Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Canda Cinta Kirana

Canda Cinta Kirana

Kirana, gadis terencana, hancur saat Zayn menyebut wanita lain sebagai cinta sejatinya di hari pernikahan mereka. Kisah ini membawa kita kembali ke masa sekolah, di mana Kirana yang cerdas bertemu Zayn, penerima beasiswa usil yang menyimpan luka dalam. Di antara tawa dan rahasia terpendam, dua dunia berbeda ini bersinggungan. Saat perpisahan tiba, mampukah kepercayaan pulih, ataukah perbedaan besar akan memisahkan mereka selamanya dalam duka mendalam?
Bab
Bagikan

Bab 2

Langit malam menggantung sunyi di atas halaman sekolah, diwarnai kelap-kelip bintang yang berserakan seperti serpihan ingatan yang bersiap diabadikan.

Angin berhembus perlahan, membawa aroma tanah basah yang samar setelah hujan sore tadi. Lampu-lampu jalan menerangi trotoar menuju gedung aula, tempat di mana malam ini kenangan akan terukir, dan perpisahan akan menjadi kenyataan.

Kirana melangkah pelan di antara teman-temannya, gaun sederhana berwarna dusty blue membalut tubuhnya dengan anggun.

Hijabnya terpasang rapi, mengikuti lekuk wajahnya yang teduh, namun dalam benaknya, pikirannya berlarian ke banyak arah.

Setelah malam ini, segalanya akan berubah. Tidak akan ada lagi rutinitas pagi di kelas yang sama, tawa yang saling bersahutan di kantin, atau keluhan tentang tugas-tugas yang menumpuk.

Satu langkah sebelum menaiki anak tangga menuju aula, sesuatu membuat langkah Kirana terhenti.

Di sudut bangunan, di bawah naungan bayangan gedung, seorang pria berdiri bersama seorang gadis. Keduanya saling berhadapan, dalam diam yang tidak biasa.

Zayn Alexander.

Kirana mengenali sosok itu. Siapa yang tidak?

Dia bukan hanya salah satu siswa paling karismatik di sekolah, tetapi juga sosok yang tampaknya selalu punya cahaya sendiri di antara orang-orang.

Kharismanya terpancar begitu alami-seakan kepercayaan diri dan keluwesan sosial sudah melekat dalam dirinya sejak lahir. Meski Kirana tidak pernah benar-benar memperhatikannya, nama dan wajahnya tidak asing.

Namun, malam ini, ada sesuatu yang berbeda.

Zayn tidak berada di tengah kerumunan sahabatnya yang selalu memenuhi udara dengan tawa dan kelakar.

Ia berdiri sendiri, hanya bersama seorang gadis yang tampak menatapnya dengan mata yang menyiratkan terlalu banyak hal yang tidak diucapkan.

Jarak di antara mereka cukup jauh untuk menyiratkan batas, namun cukup dekat untuk menampilkan ikatan yang tak kasat mata.

Mereka tersenyum.

Bukan senyum bahagia. Tapi senyum seseorang yang memahami bahwa segala sesuatu yang indah pun bisa berakhir.

Tanpa sadar, Kirana menahan napas.

"Eh, lo kenapa sih?"

Suara Natalia, teman dekatnya, membuat Kirana tersentak. Natalia menarik pergelangan tangannya dengan ringan. "Melamun aja dari tadi. Ayo masuk!"

Kirana mengerjapkan mata, membiarkan pemandangan itu perlahan menghilang dari pikirannya. Ia mengangguk cepat dan mengikuti langkah Natalia  menaiki tangga menuju aula.

Sementara itu, di belakangnya, Zayn dan gadis itu mengambil langkah masing-masing. Satu ke kiri, satu ke kanan. Tidak saling menoleh lagi.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Aula sekolah telah diubah menjadi tempat perayaan yang memancarkan nostalgia. Lampu-lampu gantung redup berpendar lembut di langit-langit, memantulkan cahaya ke lantai kayu yang mengilap.

Di sekitar ruangan, meja-meja bundar dipenuhi makanan ringan, minuman soda, dan hiasan-hiasan foto kenangan dari tiga tahun terakhir-potret masa lalu yang terasa begitu dekat, namun sekaligus tak terjangkau lagi.

Suara tawa dan obrolan bercampur dalam udara yang dipenuhi semangat dan sedikit kesedihan. Beberapa siswa berkumpul dalam lingkaran kecil, berbagi cerita-cerita konyol tentang hari-hari sekolah mereka, seakan berharap bahwa dengan mengulang kembali, kenangan itu bisa tetap nyata.

Di sudut lain, sekelompok sahabat berpose di depan kamera ponsel, mengabadikan momen terakhir mereka sebagai satu angkatan.

Di atas panggung lebar yang dihiasi dengan lampu sorot warna-warni, acara telah dimulai. Malam ini bukan hanya sekadar perpisahan, tetapi juga perayaan bakat dan kebersamaan.

Salah satu penampilan pertama adalah seni tari. Sekelompok siswa tampil dengan tarian kontemporer yang dipadukan dengan sentuhan tradisional.

Setiap gerakan mereka begitu terkoordinasi, menggambarkan perjalanan dari awal memasuki SMA hingga akhirnya harus melangkah pergi. Ketika tarian berakhir dengan pose dramatis, tepuk tangan membahana di seluruh aula.

Lalu, giliran stand-up comedy. Seorang siswa yang dikenal dengan humor sarkastiknya naik ke panggung, membawa lelucon-lelucon khas kehidupan sekolah. Tawa pecah di seluruh ruangan.

Bahkan beberapa guru ikut tertawa, meski ada yang hanya bisa menggelengkan kepala.

Kemudian, acara memasuki puncaknya. Suasana aula berubah ketika lampu-lampu meredup sedikit, menciptakan atmosfer yang lebih intim. Sebuah band naik ke atas panggung, dan bukan sembarang band-ini adalah Deva, grup yang saat ini sedang naik daun di industri musik.

Seketika suasana menjadi lebih hidup. Sorakan dan tepuk tangan menggema, beberapa siswa bahkan berseru histeris ketika Deva mulai memainkan intro lagunya.

Mereka memulai dengan lagu rock berenergi tinggi, memacu adrenalin semua yang hadir. Beberapa siswa mulai berdiri, ikut bernyanyi dan mengangkat tangan mengikuti ritme. Bass yang menggetarkan dada, gitar yang melodis, dan suara vokalis yang khas membuat aula berubah menjadi lautan semangat.

"Gila, gue gak percaya mereka bisa diundang ke acara kita," bisik salah satu siswa dengan mata berbinar.

"Deva tuh udah level nasional, bro," sahut yang lain.

"Kita beneran dapet momen terbaik buat perpisahan ini."

Namun, yang paling berkesan adalah saat mereka menutup penampilan dengan lagu ballad yang penuh emosi.

Lampu panggung berubah menjadi lembut, hanya menyisakan cahaya putih redup yang jatuh ke atas para personel band. Suara gitar akustik mengalun pelan, diikuti dengan vokal yang menyayat hati.

Semua yang tadinya bersorak kini diam, tenggelam dalam lirik yang terasa seperti diciptakan khusus untuk malam ini. Beberapa siswa yang emosional terlihat mengusap sudut mata mereka.

Ketika lagu mencapai bagian akhir, suara seluruh aula bergema, menyanyikan lirik bersama-sama.

Dan saat nada terakhir dimainkan, tepuk tangan membahana begitu lama, menandakan bahwa malam ini akan menjadi sesuatu yang tidak akan terlupakan.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Di antara kerumunan, Kirana hanya diam, meresapi semuanya.

Perpisahan ini sungguh terasa nyata sekarang.

Suasana aula masih dipenuhi euforia setelah penampilan spektakuler Deva. Beberapa siswa bertepuk tangan dengan penuh semangat, sementara yang lain masih terhanyut dalam lagu terakhir yang begitu emosional.

Tapi sebelum malam ini benar-benar berakhir, masih ada satu acara puncak yang tak kalah penting-penyerahan penghargaan untuk siswa-siswi terbaik dari setiap kelas 3 di Royal Emerald International School.

Seorang guru naik ke atas panggung, membawa sebuah kotak berisi medali yang berkilauan di bawah cahaya lampu. Ia tersenyum, menunggu keheningan kembali mengisi aula sebelum berbicara ke dalam mikrofon.

"Terima kasih untuk malam yang luar biasa ini," ucapnya dengan suara hangat.

"Sebelum kita benar-benar menutup acara perpisahan, kami ingin memberikan penghargaan kepada beberapa siswa yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam akademik maupun non-akademik selama tiga tahun terakhir. Seperti yang kita tahu, perjalanan di Royal Emerald tidak mudah, dan mereka yang akan berdiri di panggung ini adalah bukti dari kerja keras dan kegigihan yang luar biasa."

Beberapa siswa mulai berbisik antusias, menebak-nebak siapa yang akan dipanggil. Nama-nama pun mulai disebutkan satu per satu.

"Dari kelas 12 A1, penghargaan diberikan kepada Nathaniel Adrian."

Salah seorang siswa pria berjalan ke panggung dengan penuh percaya diri, menerima medali dengan senyum bangga. Sorakan dan tepuk tangan terdengar dari sudut aula, terutama dari teman-teman sekelasnya yang memanggil namanya dengan riuh.

"Dari kelas 12 A2, Sienna Fadelia."

Seorang gadis tinggi dengan rambut panjang bergelombang melangkah ke atas panggung. Ia membungkuk sedikit sebagai tanda terima kasih sebelum menerima penghargaan.

Dan kemudian, nama yang sudah Kirana perkirakan pun akhirnya dipanggil.

"Dari kelas 12 A3, penghargaan diberikan kepada Kirana Kalisya."

Tepuk tangan kembali membahana. Kirana menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah maju.

Meski ia bukan tipe yang haus akan pengakuan, berdiri di panggung ini, menerima penghargaan atas semua kerja kerasnya selama tiga tahun terakhir, tetap menghadirkan rasa bangga yang hangat di dadanya.

Saat medali dikalungkan di lehernya, ia melirik ke arah teman-temannya yang tersenyum lebar ke arahnya.

"Gue udah bilang, lu pasti dapet," bisik salah satu dari mereka begitu Kirana kembali ke tempatnya.

Kirana hanya tersenyum kecil.

Setelah beberapa nama lagi diumumkan, guru yang membacakan penghargaan itu kembali berbicara.

"Kami berharap semua siswa yang menerima penghargaan ini bisa terus berprestasi di masa depan. Tapi lebih dari itu, kami ingin kalian semua mengingat satu hal-prestasi bukan hanya soal angka atau penghargaan, tapi juga tentang bagaimana kalian tumbuh sebagai individu yang lebih baik. Jadi, apapun yang kalian pilih untuk masa depan nanti, jadilah seseorang yang kalian banggakan sendiri."

Kata-kata itu disambut tepuk tangan meriah.

Dan dengan itu, acara perpisahan pun resmi ditutup.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Malam ini telah menjadi saksi dari begitu banyak emosi-kebahagiaan, tawa, kesedihan, nostalgia. Semua orang tahu bahwa esok hari akan menjadi awal dari lembaran baru yang belum terjamah.

Kirana berdiri di dekat meja makanan, menyesap minuman soda dingin sambil mengamati sekelilingnya. Masih banyak Siswa-siswi yang bertahan di aula itu selama mungkin seolah mereka tidak ingin berpisah dengan teman-teman yang telah berjuang bersama selama tiga tahun terakhir ini.

"Gue masih nggak percaya kita udah sampai di titik ini," ujar Natalia, menghela napas panjang. "Kayak baru kemarin kita kenal-kenalan masuk sekolah ini, sekarang tiba-tiba kita harus mikirin kuliah."

"Waktu emang nggak nungguin siapa-siapa ya ?." Kirana tersenyum tipis, tapi ada sesuatu di dadanya yang terasa kosong.

Natalia mengangkat bahu. "Gue bakal kangen semuanya sih, bahkan tugas-tugas menyebalkan."

"Ish ga usah lebay." Kirana tertawa kecil.

Namun, di dalam aula yang ramai itu, mata Kirana sekali lagi tertarik pada sosok yang tadi dilihatnya di luar.

Di sudut ruangan, Zayn dikelilingi beberapa teman dekatnya, tertawa lepas seperti biasa. Ada sesuatu tentang cara dia berdiri, bagaimana setiap gerakannya tampak spontan tapi tetap terkendali.

Cara dia tertawa, bagaimana matanya menyipit dengan kesan riang yang menular. Seakan dunia ini hanya butuh sedikit keberanian dan segalanya akan baik-baik saja.

Tapi Kirana tahu itu tidak sepenuhnya benar.

Karena tadi ia melihatnya. Senyum yang lain. Senyum yang tidak diperlihatkan pada siapapun di aula ini.

"Lo ngeliatin siapa?"

Kirana tersentak dan segera mengalihkan pandangan. Natalia mengangkat alisnya dengan tatapan penasaran.

"Nggak. Bukan siapa-siapa."

"Ah, bohong banget." Natalia tertawa kecil, melirik ke arah yang sama dengan Kirana. "Zayn?"

Kirana mengerutkan kening. "Gue cuma... ngerasa kayak ada sesuatu yang beda sama dia malam ini."

"Zayn emang beda." Natalia mengedikkan bahu. "Doi tuh, gimana ya... selalu kayak punya cerita sendiri. Kadang bikin iri sih, kayaknya hidupnya selalu seru."

Kirana tidak menjawab.

Cerita sendiri.

Mungkin memang begitu. Semua orang punya cerita masing-masing. Tapi apa jadinya kalau cerita seseorang ternyata jauh lebih rumit dari yang orang lain kira?

Dari sudut ruangan, Zayn tampak mendongak, memperhatikan ke arah panggung dengan ekspresi santai. Cahaya lampu menggambarkan garis wajahnya dengan jelas-dagu tegas, rahang kokoh, dan mata yang dalam.

Kirana memandangnya sekali lagi sebelum mengalihkan perhatian.

Mungkin, malam ini memang bukan tentang dia.

Mungkin, malam ini hanyalah tentang perpisahan.

Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya, Kirana merasa bahwa ada sesuatu tentang pria itu yang akan menghantuinya lebih lama dari yang seharusnya.

Dan entah kenapa, ia membiarkan pikirannya memikirkan kemungkinan itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayahku Menikahi Pelakor
9.1
Elvira harus merelakan kehidupan glamornya usai perceraian pahit kedua orang tuanya. Ia memilih tinggal bersama Miranda, ibunya yang terluka, sementara sang ayah hidup mewah dengan wanita yang menghancurkan keluarga mereka. Dari sosialita manja, kini Lia harus berjuang hidup sederhana di pinggiran kota. Bersama pelayan setia, Mbok Rini, ia belajar memasak dan berjualan kue. Di tengah kesulitan ekonomi, Lia justru menemukan arti kebahagiaan sejati yang tak terbeli.
Sampul Novel Crazy Woman
8.3
Ria Ananta menyembunyikan statusnya sebagai putri konglomerat meski gaya hidupnya selalu mewah. Ia memilih hidup normal, namun ketenangannya terusik sejak menjalin asmara dengan Christian, seorang idola terkenal. Tekanan dari keluarga Christian yang tidak merestuinya memicu depresi dan sisi gelap dalam diri Ria yang tak terduga. Di balik tumpukan harta, Ria berjuang melawan kehancuran mental dan pikiran bunuh diri akibat konflik hubungan yang penuh kekerasan.
Sampul Novel Gairah Isteri Kedua
8.4
Ellea terpaksa mengambil keputusan besar dalam hidupnya dengan menjadi istri kedua bagi Anderson. Sebagai seorang CEO muda yang berkuasa, Anderson membawa Ellea masuk ke dalam kehidupan pernikahan yang penuh dengan teka-teki. Apa sebenarnya alasan kuat yang memaksa Ellea bersedia menerima posisi tersebut? Ikuti kisah romansa penuh konflik ini saat ia harus menghadapi kenyataan pahit di balik statusnya sebagai wanita kedua dalam hidup sang konglomerat.
Sampul Novel Istri Tuan Noah
8.5
Akibat sebuah peristiwa tak terduga, Clara terpaksa menikahi pria yang seharusnya menjadi pasangan saudara kembarannya. Situasi rumit ini membuat Clara harus membesarkan seorang bayi mungil sendirian setelah kembarannya memilih pergi jauh. Kini, ia terjebak dalam peran ganda sebagai istri sekaligus ibu pengganti bagi anak tersebut. Seiring berjalannya waktu, mampukah benih cinta tumbuh di antara mereka dalam pernikahan yang penuh keterpaksaan ini?
Sampul Novel Jadilah Milikku, Nona Sekretaris
8.9
Julian Evans, CEO tampan nan kaya, menghadapi satu penolakan besar dari sekretarisnya sendiri, Mia Sanders. Meski saling mencintai, Mia yang merupakan anak pelayan keluarga Evans memilih memendam rasa demi balas budi dan status sosial. Ia menganggap hubungan mereka mustahil. Namun, Julian tidak menyerah dan menantang keraguan Mia untuk membuktikan keseriusannya. Mampukah kegigihan Julian meluluhkan hati Mia dan meyakinkannya bahwa cinta mereka layak diperjuangkan?
Sampul Novel Jeratan Cinta Kakak Tiri
8.1
Luna hancur saat mengetahui Reno, cinta pertamanya, ternyata calon kakak tirinya. Meski hubungan ini terlarang, gairah mereka tak terbendung hingga keduanya nekat menjalin asmara rahasia yang penuh risiko. Kini, rahasia besar mengancam mereka saat Luna mengandung buah cinta yang seharusnya tidak pernah ada. Akankah mereka bertahan saat kenyataan pahit ini terungkap, ataukah masa depan Luna akan hancur demi mempertahankan cinta yang salah ini?