Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Teman Tapi Sekamar?

Bukan Teman Tapi Sekamar?

Amanda, sosialita kaya raya yang sombong, terjebak dalam masalah besar setelah menyetujui syarat ayahnya. Ia terbangun di pulau terpencil bersama Senja, pria dingin yang tak ia kenal. Keduanya terpaksa tinggal serumah demi misi reality show televisi dengan tujuan berbeda. Amanda yang manja membuat Senja kewalahan, sementara ketus pelayan itu membuat Amanda frustrasi. Di tengah konflik kepribadian yang kontras, mampukah mereka bertahan di lingkungan yang asing?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Awas!” kata Seorang gadis lantaran tubuhnya keberatan tertindih seorang pria yang nyatanya kekasihnya sendiri. Semalam mereka telah beradu keringat dan telah membuat kamar hotel menjadi sangat berantakan.

“Aku masih ingin melakukannya lagi, Manda!” rengek pria ini sambil bergelayut manja, tidak ada niatan turun sama sekali dari tubuh sang gadis.

“Awas Jeremy ish.” Gadis yang disapa dengan sebutan Amanda mendorong pacarnya sekuat tenaga, sayang tenaganya tak sebanding dengan sang kekasih.

“Tidak mau. Aku mau minta lagi!” rengek Jeremy, bahkan penyatuan mereka sama sekali tidak pria ini lepaskan, menyebalkan bukan?

“Jangan merengek seperti anak kecil, Jeremy!” Manda saja masih merengek seperti bayi, di sini ada yang lebih manja darinya. Jeremy memang manja, tapi pada Amanda saja.

“Aku mau pergi ke luar negeri dan akan memakan waktu selama satu bulan, nanti aku kangen sentuhanmu, kangen naena denganmu, kangen pelukanmu dan ka–” Ucapan Jeremy terhenti lantaran jari telunjuk Amanda sudah menempel di bibirnya.

“Ssstttt …. Pergi saja sana!”Jeremy ingatnya yang mesum-mesum saja, giliran ulang tahun Amanda tidak pria itu ingat, padahal Amanda sebentar lagi akan berulang tahun.

“Kau mengusirku? Ikut denganku saja, Yuk?” ajak pria ini agar ada solusi, sayang pasti ajakannya ditolak Amanda.

“Tidak bisa, aku kan punya tanggung jawab di MND TV.” Meski Manda doyan meninggalkan tugas kantor, dia tidak berani pergi sampai ke luar negri jika MND TV sedang sibuk-sibuknya. Banyak acara yang tamat dan banyak acara yang baru.

“Tanggung jawab? Kaya yang iya aja.” Jeremy meremehkan Manda, si manja itu kan biasanya kang suruh dan marah-marah, pergi ke kantor saja setiap hati telat, jarang on time.

“Ishh …. Jangan meledekku.” Manda tak terima, dia pelan-pelan belajar jadi bos yang baik kok, salah sendiri papanya terlalu memanjakan Amanda, efeknya gadis ini jadi sangat manja dan bergaya bos.

“Kalau tak mau diledek ayo lakukan lagi!” ajak Jeremy sambil mengedipkan sebelah matanya, dari tadi dia membuat Manda keberatan, sekarang malah minta ronde ke dua.

“Jeremy …. Maukah kau menikah denganku?” tanya Amanda, bukannya menjawab ajakan Jeremy, dia ajak balik pria itu untuk ke jenjang yang lebih serius.

“Kenapa perempuan yang melamar laki-laki?” tanya Jeremy sambil mengerutkan keningnya.

“Habisnya kamu tidak kunjung melamarku, jadi biar aku saja yang melamar.”

“Belum dapat restu papamu dan–” Lagi-lagi perkataan Jeremy terpotong gara-gara Amanda.

“Dan apa? Mau menyibukkan diri dulu dengan bisnis.” Selalu saja hal ini, sampai Amanda bosan mendengarnya.

“Itu lagi, itu lagi alasannya.” Manda jadi menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Manda!” panggil Jeremy sambil meraih dagu sang gadis, kedua jadinya menggerakkan Amanda agar kembali menatapnya.

“Mau menikah?” tanya Jeremy dan Amanda pun terlihat antusias.

“Mau!” Siapa gadis yang tidak mau sih jika diajak ke jenjang yang lebih serius. Manda juga mau, untuk apa pacaran lama jika ujung-ujungnya cuma main-main saja.

“Tunggu aku pulang, ya! Setelah itu aku minta izin papamu.”

***

“Biii ….!” teriak seorang gadis cantik di sebuah pagi. Tubuh ramping nan moleknya masih meringkuk di bawah selimut. Matanya pun masih terpejam. Untuk beberapa saat, tak ada tanda-tanda orang yang dipanggil datang.

“Bi Ijah!” teriaknya lagi, kali ini lebih keras dari yang pertama.

“Tolong ambilkan minum, aku haus!” Tenggorokannya saat ini kering, mungkin karena terlalu lama tidur. Hawa kamar juga terasa sangat panas dan membuat kulit gadis ini berkeringat. Entah AC dia setel berapa derajat Celcius hingga tak terasa dingin sama sekali.

Gadis itu mengubah posisi yang semula berbaring telentang lurus kini miring ke bagian kanan. “Kok kasurnya enggak empuk, ya?” Ia sedikit merasa asing tidur di kasur ini, kasur miliknya begitu empuk dengan seprai yang lembut dari bahan sutra.

“Ini Bi Ijah ke mana, sih? Lama banget,” keluhnya. Ia ketergantungan pada bantuan orang lain karena sudah biasa dilayani oleh pelayan. Ia cukup memanggil satu kali, pasti sudah ada yang menghampiri. Hari ini jadwalnya Bi Ijah, besok Bi Mumun dan lusa beda lagi. Ia punya beberapa pelayan yang bekerja secara shift untuk memastikan dirinya dilayani selama dua puluh empat jam full.

Karena merasa bosan sekaligus penasaran, akhirnya ia meraba-raba seprai kasur. Rasa kantuk masih bergayut kuat sehingga ia enggan membuka mata. Jemarinya merasakan sesuatu yang asing. Sensasi seprai ini tidak seperti seprai yang biasa ia gunakan, terasa kasar dan tipis. Padahal ia selalu memilih bahan kualitas impor yang lembut dan halus. Siapa pelayang yang berani mengganti pilihan seprai tanpa meminta izinnya? Awas, akan ia hukum orang itu nanti!

Tangannya meraba jauh lagi. Kali ini ia menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah benda yang permukaannya tinggi dan terasa keras, namun bukan guling atau pun bantal. Setelah ia raba-raba, benda itu terasa seperti lekukan otot.

Apa? Lekukan otot?

Saking penasarannya, gadis itu membuka kedua netra yang masih lengket dan memfokuskan pandangan. Sepasang mata besar yang indah karena dihiasi bulu mata panjang itu seketika melebar saat menyadari apa yang ada di hadapannya. “Aaaaaa …!” teriaknya kencang karena sangat kaget.

Pemandangan yang terpampang di depan mata terlihat asing. Sangat jelas ia bukan berada di kamarnya. Ukuran kamar ini kecil dan sederhana dengan dinding yang bercat putih. Ranjang yang ia tempati pun kecil. Ke mana belasan boneka kesayangannya? Mengapa tak terlihat satu pun?

“Omaygat …. Omaygat!” Ia atur napas yang memburu. Tiba-tiba jantungnya berdetak begitu kencang saat melihat apa yang ia pegang tadi. Seorang pria tengah tertidur pulas, tepat di sisinya!

“Oh astaga …! Apa pria ini menodaiku?” tanyanya panik. Ia segera terduduk sambil menarik selimut untuk menutup tubuhnya sampai dada.

Jemari lentiknya bergerak membuka selimut untuk memastikan sesuatu. Ternyata ia dalam keadaan memakai baju lengkap. Namun sayangnya, baju yang ia kenakan berbeda. Ia hanya mengenakan kaus berwarna putih dengan bawahan celana bahan yang panjang.

“Tunggu. Kenapa aku tidur pakai baju kek gini? Enggak banget, deh. Iuuhhh!”

Pandangannya bergulir ke samping, ke punggung pria tadi.

“Jangan-jangan semalam dia memperkosaku, lalu pakaianku dia ganti dengan ini. Hiiiih! Pria kurang ajar!” Pikirannya lari ke sana dan kemari, mereka-reka asal muasal kondisi aneh ini. Kepalanya terasa berat dan sedikit pusing.

“Duhh …!” keluhnya sambil memijat pelipis. “Jangan-jangan orang ini ngeracunin gue.”

Mumpung sang pria tengah tertidur, ia segera turun dari kasur untuk menyelamatkan diri. Langkah kakinya terhenti dekat pintu kamar. Jemari lentiknya menekan gagang agar pintu terbuka. Sesaat, ia melirik ke arah pojokan atas dinding kamar. Ternyata ada kamera CCTV.

“CCTV?”

Kecurigaan gadis itu semakin besar. Pikirannya pun langsung kotor. Jangan-jangan ia adalah korban pembuatan film porno. Semalam ia diculik dan diperkosa untuk dijadikan film dewasa. Ia segera keluar kamar. Saat sampai di ruang tengah pun sama, ada banyak CCTV, bahkan di setiap penjuru.

“Oh astaga! Tempat apakah ini?” Kaki jenjangnya pun berjalan cepat melintasi ruangan dan berakhir di ruangan tamu. Ternyata isi perabotan di rumah ini lengkap, namun sayang, tidak ada telepon. Bahkan televisi pun tak ada. Ia bingung bagaimana ia bisa menghubungi polisi jika telepon saja tidak ada.

Ia bergegas memeriksa keadaan melalui jendela. Barulah ia sadar lokasi rumah ini di pinggiran pantai yang sunyi dan terpencil. Tidak terlihat rumah lain di sekitar tempat itu. Langkah kakinya kemudian mengantarnya sampai di ruang tamu. Netranya terpaku pada sebuah kotak berwarna hitam yang tergeletak di atas meja.

“Kotak apa itu?”

Ia pun tertarik untuk membukanya. Ada secarik kertas di dalam kotak itu. Ia penasaran dan membaca tulisan yang tertera dalam surat.

“Selamat datang di acara reality show My Roommate, Amanda. Selamat menjalankan setiap tantangannya!”

Amanda segera mengerti apa yang terjadi. “Papiiiiii ….!” pekiknya dengan kekesalan tingkat tinggi. Teriakan nyaring itu menggaung ke setiap penjuru ruangan.

Amanda pun baru ingat kemarin ia telah menyetujui perjanjian untuk ikut serta dalam acara “My Roommate”, sebuah reality show terbaru buatan perusahaan sang ayah. Acara ini diprediksi bakal mendapat rating terbaik. Sayang sekali, Amanda yang merupakan anak semata wayang dari pemilik MND TV harus menjadi salah satu pemerannya.

“Sial! Kalau tahu gini, aku kemarin nggak setuju.” Amanda meremas rambut dengan frustasi. Apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Ia terlanjur menandatangani kontrak dengan sang ayah saat itu.

*

Amanda yang merupakan anak pemilik MND TV jelas bebas datang dan pulang kapan saja sesuai keinginannya. Siapa yang berani memarahi gadis itu karena datang terlambat dan sama sekali tidak bekerja? Kegiatannya di kantor cuma wara-wiri dan memarahi karyawan yang lelet saja.

“Yeee jam kerja kok lo malah ke sini sih?” tanya wanita berambut pirang dan berponi, dia pemilik restoran terkenal di Jakarta, dekat dengan gedung MND TV. Amanda kalau bosan di kantor ya pasti kabur ke sini, ada sahabatnya dan ada makanan enak pula, bisa sekalian nongkrong karena tempatnya nyaman dan mewah, sesuai selera mereka.

“Hei gue ke sini tuh mau kasih lo rejeki, eh malah kek diusir, sih?” Amanda rencananya mau pesan beberapa makanan dan minuman, memang belum jam makan siang tapi dia sudah kelaparan habis memarahi karyawan.

“Ditanya malah balik nanya, mana nyolot lagi. Oh Tuhan, kenapa kau beri aku teman seperti dia!” Gadis ini mengusap wajahnya kasar dan duduk di sebelah Amanda.

“Hemmm, jadi lo gak mau punya temen cantik, kaya raya dan baik kaya gue, Diana?” Baik dari sisi mana, kerjaannya marah-marah dan memerintah saja. Mereka berdua ini sama-sama anak orang kaya dan termasuk crazy rick Jakarta.

“Uhuk, uhuk. You always memuji diri sendiri aja!”

“Ngemall, yuk!” ajak Amanda sambil merangkul Diana.

“Ah mulai deh ngeracun hambur-hambur uang.” Baru saja kemarin mereka menghabiskan uang senilai 1 milyar dalam lima jam saja.

“Heii …. Punya black card untuk apa jika tidak digunakan bukan?” Amanda sih memanfaatkan sekali kartu pemberian dari ayahnya, selalu dia gunakan untuk membeli barang-barang branded.

“Ya juga sih.”

Mereka pergi ke store barang branded. Saat itu ada karyawan baru yang belum mengenal Diana dan Amanda. Karyawan tersebut masih gugup melayani pelanggan, dia sampai tidak memperhatikan langkahnya sehingga menginjak sepatu Amanda yang mahal.

“Sial. Kalau jalan lihat-lihat.” Amanda berteriak karena kesal, baru saja dia mau belanja sudah ketiban sial. Para karyawan lama yang sudah mengenal Amanda pun segera mendekat.

“Ma- ma- maaf, Nona!” Gadis berseragam hitam itu pun menunduk takut pada pelanggan VVIP ini.

“Maafkan karyawan baru kami, Nona!” Amanda menoleh pada karyawan-karyawan yang biasa melayaninya itu.

Gadis ini pun menunduk dan melihat sepatu high heelsnya sudah sangat kotor terinjak sepatu karyawan itu yang jelek. “Sial. Sepatu baruku yang mahal ini jadi kotor.”

“Bi- bi- biar saya bersihkan Nona!”

Amanda duduk lalu karyawan itu mengikutinya. “Duduk di bawah dan bersihkan!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Altair Onder de
9.4
Altair dan Claretta dipertemukan dalam situasi ganjil setelah dewa menukar tubuh mereka tanpa izin. Meski awalnya murka, Altair luluh saat melihat Claretta menangis merindukan kasih sayang ibu. Mereka saling memahami penderitaan masing-masing di tengah hembusan angin dan kelopak bunga. Akhirnya, keduanya sepakat menerima takdir baru ini. Altair merelakan identitasnya, sementara Claretta berjanji menjaga ibu Altair dengan tulus sebelum cahaya memisahkan mereka selamanya.
Sampul Novel Amanda Rhea
9.1
Amanda Rhea terlempar kembali ke masa lalunya, di mana ia bertemu lagi dengan sosok pria bernama Hagana. Sebuah ikatan misterius menyatukan Amanda dengan putri Haga secara tidak terduga. Namun, ancaman besar mengintai saat iblis dari alam mimpi mulai menampakkan diri dan mencelakai orang-orang di sekitar Amanda. Di tengah teror yang kian nyata, mampukah benih cinta antara Amanda dan Hagana bersemi kembali seiring takdir yang terus mempertemukan mereka?
Sampul Novel Bisikan dari hutan: Pendeta wanita terakhir
8.4
Mira mendambakan hidup tenang sebagai penyembuh, namun takdir menyeretnya kembali ke dunia magis setelah ibu angkatnya diculik. Di alam penuh makhluk ajaib, ia bertemu Eluin, Dewa bebas terakhir yang mengungkap jati diri Mira sebagai pendeta wanita pamungkas. Hanya Mira yang mampu melindungi hutan suci dari ancaman Temenis, sang Dewa Kematian. Mampukah ia membuang keraguannya demi menyelamatkan ibunya sekaligus menghentikan kehancuran dunia dalam pertempuran epik ini?
Sampul Novel Intuition
9.4
Hanna dituduh menghabisi nyawa orang tuanya sendiri saat berusia sembilan tahun hingga harus mendekam di penjara anak. Setelah sepuluh tahun berlalu, ia berhasil melarikan diri dan bertahan hidup di jalanan yang keras. Pertemuan tak terduga dengan teman lama membawanya masuk ke dalam sebuah komplotan demi menuntaskan dendam masa lalu. Namun, rencana itu goyah saat Hanna justru jatuh cinta pada putra dari sosok yang telah menghancurkan hidup keluarganya.
Sampul Novel Jasper dan Misteri Sang Raja Kerajaan Almekia
8.7
Pangeran Jasper hidup di Almekia, kerajaan futuristik dengan teknologi mutakhir yang kini dipimpin seorang ratu. Sosok mendiang ayahnya merupakan rahasia besar yang sengaja dikubur rapat oleh pihak istana. Didorong rasa penasaran, Jasper bersama Diamond, Zircon, dan Opal nekat melanggar aturan demi mengungkap identitas sang raja. Meski harus menjadi buronan dan menempuh perjalanan penuh bahaya, mereka tetap berjuang menembus tabir misteri yang menyelimuti kerajaan.
Sampul Novel JUST MATE
8.6
Renata tewas mengenaskan akibat pengkhianatan dua orang tercintanya. Menjelang ajal, ia teringat sosok Dewa Fenrir yang pernah dikenalkan ibunya, lalu memanjatkan doa terakhir demi membalas dendam. Namun, keajaiban terjadi saat nyawanya hampir hilang. Sebuah suara menggelegar memanggilnya 'Luna', disertai sentuhan tangan dingin yang mendekap wajahnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada takdir Renata di ambang kematiannya ini?