
Cathleen secret
Bab 2
"Peka banget tuan muda Goldwyn."
Saat Rikkard mendengar kata-kata dari Cathleen, emosinya memuncak. Dia tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Dengan cepat dan tanpa peringatan, dia mengapit leher Cathleen dengan tangannya yang kuat. Dia mendorongnya ke depan, memaksa mereka berdua dalam jarak yang sangat dekat, hidung mereka hampir bersentuhan. Cathleen menahan napasnya, terkejut dengan kedekatan mereka yang tiba-tiba. Aroma mint yang keluar dari mulut Rikkard memasuki hidung Cathleen, membuatnya merasa tidak nyaman.
Rikkard memandangi mata hijau Cathleen dengan tatapan yang dalam dan intens. Dia terpaku sejenak, terpesona oleh mata yang begitu teduh dan menenangkan. Namun, itu hanya berlangsung sebentar. Ekspresi Rikkard berubah secara dramatis, seringai licik muncul di bibirnya dan matanya menjadi tajam dan dingin.
"Lo sudah terlalu banyak ngusik kehidupan gue sampe-sampe gue muak liat gadis ular seperti lo terus berkeliaran di hadapan gue. Gue ingetin sekali lagi, jangan ngusik hidup gue terlalu jauh sebelum gue main tangan terhadap lo." Dia berbicara dengan suara yang dingin dan tajam, penuh ancaman. Dia memperingatkan Cathleen untuk tidak mengganggu hidupnya lagi, mengancam akan bertindak jika dia melanggar batas. Bahkan teman-teman Rikkard yang biasanya mengenalnya sebagai pribadi yang hangat dan ramah, merasa ngeri melihat perubahan sikapnya yang drastis.
Namun, Cathleen tidak terpengaruh oleh ancaman Rikkard. Dia malah menertawakan ancamannya, yang hanya membuat Rikkard semakin marah. Emosinya semakin membara, dan dia merapatkan genggaman tangannya di leher Cathleen, membuatnya kesulitan bernapas.
Namun, Cathleen tetap tegar. Meski napasnya tercekat, dia tetap berkata dengan suara yang penuh keteguhan, "Gue enggak takut." Dia menatap Rikkard dengan tatapan yang sama tajamnya, menunjukkan bahwa dia tidak akan mudah dikalahkan.
Bella datang tepat pada waktunya, mendorong tangan Rikkard yang mencekik leher Cathleen. Bella berteriak, "Apa-apaan sih lo, Rikkard! Lo pengen liat sahabat gue mati?" Suaranya keras dan tegas, penuh dengan kemarahan dan kekhawatiran untuk sahabatnya.
Sementara itu, Cathleen berusaha menarik napas sebanyak mungkin, terbatuk-batuk dan merintih kesakitan. Matanya memerah, dan dia merasa seperti tenggorokannya terbakar. Dengan tangan gemetar, dia mengusap lehernya yang sudah memerah dan bengkak. Saat merasa telah cukup menghirup napas sontak Naomi membalikkan tubuhnya menghadap Rikkard lalu gadis menyinggung senyuman licik sembari menatap tajam Rikkard.
"Sebelum gue benar-benar liat lo hancur, gue enggak pernah berhenti untuk ngusik lo, bahkan gue bakal buat semua cewek yang dekat dengan lo menjauh dan gue bakal buat citra lo buruk di depan semua orang!"
"Sebelum lo lakuin itu semua, gue bakal terlebih dahulu ngehancurin hidup lo tanpa tersisa sedikitpun hingga buat semua orang membenci lo dan jijik terhadap lo"
Tidak ada yang ingin mengalah di antara mereka, mereka terlihat saling melayangkan tatapan tajam dan dingin, bahkan tanpa peduli mereka telah menjadi pusat perhatian para penonton balapan malam ini.
"Silahkan hancurin gue sesuka lo, tuan muda. Gue Cathleen enggak pernah takut dengan ancaman lo."
Rikkard mengepal kuat tangannya sehingga terlihat buku-buku jari dengan urat-urat tangan menonjol jelas. Tapi itu tidak membuat Cathleen merasa takut sama sekali karena rasa cinta gadis itu kepada Rikkard lebih besar daripada ketakutannya kepada pemuda itu.
"Cath, ayo pulang! Nanti tante Alena nyariin lo," bisik Bella sembari mengapit tangan Cathleen supaya menjauh dari Rikkard karena suasana semakin mencekam kala melihat tatapan menggelap dari pemuda itu yang di layangkan kepada Cathleen.
Cathleen membenarkan perkataan Bella sehingga gadis itu hanya pasrah di tarik Bella menjauh dari hadapan Rikkard tapi tidak membuat gadis itu melepaskan tatapan tajamnya kepada pemuda itu sampai di depan mobil.
"Gue tunggu,” ucap Cathleen sebelum benar-benar menghilang masuk kedalam mobil. Seketika Bella kembali lagi mendekati segerombolan pemuda itu lalu gadis itu menjinjitkan kakinya mengecup sekilas pipi Zeus.
"Aku pulang dulu, Babe," ucap Bella sebelum benar-benar hilang mengikuti Cathleen masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati," jawab Zeus dan mendapat anggukan dari Bella.
Cathleen mengendarai mobil tepat di hadapan Rikkard dan yang lain lalu gadis itu memencet klakson sambil mengacungkan jari tengahnya lewat jendela mobil.
"Baru kali ini gue liat cewek berani banget sama lo, lo enggak ada ngerencanain buat gadis iblis itu kapok?" tanya Theo kepada Rikkard yang masih memandang mobil yang mulai keluar dari area sirkuit.
"Selama cewek tuh enggak melampaui batas gue biasa aja tapi kalo sampe benar-benar di luar jalur gue enggak segan-segan bunuh cewek tuh."
Theo hanya manggut-manggut paham lalu beralih menoleh Zeus dengan tatapan penuh tanda tanya. "Lalu kenapa lo enggak ngelarang Bella deket-deket dengan cewek ular tuh, lo enggak takut cewek lo bakal sama dengan dia, berubah jadi licik?"
"Gue udah ngelarang cewek gue untuk enggak temenan dengan Cath tapi ya itu katanya Cathleen enggak pernah ajakin Bella bekerja sama berbuat hal-hal buruk, malah Cath ngelarang cewek gue ikut serta dengannya membully anak-anak,” jelas Zeus dengan santai.
"Kadang kala gue agak gimana ya dengan sikap Cath, gue ngerasa cewek tuh penuh teka-teki soal selalu ganggu lo Rikkard seakan-akan cewek tuh pengen ngungkapin sesuatu kepada lo tapi dengan cara buat lo benci sama dia." Rikkard menyentil keras kening Theo membuat pemuda itu hanya meringis kesakitan.
"Jauhin pikiran lo tentang cewek tuh, gue yakin dia tuh pengen hidup gue hancur makanya selalu mencari masalah dengan gue,” ucap Rikkard setelah menghela napas panjang.
"Gue harap juga gitu."
***
Cathleen melangkah masuk ke perkarangan rumahnya yang luas setelah pagar besi hitam dibuka oleh satpam yang setia. Rumahnya, meskipun bukan istana, adalah rumah yang nyaman dan hangat, dengan taman yang terawat dengan baik dan pohon-pohon yang rindang. Cathleen bukan berasal dari keluarga super kaya, tetapi dia juga jauh dari miskin. Keluarganya, meski tidak mewah, selalu memberikan segala yang dia butuhkan dan lebih. Mereka adalah keluarga yang penuh cinta dan harmonis, meski hanya terdiri dari Cathleen dan ibunya, Alena.
Ayah Cathleen, seorang pria baik dan penyayang, meninggal saat Cathleen masih berusia 10 tahun. Itu adalah masa yang sulit bagi mereka berdua, tetapi Alena, ibunya, tidak pernah mencari pengganti untuk suaminya. Dia berkomitmen untuk fokus pada kebahagiaan dan kesejahteraan Cathleen, dan dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam hal itu. Rumah mereka dipenuhi dengan kenangan indah, cinta, dan tawa. Itu adalah tempat di mana Cathleen selalu merasa aman dan dicintai, tidak peduli apa yang terjadi di luar dunia mereka.
"Pak Bondan, tolong rawat dan jaga mobil aku ya!" ucap Cathleen ramah sembari menyodorkan kunci mobil kepada Pak Bondan.
"Siap, Nona! Pak Bondan kece nih bakal jagain mobil Nona Vienna dengan baik," ucap Pak Bondan dengan mengangkat sebelah tangannya untuk diletakkan di kening. "Tapi dari mana nona cantik nih dapetin mobil mewah ini?” gumamnya lagi sembari berjalan menelisik mobil itu dengan seksama, bahkan pria itu mengelus body mobil itu dengan lembut.
Cathleen terkekeh ringan lalu mendekati Pak Bondan yang masih menelisik mobil itu. "Aku menang balapan, Pak. Mulai sekarang mobil nih bakal menjadi mobil kesayangan Vienna."
"Wah! Hebat banget Nona Vienna hingga bisa menang balapan."
"Aku main curang Pak, biar dapat mobil nih loh."
"Kayaknya seneng banget dapet mobil nih?" goda Pak Bondan saat melihat anak majikannya memandang mobil itu dengan tatapan berbinar.
"Vienna sangat sangat senang, Pak,” ucap Cathleen dengan senyuman mengembang yang terukir indah di wajah gadis itu.
"Oya aku masuk dulu ya, Pak!” pekik Cathleen sambil melambaikan tangan ke arah Pak Bondan.
"Selamat istirahat, Nona!" Pak Bondan geleng-geleng kepala melihat kegirangan Cathleen tapi tak urung pria itu tersenyum lebar.
Cathleen berjalan pelan menuju pintu depan rumahnya, rumah minimalis dua lantai berwarna putih yang selalu terlihat bersih dan rapi. Dia memegang gagang pintu dengan lembut, berusaha untuk tidak membuat suara yang bisa membangunkan ibunya, Alena. Melihat ke dalam, dia bisa melihat bahwa rumahnya sudah gelap. Lampu ruang tamu sudah dimatikan, menandakan bahwa Alena sudah pergi tidur. Jam dinding menunjukkan hampir pukul satu pagi.
Dia melepaskan sepatu putihnya di pintu dan memegangnya di tangannya, berjalan dengan kaki telanjang di lantai yang dingin. Dia berusaha sebisa mungkin untuk berjalan tanpa membuat suara, menahan napasnya setiap kali langkahnya berdecit di bawah berat badannya. Cathleen merasa sedikit cemas, menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Dia tahu ibunya akan khawatir jika mengetahui dia pulang larut malam, dan dia tidak ingin membuat ibunya stres. Dia berharap bisa mencapai kamarnya tanpa membangunkan Alena.
"Cathleen Vienna Aubrey!”
Anda Mungkin Juga Suka





