Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cahaya yang Tertunda

Cahaya yang Tertunda

Usai masa nifas, Winda Baskoro berniat mendaftarkan nama bayinya, Alex Harto, ke Dinas Kependudukan. Namun, dunia Winda runtuh saat petugas mengungkap bahwa nama tersebut sudah tercatat dalam kartu keluarga suaminya, Tama Harto. Kebingungannya terjawab seketika lewat pesan foto dari Sania Marsudi, asisten suaminya. Di sana, Tama tampak bahagia merangkul Sania dan menggendong seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang juga bernama Alex Harto di depan sebuah TK.
Bab
Bagikan

Bab 1

Baru saja masa nifasnya usai, Winda Baskoro menggendong bayinya ke Dinas Kependudukan untuk mengurus kartu keluarga.

"Pak, nama anakku Alex Harto."

Petugas itu mengetik beberapa kali pada keyboard, tetapi dahinya makin berkerut. "Di kartu keluarga Tama Harto, sudah tercatat seorang anak bernama Alex Harto."

Winda tertegun, mengira dirinya salah dengar. "Nggak mungkin, anak kami baru genap sebulan!"

Belum selesai bicara, ponsel di sakunya bergetar.

Saat dia membuka layar, terlihat foto dari asisten Tama, Sania Marsudi.

Dalam foto itu, Tama merangkul pinggang Sania dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggendong bocah laki-laki sekitar lima atau enam tahun. Ketiganya berdiri di depan gerbang TK, tersenyum begitu cerah hingga menyilaukan mata.

Di papan nama yang tergantung di dada bocah itu, tertera jelas namanya, Alex Harto.

Baru saja masa nifasnya usai, Winda Baskoro menggendong bayinya ke Dinas Kependudukan untuk mengurus kartu keluarga.

"Pak, nama anakku Alex Harto."

Petugas itu mengetik beberapa kali pada keyboard, tetapi dahinya makin berkerut. "Di kartu keluarga Tama Harto, sudah tercatat seorang anak bernama Alex Harto."

Winda tertegun, mengira dirinya salah dengar. "Nggak mungkin, anak kami baru genap sebulan!"

Belum selesai bicara, ponsel di sakunya bergetar.

Saat dia membuka layar, terlihat foto dari asisten Tama, Sania Marsudi.

Dalam foto itu, Tama merangkul pinggang Sania dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggendong bocah laki-laki sekitar lima atau enam tahun. Ketiganya berdiri di depan gerbang TK, tersenyum begitu cerah hingga menyilaukan mata.

Di papan nama yang tergantung di dada bocah itu, tertera jelas namanya, Alex Harto.

Tak lama kemudian, muncul sebuah pesan masuk.

[Nona Winda, bagaimana rasanya jadi selingkuhan? Selamanya kamu akan hidup dalam bayang-bayangku sebagai istri sahnya.]

Jantung Winda terasa seperti dicengkeram tang besi, ujung jarinya gemetar saat berkata pada petugas, "Tolong… periksa lagi status pernikahan Tama."

Lembaran kertas yang keluar dari printer tampak ringan, namun ketika mendarat di telapak tangannya, terasa bagai menahan beban seribu kilogram.

Di kolom pendaftaran pernikahan Tama, nama pasangan tertulis nama Sania dengan jelas dan tanggal menikahnya adalah tujuh tahun lalu.

"Nona, mau tetap mengurus akta anak ini?" tanya petugas, suaranya terdengar samar dan jauh.

Winda menatap wajah putrinya yang sedang terlelap dalam gendongan, senyum getir muncul di bibirnya.

"Masukkan saja ke kartu keluarga-ku, sekalian ganti nama anaknya."

Saat melangkah keluar dari Dinas Kependudukan, langkah Winda terasa limbung bagai menginjak kapas.

Ponselnya kembali bergetar, sebuah pesan dari Tama.

[Sayang, aku sedang rapat di kantor. Pulangnya agak sore untuk menemanimu dan bayi.]

Melihat kata 'Sayang', Winda hanya bisa merasa ironis.

Selama tahun-tahun pernikahan mereka, Tama selalu memanggil Winda seperti itu, dia akan melapor kalau keluar, pelukan kalau pulang. Semua perhatian lembut itu sekarang terasa penuh sindiran.

Saat membuka pintu mobil dan duduk, jari-jari Winda gemetar hingga kunci pun tak bisa dimasukkan.

Dia paham aturan di kalangan mereka, kebanyakan pasangan kaya punya pikiran sendiri, tetapi Tama dulu berbeda.

Pernah di sebuah pesta, seorang sosialita menghina Winda di depan banyak orang. Keesokan harinya, Tama membuat keluarga itu bangkrut dan mereka meninggalkan kota dengan wajah tertunduk malu.

Saat Winda berkata bahwa dirinya menyukai edisi terbatas dari toko tertentu, Tama bisa terbang melintasi samudra untuk membelikannya, hanya demi melihat Winda tersenyum.

Yang paling membekas dalam ingatannya adalah insiden salah laporan hasil cek kesehatan.

Seorang perawat salah memberikan laporan yang mengatakan bahwa Winda menderita gagal ginjal. Mata Tama langsung merah.

Dia memegang erat jas putih dokter itu sambil berteriak, "Ambil ginjalku buat dia! Dua-duanya juga boleh! Kalau dia nggak ada, aku juga nggak mau hidup!"

Setelah tahu semuanya salah, pria yang biasanya tegas dan tanpa ampun di dunia bisnis itu, malah berjongkok di lorong rumah sakit, menangis seperti anak kecil.

"Syukurlah, Winda… yang penting kamu baik-baik saja."

Orang-orang di sekitar Winda selalu mengingatkannya, bisnis Tama makin sukses, pasti tidak lepas dari godaan wanita-wanita di sekelilingnya.

Namun, Tama memperlakukannya begitu baik, begitu baik sampai Winda sama sekali tidak pernah menaruh rasa curiga.

Namun, mengapa justru Sania?

Padahal dulu Tama jelas paling meremehkan Sania.

Sania dulunya adalah pengasuh rumah tangga Keluarga Bagaskoro. Suatu kali dengan sengaja mengenakan gaun berpotongan rendah untuk mengantarkan kopi pada Tama.

Tama langsung membanting cangkir dan membentaknya dengan keras, "Jangan pakai trik-trik murahan ini di depanku! Besok kamu jangan datang lagi!"

Setelah itu, dia langsung merengkuh Winda ke dalam pelukannya, tatapannya penuh hasrat.

"Sayang, di hatiku cuma ada kamu seorang. Perempuan-perempuan murahan seperti itu, aku usir satu per satu!"

Sania menangis tersedu sampai berlutut dan mengetukkan kepala memohon ampun. Namun, Tama bahkan tak melirik sedikit pun.

"Aku hanya mencintai Winda. Mataku nggak bisa menoleransi setitik pun noda. Perempuan kotor sepertimu, jangan pernah muncul di depanku lagi."

Sania bangkit dengan wajah pucat, lalu hari itu juga dia mengemasi barang-barangnya dan berjalan pergi.

Beberapa waktu kemudian, ketika Tama mempekerjakannya sebagai asisten pribadi di perusahaannya, dia menjelaskan hal ini pada Winda.

"Winda, setelah dia dipecat, keluarganya ingin menikahkannya dengan duda tua. Dia tampak putus asa dan ingin bunuh diri terus-terusan. Aku takut kalau dia nanti akan menyebarkan gosip soal kita di luar, jadi lebih aman kalau dia tetap di dekatku."

Waktu itu Winda percaya.

Siapa sangka, dua orang itu justru berselingkuh tepat di depan matanya selama lebih dari enam tahun, bahkan sudah punya anak berusia enam tahun.

Winda menggertakkan gigi, menahan rasa perih di matanya, lalu menghubungi detektif swasta.

Setengah jam kemudian, sebuah video beserta titik lokasi terkirim padanya.

Winda langsung menyetir menuju lokasi yang ditunjukkan.

Tama ternyata sama sekali tidak berada di kantor, melainkan baru saja selesai menghadiri rapat orang tua di TK Alex.

Dia menggenggam tangan Sania, memeluk anak laki-laki bernama Alex di pelukannya, ketiganya berjalan berdampingan menyeberang jalan. Senyum hangat yang mengembang di wajah Tama terasa lebih tulus dibandingkan foto keluarga mana pun yang pernah mereka ambil bersama, membuat mata Winda terasa pedih.

Dia menginjak gas dan membuntuti mereka sampai ke kawasan vila di pinggiran kota.

Tampak olehnya Tama turun dari mobil lebih dulu, mengeluarkan sekotak besar mainan dari bagasi.

Anak lelaki bernama Alex itu bersorak gembira lalu berlari membawa mainannya. Sania bersandar lebih dekat ke pelukan Tama dan berkata sambil memarahi, "Kamu terlalu memanjakannya."

"Dia anakku. Kalau bukan aku yang manjain dia, siapa lagi?"

Tama menunduk, mencium bibirnya sekilas. "Lagi pula, hari ini dia dapat penghargaan terbanyak. Ini membuatku bangga."

Sania mendongak menatapnya, matanya merah. "Tama, terima kasih sudah menyekolahkan Alex di sekolah dasar elite terbaik."

"Sebenarnya… kelahirannya saat itu adalah sebuah kecelakaan. Aku awalnya nggak ingin mengganggumu. Bisa melihatmu dari jauh saja sudah cukup. Aku janji nggak akan mengusik hubunganmu dengan Nona Winda."

"Kamu mikir apa sih?" Tama mencubit pipinya, suaranya tidak keras, tetapi jelas.

"Dia nggak akan tahu. Lagi pula, kamulah istri sah yang tercatat di akta nikahku. Aku baik pada kalian berdua itu memang sudah seharusnya."

Sania tersenyum lega. Tiba-tiba Tama membungkuk dan berbisik di telinganya, "Sudah jadi suami-istri, bukannya kita harus menjalankan kewajiban sebagai pasangan?"

Wajah Sania seketika merona. Dia langsung digendong masuk ke vila.

Sementara Winda duduk di mobil, hatinya seperti tertikam pisau tumpul. Dia mengemudi pulang dalam keadaan linglung.

Malam itu, ketika Tama masuk, seperti biasa, begitu melangkah ke dalam rumah Tama langsung merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Winda.

"Sayang, sudah lama menunggu, ya? Capek nggak seharian urus bayi?"

Winda tetap tenang, menggeser sedikit ke samping. "Soal kartu keluarga anak kita…"

"Masalah itu nanti biar aku yang urus. Jangan khawatir!"

Nada Tama tiba-tiba menjadi tegas, tetapi melihat wajah Winda pucat, Tama segera menurunkan suaranya dan membujuk.

"Sekarang mengurus kartu keluarga itu sangat merepotkan. Kamu baru saja selesai masa nifas, mending istirahat saja di rumah. Urusan ini serahkan padaku."

Winda menunduk dan mengangguk pelan, tanpa memberitahunya bahwa anak mereka sudah tercatat di kartu keluarga Keluarga Baskoro.

Winda bahkan tidak bilang bahwa dalam perjalanan pulang, dia sudah menelepon musuh bebuyutan yang paling dibenci Tama.

Di telepon, dia menggenggam ponsel erat, suaranya tenang, tetapi tegas.

"Aku masih lajang. Kalau kamu masih mau, tujuh hari lagi, aku akan menikah denganmu."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel About Sila
8.6
Siti Laila, putri seorang ustaz, tumbuh menjadi gadis keras hati akibat kurangnya kasih sayang orang tua. Meski terlihat santun di rumah, Sila menyimpan sisi gelap sebagai pendendam di luar. Saat ia berniat bertobat dan meninggalkan masa lalunya yang kelam bersama Lucas, ancaman besar datang. Lucas mengancam akan menghancurkan keluarga Sila hingga tak bersisa jika ia berani berhenti. Kini, Sila terjebak dalam dilema antara penebusan dosa dan keselamatan keluarganya.
Sampul Novel Dipaksa Menikahi CEO Kejam
8.4
Sejak kecelakaan maut merenggut nyawa ibunya di usia delapan tahun, Fallen hidup dalam kebencian sang ayah yang menyalahkannya. Demi menghukum Fallen, ia dipaksa menikahi seorang CEO yang dikenal dingin dan kejam. Ayahnya bahkan mengutuknya agar menderita selamanya sebagai seorang pembunuh. Di tengah luka batin dan pernikahan tanpa cinta, sebuah rahasia besar di balik tragedi masa lalu perlahan terkuak, membawa kenyataan pahit bagi Fallen.
Sampul Novel Gairah Liar Sugar Mommy
9.1
Cantika Paramitha, wanita karier berusia 36 tahun, kerap dicibir karena status lajangnya. Hidupnya berubah saat Arsenio Gunadharma, pemuda 25 tahun lulusan Oxford, hadir menggantikan ayahnya sebagai sekretaris. Pesona Arsen yang cerdas dan tampan memicu gairah tak terduga dalam diri Cantika. Meski terpaut usia jauh, ketertarikan di antara mereka berujung pada pernikahan. Namun, Arsen menyimpan rahasia besar tentang identitas aslinya yang akan mengejutkan keluarga Cantika.
Sampul Novel Kebenaran Tentang Gundiknya
7.8
Hamil empat bulan, fotografer ini hancur melihat suaminya, Baskara, memperkenalkan bayi wanita lain sebagai putranya. Bukannya menyesal, Baskara justru mempermalukannya dan membela selingkuhannya, Serena. Dianggap lemah dan dramatis, sang istri justru memendam amarah dingin atas pengkhianatan terencana ini. Di balik ketenangan palsunya, ia menyusun strategi besar. Ia bukan lagi istri penurut, melainkan ancaman yang siap menghancurkan sandiwara keluarga sempurna mereka.
Sampul Novel MENGHINDARI SUAMI TUKANG KAWIN
9.5
Sena tersadar akan memori masa lalunya setelah gagal mengakhiri hidup berulang kali. Memasuki kehidupan kedelapan, ia bertekad mengubah nasib tragisnya dengan berhenti mengejar sang suami. Sambil merawat mertua, Sena menabung diam-diam untuk bercerai karena tahu suaminya sangat pelit harta. Namun, rencana itu terusik oleh sekretaris ayah mertuanya yang dahulu membencinya, kini justru berbalik menggoda dan menawarkan bantuan untuk membalas dendam pada suaminya.
Sampul Novel Sebuah Pengabdian
9.3
Hamid hampir mewujudkan mimpinya menjadi tentara saat orang tuanya mendesak pernikahan dini yang tak diinginkan. Meski marah karena harus menikahi wanita asing, ia mengalah demi kebahagiaan orang tuanya. Tak disangka, pernikahan ini justru mendewasakan Hamid dan mengajarinya bahwa hidup adalah pengabdian kepada Tuhan. Namun, berbagai ujian berat mulai mengancam komitmennya. Mampukah Hamid dan istrinya bertahan menghadapi cobaan demi menjadi abdi sejati?