
CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu
Bab 8
Renee malam itu berencana lembur, tetapi Michela tiba-tiba menariknya bangkit.
"Ayo, aku ajak kamu jalan-jalan."
"Jalan-jalan ke mana?" Renee tak terlalu berminat.
"Katanya malam ini di tepi sungai ada pertunjukan kembang api. Aku temani kamu nonton."
"Ngaku saja deh, kamu sendiri yang ingin nonton, 'kan?"
"Sama saja! Ayo, jangan banyak alasan."
Renee membereskan barang-barangnya dan menggeleng pasrah. "Aku akhirnya paham kenapa setelah tiga tahun, studio ini masih belum berjaya."
"Eh, jangan begitu dong! Kerja itu cuma buat hiburan, hidup yang penting dinikmatin. Lagian, manusia hidup cuma beberapa puluh tahun, ya harus dijalanin dengan senang dong."
"Ya, ya, kamu benar banget." Renee mengangguk mengiakan.
Sebenarnya dia cukup iri pada Michela. Meskipun kondisi keluarganya biasa saja, dia punya orang tua dan kakak yang sayang padanya, tidak pernah dipaksa melakukan hal yang dia tidak mau. Jika sedang semangat, dia akan kerja. Jika sedang malas, dia tinggal bersantai di rumah. Yang penting uangnya cukup untuk hidup. Selama tidak menikah, kualitas hidupnya tidak akan berubah.
Bagi Renee, hidup yang sesederhana dan sebahagia itu adalah sesuatu yang hanya bisa diimpikan.
Dalam hidupnya hanya ada ayah yang sakit-sakitan, ibu dan adik yang egois serta licik, juga suami dan anak yang tidak mencintainya.
Karena hati penuh tekanan, bahkan kembang api pun terasa hambar di matanya. Michela terus menjelaskan kalau pertunjukan malam ini spektakuler, gabungan kembang api dan drone yang menciptakan formasi megah di langit. Sorak-sorai di sekeliling pun menggema tak henti. Namun, Renee tetap merasa kembang api hanya sekejap. Seindah apa pun, tetap akan hilang.
Hanya saja, demi tidak merusak suasana hati Michela, dia berusaha menampilkan ekspresi kagum dan ikut bersorak.
Ketika pertunjukan mencapai puncak, tiba-tiba terdengar suara kecil dan lembut di belakangnya. "Kembang api ... cantik .... Mama Nissa cantik!"
Suara itu tenggelam di antara teriakan orang banyak, tetapi Renee langsung mengenalinya. Itu suara Renji, anaknya.
Tanpa sadar, dia menoleh. Benar saja, Arvin sedang menggendong Renji, berdiri di antara kerumunan bersama Nissa. Tiga sosok itu tampak seperti keluarga kecil yang sempurna, begitu bahagia, seindah kembang api di langit.
Nissa menggenggam tangan kecil Renji sambil tersenyum lembut. "Ternyata Renji suka sekali kembang api ya? Kamu harus berterima kasih pada Papa, karena Papa yang bawa kita nonton kembang api malam ini."
"Terima kasih, Papa!" Renji mencium pipi Arvin dengan semangat. Arvin tertawa ringan.
Sudah seminggu tidak bertemu, anak kecil itu tampak semakin gemuk. Kelihatannya Nissa memang merawatnya dengan baik.
Renee berdiri empat atau lima baris orang di belakang mereka, cukup jauh sampai mereka tidak menyadari kehadirannya.
Awalnya dia berniat pura-pura tidak melihat, tetapi saat hendak menoleh, tanpa sengaja dia beradu pandang dengan Arvin.
Kembang api di langit meledak terang, menerangi seluruh tepi sungai. Di bawah cahaya itu, tatapan mereka saling bertaut dan semua emosi di mata masing-masing tak bisa lagi disembunyikan.
Arvin dingin seperti biasanya, sementara Renee tampak begitu rapuh dan kacau. Waktu seakan-akan berhenti.
Kembang api terus bermekaran di langit. Renji tertawa bahagia, Nissa juga tersenyum lebar, seolah-olah dunia hanya milik mereka bertiga.
Renee baru tersadar ketika Michela menarik lengannya keras-keras. "Tunggu aku di sini! Aku mau ke sana buat motong tangan perempuan itu!"
Renee mengikuti arah pandangnya, melihat Nissa menggandeng tangan Renji dengan lembut. Mereka begitu akrab layaknya ibu dan anak.
"Jangan gila," kata Renee segera sambil menahan Michela. "Bukannya kamu sendiri yang suruh aku lepasin si berengsek itu dan fokus kerja? Nah, sekarang aku sudah lepas, malah kamu yang nggak bisa lepas?"
Michela terdiam, tak bisa membalas.
"Sudahlah, nonton kembang api saja." Renee membalikkan tubuh temannya, memaksanya tetap di tempat.
Anda Mungkin Juga Suka





