
CEO Bucin
Bab 3
Minggu demi minggu dilewati dalam pernikahan mereka. Baik Antonio maupun Manda sama-sama memainkan peran mereka ketika berada di depan keluarga Wiradijaya. Mereka sepakat harus bersikap baik dan bersahabat saat di depan keluarga Antonio. Meskipun tidak jarang pertengkaran juga kerap terjadi mewarnai pernikahan mereka.
Kepergian Antonio ke London adalah contohnya. Dia sengaja agar bisa menghindari Manda, dengan mengambil dalih perjalanan bisnis bersama Ramon, sepupunya. Antonio juga tidak meninggalkan pesan apa pun kepada Manda. Sementara Manda sibuk mengasihani diri sendiri yang seakan tidak pernah dihargai oleh sang suami.
Nadine yang mengetahui bahwa Antonio sedang berada di luar negeri pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk meracuni pikiran Manda dan memprovokasi dengan membuatnya cemburu.
Namun, rencana Nadine justru berubah 100 derajat saat melihat Roger, pria yang dulu tulus mencintainya sedang bersama dengan Manda. Dengan liciknya, Nadine pun mengabadikan pertemuan dua orang itu dan mengirimnya ke Antonio.
Tak ayal, melihat sang sahabat sedang berduaan dengan sang istri, Antonio pun naik pitam dan emosi. Emosi itu justru hanya ditujukan kepada Manda. Dengan mengambil penerbangan terakhir, Antonio pun bergegas menuju Indonesia.
Antonio sampai di rumahnya tepat jam 6 pagi dan saat yang bersamaan Manda sedang membuat sarapan di dapur untuk diri sendiri. Hati yang diliputi emosi membuat Antonio sampai memaki sang istri dalam hatinya.
Kamu sepertinya senang kalau aku tidak di rumah. Ternyata wajah malaikat yang sering dibanggakan mama itu hanya topengmu saja. Aku nggak akan membiarkan gadis sepertimu menjerat sahabatku, batin Antonio.
“Argh!” pekik Manda. Dia terkejut saat berbalik badan menemukan sang suami sudah berdiri di dekatnya.
Namun, pertengkaran terakhir mereka akhirnya membuat Manda sadar bahwa di antara mereka tidak ada hubungan apa-apa. Manda pun berusaha bersikap cuek dan tidak ingin meladeni Antonio.
Melihat sikap Manda yang cuek, Antonio berusaha memancing situasi. “Buatkan aku sarapan!”
Perkataan Antonio justru hanya membuat Manda kesal. Dia tidak ingin meladeni Antonio karena sadar bahwa mereka akan berujung pada pertengkaran lagi. Pilihan Manda jatuh kepada menghindar, mencoba tidak berada di satu tempat yang sama dengan suaminya itu.
“Aku sudah selesai. Kamu bisa membuat sarapanmu sendiri,” ucap Manda, lalu berjalan melewati Antonio setelah mematikan kompor dan memindahkan makanan ke dalam piringnya.
Manda tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya saat itu. Antonio menarik paksa tangan Manda, lalu mengambil piring Manda dan melemparnya ke lantai hingga suara pecahan kaca terdengar.
“Antonio!”
“Kenapa kamu tidak mau melayani suamimu sendiri?” sindir Antonio ketus.
Manda pun tidak terima dengan perlakuan kasar itu. “Ingat, Antonio! Kamu yang sudah membuat jarak di antara kita dan pernikahan ini kita lakukan untuk mama, bukan? Pada akhirnya kita berdua akan bercerai ....”
Emosi Antonio yang seakan terus naik kembali terpancing, “Bercerai? Apa kamu begitu menginginkannya, Amanda?” tanya Antonio. Wajahnya menyiratkan emosi dan amarah yang sudah tidak terbendung lagi. Bahkan, Manda pun dibuat takut olehnya.
Astaga! Ada apa dengannya? Kenapa ekspresinya seperti ini? batin Manda ketakutan.
“A-aku mau ke kamar.” Manda memilih untuk menghindar secepat mungkin, tetapi gerakannya kalah cepat.
Antonio kembali menarik paksa tangan Manda dan menciumnya dengan kasar. Salah satu tangannya menahan belakang kepala Manda dan tangan satunya lagi memegang pinggang Manda dengan erat.
“Eemmpphh ... emphh ....” Manda terus meronta-ronta berusaha melepaskan diri, tetapi Antonio semakin kasar memainkan bibir dan lidahnya bersamaan. Mata Manda sampai terbuka lebar dibuatnya. “Eemmpphh ....”
Namun, Manda bukanlah gadis bodoh yang lemah dan dengan cerdik dia menggunakan kakinya untuk menendang tulang kaki Antonio. Ternyata caranya berhasil membuat Antonio mau melepaskan dirinya.
“Akh!” pekik Antonio.
Manda berusaha mengambil udara yang banyak. “Kamu nggak seharusnya melakukan ini, Antonio!” seru Manda dengan nafas terengah-engah. “Aku akan mengurus perceraian kita sekarang juga,” ucap Manda sambil menahan tangis. Manda kembali berusaha lari, tetapi amarah Antonio kembali memuncak ketika Manda kembali menyebut kata ‘cerai’.
Antonio menangkap Manda dari belakang dan memeluknya dengan erat. “Kamu ingin bercerai, Manda? Baiklah. Aku akan turuti kemauanmu, tapi nanti. Setelah aku membuatmu hamil terlebih dahulu, baru kita bercerai,” bisik Antonio penuh ancaman sinis di telinga Manda.
Kedua mata Manda terbuka lebar mendengar ancaman Antonio. “Apa? Tidak! Antonio ... jangan ... aku mohon ... jangan lakukan itu. Kamu nggak boleh melakukan itu!”
“Aku bebas melakukan apa saja, karena kamu adalah istriku.” Antonio yang sudah kesetanan itu tidak mendengar permohonan dan jerit tangis istrinya. Dia membawa Manda ke kamar dan mengunci pintu.
Manda berusaha terus memohon pada sang suami. “Antonio ... jangan lakukan ini. Kamu sendiri yang bilang, pernikahan kita tidak seharusnya terjadi. Aku mohon ... ini tidaklah benar, Antonio.” Manda kembali memohon pada Antonio yang sudah membaringkannya di atas ranjang.
Sesaat Antonio tersadar, tetapi saat dering ponselnya berbunyi dan menampilkan nama ‘Roger’ membuat pandangannya menjadi buram. Dia dengan cepat berjalan mendekati ranjang dan menindih tubuh Manda.
“Aku sudah bilang kalau aku tidak akan menceraikanmu. Jadi, berhenti mengatakan tentang kata cerai!” teriak Antonio.
“Tapi di antara kita tidak ada hubungan apa-apa, Antonio. Hiks ....” Meskipun dalam posisi tertekan, Manda berusaha menyadarkan, bahwa semua ini adalah permintaan Antonio pada awalnya. “Kita harus bercerai.”
“Akh! Antonio, jangan lakukan itu!” teriak Manda saat Antonio kembali mencium seluruh wajahnya dengan kasar. Bahkan, tangan Antonio sudah tidak terkendali ke mana-mana menjamah seluruh tubuhnya.
“Akh, Antonio. Tidak ... tidak ... aku mohon ... jangan lakukan ini. Sadarlah, Antonio. Jangan ... hiks ....” Kembali teriak Manda saat Antonio membuka paksa piama tidurnya dan dengan kesetanan Antonio sudah membuka baju juga, “Antonio, jangan ... kamu akan menyesal nanti ... hiks ....” Jerit tangis Manda seolah tidak dapat didengar oleh Antonio.
“Akh! Antonio ... aku mohon jangan ... jangan lakukan ini,” lirih Manda, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada saat Antonio terus menjamah, menggigit, dan menyesap seluruh tubuhnya dengan beringas. Manda terus menangis menahan rasa sakit yang diberikan Antonio pada fisiknya.
“Akh!” erang keduanya bersamaan saat kedua tubuh mereka menyatu dan kini mereka pun sudah resmi menjadi suami istri yang sah.
“Kamu mengambil apa yang bukan seharusnya kamu ambil, Antonio!” seru Manda.
Rasa sakit pada tubuh Manda tidak terbayar dengan rasa sakit hatinya. Kedua tangannya masih terkepal kuat menahan rasa sakit bersamaan. Kehadirannya ditolak oleh Antonio, diacuhkan, dan sering tidak dianggap oleh suaminya sendiri. Tetapi Antonio justru mengambil mahkotanya secara paksa.
“Kamu jahat, Antonio ... hiks ... hiks ... kamu sendiri yang menolak kehadiranku. Kamu yang menciptakan jarak di antara kita ... hiks ... tapi ... tapi kamu ....”
Antonio pun tersadar dan hanya bisa menciumi seluruh wajah Manda seraya mengucapkan kata maaf. “Maafkan ... maafkan aku, Manda.”
Anda Mungkin Juga Suka





