Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cahaya yang Tertunda

Cahaya yang Tertunda

Usai masa nifas, Winda Baskoro berniat mendaftarkan nama bayinya, Alex Harto, ke Dinas Kependudukan. Namun, dunia Winda runtuh saat petugas mengungkap bahwa nama tersebut sudah tercatat dalam kartu keluarga suaminya, Tama Harto. Kebingungannya terjawab seketika lewat pesan foto dari Sania Marsudi, asisten suaminya. Di sana, Tama tampak bahagia merangkul Sania dan menggendong seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang juga bernama Alex Harto di depan sebuah TK.
Bab
Bagikan

Bab 4

Tiba-tiba Tama terdiam membisu.

Alex.

Itulah nama yang dulu Tama siapkan untuk anak mereka berdua.

Winda pernah melihatnya di catatan memo milik Tama. Entah anak laki-laki atau perempuan, Tama menuliskan nama itu sendiri sebagai sebuah doa.

Sebuah doa agar sang anak kelak memiliki keteguhan hati dan berbudi luhur.

Namun kini, nama itu justru diberikan pada anak Sania.

"Lina." Winda akhirnya angkat bicara. "Nama anakku Lina."

Jakun Tama bergerak, sorot matanya yang tegang sedikit melunak, suaranya kembali terdengar lembut seperti biasanya.

"Nama yang sangat indah. Hangat seperti matahari dan bisa selalu menemani ibunya."

Tama mengulurkan tangan, hendak membelai rambut Winda. "Winda, aku harus dinas beberapa hari. Setelah pulang, kita akan…"

"Hmm, kerjaan lebih penting."

Winda sudah terlalu lelah untuk melanjutkan percakapan. Ia memotong pembicaraan Tama dan langsung beranjak pergi.

Begitu sampai di rumah dan baru saja menidurkan Lina, ponselnya langsung berbunyi. Sebuah notifikasi status dari Sania, dengan foto tiga tangan yang saling menggenggam.

Di genggaman tangan mungil Alex, tergenggam erat sebuah kunci mobil.

Mobil seharga sepuluh miliar, Tama berikan itu pada anak haramnya untuk dijadikan mainan.

Padahal minggu lalu, Winda sudah tiga kali mengingatkan, tetapi Tama tetap saja lupa membeli popok impor untuk putri mereka.

Winda menatap layar lalu tertawa kecil, diam-diam menyimpan tangkapan layar itu ke dalam folder bukti.

Di pelukannya, Lina mencecap bibir mungilnya, bulu matanya yang panjang memantulkan bagai kipas kecil di bawah cahaya lampu. Winda menunduk dan mencium pipi lembut putrinya.

"Sayang, Ibu akan melindungimu."

Keesokan harinya, setelah menghabisi semua sumber daya dan saham yang dimilikinya, Winda langsung memesan tiket pesawat ke Kota Dantara untuk tiga hari kemudian.

Sejak menyadari kecurigaan Winda tempo hari, beberapa hari ini Tama hampir tiap jam mengiriminya pesan.

[Sayang, klien hari ini benar-benar merepotkan, untung saja bisa aku atasi.]

[Sayang, kamu pasti capek ya. Biskuit di Kota Nautam enak sekali, nanti aku ajak kamu ke sana.]

Tama mungkin tidak tahu bahwa setiap bonus proyek yang diam-diam dia transfer ke rekening Sania, semuanya jelas-jelas tercatat di email Winda.

Lebih-lebih, ketika Tama sibuk memainkan citra suami penyayang, Sania justru menggunakan uang itu untuk pamer di media sosial, memamerkan uang yang diselipkan ke bra, serta jejak ciuman mesra di sekujur tubuhnya.

Winda menatap ponselnya dan tersenyum getir.

Dulu, Tama pun pernah memujanya setinggi langit.

Mereka adalah sepasang kekasih masa kecil yang membuat banyak orang iri. Di bawah pohon beringin, dengan wajah merah, Tama pernah berjanji tak akan menikah dengan siapa pun selain Winda.

Saat kuliah, diam-diam Tama mengusir semua pria yang mendekati Winda, posesif seperti serigala yang menjaga mangsanya.

Saat Winda menjalani operasi usus buntu, Tama berjaga di rumah sakit selama tiga hari tiga malam tanpa tidur.

Penghasilan pertama Tama, tanpa dikurangi sedikit pun, semuanya dia transfer ke rekening Winda, dengan catatan: [Untuk putri kecilku.]

Tiba-tiba, dari kamar bayi terdengar tangisan memilukan. Sang pengasuh berlari keluar dengan panik, tangannya berlumuran darah.

"Nyonya, ini gawat! Entah apa yang menggores pahanya, darahnya nggak bisa berhenti! Cepat kemari!"

Jantung Winda seakan berhenti berdetak sejenak.

Dia segera berlari masuk dan menggendong Lina. Tangisan si kecil sudah mereda, tetapi luka di pahanya masih terus mengeluarkan darah.

Dia, seperti orang gila, menggendong putrinya dan bergegas ke rumah sakit.

Setelah pemeriksaan, dokter memberitahunya dengan membawa laporan, "Ini adalah gangguan pembekuan darah. Kadar hemoglobinnya terlalu rendah, harus segera ditransfusi."

Bibir Winda gemetar saat berujar, "Dokter, ambil saja darahku! Aku ibunya…"

"Orang tua nggak bisa langsung mendonorkan darah ke anaknya," kata dokter dengan suara berat. "Apalagi putri Anda bergolongan darah RH-negatif. Kami harus mengecek stok di bank darah dulu."

"Pakai koagulan, cepat!"

Dia hampir berteriak saat mengatakannya.

Namun, setelah koagulan disuntikkan, darah dari lukanya tetap mengalir tak terbendung. Winda memeluk putrinya yang sudah pucat pasi, air mata Winda bercucuran tak terbendung.

Belasan menit kemudian, seorang perawat bergegas masuk dengan ekspresi iba. "Bu Winda, stok darah RH negatif… sudah dialihkan semuanya."

Winda mendongak, mata merah. "Barusan kalian bilang masih ada stok di bank darah, kenapa sekarang tiba-tiba dialihkan?"

Perawat itu menggigit bibirnya, lalu berbicara dengan suara sangat pelan, "Kami ini rumah sakit swasta. Tadi putra Pak Tama, pemegang saham terbesar, butuh transfusi darurat. Direktur langsung memerintahkan semua stok darah langka di bank darah dialihkan ke ruang VIP."

Kalimat itu terasa seperti tamparan telak, menghancurkan sisa-sisa kewarasan Winda.

Dia baru hendak menelepon Tama untuk menuntut penjelasan, tetapi ponselnya justru menampilkan unggahan baru dari Sania di status WhatsApp.

[Bocah nakal lututnya lecet ya? Untung kamu punya ayah yang hebat, dalam sekejap bisa mengalihkan semua stok darah langka paling berharga di kota ini untukmu.]

Winda merasakan darahnya mendidih. Dia menyerahkan Lina dengan hati-hati kepada perawat, lalu berbalik dan bergegas menuju ruang VIP di lantai paling atas.

Pintu kamar VIP lantai atas terbuka dengan satu tendangan dari Winda. Di dalam, Sania sedang duduk di pinggir ranjang, menemani Alex bermain game.

Luka lecet di lutut anak itu sangat kecil, hingga menggunakan plester pun terasa berlebihan.

Adegan itu bagai pisau dingin yang menghujam dalam ke hati Winda.

Menatap ibu-anak yang sedang berbahagia itu di hadapannya, Winda merasakan kebencian di dadanya hampir menelannya. Dia tak kuasa lagi menahan diri dan berteriak, "Berikan darah itu pada putriku!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel About Sila
8.6
Siti Laila, putri seorang ustaz, tumbuh menjadi gadis keras hati akibat kurangnya kasih sayang orang tua. Meski terlihat santun di rumah, Sila menyimpan sisi gelap sebagai pendendam di luar. Saat ia berniat bertobat dan meninggalkan masa lalunya yang kelam bersama Lucas, ancaman besar datang. Lucas mengancam akan menghancurkan keluarga Sila hingga tak bersisa jika ia berani berhenti. Kini, Sila terjebak dalam dilema antara penebusan dosa dan keselamatan keluarganya.
Sampul Novel Dipaksa Menikahi CEO Kejam
8.4
Sejak kecelakaan maut merenggut nyawa ibunya di usia delapan tahun, Fallen hidup dalam kebencian sang ayah yang menyalahkannya. Demi menghukum Fallen, ia dipaksa menikahi seorang CEO yang dikenal dingin dan kejam. Ayahnya bahkan mengutuknya agar menderita selamanya sebagai seorang pembunuh. Di tengah luka batin dan pernikahan tanpa cinta, sebuah rahasia besar di balik tragedi masa lalu perlahan terkuak, membawa kenyataan pahit bagi Fallen.
Sampul Novel Gairah Liar Sugar Mommy
9.1
Cantika Paramitha, wanita karier berusia 36 tahun, kerap dicibir karena status lajangnya. Hidupnya berubah saat Arsenio Gunadharma, pemuda 25 tahun lulusan Oxford, hadir menggantikan ayahnya sebagai sekretaris. Pesona Arsen yang cerdas dan tampan memicu gairah tak terduga dalam diri Cantika. Meski terpaut usia jauh, ketertarikan di antara mereka berujung pada pernikahan. Namun, Arsen menyimpan rahasia besar tentang identitas aslinya yang akan mengejutkan keluarga Cantika.
Sampul Novel Kebenaran Tentang Gundiknya
7.8
Hamil empat bulan, fotografer ini hancur melihat suaminya, Baskara, memperkenalkan bayi wanita lain sebagai putranya. Bukannya menyesal, Baskara justru mempermalukannya dan membela selingkuhannya, Serena. Dianggap lemah dan dramatis, sang istri justru memendam amarah dingin atas pengkhianatan terencana ini. Di balik ketenangan palsunya, ia menyusun strategi besar. Ia bukan lagi istri penurut, melainkan ancaman yang siap menghancurkan sandiwara keluarga sempurna mereka.
Sampul Novel MENGHINDARI SUAMI TUKANG KAWIN
9.5
Sena tersadar akan memori masa lalunya setelah gagal mengakhiri hidup berulang kali. Memasuki kehidupan kedelapan, ia bertekad mengubah nasib tragisnya dengan berhenti mengejar sang suami. Sambil merawat mertua, Sena menabung diam-diam untuk bercerai karena tahu suaminya sangat pelit harta. Namun, rencana itu terusik oleh sekretaris ayah mertuanya yang dahulu membencinya, kini justru berbalik menggoda dan menawarkan bantuan untuk membalas dendam pada suaminya.
Sampul Novel Sebuah Pengabdian
9.3
Hamid hampir mewujudkan mimpinya menjadi tentara saat orang tuanya mendesak pernikahan dini yang tak diinginkan. Meski marah karena harus menikahi wanita asing, ia mengalah demi kebahagiaan orang tuanya. Tak disangka, pernikahan ini justru mendewasakan Hamid dan mengajarinya bahwa hidup adalah pengabdian kepada Tuhan. Namun, berbagai ujian berat mulai mengancam komitmennya. Mampukah Hamid dan istrinya bertahan menghadapi cobaan demi menjadi abdi sejati?