Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan yang Pertama

Bukan yang Pertama

Zaina Rahayu menjadi yatim piatu akibat kesalahan fatal seorang sosialita. Sebagai penebus dosa, wanita itu menjanjikan posisi menantu di keluarganya. Namun, sikap dingin calon suaminya serta masa lalu pria itu yang belum usai membuat Zaina membatalkan perjodohan. Meski mencoba menghindar, takdir justru terus menyeretnya kembali pada pria galak tersebut. Bisakah gadis lugu ini bertahan menghadapi cinta yang tumbuh di tengah bayang-bayang masa lalu sang suami?
Bab
Bagikan

Bab 3

Ina hanya bisa berdiri kaku dan mengerjap pelan dengan napas tercekat melihat kejadian itu. Antara ingin tertawa dan ngeri melihat bagaimana Pak Joko tersungkur mengenaskan, tanpa ada satu pun yang menolongnya.

Ina bingung harus bereaksi seperti apa saat ini.

Akan tetapi, sebenarnya Ina lebih takjub pada pria gagah itu, sih. Soalnya, kedatangannya seperti oase di hidup Ina yang tadi gersang.

Bukan karena ketampanannya. Melainkan karena kehadirannya yang tepat di saat Ina benar-benar butuh bantuan.

Apa ini keajaiban?

Apa orang ini pahlawan?

Entahlah, namun satu yang harus Ina niatkan dalam hati. Setelah ini Ina harus berterima kasih pada pria itu.

"Sean, sudah!" seru wanita kaya itu, seraya menahan pria gagah yang sepertinya masih ingin menghajar Pak Joko.

Oh ... namanya Sean.

"Tapi, Mah. Dia tadi mau pukul Mama," sahut pria itu, masih dengan wajah kesal sekali.

Tunggu!

Tadi dia panggil wanita itu apa? Mama?

Astaga! Apa mungkin dia ....

"Tapi kan gak jadi berkat kamu. Sudah! Jangan teruskan lagi. Mama gak mau masalah ini sampai berbuntut panjang," sahut wanita, yang memang sepertinya Mamanya pria gagah itu.

Pria gagah itu pun mendengkus kesal. Seraya menurunkan kepalan tangannya, menuruti mau sang Mama.

"Saya akan laporkan kalian ke polisi!"

Namun sayangnya, ternyata Pak Joko masih ingin memancing keributan pada dua orang kota ini.

"Sean!" larang Mamanya, saat melihat anaknya bersiap menghajar Pak Joko lagi. "Biar Mama aja," bujuknya kemudian, sebelum mengalihkan atensi pada Pak Joko.

"Mau lapor? Lapor aja. Saya gak takut. Karena kami juga bisa balik melaporkan anda, atas apa yang anda lakukan pada Ina. Ingat itu!" tantang Mama Sean, dengan gagah berani.

"Ck, itu hanya akan jadi hal sia-sia. Karena apa yang saya lakukan pada Ina. Itu memang sudah ada pada perjanjian hutang ayahnya dulu."

Degh!

Apa?

"Hutang?" Beo wanita itu dan anaknya kompak.

"Bohong!" Sebelum Pak Joko memuntahkan racunnya, Ina pun dengan segera berseru membantah semua tuduhan itu.

"Apa? Kamu mau bohong kalau orang tua kamu punya hutang banyak sama saya?" Delik marah Pak Joko pun di tujukan pada Ina.

"Tidak. Untuk hutang Ibu dan Bapak. Saya tidak akan berbohong. Ya! Kami memang punya hutang pada Pak joko. Tapi, untuk perjanjian yang mengatakan bahwa saya harus rela jadi istri muda Pak Joko demi tebusan. Itu bohong! Bapak saya tidak mungkin melakukannya! Tolong anda jangan fitnah, ya!" ungkap Ina berusaha menjelaskan detail masalah yang ada.

"Kamu tidak tahu apa-apa Ina. Karena waktu itu kamu sedang terbaring hampir mati. Perjanjian itu hanya antara saya dan ayah kamu saja."

Tidak! Ina tidak mau percaya! Ina yakin ayahnya tidak mungkin setega itu padanya.

"Tapi saya tetap tidak percaya dengan apa yang anda katakan. Karena saya yakin, Bapak saya tidak seperti yang anda tuduhkan. Kalau pun memang ada perjanjian, itu pasti tidak seperti yang ada ucapkan sedari tadi!" tegas Ina bersikukuh.

Namun Pak Joko malah kembali menyeringai penuh kemenangan, seraya melipat tangannya di bawah dada dengan jumawa.

"Kamu harus tahu, Ina. Jika orang terdesak itu bisa menghalalkan segala cara."

"Tapi Bapak saya tidak mungkin melakukan hal itu!" Ina tetap bersikukuh. Menolak percaya pada apapun yang di katakan Pak Joko.

Itu tidak mungkin!

Itu tidak mungkin!

Bapaknya bukan orang seperti itu. Buktinya setelah punya hutang, Bapak terus banting tulang demi melunasi hutang mereka. Jadi ....

Pokoknya itu tidak mungkin!

Diam-diam Ina pun menggeram dalam hati, karena kesal luar biasa pada ucapan Pak Joko yang sebenarnya ada benarnya juga.

Orang memang bisa melakukan apapun saat terdesak. Tapi ....

Tuhan, benarkah ini semua?

"Sudahlah, Ina. Percuma menolak juga. Perjanjian sudah di buat dan--"

"Kalau memang perjanjian itu ada. Coba tunjukan pada kami," sela pria gagah itu tiba-tiba. Membuat semua mata terfokus padanya lagi.

"Buat apa? Gak ada urusannya sama kamu!" bantah Pak Joko tak suka.

"Eh, tentu saja ada. Kan saya sudah bilang Ina itu calon menantu saya. Nah, ini adalah anak saya itu. Calon suaminya Ina!"

Hah?! Apa? Jadi benar kalau pria itu adalah pria yang akan menikahinya.

"Saya juga sudah bilang kalau Ina itu adalah calon istri muda saya. Karena dia harus bertanggung jawab melunasi hutang orang tuanya!" geram Pak Joko tak terima.

"Eh, gak bisa gitu. Di mana-mana hutang itu ya di bayar dengan apa yang dihutangnya. Misal mata di bayar mata, nyawa di bayar nyawa. Nah, karena orang tua Ina hutangnya uang, ya berarti hutangnya harus di bayar uang juga. Bukan pernikahan!" Mamanya pria itu menyalak dengan garang.

"Tapi orang tuanya sudah meninggal, dan--"

"Saya sudah bilang akan mencicilnya!" Kali ini Ina ikut bersuara. Dia ingin berjuang sekali lagi membela diri.

"Dengan apa? Kan saya sudah bilang, upah harian kamu di warteg aja, gak cukup buat makan kamu. Bagaimana kamu akan membayar hutang orang tua kamu?" Pak Joko benar-benar meremehkan Ina.

"Saya akan mencari pekerjaan lain selain menjaga warteg."

"Kerja apa? Kamu itu cuma lulusan SD Ina. Gak ada yang bisa dibanggain dari kamu selain wajah. Jadi, daripada kamu buang-buang waktu. Sia-siain masa muda dan kecantikan kamu. Mending kamu jadi istri muda saya saja. Saya jamin kamu pasti akan bahagia dengan limpahan uang dari saya."

"Saya gak--"

"Berapa?" ucap dingin pria gagah itu tiba-tiba menyela ibunya. Sambil menatap Pak joko tajam sekali.

"Apanya?"

"Total hutang gadis itu," ulang pria itu dengan tenang.

"Mau apa kamu tanya-tanya," geram Pak joko tak terima.

"Ck, tinggal sebutin aja, lama. Anda mau di bayar atau tidak hutangnya?" desis Sean dingin. Mampu membuat Pak Joko gelagapan.

"Kenapa? Kamu mau jadi sok--"

"Berapa?!" sentak Sean lagi dengan garang. Membuat Pak joko langsung terlihat menelan salivanya kelat.

"Ba-banyak." Pak Joko pun menjawab dengan terbata.

"Tepatnya?"

"Lebih dari 100jt."

"Te-pat-nya!" ulang Sean dingin tak sabaran, seraya sengaja memberi tekanan pada nada pada setiap penggalan kata-katanya. Juga sambil menatap nyalang Pak Joko. Membuat pria itu makin gelagapan.

"150jt. Dengan bunga bulan ini."

Hah?!

Ina pun langsung terbelalak mendengar total hutang orang tuanya. Karena ... setahu Ina dulu ayahnya cuma pinjam tujuh juta saja untuk operasi usus buntu yang harus Ina laksanakan. Kenapa jadi berkembang sebanyak itu?

Itu pun, setahu Ina sudah dicicil beberapa kali. Kenapa bukannya berkurang malah bertambah? Aneh!

"Saya bayar hutang Ina sekarang juga. Tapi berikan surat itu pada saya," balas Sean masih dengan suara yang dingin.

"Surat apa?" tanya Pak Joko dengan bodoh.

"Tentu saja surat perjanjian hutang hitam di atas putih. Anda punya, kan?" jelas Sean makin galak.

"Itu ... itu ...." Pak Joko malah gelagapan setelahnya.

"Kenapa anda jadi gelagapan? Jangan-jangan ...." Sean seperti sudah tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Karena itulah dia makin menekan Pak joko.

"Saya tidak butuh surat apapun dalam memberikan hutang. Karena anak buah saya adalah saksi hidupnya," jawab Pak Joko kemudian dengan berani.

Namun sayangnya, Sean malah menanggapinya dengan seringai miring yang menakutkan.

"Saya akan membawa kasus ini ke tanah hukum. Dengan tuduhan penipuan, pemaksaan, dan pelecehan. Kita lihat berapa lama anda akan mendekam di penjara." Sean pun akhirnya memberikan ancamannya. Membuat pak Joko murka seketika.

"Heh, kamu! Jangan coba-coba mengancam saya, ya? Kamu tidak tahu siapa saya? Saya ini--"

"Ini kartu nama saya." Sean menyerahkan kartu namanya dengan santai kehadapan Pak Joko. "Silahkan lawan saya kalau anda bisa," imbuhnya lagi dengan sombong.

Meski begitu, anehnya di mata Ina, kesombongan Sean itu malah terlihat keren sekali. Karena Ina sudah terlanjur baper pada aksi Sean yang hero itu.

Sayangnya, rasa baper itu pun harus pupus seketika. Saat akhirnya Sean meliriknya tajam, dan mendesis tajam.

"Merepotkan!"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ada Cinta di Meja Hijau
8.7
Anita Putri merupakan pengacara andal bertubuh gempal yang menaruh hati pada Adrian Hartono, putra pemilik firma tempatnya bekerja. Meski Adrian kerap mengandalkan kecerdasan Anita demi memenangkan kasus, pria tampan itu ternyata hanya memanfaatkannya. Merasa dikhianati, Anita bangkit dan bertekad melakukan transformasi penampilan secara drastis. Langkah ini menjadi awal perjalanannya membalas dendam sekaligus menemukan harga diri yang selama ini hilang di tengah peliknya dunia hukum.
Sampul Novel Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
9.2
Setelah delapan tahun berjuang demi kehamilan, Amelia justru mendapati suaminya, Aditya, berselingkuh dengan Nasywa yang tengah mengandung. Dorongan kasar Aditya mengakibatkan Amelia keguguran dan kehilangan segalanya. Lima tahun berlalu, Amelia bangkit menjadi sosok sukses dan berkuasa. Saat Aditya kembali dalam kondisi hancur untuk memohon pengampunan, Amelia hanya menatapnya dingin. Baginya, wanita lemah yang dulu mencintai suaminya itu telah lama mati.
Sampul Novel Bayarlah Kesalahan Ayahmu Dengan Hidupmu
8.0
Alona terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Ferdinand Craig, seorang konglomerat yang dipenuhi amarah. Ferdinand menikahinya demi membalas dendam atas kematian ayahnya. Tragedi itu bermula saat ayah Alona, seorang dokter, melakukan kesalahan fatal dalam operasi kanker darah ayah Ferdinand. Kini, Alona harus menanggung dosa orang tuanya di bawah bayang-bayang kebencian sang suami. Akankah Alona mampu bertahan menghadapi kekejaman Ferdinand dalam rumah tangga mereka?
Sampul Novel Cinta dan Gairah 21+
8.1
Cinta dan Gairah 21+ menyajikan antologi kisah romantis dewasa dengan beragam latar belakang karakter yang memikat. Mulai dari dinamika kehidupan ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pesona CEO dan manajer, setiap cerita dirancang untuk mengeksplorasi sisi emosional yang mendalam. Pembaca akan dibawa melintasi berbagai profesi, termasuk kuli bangunan dan para suami, dalam narasi yang memuaskan fantasi. Nikmati setiap alur cerita unik yang penuh gairah di buku ini.
Sampul Novel Dipaksa Menikah
9.6
Demian Dewantara merasa sial setelah terpaksa menikahi Hana Anindya Prayoga. Ia mengira Hana sengaja menerimanya karena ketampanannya, meski Hana sebenarnya juga membenci perjodohan ini. Hana merasa terjebak dalam pernikahan tanpa cinta akibat manipulasi sang ayah, Guntoro Prayoga. Awalnya mereka saling muak dalam hubungan yang didasari kepentingan bisnis, namun sebuah peristiwa tak terduga mulai meluluhkan kebencian dan mengubah segalanya menjadi rasa cinta.
Sampul Novel Hancur Karena Cinta yang Berkhianat
9.5
Tiga tahun menikah, Aluna siap membangun keluarga saat kariernya di puncak. Namun, kejutan kehamilan yang ia bawa justru berujung pilu. Di kantor, ia mendapati Raka bersama wanita lain dan seorang anak kecil. Tanpa rasa bersalah, Raka justru meminta cerai dengan dingin. Aluna hancur melihat suaminya lebih memilih anak orang lain. Akankah Raka menyesal saat menyadari bahwa ia telah membuang darah dagingnya sendiri demi mereka yang tak sedarah?