
Calista Kaz : Penyihir Naga Arkhataya
Bab 3
Tiga hari telah berlalu sejak meninggalkan Essendra tapi aku tidak melihat tanda-tanda mendekati lembah. Kami hanya terus berjalan ke timur dan melewati bukit-bukit batu dengan pemandangan rumput liar dan tanaman kaktus sepanjang perjalanan.
Tenggorokanku terasa kering oleh cuaca panas dan udara yang berdebu.
Dengan jengkel kulirik wajah Brisa lewat ekor mataku. Wajah cantiknya sama sekali tidak terlihat kelelahan ataupun berkeringat.
Sementara Darren nampak asik menikmati perjalanan sambil bersiul menyanyikan nada yang sama selama tiga hari perjalanan menyakitkan ini.
Dan yang lebih mengesankan lagi, langkah-langkah santai Ness terlihat ringan dan cepat. Gerakannya terlihat indah bagai kijang yang tengah melompat hingga sulit terkejar.
Benar-benar membuatku iri.
Kupaksakan kedua kaki lelahku mengejar mereka. Namun rasa lelah yang luar biasa menyakitkan ini hanya membuatku terjerembab dan mencium debu jalan.
Seketika itu juga wajahku memerah. Brisa merangkul tubuhku dan membantuku berdiri.
Dengan setengah bercanda Darren menawarkan bantuan untuk menggendongku. Sekilas meski tak yakin kulihat Ness tersenyum tipis mendengar perkataan spontan Darren.
Gurauan Darren benar-benar mempermalukan aku di depan Ness.
Akhirnya Brisa memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu rasa lelahku pergi.
Aku memang tak pernah pergi sejauh ini dengan berjalan kaki. Bahkan aku tak pernah pergi dari Essendra selama hidupku.
Duniaku hanya rumah dan hutan Voswood di Essendra yang selalu kudatangi kala ingin melepas keresahan.
”Sepertinya kita sudah dekat,” gumam Ness
”Di Lembah Crystal?” tanyaku lega.
“Lembah Crystal?” kening Ness berkerut menatapku bingung namun dengan cepat ia mengalihkan pandangan ke arah Brisa.
Wajah Brisa berubah kecut.
“Kau tidak mengatakan padanya kalau kita mau ke kota Hordos, Bris?” hela Ness dengan pandangan menyudutkan pada Brisa.
Raut wajah Brisa terlihat canggung.
”Bukankah kalian akan membawaku ke Lembah Crystal??” tukasku kebingungan.
”Kami pasti akan membawamu ke Lembah Crystal. Namun, masih ada sebuah misi lagi yang harus kita selesaikan. Maapkan aku tapi tak ada pilihan selain membawamu ikut serta dalam misi ini,” ucap Brisa hati-hati.
Aku terduduk lemas.
Turut serta dalam misi dan membahayakan diri. Apa sih yang dipikirkan Brisa. Kenapa aku harus terlibat hal yang jelas-jelas tidak aku inginkan.
”Aku menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu. Aku hanya tak ingin kau menjadi ketakutan karena aku membawamu dalam misi ini.”
”Aku tak mau melakukan perjalanan ini lagi,” ujarku kesal seraya membalikkan badan dan berjalan menyusuri kembali jalan setapak yang baru saja kita lewati.
”Kau mau kemana?!” seru Brisa panik.
”Apa dia sudah gila berpikir untuk kembali ke rumahnya?” seringai Darren lalu tertawa.
”Bisakah kau hentikan suara tawamu yang menjengkelkan itu?!” bentak Brisa seraya mendelik ke arah Darren.
Ness mengejarku dan menarik lenganku, ”Kami tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja.”
”Lepaskan aku!” ujarku marah.
”Brisa mungkin telah berbohong, tapi aku akan mengatakan kebenaran jika kau bertanya padaku,” sepasang mata emas kecoklatan Ness menatapku dalam.
Aku terbius sesaat akan keindahan sepasang mata emasnya itu. Lalu tersadar dan melirik Brisa dengan jengkel.
”Kalian punya kekuatan yang aku tidak punya. Aku hanya akan menjadi beban. Kalian lihat apa yang terjadi pada ayahku di Essendra. Kematianku akan jauh lebih mudah dari kematian ayahku!” kutepiskan tangan Ness yang memegangi lenganku.
”Aku akan melindungimu!” bentak Ness dengan nada tinggi.
Kupandangi Ness dingin.
”Kau akan melindungiku?? Dari Zorca?!” tanyaku skeptis.
”Aku akan melindungimu meski harus kehilangan nyawaku!” tegas Ness seraya menatapku dengan sorot mata dingin.
Kualihkan pandanganku dari sorot mata Ness yang meresahkan itu. Kurasakan pipiku menghangat. Aku tak ingin Ness salah paham dan berpikir jika aku menyukainya.
”Bisakah kita lanjutkan perjalanan kita, Calista?”
Kutatap senyum hangat di sudut bibir tipisnya yang indah. Sepertinya Ness tengah membujukku dengan pesonanya.
Brisa menghampiriku dengan wajah canggung.
”Kami masih memiliki sebuah misi penjemputan seorang gadis di kota Hordos. Percayalah, aku akan memastikan tidak ada hal buruk yang akan terjadi padamu,” janjinya meyakinkanku.
Kupandangi Brisa dengan masam. Meski Brisa salah, tapi aku tak mau memperpanjang persoalan.
”Dan jika kau lelah, aku bersedia menggendongmu,” tawar Darren seraya mengerlingkan sebelah matanya padaku.
Aku hanya menatap dingin ke arah Darren dan pergi meninggalkannya.
”Kata-kata konyolmu itu hanya memperburuk suasana,” desah Brisa pada Darren lalu mengikuti langkahku dari belakang.
”Ayolah, aku hanya bercanda!”ujar Darren hanya bisa mengernyitkan alis dan dahinya seraya memandangi punggung Brisa.
Ness hanya menepuk bahu Darren dengan senyum tipis di bibirnya.
Lalu kami melanjutkan perjalanan panjang kami tanpa henti di teriknya matahari.
Kuhembuskan napas perlahan berulang kali. Kesal dan marah. Kurasakan kedua kakiku mulai kesakitan. Lalu aku terduduk lemas seraya memegangi kedua lututku.
Brisa menghampiriku,”Kita harus terus berjalan.”
”Aku tahu,” bisikku pelan sambil mengatur napas.
Brisa menoleh ke arah Ness dan Darren. ”Sebaiknya kita beristirahat di sini.”
Ness kini telah berdiri di hadapanku. Wajahnya terlihat bercahaya di teriknya matahari sore. ”Aku akan menggendongmu,” ujarnya santai.
Darren seketika tertawa keras-keras.
”Apa kau sudah mulai menyebalkan seperti Darren?” sahutku kesal pada Ness.
”Heyy!” protes Darren padaku.
Aku hanya memalingkan muka, menghindari tatapan protes Daren.
”Jadi siapa yang akan kau pilih untuk menggendongmu?” tanya Ness penasaran.
Seketika itu juga Darren kembali tertawa dengan puas karena ejekkan Ness mewakili perasaannya padaku.
”Bisakah kalian berhenti bercanda. Kita bermalam di sini karena Calista kelelahan!” seru Brisa dengan muka masam.
”Lihat ke sekelilingmu Bris! Menurutmu kita aman bermalam di tempat terbuka seperti ini?” raut wajah Ness terlihat berubah menjadi waspada.
Sepasang mata Brisa mengamati suasana di sekeliling kami. Airmukanya langsung berubah begitu melihat hamparan rumput yang tak bertepi. Lalu Brisa menatapku bimbang.
Perlahan aku memaksakan diri untuk berdiri.
”Kita teruskan saja.”
Brisa memandangiku dengan sedikit khawatir, ”Kau yakin?”
Aku mengangguk lesu.
Ness menghampiriku lalu melingkarkan tangannya di belakang pinggangku untuk membantuku berjalan.
Kutepiskan tangannya dengan geram.
Namun, cengkramannya terasa lebih kuat. Tangan kanan Ness yang kokoh melingkar dengan erat di pinggangku. Memaksaku untuk terus melangkah bersamanya.
”Kau hanya akan menghambat perjalanan jika aku tidak membantumu berjalan,” ujarnya dingin.
”Aku tidak membutuhkan bantuan!” ucapku marah karena sikapnya yang tidak sopan.
”Kau benar-benar keras kepala dan merepotkan!” ejek Ness dingin tak menghiraukan penolakanku.
Kulirik Brisa yang seolah menghindari tatapan permintaan tolongku atas sikap Ness yang kasar dan memaksa.
Brisa mendorong punggung Darren untuk melanjutkan perjalanan. Sementara Darren hanya mengerlingkan sebelah matanya untuk menggodaku.
Aku hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Ness karena kedua kakiku memang masih terasa sakit karena kelelahan.
Kurasakan wajahku menghangat. Meski terasa aneh namun aku menikmati rangkulan tangan kokoh Ness yang melingkar di pinggangku.
Kulirik sekilas wajah Ness dari samping. Garis wajahnya yang sempurna terlihat menenangkan. Ness memiliki wangi yang khas di tubuhnya. Aromanya mengingatkanku pada wangi bunga dan pepohonan di hutan Voswood di musim semi.
Wajah Ness yang hanya sejengkal dari wajahku terlihat begitu menawan. Tampan dan menyenangkan untuk dipandangi. Sepasang mata coklat keemasannya nampak melebar dan berkilau.
”Sudah puas dengan apa yang kau pandang?” tanya Ness padaku, setengah berbisik dengan tatapannya yang lurus ke depan.
Pipiku memanas. Aku langsung membuang muka. Namun, sekilas aku bersumpah telah melihatnya tersenyum.
Ness terlihat acuh dan tidak terlalu mempedulikan sikap salah tingkah yang kupertunjukkan padanya. Ness bahkan sama sekali tidak berusaha untuk menggodaku.
Kutundukkan kepalaku dan merasa sangat bodoh.
Ness tidak mungkin tertarik dengan gadis seperti aku. Tapi, aku telah membuat Ness melihat perasaanku bagaikan buku yang terbuka. Tidak ada rahasia dan sama sekali tidak menarik.
Aku berusaha menahan diri untuk tidak menatap sepasang mata coklat emasnya yang indah itu. Tapi kedua matanya bagai menyihirku. Kuputuskan untuk mematahkan pesona Ness dengan melepaskan diri sekuat tenaga dari tangannya yang merangkulku.
Ness hanya terdiam.
Kemudian kulangkahkan kaki mengikuti langkah Brisa dan Darren untuk menjauhi Ness.
Tidak ada suara protes dari Ness.
Sepertinya dia membiarkan aku meninggalkannya begitu saja.
Sepanjang perjalanan aku memutuskan untuk menjaga jarak dengan Ness karena tak ingin terperangkap pesonanya.
Anda Mungkin Juga Suka





