Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel (Bukan) Pernikahan Impian

(Bukan) Pernikahan Impian

Dara terjebak dalam dilema besar saat keluarganya terus menuntut agar ia segera mengakhiri masa lajangnya. Demi menghindari perjodohan paksa yang diatur orang tuanya, ia harus segera menemukan solusi instan. Di sisi lain, Alfan adalah seorang duda yang berjuang membesarkan putri kecilnya sendirian setelah kepergian sang istri. Demi memberikan sosok ibu bagi anaknya, Alfan pun mengajak Dara memulai pernikahan yang berawal dari sebuah kebutuhan mendesak.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Aku nggak akan minta kamu melakukan pekerjaan rumah, karena aku punya asisten rumah tangga yang aku pekerjakan. Aku juga nggak akan menuntut banyak hal dari kamu, aku hanya minta satu hal sama kamu." Alfan tak langsung berbicara, dia menarik nafas dalam -dalam sebelum kemudian kembali berkata.

"Aku hanya minta kamu menyayangi Kania." Ucapnya dengan tatapan penuh harap.

"Aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, hingga Kania merasa kurang kasih sayang dari orang tuanya. Itulah sebabnya aku minta kamu agar lebih banyak meluangkan waktu untuk Kania. Setidaknya, ada orang yang menemaninya bermain, atau membacakan cerita dongeng sebelum dia tidur." Penjelasan berhasil membuat Dara merasa terenyuh.

"Deal." Balas Dara seraya mengulurkan tangan kanannya sebagai tanda kesepakan yang dibalas uluran tangan pula oleh Alfan.

"Awalnya aku kira kita butuh perjanjian hitam di atas putih, tapi sekarang kurasa tidak perlu. Karena jika kamu mengingkarinya aku punya bukti ini yang lebih akurat." Yaitu perbincangan antar keduanya yang sudah direkam di dalam handpone Dara.

"Kamu bisa pegang kata-kataku." Ucap Alfan bersungguh-sungguh. Sedangkan Dara hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Ya sudah sekarang kita sarapan dulu, mungkin orang tua aku hari ini bakal di sini sampai besok." Lanjutnya seraya berjalan terlebih dahulu dan Dara hanya mengekor di belakangnya. Tiba di ruang makan Dara sudah melihat banyak makanan yang tersaji di meja makan. Alfan sendiri langsung menarik kursi dan mendudukkan bokongnya hal yang serupa dilakukan oleh Dara.

"Ayo Dara makan yang banyak. Enggak perlu sungkan karena sekarang kamu juga bagian dari keluarga ini." Ucap mama Alfan diiringi senyum di wajah ayu nya dan dibalas dengan senyuman pula oleh Dara.

"Oh iya, Al, kalian ada rencana bulan madu ke mana?" Tanya papa yang berhasil membuat keduanya tersedak. Keduanya saling diam hanya tatapan mata mereka yang berbicara seolah tak begitu penting rencana bulan madu mereka.

"Emmm..... aku sama Dara belum ada rencana bulan madu, Pa. Kerjaan di kantor lagi banyak. Jadi nggak akan memungkinkan kalau harus bulan madu dalam waktu dekat ini. Iyakan, Ra?" Tanya Alfan kepada istrinya yang lebih tepat dibilang sebuah pernyataan. Sedangkan sang istri hanya mengangguk disertai dengan senyuman.

"Ohh kirain bakalan langsung bulan madu, jadi nanti biar mama yang akan jaga Kania." Timpal sang mama.

"Papa emang bulan madu itu apa?" Tanya Kania yang sedari tadi tak mengerti dengan pembicaraan keluarganya.

"Emmm....bulan madu ya sayang?, bulan madu ya..ya.. jalan-jalan." Jawab Alfan tergagap.

"Ohhh... berarti kalau papa dan Kania jalan-jalan namanya kita sedang bulan madu ya, Pa?" Tanya Kania dengan polosnya yang membuat sang ayah menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan Dara beserta kedua orang tua Alfan hanya tertawa mendengar betapa lucunya Kania.

"Nggak dong sayang. Kalau Kania sama papa tetep namanya liburan." Jelas Alfan lagi.

"Kata papa tadi bulan madu berarti jalan-jalan ,terus kenapa sekarang bilang kalau sama Kania namanya bukan bulan madu. " Protes Kania. Sedangkan orang yang berada di meja makan tersebut hanya geleng-geleng kepala dengan sikap kritis Kania.

"Kalau Kania sudah besar, Kania pasti bakal mengerti sama yang dimaksud papa tadi." Ucap Dara setelah sedari tadi hanya menyimak obrolan antara anak dan sang ayah.

"Ya sudah deh, orang dewasa memang ribet. Kania jadi pusing." Ucapnya yang langsung mendapat cubitan di pipi oleh Dara karena memang posisi makan yang bersebelahan di antara keduanya. Lalu kembali hening suasananya, hanya terdengar dentingan sendok yang bertabrakan dengan piring yang saling menyahut.

"Kania sudah selesai kan makannya?" Tanya Alfan yang dibalas anggukan kepala oleh Kania.

"Oke berarti saatnya kita berangkat sekolah. Oh iya Kania nanti bakal diantar sama papa dan mama. Kania senang tidak?" Tanpa bertanya pun Alfan dapat melihat raut bahagia di wajah sang putri. Akhirnya, setelah sekian lama sang putri kini dapat merasakan kasih sayang layaknya teman sebayanya tak ia dapat dari sosok yang melahirkannya ke dunia.

"Senang dong, pa. Jadi sekarang Kania boleh panggil tante Dara jadi mama dong." Kata Kania tak kalah antusias. Pasalnya dia sudah sangat lama menanti momen di mana dia dapat memanggil seorang wanita dengan sebutan mama yang baru bisa terealisasikan sekarang.

"Kenapa harus tanya?, sekarang Kania bisa panggil tante dengan sebutan mama." Mama....ahhh sampai sekarang aku merasa belum terbiasa dengan panggilan itu, masih terasa seperti...... ahhh yang pasti menggelikan sekali, dan kalian perlu tau bahwa dalam mimpi sekalipun tak pernah aku berpikir bahwa anak yang akan memanggilku dengan sebutan mama adalah anak dari teman sekantorku, Alfan.

"Hore.... akhirnya Kania bisa seperti teman -teman Kania yang lain. Kania sekarang punya mama." Kata Kania yang membuat Dara tersenyum miris. Begitu inginkah Kania memanggil mama?, hingga hanya dengan panggilan tersebut ia dapat melihat sorot mata berbinar di wajahnya.

"Kenapa ada seorang ibu yang tega meninggalkan seorang anak bahkan anak itu belum bisa melakukan apa-apa, bahkan makan dan minum pun harus orang lain yang melakukan?, bahkan seekor hewan pun tak akan tega meninggalkan anaknya sendiri, apa salah kamu nak hingga ibu kamu tega ninggalin anak selucu kamu?" Batin Dara bertanya.

********

Suasana sepi hanya suara dari radio yang diputar yang mengisi perjalanan mereka bertiga ke sekolah Kania. Alfan yang fokus menyetir mobil, sedangkan di jok belakang Dara dan Kania pun tak bersuara. Sesekali Kania bertanya tentang apa pun yang dilewatinya. Seperti saat di lampu merah ia melihat anak kecil yang mengamen atau ada pula mengemis, Kania pasti akan bertanya apa anak-anak tersebut tidak sekolah?, atau mengapa mereka harus mengemis?, lalu ke mana orang tua mereka?, bukankah harusnya mereka masih harus menuntut ilmu.

"Mereka adalah anak-anak yang kurang beruntung, bisa jadi mereka berpisah dengan orang tuanya. Jadi Kania harus lebih bersyukur karena hidup Kania lebih beruntung dari mereka." Begitulah jawaban yang di berikan Alfan, dia tak mau hanya karena Kania sempat berpisah dengan ibunya, Kania menjadi anak yang kurang bersyukur. Dalam kehidupan sehari-hari Alfan sebisa mungkin menanamkan nilai agama bagi putrinya. Ia tak mau apa yang dilakukan ibunya Kania kelak dilakukan oleh Kania. Siapa pula yang bisa menjamin putrinya tak akan melakukan hal serupa dengan ibunya jika sedari kecil tak ia ajarkan pemahaman agama.

Mobil berhenti di halaman sekolah Kania, Alfan turun membukan pintu belakang mobil di mana Kania yang turun lalu disusul oleh Dara. Mereka berjalan bergandengan tangan layaknya sebuah keluarga yang bahagia. Dara memindai sekeliling, sekolah yang lumayan bagus. Dapat Dara lihat bahwa Kania bersekolah di tempat yang bisa dikatakan mewah, terbukti dari banyaknya mobil mewah yang keluar masuk gerbang sekolah. Ya wajarlah namanya juga anak satu-satunya. Begitu pikir Dara. Mereka mengantar Kania hingga memasuki halaman sekolah.

"Kamu yang baik-baik disekolah ya Princess, sekolah yang rajin, nanti papa yang akan jemput Princess pulang sekolah oke." Kata Alfan tersenyum seraya melingkarkan jari telunjuk dengan ibu jarinya ala anak-anak muda.

"Mama Dara nggak ikut, Pa?"

"Mama Dara pasti capek, biar nanti papa saja yang jemput Kania." Kembali Alfan menjawab.

"Oh oke deh, nanti Kania di jemput papa saja. Mama istirahat saja di rumah." Ucap Kania dengan seulas senyum yang tersungging di bibirnya.

"Ya sudah, Kania masuk kelas dulu. Dadah mama, dadah papah, emmuahhh." Kata Kania menyalami kedua orang tuanya disertai ciuman di pipi mereka. Kania semakin melangkah jauh, dalam setiap langkah dapat dilihat sesekali anak tersebut akan menoleh ke belakang dan melambaikan tangan kepada dua orang yang masih menatap ke arahnya. Hingga kemudian keduanya melangkah menuju parkiran setelah tak lagi tampak Kania dari pandangan keduanya.

"Mamanya Kania kenapa pergi meninggalkan kalian berdua?" Tanya Dara yang secara refleks menghentikan gerakan tangan Alfan yang hendak membuka pintu mobil.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Menantu Kaya Raya
9.2
Tiga tahun lamanya Liam Hanza hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan diperlakukan bak budak oleh mertuanya. Semua penghinaan itu ia telan demi sang istri, Yolanda Liandra. Namun, kesetiaannya hancur saat ia memergoki Yolanda berselingkuh. Kecewa dan terluka, Liam akhirnya membongkar identitas aslinya sebagai pewaris tunggal kekayaan ribuan triliun. Kini, keluarga Liandra bersujud memohon ampun, tetapi Liam siap membalas dendam dengan segala kekuasaannya.
Sampul Novel Di Antara Tangis Anakku dan Diam Suamiku
8.6
Setelah dipaksa mendonorkan jantungnya demi cinta pertama suaminya, seorang ibu sekarat di koridor rumah sakit. Putranya yang berusia enam tahun memohon pertolongan sang ayah hingga tiga kali, namun hanya menerima penolakan dingin dan kekerasan. Demi menyelamatkan ibunya, bocah itu rela menggadaikan kalung pelindung umurnya kepada perawat. Namun, saat kamar perawatan disiapkan, cinta pertama suaminya justru memblokade ruangan tersebut untuk anjing peliharaannya atas perintah sang suami.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Shila merintih kesakitan saat Sam mulai merasuki dirinya dengan penuh gairah. Dalam suasana yang mencekam dan penuh risiko, Sam berbisik lirih agar Shila mengecilkan suaranya. Ia memperingatkan gadis itu bahwa orang tuanya bisa mendengar aktivitas rahasia mereka di dalam rumah tersebut. Ketegangan memuncak saat mereka berusaha menyembunyikan hubungan terlarang ini dari pendengaran ayah dan ibu Shila yang berada sangat dekat dengan mereka.
Sampul Novel Jovan, Birahi Anak Panti
8.1
Menjalani kehidupan pernikahan ternyata jauh lebih rumit dari dugaan awal saya. Dahulu, saya mengira berumah tangga hanya sebatas menyatukan dua insan serta saling memenuhi nafkah lahir dan batin secara sederhana. Namun, kenyataan mengungkap adanya elemen kompleks yang mewarnai perjalanan panjang ini. Inilah sebuah kisah nyata yang saya alami sebagai pasangan suami istri di usia dua puluh dua tahun, di mana setiap tantangan menguji kedalaman komitmen kami.
Sampul Novel Menaklukan CEO Mesum
8.2
Bianca terjepit utang satu juta dolar akibat penggelapan dana ibunya. Demi membebaskan sang ibu dari penjara, ia menemui Steve Dvalton, CEO pusat di Singapura. Namun, negosiasi itu berubah menjadi tawaran gelap: Bianca harus menjadi pemuas nafsu Steve. Di tengah dilema antara kesetiaan pada kekasihnya dan keselamatan ibunya, Bianca terpaksa memulai hubungan panas yang penuh tipu daya. Steve merasa tertantang oleh kegilaan Bianca yang menggairahkan di ranjangnya.
Sampul Novel OBSESI DAN KEINGINAN
9.1
Andy Alf adalah CEO perfeksionis yang terobsesi pada keteraturan. Di sisi lain, Camille yang rendah hati bekerja di perusahaan Andy demi membiayai pengobatan kanker ibunya. Meski Andy sudah bertunangan dengan wanita cantik, ia justru terobsesi pada Camille hingga melakukan tindakan nekat. Hubungan mereka pun berubah menjadi romansa beracun yang penuh keterikatan emosional ekstrem. Di ambang kegilaan, mampukah keduanya bersatu setelah melewati ribuan perpisahan?