![Sampul Novel Call Girl [21+]](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/ffe4449b5001834806830391065/vgrIANGZosEA.webp!15491.webp)
Call Girl [21+]
Bab 3
Pukul 21.30
Aku terdiam sembari menatap wajah yang cantik ini di depan sebuah cermin besar, bibir berwarna pink dengan polesan yang begitu menggoda untuk siapapun yang melihatnya.
"Yumira kau itu begitu cantik, namun kenapa nasibmu begitu malang? Apakah ini suratan takdir? Atau mungkin hanya hidupku saja yang penuh dengan derita. Ayah dan ibu tidak pernah menemukan jalan untuk kebahagiaan mereka sampai bercerai, jadi hal itu pun terjadi padaku juga. Astaga Yumira, kau terlalu cantik untuk merasakan semua kesialan ini."
Ketika aku tengah bergumam dengan diriku sendiri, bos Johnny menghampiriku di kamar, dia mengatakan jika sekarang sudah saatnya untuk aku pergi ke klub itu. Tempat para gadis miliknya berkumpul, melayani setiap tamu berkantung uang yang datang.
"Apa aku sudah cantik?" tanyaku dengan jantung yang berdetak kencang.
"Yumira, tanpa riasan di wajah pun kau sudah begitu cantik. Sudahlah ayo kita pergi," ucapnya padaku.
Aku mengangguk patuh, kemudian berjalan keluar kamar sebari menggandeng lengan bos Johnny yang kekar itu. Jujur rasanya sangat gugup sekali, terlebih karena ini adalah hari pertama aku bekerja. Iya bekerja sebagai seorang pelacur yang melayani begitu banyak lelaki hidung belang. Aku hanya berharap jika nasibku akan baik-baik saja malam ini.
"Hey kalian kemari !" ucap Bos Johnny pada semua gadis cantik yang sedang berkerumun di pojok club.
Kali ini aku merasa sedikit takut dengan sikap bos Johnny, karena dia terlihat sedikit berbeda. Tatapannya, cara dia berbicara, begitu menyeramkan. Apakah ini adalah sikap aslinya? Aku pikir begitu.
"Siapa dia Bos?" tanya seorang gadis.
"Dia Yumira, anggota baru disini," jawab lelaki itu.
Aku tersenyum ramah pada mereka lalu menundukkan kepalaku. Tapi tatapan mereka begitu menyebalkan, apalagi wanita berbaju merah itu. Matanya memancarkan aura kebencian padaku. Apakah aku terlalu cantik sampai membuatnya terganggu? Sungguh menyebalkan!
"Putri ! Jangan tatap Yumira seperti itu!" bentak Bos johnny kepada gadis bernama Putri itu.
"Maaf Bosz aku tidak bermaksud seperti itu," ucapnya.
Aku hanya tertawa di dalam hati, jadi namanya Putri? Akan aku ingat itu. Lihatlah siapa yang tercantik disini. Dengan sengaja aku memegang erat lengan bos Johnny, kemudian bertingkah manja di hadapan mereka. Aku sangat ingin tahu bagaimana reaksi semua gadis-gadis itu ketika bos Johnny lebih memilihku dari pada mereka.
"Bergabunglah dengan mereka Yumira, sebentar lagi para tamu pasti datang," ucapnya padaku.
"Baiklah Bos!" sahutku.
Bos Johnny pergi meninggalkan kami, aku pun duduk di meja kosong. Para gadis itu masih menatapku, apalagi si Putri yang so cantik itu. Ingin sekali aku menusuk matanya sampai tidak bisa melihat lagi, iya itu cukup pantas untuknya.
"Heh anak baru! Jangan so kecentilan ya!" bentak dia padaku.
"Kenapa? Bukankah pekerjaan kita itu menggoda lelaki? Mesti centil dong!" sahutku dengan nada yang sedikit menyebalkan.
"Aish, mau aku pukul kau!" bentak Putri sembari mengangkat tangannya padaku.
"Heh Putri sudah!"
Seorang wanita menariknya pergi, sekarang tinggalah aku sendiri di sini. Sepertinya mereka tidak ingin duduk bahkan mengobrol denganku. Sampai seorang gadis pendek menghampiriku. Entah siapa, dia terlihat sangat cantik sekali.
"Apa boleh aku bergabung?" tanya dia padaku.
"Silakan," jawabku.
Dia duduk di hadapanku, wajahnya begitu imut. Mungkin umurnya sekitar 20 tahun, sayang sekali karena dia harus terjebak di dalam tempat sekotor ini.
"Nama kakak Yumira, kan? perkenalkan namaku Vivi," ucapnya antusias.
Aku menjabat tangannya lalu tersenyum seperlunya, "Halo Vivi."
"Maaf ya kak soal Putri tadi, dia memang begitu. Mungkin dia iri dengan kecantikan kakak hehehe," godanya padaku.
"Sudahlah, aku tidak perduli kok. Kau masih muda? Kok bisa terjebak di sini?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Iya Kak, umurku masih 19 tahun. Waktu itu Ayah menjualku pada Bos Johnny," jawabnya dengan santai.
"Ayahmu?" tanyaku dengan mata yang membulat.
"Iya Kak, ayah tiriku," jelasnya.
"Begitu? Nasib kita hampir sama ternyata. Hanya saja saat itu yang menjualku pada Bos Johnny adalah Mina, temanku sendiri. Gila bukan?" ucapku kesal.
"Dunia sangat kejam ya kak," ucapnya.
Aku hanya tersenyum, rupanya gadis muda ini nasibnya lebih naas dari pada aku. Menyedihkan, seorang ayah menjual anaknya sendiri. Dunia macam apa ini? Apakah tidak ada kemanusiaan untuk wanita seperti kami?
"Vivi, kemarilah!" panggil Bos Johnny.
"Baik Bos, Kakak aku pergi duluan ya! Semoga kakak cantik beruntung malam ini," ucapnya sembari berlari menjauh.
Aku melihat seorang lelaki tua tengah meraba dada Vivi di sana. Pemandangan yang begitu memilukan, semoga saja nanti aku tidak mendapat lelaki seperti itu, sangat menyeramkan.
"Ekhemmm."
Suara seorang lelaki mengagetkanku, dia dengan santainya duduk dengan tangan memegang pahaku yang terbuka.
"Belum ada yang boking?" tanya dia padaku.
"Belum," jawabku dengan senyuman yang manis.
"Denganku mau?" tanya dia kembali.
Aku melihat detail wajah dan tubuh lelaki yang ada disampingku itu, lumayan. Badannya tinggi, kekar, tidak terlalu putih dan cukup tampan.
"Namaku Lucas, siapa namamu cantik?" tanya lelaki tampan itu.
"Halo Lucas, namaku Yumira," jawabku.
"Rasanya aku tidak pernah melihatmu disini, anak baru?" tanya Lucas.
"Iya hehe," jawabku.
Dia memegang erat tanganku lalu menciumnya sekilas, bos Johnny menatapku lalu mengisyaratkan sesuatu. Baiklah mungkin ini waktunya aku bekerja. Rasanya sedikit takut, apa dia akan melukaiku?
Lelaki bernama Lucas ini mengajakku ke kamar, jantungku berdegup kencang. Tapi aku mencoba tenang, dan menikmati setiap alurnya.
Benar saja tanpa basa-basi, dia langsung menyeretku ke ranjang. Melucuti semua pakaian yang ada di tubuh ini. Menjilatinya, kemudian mulai menindihku dengan kasar. Rasanya sesak! sialan!
"Cantik, ada apa? Apa kau merasa canggung?" tanya dia padaku.
Aku hanya mengangguk, dia pun tersenyum kecil lalu membuka celananya di hadapanku. Terlihat sebuah batang besar dan panjang keluar dari sana. Aku menelan ludahku kasar, itu adalah terong terbesar yang pernah aku lihat. OMG.
"Aku langsung saja bagaimana?" tanya Lucas dengan senyum iblisnya.
Aku tersentak, langsung? Tanpa pemanasan? Yang benar saja kadal buntung!
"Kemarilah cantik," ucapnya padaku.
Aku menatapnya dengan sedikit ketakutan, "Lucas apa kau serius? Kita belum melakukan pemanasan? Rasanya urat-uratku saja masih sangat tegang."
"Etsss... itu cara lama, jika sedang bermain denganku kau harus mau menurut okay? Kau tenang saja karena aku akan memberikanmu bonus yang sangat banyak," bisiknya.
"Tapi Lucas!"
Dia langsung memasukan juniornya ke dalam mulutku, aku ketakutan! Rasanya sesak bercampur mual. Dia benar-benar kasar, mementingkan dirinya sendiri.
"Shh ayolah sayang, mainkan punyaku!" perintahnya dengan sedikit membentak.
Dengan tangan gemetar, aku mulai menghisap lalu menjilati juniornya perlahan. Mencoba membuat tamuku ini senang dan puas! Bos Johnny tolong! Aku tidak sanggup! Rasanya ingin menangis saja. Lucas kenapa dia kasar sekali? Padahal ini adalah malam pertama aku bekerja, tapi malah mendapatkan perlakuan yang sangat luar biasa kasarnya.
Anda Mungkin Juga Suka





