyak, pelita itu akan menyala sampai pagi, menerangi jalan warga setiap kali mau menyeberang.
"Maaf aku terlambat, Shil."
Seorang lelaki dengan senyum menawan duduk di samping Ashila. Dia memegang tangan gadis itu, seperti pasangan kekasih lainnya. Sang pria memandangi langit malam seolah ada gambaran kekasihnya di atas sana.
"Tidak apa-apa, Salim."
Ashila mendongak ke arah langit seperti yang lelaki bernama Salim lakukan. Setiap malam mereka bertemu, membicarakan hari-hari mereka yang sibuk bekerja. Kehidupan ekonomi membuat keduanya harus merelakan siang hari mereka dengan mencari nafkah. Mereka bukanlah orang kaya yang bisa dengan mudahnya habiskan uang berapa pun yang mereka inginkan. Meraih sesuatu, mereka harus banting tulang.
"Aku mau memberitahukan sesuatu, Salim. Beberapa hari ke depan aku tidak akan di desa ini lagi. Aku mau ke Jakarta."
Ashila mengumumkan. Ini berat bagi gadis itu. Dia dan Salim pacaran sudah tiga tahun lamanya. Mereka merencanakan pernikahan satu atau dua tahun ke depan. Tampaknya rencana itu tidak akan terwujud. Ada hal besar lebih penting yang harus dilakukan oleh sang gadis desa. Membuat kakeknya tenang tanpa ada kendala hutang.
"Apa maksudmu, Shil? Apa kamu bercanda? Aku sudah tabung uang untuk menikahi dirimu. Kumohon, jangan putuskan ini terlalu cepat, Shil."
Salim menggenggam tangan kekasihnya, menunjukkan kebesaran cinta di matanya. "Aku harus kerja di Jakarta. Kalau kamu mencintaiku. Kamu pasti akan menungguku, Salim. Tunggulah setahun lalu aku pulang ke desa. Kamu bisa 'kan lakukan itu?"
Ashila memberikan pengertian. Dia mengira bahwa Salim akan bersabar menanti kepulangannya, berharap sang kekasih mau memahami situasi yang tengah dihadapinya. Ternyata dugaan di gadis tak seperti yang dibayangkan.
"Tidak bisa," kata Salim, "kalau kamu pergi, aku akan menikahi perempuan lain. Aku tidak tahan hidup sendiri, Ashila. Kamu yang harus mengerti aku bukan sebaliknya. Akulah yang cukup bersabar selama ini."
Salim melepaskan pegangan tangan Ashila. Dia beringsut bangkit, meninggalkan sang gadis sendirian. Masa pacaran mereka hanyalah hitungan waktu semata. Kini sang pria pergi tanpa mau mengerti keputusan Ashila.
Ashila terluka. Dia menahan tangis. Inilah perjuangan awal bagi gadis itu. Memulai sesuatu berarti mengakhiri yang lainnya. Dia harus siap hadapi kenyataan di masa depan. Salim telah pergi. Memang tidak mudah melupakannya namun dia yakin perlahan-lahan akan berhasil menyembuhkan luka di hatinya.
Ashila merenung, mengamati lintasan air sungai yang melaju kencang, menggiring bebatuan kecil mengikuti kemana arus air membawanya pergi. Memandangi batu itu, gadis desa berpikir tentang analogi kehidupannya. Dia persis seperti batu itu. Diam di tempat dan memperbolehkan takdir menggiringnya ke tempat lain.
"Tidak baik merenung sendirian!"
Suara seorang lelaki terdengar. Ashila menengok dan melihat pria berjas hitam berdiri di ujung jembatan. Alaric... Pria itu berjalan mendekatinya dengan langkah seorang pemimpin. Aura kepemimpinan selalu hadir dalam diri lelaki itu. Kematangan berpikir mungkin erat kaitan dengan kematangan usia pria kaya itu.
"Apa yang Pak Alaric lakukan di sini? Bukankah ini bukan jam kerja?"
Sangat mustahil membayangkan pria dengan pakaian kantoran rapi bisa duduk di jembatan desa kecil. Semua orang seharusnya sudah istirahat. Ashila mengucek matanya untuk sekadar memastikan apakah matanya tidak salah melihat. Alaric nyata, kini lelaki itu duduk di sampingnya.
"Aku baru saja memastikan apakah perkebunan teh dalam suasana yang baik. Aku sangat mengapresiasi penduduk desa ini. Kalian tidak mencuri apapun di perkebunan teh meskipun kalian punya peluang melakukannya. Aku senang bekerja sama dengan penduduk desa."
Alaric membuat Ashila lupa mengenai Salim. Membahas tentang perkebunan teh membuat pikiran gadis itu berbelok ke sana. "Perusahaan Pak Alaric menghidupi banyak orang. Mereka tidak akan melakukan hal curang."
Alaric mengangguk. Dia menanyakan perihal keputusan Ashila. Apakah gadis itu menerima tawarannya atau justru menolak. Sang gadis desa mengatakan sepakat dengan perjanjian dari sang atasan. Dia menambahkan akan membawa surat perjanjiannya esok hari.
Anda Mungkin Juga Suka





