
CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu
Bab 5
Hari ini hari Minggu. Arvin tidak perlu bekerja. Dia mengemudikan mobil menuju rumah lama Keluarga Suryana untuk menjenguk Renji.
Dari kejauhan saja, sudah terdengar suara tawa Renji dan Nissa yang sedang bermain bersama. Tanpa sadar, langkah Arvin menjadi lebih ringan.
Di kamar anak yang luas itu, Nissa mengenakan setelan santai berwarna krem muda. Dia duduk bersila di atas karpet lembut sambil memegang kartu gambar, mengajari Renji mengenal benda-benda.
Nissa mengajar dengan sabar, sementara Renji belajar dengan gembira.
Arvin sebenarnya tidak suka anak kecil dan juga tidak berencana memiliki anak secepat ini. Dulu ketika tahu Renee hamil, reaksi pertamanya adalah ingin menggugurkan kandungan. Namun, Renee tidak setuju, begitu pula para senior Keluarga Suryana.
Selama masa kehamilan itu, Arvin nyaris tidak memperhatikan janin yang ada di perut Renee. Sampai anak itu lahir ... saat pertama kali dia melihat Renji, wajah mungil dan lembut itu langsung menarik perhatiannya, mengguncang sesuatu di dalam hatinya. Saat itu juga, Arvin benar-benar sadar bahwa dirinya sudah menjadi seorang ayah.
Anak yang wajahnya mirip dengan Renee itu adalah darah dagingnya sendiri.
Anak kecil memang cepat belajar. Dibanding kemarin, hari ini Renji sudah jauh lebih pintar.
Di dalam ruangan itu, suasananya begitu akrab. Bukan seperti guru dan murid, tetapi seperti ibu dan anak.
Tak lama kemudian, Renji pun menyadari kehadirannya. Anak kecil itu tertawa riang dan berlari ke arahnya. "Papa!"
Arvin berjongkok, merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuh mungil yang melompat ke arahnya. Wajahnya yang biasanya dingin dan tenang kini tampak lembut dan penuh kasih.
"Renji hari ini jadi anak baik nggak?"
"Baik dong! Renji kangen Papa."
"Papa juga kangen Renji."
Arvin mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat bocah itu tertawa semakin keras.
Nissa tersenyum, berjalan mendekat, lalu mengelus lembut kepala mungil Renji. "Kak Arvin, tebak deh, hari ini Renji sudah belajar berapa kata baru?"
"Berapa?" Tatapan Arvin hanya tertuju pada anaknya, penuh rasa bangga.
"Dua puluh kata." Nissa memuji dengan senyuman lembut, "Renji ini pintar sekali, nanti pasti jadi anak paling cerdas di kelas."
"Aku seharusnya berterima kasih karena kamu yang mengajarinya dengan baik." Arvin juga merasa anaknya cerdas. Apa pun yang diajarkan selalu bisa dipelajari dengan cepat.
Nissa menunduk sedikit, wajahnya memerah karena malu. "Arvin, kamu nggak perlu terlalu sopan sama aku. Merawat Renji memang sudah jadi tanggung jawabku. Lagi pula, kamu sibuk banget. Aku cuma bantu sedikit."
Kali ini, Arvin akhirnya mengalihkan pandangan dari anaknya ke wajah Nissa. "Terima kasih, Bu Nissa."
Nissa sempat tertegun, lalu segera tersenyum dan menggeleng. "Kenapa kamu sungkan begitu? Ini juga bagian dari pekerjaanku kok."
Dia terdiam sejenak, lalu menatapnya dengan nada sedikit sendu. "Arvin, kamu panggil aku 'Nissa' saja, jangan terlalu formal seperti tadi. Soalnya kalau kamu begitu, aku jadi teringat pada ...."
Ucapannya terputus di tengah kalimat. Raut wajah Arvin pun meredup. Beberapa saat kemudian, barulah dia menjawab singkat, "Baiklah."
Seperti biasa, suasana hatinya cepat berubah. Arvin tersenyum lagi sambil mencubit pipi Renji dengan gemas. "Renji, nanti sore Papa ajak kamu naik kuda, mau nggak?"
"Naik kuda! Aku mau naik kuda!" Anak kecil itu bersorak gembira.
Nissa tersenyum, mencubit pipinya juga. "Wah, hebatnya! Naik kuda itu bagus lho, bisa bikin Renji lebih berani."
Kemudian, dia menjulurkan tangannya. "Sini, Papa sudah capek. Biar Mama Nissa yang gendong ya?"
"Oke, Mama Nissa gendong ...."
Renji langsung melompat ke pelukannya. Ketika Nissa melangkah maju untuk menangkapnya, jarak mereka menjadi sangat dekat, hingga dia bisa mencium wangi bersih dan segar dari tubuh Arvin. Wajahnya memanas, hatinya melembut.
....
Renee tidak suka merepotkan orang lain. Setelah menumpang di rumah Michela, dia mulai mencari tempat tinggal sendiri. Setelah mencari seharian, dia akhirnya menemukan apartemen yang cocok.
Malam itu saat berbaring di tempat tidur, dia merasa sedikit kesepian, tetapi juga luar biasa tenang. Baru saat itu dia sadar, betapa sesaknya hidup bersama Arvin selama ini.
Takut dia kedinginan, takut dia kelaparan, takut dia marah. Hidupnya selalu berputar di sekeliling pria itu, sampai-sampai dia kehilangan dirinya sendiri.
Semua itu karena cinta. Dia rela melakukannya.
Kalau bukan karena Nissa tiba-tiba kembali ke tanah air, mungkin sampai sekarang dia masih terperangkap di dalam lingkaran itu tanpa bisa keluar.
Begitu memikirkan Nissa, hatinya terasa perih lagi. Dia mengambil ponsel, hendak mengirim pesan kepada Rosa untuk menanyakan keadaan Renji. Namun, tiba-tiba muncul pesan dari Michela.
Michela mengirim sebuah foto.
[ Lihat tuh, anakmu si kecil yang tak tahu diri, bahagia banget, 'kan? ]
Renee membuka foto itu. Di dalamnya tampak Arvin dan Nissa bersama Renji di arena berkuda. Renji duduk di atas punggung kuda yang tinggi. Arvin memegang tali kekang dengan satu tangan, tangan satunya lagi memegang lengan mungil anak itu sambil sabar mengajarinya. Nissa berdiri di sisi lain, tampak menyeka keringat di dahi Arvin dengan sapu tangan.
Hati Renee yang sudah sakit sejak awal kembali terkoyak lebih dalam.
Pesan Michela menyusul lagi.
[ Sekarang nggak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri. ]
[ Apa gunanya pria? Anak pun kadang nggak tahu terima kasih. Nggak ada yang pantas kamu perjuangkan. ]
Benar juga. Apa gunanya pria? Apalagi pria yang tidak mencintainya. Sama halnya dengan anak kandung, ibunya, adiknya .... Adakah yang benar-benar menganggapnya keluarga?
Renee mengusap hidung, membalas pesan dengan emotikon senyuman pahit.
[ Kamu benar, cuma diri sendiri yang paling bisa diandalkan. ]
Karena seharian bermain di arena kuda, malamnya Renji tidur nyenyak sekali. Arvin dengan hati-hati meletakkannya di ranjang kecil. Nissa menemaninya, menutup selimut dengan lembut, menyesuaikan suhu ruangan, lalu berdiri menatap Arvin.
"Arvin, sudah malam, kenapa nggak nginap saja di rumah lama?"
Arvin menarik sedikit kerah kemejanya, jelas terlihat kelelahan. Namun, dia hanya menyahut pelan, "Aku pulang sekarang."
Nissa tampak kecewa, tetapi tidak berani memaksa. "Kalau begitu, hati-hati di jalan ya."
"Hmm."
Saat Arvin menuruni tangga, Juwita yang sedang menonton televisi di ruang tamu memanggilnya. "Dengar-dengar si tuli itu mau cerai sama kamu?"
Langkah Arvin terhenti. Dia menoleh, menatap ibunya dengan tajam. "Ibu, dia punya nama. Panggilan itu bisa ditiru Renji nanti."
"Ah, Renji nggak di sini juga," balas Juwita dengan nada kesal. "Lagi pula, kamu saja berani nikah sama si tuli itu, masa dipanggil begitu saja takut?"
"Itu dua hal yang berbeda. Kalau nggak ada urusan lagi, Ibu istirahatlah." Arvin bersiap pergi.
Namun, Juwita kembali bersuara, "Kapan kamu mau urus perceraian itu? Biar Ibu bisa bantu siapkan."
Arvin menoleh lagi. "Siapkan apa?"
"Tentu saja pernikahanmu dengan Nissa." Juwita melirik ke arah kamar anak di lantai dua. "Kamu lihat sendiri 'kan, Renji nempel banget sama Nissa dan Nissa juga sayang banget sama dia. Mereka seperti ibu dan anak."
Melihat wajah Arvin tanpa ekspresi gembira sedikit pun, Juwita kebingungan. "Kenapa? Bukannya kamu paling benci Renee? Sekarang dia sendiri yang minta cerai, harusnya kamu senang dong."
Benar, seharusnya dia senang. Namun, entah kenapa hatinya terasa berat seperti ada yang menekan di dalam dada.
"Arvin, jangan-jangan kamu mulai suka sama si tuli itu?" tanya Juwita dengan nada curiga.
Anda Mungkin Juga Suka





