
CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu
Bab 10
Renee sebenarnya bisa mendengar dengan jelas kata-kata Arvin, tetapi kali ini suaranya seolah-olah kabur di telinganya.
Dia menatapnya, lalu perlahan melepas alat bantu dengar dari telinganya, tepat di depan wajah pria itu. Gerakan kecil itu langsung membuat Arvin terdiam. Wajah tampannya yang biasanya dingin, kini meredup di bawah cahaya malam.
Arvin tahu betul arti dari tindakan itu. Renee memang tidak pernah berani bersikap keras padanya,
tetapi dia pernah melihat cara Renee memutus percakapan dengan orang lain, yaitu dengan sengaja melepas alat bantu dengar di depan mereka.
Itu artinya apa? Itu berarti dia menyuruh pihak lawan untuk diam.
Tak pernah terpikir olehnya, bahwa suatu hari Renee akan melakukan hal yang sama padanya.
Cahaya lampu jalan membuat bayangan tubuh Renee tampak ramping dan rapuh. Michela memeluk bahunya dengan lembut. "Renee, dunia ini bukan cuma ada Arvin dan Renji. Masih banyak hal indah lainnya, seperti kembang api malam ini."
Michela berbicara di dekat telinganya. Renee berusaha mendengar, lalu tersenyum pahit. "Aku tahu."
Keesokan harinya setelah pertunjukan kembang api, Renee menerima pesan dari Rosa. Renji demam.
Hatinya langsung mencelos. Dia buru-buru menelepon untuk menanyakan keadaan Renji.
Rosa menjelaskan bahwa si kecil baik-baik saja di siang hari, tetapi malamnya tiba-tiba demam tinggi.
"Gurunya di mana? Nggak menemaninya?"
"Eh ... ada kok."
Renee terdiam. Beberapa detik kemudian, suaranya kembali tenang. "Baiklah, tolong jaga Renji dengan baik ya. Terima kasih."
"Nyonya ... nggak mau datang jenguk?"
Wajar kalau Rosa terkejut. Biasanya kalau Renji sakit sedikit saja, Renee akan panik setengah mati,
menangis dan memohon agar Arvin membawanya pulang ke rumah lama Keluarga Suryana untuk melihat anaknya.
"Nggak perlu. Aku bukan dokter. Lagi pula, dia sudah dijaga kalian semua, 'kan?" sahut Renee pelan, menahan rasa getir di dadanya.
Di seberang, Rosa menggenggam ponselnya erat-erat, lalu melirik ke arah Arvin yang sedang duduk di sofa. "Tuan, Nyonya bilang ...."
"Aku dengar semuanya," sela Arvin.
Dia menekan puntung rokok di asbak, wajahnya tampak muram. Setelah bangkit, dia hanya meninggalkan satu perintah, "Panggilkan dokter keluarga. Pastikan Renji dijaga dengan baik."
"Baik, Tuan." Rosa menatap punggung pria itu yang menjauh. Entah kenapa, menurutnya akhir-akhir ini bukan hanya Renee yang berubah, tetapi Arvin juga. Sama-sama menjadi aneh.
Setelah menutup telepon, Renee menatap ke luar jendela. Langit sudah gelap. Dia merapikan meja kerjanya, lalu mengambil tas untuk pulang.
Saat sedang menunggu bus, sebuah mobil Bentley hitam berhenti perlahan di depannya. Dari jendela yang turun setengah, muncul wajah tampan Nathan dengan senyuman hangatnya.
"Bu Renee, kebetulan sekali. Biar aku antar kamu pulang."
Renee sempat tertegun, lalu dia cepat-cepat menggeleng. "Nggak perlu, terima kasih. Aku tunggu bus saja."
"Bu Renee, kita saling kenal ya?"
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Karena kamu terus menghindariku."
Renee terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
Gedung Grup Gumarang memang bersebelahan dengan tempat kerjanya. Dalam seminggu ini saja, mereka sudah bertemu tiga kali. Setiap kali bertemu, Renee berpura-pura tidak melihat, lalu buru-buru menghindar. Ternyata Nathan menyadarinya.
"Kalau terus begini, aku bisa salah paham lho. Aku bisa pikir kamu habis melakukan sesuatu yang bikin aku marah."
Ucapan itu sukses membuat Renee naik ke mobil. Untuk pertama kalinya, dia duduk begitu dekat dengan pria yang dulu hampir menjadi suaminya.
Renee menggenggam sabuk pengamannya erat-erat. Tubuhnya kaku karena gugup.
Nathan melihatnya tegang, jadi tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. "Jangan khawatir, aku cuma bercanda. Aku dengar kamu kerja di bidang desain busana ya? Aku sebenarnya ingin bicara sedikit soal kerja sama."
"Kerja sama?" Begitu tahu itu urusan pekerjaan, Renee diam-diam merasa lega. Namun, masih dengan nada waspada, dia bertanya, "Aku ini cuma desainer pemula, baru masuk kerja. Kerja sama seperti apa yang kamu maksud?"
"Justru desainer pemula itu yang paling menarik," jawab Nathan dengan tulus. Kedua tangannya menggenggam setir. "Kami butuh orang yang punya ide baru."
Anda Mungkin Juga Suka





