Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Catatan Rahasia Sekretaris Suamiku

Catatan Rahasia Sekretaris Suamiku

Davina menemukan bukti perselingkuhan suaminya, Fathan, melalui catatan rahasia milik Lulu. Namun, situasi berubah mencekam saat Lulu, yang merupakan sekretaris sekaligus sahabat dekatnya, ditemukan tewas terbunuh secara misterius. Siapakah dalang di balik kematian tragis tersebut? Akankah pernikahan Davina dan Fathan bertahan di tengah badai pengkhianatan dan teka-teki pembunuhan ini? Ungkap kebenaran di balik setiap rahasia kelam dalam kisah ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Davina mulai membuka catatan yang ditinggalkan Lulu.

[Hari ini nyawaku kembali menggenap. Davina sahabat terbaikku menawari pekerjaan di kantor suaminya. Siapa sangka aku bisa menjadi sekretaris seorang bos muda yang tampan dan menawan. Thanks, Davina. Kamu tidak akan menyesal telah memilih aku]

*

Berdiri di atas duri, begitulah yang dirasakan Fathan setelah mendengar kabar bahwa kematian Lulu bukan karena bunuh diri. Ada seseorang yang mengincar kematiannya. Polisi masih mencari barang bukti dan petunjuk yang bisa mengarahkan kepada pelakunya.

"Untuk sementara semua kawan-kawan dan orang dekat korban bisa menjadi tersangka. Saya harap Pak Fathan bisa bekerjasama dengan kami dengan membongkar semua fakta tanpa ada yang ditutup-tutupi. Karena TKP berada di kantor bapak, kami akan mulai dari Anda. Apakah Anda sudah menunjuk pengacara?'" tanya Bripda Estu Saragih yang dijawab Fathan dengan anggukan kepala.

"Kami akan mulai menjadwalkan pekan depan untuk investigasi, termasuk kepada istri Anda, Ibu Davina."

"Kenapa istri saya? Apakah dia juga ...."

Fathan menggantung kalimatnya. Tentu saja Davina termasuk yang dicurigai karena dia adalah sahabat Lulu. Anggota geng Cokelat baru saja bertemu pada malam sebelumnya.

"Semua data orang-orang yang berhubungan dengan korban dalam 24 jam terakhir sudah ada pada kami, dan Ibu Davina termasuk salah satunya. Apakah pengacara Ibu Davina juga sama dengan pengacara Anda?" selidik Bripda Estu Saragih.

"Saya ... Kami belum membicarakannya." Fathan memang belum sempat membahas masalah ini dengan Davina.  "Segera setelah ini kami pasti akan berdiskusi," imbuhnya berusaha menutupi gusar di wajahnya.

"Baik Pak Fathan, terima kasih atas kerjasamanya. Jangan lupa Anda dan istri dilarang bepergian ke luar kota maupun ke luar negeri. Selamat siang."

Fathan mengangguk lalu bangkit dari kursinya dan bergegas keluar dari ruangan. Ternyata masalah ini tidak sesederhana yang dia kira. Fathan segera mencari nama Thomas dari list phonebooknya. Dia harus menelpon pengacaranya.

"Pak Thomas bisa ke kantor saya secepatnya? Saya butuh berkonsultasi. Iya, iya betul. Ini tentang sekretaris saya. Baik, saya sedang dalam perjalanan ke kantor. Terima kasih."

Lulu Adzkiya ibu tunggal dari seorang anak laki-laki berusia enam tahun. Davina begitu bersemangat memperkenalkannya ke kantor suaminya. Jika Davina tidak menceritakan tentang latar belakang Lulu, mungkin Fathan tidak menduga jika perempuan berambut ikal itu pernah melahirkan. Lulu masih terlalu langsing untuk ukuran wanita beranak satu. Tubuhnya kurus, tidak terlalu tinggi tapi seksi. Dengan setelan rok pendek dan blazer yang pas sesuai bentuk tubuhnya, penampilan Lulu sangat menarik.

Kulit Lulu tidak seputih Davina. Dengan dua lesung pipi dan gigi kelinci, siapa pun tak akan bosan memandang wanita berusia dua puluh lima tahun itu. Di antara teman-teman yang tergabung dalam geng Cokelat, Lulu anggota termuda. Pertemuan Fathan dan Lulu di kantor Fathan terjadi atas prakarsa Davina.

"Mas kenalin ini Lulu temanku. Aku pikir kamu butuh sekretaris pribadi dan aku tidak bisa mempercayai siapa pun kecuali dia."

Dengan mata berbinar Davina memperkenalkan sahabatnya. Lulu menyodorkan tangannya. Senyum manis dengan dua lekuk lesung pipit memperlihatkan deretan gigi putih Lulu terlihat menawan. Bagaimana bisa Fathan menolak sekretaris pribadi secantik ini?

"Ehm ... terserah kamu saja, Sayang. Kamu memang istri terbaik. Kapan Lulu bisa mulai kerja?" tanya Fathan tak bisa menahan rasa gembiranya.

"Secepatnya mas, eh Pak, maaf." Semburat merah menjalar di pipi Lulu. Fathan memiliki postur tubuh yang tinggi atletis juga membuat Lulu tak bisa menahan senyumnya saat matanya bersirobok dengan calon bosnya.

"Lulu, suamiku ini bos kamu kalau di kantor. Di luar kantor kamu bebas panggil dia semaumu. Tugasmu cuma memastikan suamiku makan teratur, menyusun jadwal pekerjaan yang 'manusiawi' dan menjadi mata-mata khusus untukku." Davina mengedipkan matanya yang disambut gelak tawa Lulu. Tentu saja dia dengan senang hati akan melakukannya.

"What? Maksudmu kamu menyediakan mata-mata di kantorku sendiri?" protes Fathan dengan wajah kesal yang dibuat-buat. Sejatinya hatinya tengah bersorak gembira. Bukankah dengan kehadiran sekretaris ini semua akan menjadi lebih mudah?

"Maaf Pak Fathan, sepertinya Anda tidak punya pilihan lain karena saya digaji tinggi untuk pekerjaan ini. Saya pastikan Davina tidak melewatkan informasi apa pun tentang Anda meski itu cuma satu detik."

Lulu membalas candaan Davina dengan senyumnya yang khas. Hari ini menjadi hari yang menyenangkan seumur hidupnya. Entah mimpi apa dirinya semalam hingga datang satu moment terbaik yang tak bisa dia lupakan. Ada letupan kecil di jantungnya setiap menatap mata teduh Fathan.

"Oke Lulu, tugas perdanamu adalah pesan AC baru, saya mulai merasa kegerahan di ruangan ini." Fathan menarik dasinya, berusaha mengendurkan ikatannya. Davina tersenyum melihat ulah suaminya. Dia memang sudah mempercayai Lulu seperti adiknya sendiri. Di bawah pengawasan Lulu, Fathan pasti akan berpikir ulang jika ingin macam-macam di belakangnya.

"Apakah AC 3 Pk cukup untuk ruangan ini?" tanya Lulu dengan pandangan mengitari ruangan yang berukuran 4x4 meter persegi.

"Cukup Lulu, sangat cukup untuk membuat saya mati membeku," jawab Fathan yang diikuti gelak tawa Davina dan Lulu. Mereka bertiga tertawa lepas seperti seharusnya. Tanpa sengaja Fathan dan Lulu bertemu pandang. Lagi.

Saat itulah Fathan merasa Davina tidak salah memilihkan sekretaris untuknya.

Hari-hari selanjutnya hubungan mereka sebagai bos dan sekretaris tidak menemui kendala. Lulu sangat bisa membawa diri. Selera humornya yang bagus membuat Fathan lebih sering memperlakukannya sebagai teman ketimbang sekretaris. Lulu menghandle semua jadwal pekerjaan Fathan dengan rapi dan berhati-hati. Jika ada hal yang tidak ia ketahui, Lulu tak sungkan bertanya kepada Davina. Hal itulah yang dulu dikuatirkannya sebelum menerima pekerjaan dari sahabatnya.

"Kamu yakin aku bisa jadi sekretaris buat suamimu? Vin, aku cuma lulusan SMA. Aku rasa kamu terlalu berlebihan." Lulu meletakkan gelas berisi lemon jus ke atas meja.

"Lu, nanti sambil jalan aku ajarin. Lagian apa kamu enggak mau kuliah lagi? Keenan sudah bisa kamu tinggal. Ayolah ... aku tahu kamu masih ingin meraih mimpimu. Kamu bisa bekerja lima hari dan ambil kelas weekend. Kelas khusus karyawan."

Davina meyakinkan Lulu yang terlihat mulai terpengaruh dengan omongannya. Mereka berteman sejak SMA. Lulu terpaksa tidak bisa kuliah karena terlanjur hamil duluan dengan pacarnya.

Satu kesalahan yang harus ditebus selamanya. Terkadang memang orang tidak tahu sebesar apa dampak yang ditimbulkan dari satu kecupan selamat malam oleh sepasang muda mudi yang sedang dilanda gelora asmara. Lulu dan Rizal, pacarnya, akhirnya kalah menuruti hawa nafsu. Selanjutnya penyesalan adalah hadiah yang pasti akan mereka terima.

Seiring berjalannya waktu, Fathan dan Lulu menjadi partner kerja dan kawan ngobrol yang menyenangkan. Suatu hari saat Fathan  pulang dari Singapura untuk urusan pekerjaan, pria berjenggot tipis itu kelelahan. Davina memberi banyak pesan larangan untuk  Fathan menerima tamu. Davina bahkan membekalinya dengan sup daging dan ginseng yang konon bisa membuat kondisi tubuhnya kembali membaik.

"Lulu, kata Davina ada makanan yang ...."

"Sudah saya ambil dari Pak Noto." Belum selesai ucapan Fathan, Lulu sudah memotongnya. Davina sudah lebih dulu memberikan banyak instruksi, termasuk kepada Pak Noto sopir Fathan.

"Saya juga sudah membatalkan semua janji meeting untuk hari ini. Bapak bisa di kantor saja. Namun, jika bapak ingin segera sembuh, saya tahu caranya. Bagaimana?" Lulu tersenyum manis kepada bosnya. Fathan terlihat sedikit pucat. Bukankah Davina mempercayakan Fathan kepadanya untuk dirawat? Maka sebuah ide tiba-tiba hinggap di kepalanya.

"Orang bilang kalau sakit jangan tiduran, tetapi berenang. Saya sudah siapkan bajunya. Dua jam saja waktunya, setelah itu Bapak harus minum obat dan beristirahat."

Lulu membawa Fathan ke hotel yang dilengkapi private pool di lantai 21. Selanjutnya sekretaris seksi itu menyodorkan tas berisi perlengkapan renang. Fathan tidak mengerti apakah benar yang dikatakan Lulu, tetapi melihat kesegaran air di dalam kolam, tubuhnya seperti minta jatah untuk relaksasi.

Lulu masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kaca setelah memastikan Fathan masuk ke dalam air. Dia melanjutkan pekerjaannya di depan laptop. Masih banyak janji dan acara yang harus dijadwalkan ulang hari itu.

Baru satu jam berlalu, Fathan sudah mulai kelelahan. Setelah berganti pakaian, pria berkulit putih itu kembali ke dalam kamar. Dia melihat Lulu sedang berdiri membelakanginya. Sepertinya Lulu sedang menelepon seseorang. Dengan sangat berhati-hati karena tak ingin menganggu obrolan Lulu, Fathan menggeser pintu kaca lalu menutupnya dengan rapat.

"Ghina, kamu berhak bersenang-senang. Kamu sudah bekerja keras, pergilah ke klub malam, pilih pria yang kamu suka. No relationship, just having fun! Iya, aku tahu. Kamu enggak boleh nyiksa diri terus, Sayang. Kamu manusia biasa, kamu butuh bersenang-senang!"

Suara Lulu terdengar jelas di telinga Fathan. Fathan tersenyum simpul mendengar obrolan Lulu dengan Ghina. Pasti yang dimaksud adalah Ghina sahabat Davina juga. Perlahan dia berbaring di atas sofa.

"Hei kalau kamu enggak percaya cowok di luar, aku bisa mengenalkanmu dengan orang yang bisa kamu percaya. Iya dong, kamu pikir selama ini aku jadi batang pisang? Oh, tentu tidak masalah. Ini hubungan satu malam, ha-ha-ha." Tawa Ghina yang lepas memberi sensasi tersendiri bagi suami Davina. Meskipun dengan mata terpejam, bibir Fathan tersenyum mendengar obrolan sekretarisnya.

Ada yang tidak ia sadari. Lulu sengaja membuat obrolan itu bisa terdengar olehnya. Lulu bisa melihat pantulan dari cermin di depan ranjang, saat Fathan memasuki ruangan. Lulu sengaja membuat obrolan itu untuk melihat reaksi Fathan. Saat menyadari bibir Fathan menyunggingkan senyum dengan mata terpejam, Lulu segera menutup teleponnya.

"Mas, apakah perlu saya pijit kakinya?" tanya Lulu lembut seraya mendekati Fathan.

Fathan tersentak saat mendengar bunyi klakson di belakangnya. Rupanya lampu traffic light sudah hijau. Dirinya terlalu larut dalam putaran ingatan bersama Lulu. Ponselnya berdering, ada nama Davina.

"Mas, aku mendapat panggilan dari polisi. Kabarnya Lulu sengaja dibunuh. Mas, kamu benar-benar jahat! Kamu pembunuh!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Butuh Belas Kasihanmu!
9.2
Kania berjuang sendirian menyelamatkan Arka, putranya yang kritis di ICU, setelah diceraikan suaminya karena dianggap melahirkan anak penyakitan. Cobaan kian berat saat mantan mertuanya terus menghalangi setiap upaya pengobatan bagi sang buah hati. Meski merasa terpojok oleh dunia yang kejam, sebuah peristiwa tak terduga akhirnya memaksa Bagas menghadapi kenyataan pahit yang selama ini ia hindari. Kania membuktikan ia tidak butuh belas kasihan siapa pun.
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku
8.1
Sepuluh tahun menikah, hubungan asmara antara aku dan Mas Bram tetap membara layaknya pengantin baru. Sebagai atasan perusahaan yang sibuk mengontrol cabang luar kota, ia selalu lihai menyusun alasan demi menemui diriku tanpa sepengetahuan ibunya. Pagi ini, kemesraan itu kembali hadir lewat pelukan hangat dan kecupan di leher saat aku memasak. Sosoknya yang romantis sangat memahami cara memuaskan keinginanku hingga aku tak berdaya dalam dekapan gairahnya.
Sampul Novel Kesempatan Ketujuh
8.6
Selama tujuh tahun, seorang wanita biasa tanpa lelah mengejar Vincent meski terus diabaikan. Sebagai pria yang menjunjung norma sosial, Vincent justru sering bersikap kasar dan melontarkan cacian tajam karena merasa jijik padanya. Namun, sebuah rahasia besar terungkap saat Mira tanpa sengaja melihat daftar kontak di ponsel Vincent. Di balik sikap dingin dan kebencian yang ia tunjukkan selama ini, Vincent ternyata menyimpan nomor Mira dengan nama Sayangku.
Sampul Novel Menikah dengan kakak ipar
9.0
Hanifah yang mandul mendesak suaminya, Raihan, untuk menikahi sang adik, Nur Naila Habibah, demi mendapatkan keturunan. Naila merasa tak layak bagi Raihan, dosen agama yang religius, karena ia adalah mahasiswi nakal yang belum berhijab. Tanpa mereka sadari, Naila sebenarnya bukan saudara kandung Hanifah, melainkan anak sahabat ibunya. Akankah Naila menerima permintaan kakaknya itu atau justru menolak pernikahan tersebut karena merasa terlalu berbeda?
Sampul Novel Pernikahannya, Makam Rahasianya
8.1
Maya Prameswari terjebak dalam pernikahan beracun dengan miliarder Bima Wijaya. Bima menghina Maya sebagai wanita mata duitan, tanpa tahu dialah penyelamat rahasia hidupnya. Hasutan jahat Sarah Hartono membuat Bima makin membenci Maya. Demi keadilan ibunya dan keselamatan Bima dari musuh tak terlihat, Maya nekat memalsukan kematiannya. Namun, kepergian Maya justru memicu duka mendalam dan bahaya baru bagi Bima yang masih dibutakan oleh kebohongan.
Sampul Novel Rosemary's Life Story
9.6
Rosemary Laurens, sekretaris asal Surabaya, mendapati dunianya runtuh saat ayahnya wafat di Balikpapan. Ternyata, sang ayah terlilit judi hingga toko dan rumah mereka disita bank. Belum kering air matanya karena kemiskinan mendadak ini, tragedi kembali menghantam. Mobil yang dikemudikannya ditabrak truk hingga menewaskan Owen, kekasihnya. Kini Rosemary harus berjuang sembuh dari luka fisik dan trauma berat setelah kehilangan dua pria tercinta dalam hidupnya.