Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu

CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu

Dipaksa menikah karena rencana sang ibu, Renee yang tunarungu harus menjalani tiga tahun pernikahan dingin bersama Arvin Suryana. Meski Arvin kerap berselingkuh dan mengabaikannya, Renee bertahan demi putra mereka. Namun, kepulangan cinta sejati Arvin menghancurkan segalanya saat anak kandung Renee justru memanggil wanita itu "Mama". Sadar cintanya bertepuk sebelah tangan, Renee memilih pergi dan mengajukan cerai. Di luar dugaan, sang CEO menolak melepasnya sebelum ia melahirkan anak kedua.
Bab
Bagikan

Bab 5

Hari ini hari Minggu. Arvin tidak perlu bekerja. Dia mengemudikan mobil menuju rumah lama Keluarga Suryana untuk menjenguk Renji.

Dari kejauhan saja, sudah terdengar suara tawa Renji dan Nissa yang sedang bermain bersama. Tanpa sadar, langkah Arvin menjadi lebih ringan.

Di kamar anak yang luas itu, Nissa mengenakan setelan santai berwarna krem muda. Dia duduk bersila di atas karpet lembut sambil memegang kartu gambar, mengajari Renji mengenal benda-benda.

Nissa mengajar dengan sabar, sementara Renji belajar dengan gembira.

Arvin sebenarnya tidak suka anak kecil dan juga tidak berencana memiliki anak secepat ini. Dulu ketika tahu Renee hamil, reaksi pertamanya adalah ingin menggugurkan kandungan. Namun, Renee tidak setuju, begitu pula para senior Keluarga Suryana.

Selama masa kehamilan itu, Arvin nyaris tidak memperhatikan janin yang ada di perut Renee. Sampai anak itu lahir ... saat pertama kali dia melihat Renji, wajah mungil dan lembut itu langsung menarik perhatiannya, mengguncang sesuatu di dalam hatinya. Saat itu juga, Arvin benar-benar sadar bahwa dirinya sudah menjadi seorang ayah.

Anak yang wajahnya mirip dengan Renee itu adalah darah dagingnya sendiri.

Anak kecil memang cepat belajar. Dibanding kemarin, hari ini Renji sudah jauh lebih pintar.

Di dalam ruangan itu, suasananya begitu akrab. Bukan seperti guru dan murid, tetapi seperti ibu dan anak.

Tak lama kemudian, Renji pun menyadari kehadirannya. Anak kecil itu tertawa riang dan berlari ke arahnya. "Papa!"

Arvin berjongkok, merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuh mungil yang melompat ke arahnya. Wajahnya yang biasanya dingin dan tenang kini tampak lembut dan penuh kasih.

"Renji hari ini jadi anak baik nggak?"

"Baik dong! Renji kangen Papa."

"Papa juga kangen Renji."

Arvin mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat bocah itu tertawa semakin keras.

Nissa tersenyum, berjalan mendekat, lalu mengelus lembut kepala mungil Renji. "Kak Arvin, tebak deh, hari ini Renji sudah belajar berapa kata baru?"

"Berapa?" Tatapan Arvin hanya tertuju pada anaknya, penuh rasa bangga.

"Dua puluh kata." Nissa memuji dengan senyuman lembut, "Renji ini pintar sekali, nanti pasti jadi anak paling cerdas di kelas."

"Aku seharusnya berterima kasih karena kamu yang mengajarinya dengan baik." Arvin juga merasa anaknya cerdas. Apa pun yang diajarkan selalu bisa dipelajari dengan cepat.

Nissa menunduk sedikit, wajahnya memerah karena malu. "Arvin, kamu nggak perlu terlalu sopan sama aku. Merawat Renji memang sudah jadi tanggung jawabku. Lagi pula, kamu sibuk banget. Aku cuma bantu sedikit."

Kali ini, Arvin akhirnya mengalihkan pandangan dari anaknya ke wajah Nissa. "Terima kasih, Bu Nissa."

Nissa sempat tertegun, lalu segera tersenyum dan menggeleng. "Kenapa kamu sungkan begitu? Ini juga bagian dari pekerjaanku kok."

Dia terdiam sejenak, lalu menatapnya dengan nada sedikit sendu. "Arvin, kamu panggil aku 'Nissa' saja, jangan terlalu formal seperti tadi. Soalnya kalau kamu begitu, aku jadi teringat pada ...."

Ucapannya terputus di tengah kalimat. Raut wajah Arvin pun meredup. Beberapa saat kemudian, barulah dia menjawab singkat, "Baiklah."

Seperti biasa, suasana hatinya cepat berubah. Arvin tersenyum lagi sambil mencubit pipi Renji dengan gemas. "Renji, nanti sore Papa ajak kamu naik kuda, mau nggak?"

"Naik kuda! Aku mau naik kuda!" Anak kecil itu bersorak gembira.

Nissa tersenyum, mencubit pipinya juga. "Wah, hebatnya! Naik kuda itu bagus lho, bisa bikin Renji lebih berani."

Kemudian, dia menjulurkan tangannya. "Sini, Papa sudah capek. Biar Mama Nissa yang gendong ya?"

"Oke, Mama Nissa gendong ...."

Renji langsung melompat ke pelukannya. Ketika Nissa melangkah maju untuk menangkapnya, jarak mereka menjadi sangat dekat, hingga dia bisa mencium wangi bersih dan segar dari tubuh Arvin. Wajahnya memanas, hatinya melembut.

....

Renee tidak suka merepotkan orang lain. Setelah menumpang di rumah Michela, dia mulai mencari tempat tinggal sendiri. Setelah mencari seharian, dia akhirnya menemukan apartemen yang cocok.

Malam itu saat berbaring di tempat tidur, dia merasa sedikit kesepian, tetapi juga luar biasa tenang. Baru saat itu dia sadar, betapa sesaknya hidup bersama Arvin selama ini.

Takut dia kedinginan, takut dia kelaparan, takut dia marah. Hidupnya selalu berputar di sekeliling pria itu, sampai-sampai dia kehilangan dirinya sendiri.

Semua itu karena cinta. Dia rela melakukannya.

Kalau bukan karena Nissa tiba-tiba kembali ke tanah air, mungkin sampai sekarang dia masih terperangkap di dalam lingkaran itu tanpa bisa keluar.

Begitu memikirkan Nissa, hatinya terasa perih lagi. Dia mengambil ponsel, hendak mengirim pesan kepada Rosa untuk menanyakan keadaan Renji. Namun, tiba-tiba muncul pesan dari Michela.

Michela mengirim sebuah foto.

[ Lihat tuh, anakmu si kecil yang tak tahu diri, bahagia banget, 'kan? ]

Renee membuka foto itu. Di dalamnya tampak Arvin dan Nissa bersama Renji di arena berkuda. Renji duduk di atas punggung kuda yang tinggi. Arvin memegang tali kekang dengan satu tangan, tangan satunya lagi memegang lengan mungil anak itu sambil sabar mengajarinya. Nissa berdiri di sisi lain, tampak menyeka keringat di dahi Arvin dengan sapu tangan.

Hati Renee yang sudah sakit sejak awal kembali terkoyak lebih dalam.

Pesan Michela menyusul lagi.

[ Sekarang nggak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri. ]

[ Apa gunanya pria? Anak pun kadang nggak tahu terima kasih. Nggak ada yang pantas kamu perjuangkan. ]

Benar juga. Apa gunanya pria? Apalagi pria yang tidak mencintainya. Sama halnya dengan anak kandung, ibunya, adiknya .... Adakah yang benar-benar menganggapnya keluarga?

Renee mengusap hidung, membalas pesan dengan emotikon senyuman pahit.

[ Kamu benar, cuma diri sendiri yang paling bisa diandalkan. ]

Karena seharian bermain di arena kuda, malamnya Renji tidur nyenyak sekali. Arvin dengan hati-hati meletakkannya di ranjang kecil. Nissa menemaninya, menutup selimut dengan lembut, menyesuaikan suhu ruangan, lalu berdiri menatap Arvin.

"Arvin, sudah malam, kenapa nggak nginap saja di rumah lama?"

Arvin menarik sedikit kerah kemejanya, jelas terlihat kelelahan. Namun, dia hanya menyahut pelan, "Aku pulang sekarang."

Nissa tampak kecewa, tetapi tidak berani memaksa. "Kalau begitu, hati-hati di jalan ya."

"Hmm."

Saat Arvin menuruni tangga, Juwita yang sedang menonton televisi di ruang tamu memanggilnya. "Dengar-dengar si tuli itu mau cerai sama kamu?"

Langkah Arvin terhenti. Dia menoleh, menatap ibunya dengan tajam. "Ibu, dia punya nama. Panggilan itu bisa ditiru Renji nanti."

"Ah, Renji nggak di sini juga," balas Juwita dengan nada kesal. "Lagi pula, kamu saja berani nikah sama si tuli itu, masa dipanggil begitu saja takut?"

"Itu dua hal yang berbeda. Kalau nggak ada urusan lagi, Ibu istirahatlah." Arvin bersiap pergi.

Namun, Juwita kembali bersuara, "Kapan kamu mau urus perceraian itu? Biar Ibu bisa bantu siapkan."

Arvin menoleh lagi. "Siapkan apa?"

"Tentu saja pernikahanmu dengan Nissa." Juwita melirik ke arah kamar anak di lantai dua. "Kamu lihat sendiri 'kan, Renji nempel banget sama Nissa dan Nissa juga sayang banget sama dia. Mereka seperti ibu dan anak."

Melihat wajah Arvin tanpa ekspresi gembira sedikit pun, Juwita kebingungan. "Kenapa? Bukannya kamu paling benci Renee? Sekarang dia sendiri yang minta cerai, harusnya kamu senang dong."

Benar, seharusnya dia senang. Namun, entah kenapa hatinya terasa berat seperti ada yang menekan di dalam dada.

"Arvin, jangan-jangan kamu mulai suka sama si tuli itu?" tanya Juwita dengan nada curiga.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AFFAIR
9.5
Mauren yang masih 19 tahun terpaksa menikahi Aron, duda kaya berusia 45 tahun, setelah dijual oleh ayahnya. Di sisi lain, putra Aron yang berumur 23 tahun, Liam, terjebak dalam pernikahan hambar bersama Bella karena ketidakpuasan ranjang. Sementara Liam merasa frustrasi dengan istrinya, Mauren harus menderita melayani nafsu pria tua tanpa pernah merasakan kepuasan. Takdir pahit ini menjerat mereka dalam kemelut rumah tangga yang penuh penderitaan batin.
Sampul Novel Asal kalian puas
9.3
Dalam kegelapan, seorang asisten rumah tangga terjebak dalam situasi mencekam saat Pak Karmin, Pak Darmaji, dan Pak Doyo mulai menjamah tubuhnya secara bergantian. Di tengah perlakuan liar yang membangkitkan gairah sekaligus rasa takut, sang majikan bernama Pak Arga justru merencanakan siasat jahat. Merasa tak puas dengan istrinya, ia berniat membawa pembantunya pergi ke tempat jauh untuk memuaskan nafsu pribadinya tanpa kecurigaan siapa pun. Akankah ia berhasil?
Sampul Novel Ciuman Sang Ular: Balas Dendam Seorang Istri
9.0
Dahulu, aku percaya pada cinta palsu keluarga Adhitama hingga mereka membiarkanku terpanggang api. Di saat terakhir, hanya paman dingin bernama Gilang yang rela mati demi melindungiku. Kini, takdir memberiku kesempatan kedua seminggu sebelum tragedi itu terjadi. Untuk menguasai warisan triliunan dan membalas dendam pada tiga kakak yang berkhianat, aku menolak menikahi mereka. Di depan pengacara, aku justru memilih Gilang sebagai suamiku. Permainan dimulai.
Sampul Novel Lelaki Asing Yang Menodaiku
9.1
Alana melarikan diri dari rencana pernikahan karena merasa ternoda oleh pria misterius yang tidak ia kenali. Tragedi masa lalu sebagai TKW itu meninggalkan trauma mendalam hingga ia menutup diri. Sementara itu, Lars adalah CEO sukses yang merasa hidupnya hampa setelah kehilangan sebagian ingatan akibat kecelakaan. Saat takdir mempertemukan mereka, Lars merasa terobsesi pada Alana. Rasa rindu dan perih yang muncul mulai mengusik rahasia masa lalu mereka yang kelam.
Sampul Novel MENGASUH TUAN MUDA
8.7
Edmund Bryan adalah pria kaya raya dengan pesona memikat yang mampu menaklukkan wanita mana pun. Namun, nasib sial menimpa Emerald saat ia secara tidak sengaja memecahkan guci antik milik Edmund yang sangat mahal. Terjerat utang sebesar $500.000, Emerald terpaksa menjadi pelayan pribadi pria angkuh tersebut. Di balik tekanan pekerjaan dan sikap keras sang tuan muda, Emerald perlahan mulai mengungkap rahasia terdalam yang selama ini disembunyikan oleh Edmund.