Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Canda Cinta Kirana

Canda Cinta Kirana

Kirana, gadis terencana, hancur saat Zayn menyebut wanita lain sebagai cinta sejatinya di hari pernikahan mereka. Kisah ini membawa kita kembali ke masa sekolah, di mana Kirana yang cerdas bertemu Zayn, penerima beasiswa usil yang menyimpan luka dalam. Di antara tawa dan rahasia terpendam, dua dunia berbeda ini bersinggungan. Saat perpisahan tiba, mampukah kepercayaan pulih, ataukah perbedaan besar akan memisahkan mereka selamanya dalam duka mendalam?
Bab
Bagikan

Bab 3

Keramaian masih mengisi aula yang kini terasa lebih longgar setelah sebagian siswa mulai beranjak keluar, mencari udara segar atau sekadar berburu momen terakhir sebelum malam ini benar-benar berakhir. Namun, suasana di dalam ruangan masih menyimpan sisa euforia.

Siswa-siswi berkumpul dalam lingkaran kecil, berbincang dengan tawa yang sedikit serak setelah terlalu banyak bersorak sepanjang acara.

Beberapa guru juga masih terlihat di sudut ruangan, tersenyum puas melihat anak-anak didik mereka tumbuh dan siap menghadapi dunia.

Di antara itu semua, Kirana berdiri diam. Tangannya menggenggam tali medali yang tergantung di lehernya, dingin menyentuh kulitnya. Satu penghargaan lagi untuk menutup tiga tahun yang penuh kerja keras.

Harusnya ia merasa bangga. Harusnya ia merasa puas. Tapi entah kenapa, ada ruang kosong di dalam dadanya yang tak bisa dijelaskan.

Matanya tanpa sadar mengembara, menjelajahi setiap wajah yang ada di ruangan itu. Teman-teman yang selama ini akrab dengannya, guru-guru yang selalu memberinya arahan, dan orang-orang yang selama ini hanya sekadar berbagi lingkungan yang sama. Namun, pandangannya akhirnya kembali tertambat pada satu sosok itu lagi.

Zayn.

Ia berdiri sendirian di sisi aula, tidak terlalu jauh dari panggung yang kini kosong. Posturnya santai, satu tangan menyelip di saku celana, sementara tangan lainnya memegang botol air mineral. Namun, ada sesuatu dalam caranya berdiri yang membuatnya tampak berbeda dari sebelumnya.

Sejak awal malam, Zayn selalu dikelilingi orang-orang. Ia selalu menjadi pusat dari setiap percakapan, menyalakan setiap ruangan yang ia masuki dengan energi yang sulit diabaikan.

Tapi kini, di tengah aula yang masih berpendar cahaya, ia tampak berbeda. Tidak ada senyum percaya diri yang biasanya menghiasi wajahnya, tidak ada tawa ringan yang mengalir seperti biasanya.

Yang tersisa hanyalah tatapan kosong yang diarahkan ke panggung kosong, seolah ada sesuatu yang tertinggal di sana.

Kirana tidak pernah benar-benar memperhatikan Zayn sebelumnya. Ia tahu siapa pria itu-semua orang di sekolah ini tahu.

Zayn adalah nama yang sering disebut dalam berbagai cerita: sebagai kapten tim basket yang membawa kemenangan, sebagai siswa yang pesonanya sulit diabaikan, sebagai seseorang yang dengan mudah berteman dengan siapa saja. Tapi tidak pernah, sekalipun, Kirana benar-benar melihatnya seperti ini.

Atau... ia salah ?

Karena jika dipikir ulang, ternyata Zayn bukan sosok yang sepenuhnya asing baginya.

Kirana ingat, pernah menonton pertandingan basket di sekolah-bukan karena ia tertarik, tapi karena Natalia memaksanya ikut, beralasan ingin mendukung gebetannya yang juga salah satu pemain di tim. Kirana tidak peduli siapa lawannya, atau bagaimana jalannya pertandingan.

Tapi ia ingat, ada satu momen ketika kerumunan riuh berteriak, ketika skor hampir seri, dan ketika Zayn mencetak angka terakhir yang memastikan kemenangan tim mereka. Kirana ikut berdiri, bertepuk tangan tanpa berpikir, hanya karena atmosfer di sekitarnya begitu meledak-ledak.

Dan di tengah hingar-bingar itu, ia sempat melirik ke lapangan, melihat Zayn mengangkat tangannya dengan ekspresi kemenangan, dikerubungi oleh rekan-rekannya yang bersorak.

Atau momen di kantin ?

Siang yang biasa, tanpa hal istimewa. Kirana duduk dengan teman-temannya, mengaduk jus mangga sambil membahas tugas Fisika yang baru saja dikumpulkan. Tapi entah kenapa, ia masih bisa mengingat meja di seberang-dimana Zayn duduk bersama teman-temannya. Tertawa. Bersenda gurau. Berbicara dengan penuh percaya diri.

Bukan sekali-dua kali mereka duduk di kantin yang sama. Kadang hanya berjarak satu meja, kadang lebih jauh. Tapi Kirana tak pernah menyadari bahwa tanpa ia sadari, ia sering melirik ke arahnya.

Atau mungkin, lapangan basket saat istirahat ?

Kirana memang bukan anak yang suka berolahraga, tapi ada saat-saat ketika ia merasa ingin keluar kelas dan menikmati udara segar.

Dan di situlah, di lapangan itu, ia beberapa kali melihat Zayn bermain bersama teman-temannya. Berkeringat, tertawa, bergerak dengan luwes seolah tubuhnya memang diciptakan untuk itu.

Kirana tidak pernah benar-benar memperhatikan, tapi sekarang ia menyadari-mungkin, selama ini, ia selalu melihatnya dari jauh.

Hanya saja, ia tidak pernah mengizinkan dirinya untuk benar-benar peduli.

Karena ada hal lain yang lebih penting.

Prestasi akademik.

Masa depan.

Dan bagi Kirana, perasaan seperti ini tidak ada dalam daftar prioritasnya.

Namun, malam ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, ia memperhatikan Zayn bukan sebagai kapten tim basket, bukan sebagai cowok populer yang selalu dikelilingi teman-temannya, bukan sebagai bagian dari keramaian.

Tapi sebagai pribadi. Sebagai persona.

Seseorang yang kini berdiri sendirian di tengah aula yang perlahan mulai sepi, menatap panggung kosong dengan ekspresi yang ia coba tutupi.

Dan Kirana tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Ia merasa harus berpaling, merasa tidak pantas mengamati seseorang seperti ini. Tapi kakinya tetap diam di tempat. Ada sesuatu yang menariknya, sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya.

Dan sebelum ia benar-benar menyadari apa yang ia lakukan, ia telah melangkah maju.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Jarak di antara mereka semakin mengecil, tapi Zayn belum menyadarinya. Ia tetap berdiri di tempat, masih menatap panggung kosong dengan mata yang entah memikirkan apa.

Saat Kirana akhirnya berhenti beberapa langkah darinya, ia bisa melihat lebih jelas. Rahangnya mengeras, matanya sedikit menyipit, dan bibirnya mengatup rapat. Wajahnya seakan menyimpan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.

Kirana ragu. Haruskah ia benar-benar melanjutkan ini?

Tapi sebelum pikirannya sempat membentuk alasan untuk mundur, suaranya sudah lebih dulu keluar.

"Hei."

Zayn menoleh.

Ada jeda singkat sebelum ia bereaksi, seakan otaknya perlu waktu untuk mengenali sosok yang baru saja menyapanya. Dan saat ia akhirnya berbicara, nada suaranya terdengar datar, namun tidak kasar.

"Eh, kamu?"

Ia jelas mengenali Kirana-tidak secara personal, tapi cukup untuk tahu bahwa mereka pernah berada di sekolah yang sama selama tiga tahun terakhir.

Kirana mengangguk pelan, merasa sedikit aneh berada di sini. Ia sendiri tidak yakin kenapa ia mendekat. Ia bahkan tidak punya alasan yang jelas.

Zayn menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. Tapi kali ini, tidak ada kesombongan di dalamnya. Tidak ada tawa yang menyertai. Hanya sekadar senyum tipis yang tampak seperti refleks daripada niat sebenarnya.

"Lagi cari siapa?"

Tanyanya, suaranya lebih santai sekarang, seakan mencoba mengisi jeda aneh di antara mereka.

Kirana menggeleng. Ia mengerutkan kening, berpikir apakah ia harus mengatakan sesuatu lagi atau cukup berhenti di sini saja.

Namun, sebelum ia bisa memutuskan, Zayn sudah lebih dulu mengalihkan pandangannya kembali ke panggung kosong.

"Aneh, ya," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Kirana.

Kirana menoleh, mengikuti arah pandangnya. Panggung itu kini sepi, hanya menyisakan alat-alat musik yang masih berdiri di tempatnya, seakan menunggu seseorang kembali untuk memainkannya.

"Apanya?" tanyanya akhirnya.

Zayn menghela napas, memainkan botol air mineral di tangannya.

"Tadi semuanya begitu ramai. Sekarang, tiba-tiba aja hening."

Kirana tidak langsung menjawab. Ia mengerti perasaan itu-perasaan ketika sesuatu yang begitu hidup tiba-tiba berakhir, menyisakan kehampaan yang sulit dijelaskan.

"Setiap perpisahan memang seperti itu, kan?" katanya akhirnya, suaranya lebih lembut dari yang ia maksudkan.

Zayn menoleh lagi, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Ada sesuatu di sana.

Untuk sesaat, Kirana merasa seperti bisa melihat sesuatu di balik mata itu-sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kesedihan akan malam yang hampir berakhir. Tapi secepat itu juga, Zayn mengalihkan pandangan lagi.

Ia menghela napas pelan, lalu meneguk air dari botolnya sebelum akhirnya berkata dengan nada yang lebih ringan,

"Iya juga ya, kayaknya emang gitu."

Dan di antara kebisingan yang perlahan mereda, di antara lampu-lampu aula yang mulai redup, dua orang yang sebelumnya tidak pernah benar-benar memperhatikan satu sama lain kini berdiri bersebelahan.

Mungkin ini hanya percakapan singkat. Mungkin ini hanya kebetulan.

Tapi di dalam hati Kirana, ia berharap sesuatu yang baru baginya akan segera dimulai.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayahku Menikahi Pelakor
9.1
Elvira harus merelakan kehidupan glamornya usai perceraian pahit kedua orang tuanya. Ia memilih tinggal bersama Miranda, ibunya yang terluka, sementara sang ayah hidup mewah dengan wanita yang menghancurkan keluarga mereka. Dari sosialita manja, kini Lia harus berjuang hidup sederhana di pinggiran kota. Bersama pelayan setia, Mbok Rini, ia belajar memasak dan berjualan kue. Di tengah kesulitan ekonomi, Lia justru menemukan arti kebahagiaan sejati yang tak terbeli.
Sampul Novel Crazy Woman
8.3
Ria Ananta menyembunyikan statusnya sebagai putri konglomerat meski gaya hidupnya selalu mewah. Ia memilih hidup normal, namun ketenangannya terusik sejak menjalin asmara dengan Christian, seorang idola terkenal. Tekanan dari keluarga Christian yang tidak merestuinya memicu depresi dan sisi gelap dalam diri Ria yang tak terduga. Di balik tumpukan harta, Ria berjuang melawan kehancuran mental dan pikiran bunuh diri akibat konflik hubungan yang penuh kekerasan.
Sampul Novel Gairah Isteri Kedua
8.4
Ellea terpaksa mengambil keputusan besar dalam hidupnya dengan menjadi istri kedua bagi Anderson. Sebagai seorang CEO muda yang berkuasa, Anderson membawa Ellea masuk ke dalam kehidupan pernikahan yang penuh dengan teka-teki. Apa sebenarnya alasan kuat yang memaksa Ellea bersedia menerima posisi tersebut? Ikuti kisah romansa penuh konflik ini saat ia harus menghadapi kenyataan pahit di balik statusnya sebagai wanita kedua dalam hidup sang konglomerat.
Sampul Novel Istri Tuan Noah
8.5
Akibat sebuah peristiwa tak terduga, Clara terpaksa menikahi pria yang seharusnya menjadi pasangan saudara kembarannya. Situasi rumit ini membuat Clara harus membesarkan seorang bayi mungil sendirian setelah kembarannya memilih pergi jauh. Kini, ia terjebak dalam peran ganda sebagai istri sekaligus ibu pengganti bagi anak tersebut. Seiring berjalannya waktu, mampukah benih cinta tumbuh di antara mereka dalam pernikahan yang penuh keterpaksaan ini?
Sampul Novel Jadilah Milikku, Nona Sekretaris
8.9
Julian Evans, CEO tampan nan kaya, menghadapi satu penolakan besar dari sekretarisnya sendiri, Mia Sanders. Meski saling mencintai, Mia yang merupakan anak pelayan keluarga Evans memilih memendam rasa demi balas budi dan status sosial. Ia menganggap hubungan mereka mustahil. Namun, Julian tidak menyerah dan menantang keraguan Mia untuk membuktikan keseriusannya. Mampukah kegigihan Julian meluluhkan hati Mia dan meyakinkannya bahwa cinta mereka layak diperjuangkan?
Sampul Novel Jeratan Cinta Kakak Tiri
8.1
Luna hancur saat mengetahui Reno, cinta pertamanya, ternyata calon kakak tirinya. Meski hubungan ini terlarang, gairah mereka tak terbendung hingga keduanya nekat menjalin asmara rahasia yang penuh risiko. Kini, rahasia besar mengancam mereka saat Luna mengandung buah cinta yang seharusnya tidak pernah ada. Akankah mereka bertahan saat kenyataan pahit ini terungkap, ataukah masa depan Luna akan hancur demi mempertahankan cinta yang salah ini?