Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel (Bukan) Pembawa Sial

(Bukan) Pembawa Sial

Dalam tradisi tertentu, seorang anak laki-laki yang memiliki kemiripan fisik identik dengan ayahnya dianggap sebagai pembawa sial dan ancaman. Revan, pemuda dari keluarga sederhana, harus menelan pil pahit akibat mitos tersebut. Meski ia tidak bersalah, wajahnya yang sangat mirip sang ayah membuatnya dikucilkan. Demi melindungi orang-orang tersayang yang mulai menjauhinya, Revan memilih pergi. Akankah ia mampu mematahkan stigma buruk yang menghantui hidupnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah tamu yang datang menjenguk bu Lida dan bayinya pulang, Lida dan suaminya terlibat adu mulut dan juga pertengkaran yang hebat. Karena Lida sangat geram melihat suaminya yang diam saja ketika anak mereka di hina, bahkan suaminya ikut mendukung pendapat dari Sodah.

"Uda sabana tega, anak kito dihino model itu tapi uda diam sajo" Ucap Lida mengungkapkan kekesalannya pada suaminya. Logat bahasa daerahnya pun keluar saat ia sedang marah.

"Pasti ado musababnyo mako uni Sodah mangecek model itu, mungkin sajo nan di katoan uni Sodah itu memang batua. Anak ko memang mambao sial," sahut Doko, suami Lida.

Lida semakin kesal dan juga marah mendengar hal itu. Bisa-bisanya suaminya malah ikut menganggap anak mereka sebagai pembawa sial.

"Anak ini titisan mu uda, Jangan kau mengatakan hal yang bisa membuatmu menyesal, Uda" ujar bu Lida.

Bahasa yang mereka gunakan sehari-hari memang bercampur, terkadang mereka membawa bahasa daerah asli mereka dan terkadang juga mereka menggunakan bahasa tempat tinggal mereka yang sekarang. Tapi Lida tetap memanggil suaminya dengan sebutan uda, yang artinya adalah abang.

"Walaupun anak itu titisan dariku tapi mungkin saja nasibnya itu memang ingin membuat kesialan pada hidup kita. Seperti yang dikatakan uni Sodah, " Doko masih saja membenarkan ucapan dari Sodah, padahal istrinya baru semalam melahirkan dan seharusnya ia memberikan perhatian penuh pada istrinya itu. Bukan malah berdebat dengannya.

"Tidak ada yang namanya anak pembawa sial, Da. Semua anak itu adalah anugerah. Sadarlah kalau anak kita ini adalah titipan yang harus kita jaga dengan baik," Lida mencoba melunak untuk meyakinkan suaminya.

Karena tubuhnya masih terlalu lemah untuk berdebat saat ini.

"Tapi aku yakin kalau anak itu akan membawa kesialan bagi kita, Lida. Karena semenjak kau hamil saja kita sudah hidup berkekurangan, apalagi nanti setelah anak ini besar pasti dia akan membuat kita malu," ujar Doko dengan yakin.

"Tidak, uda. Aku tetap akan merawat anak ini dengan baik karena aku adalah ibunya, aku yang mengandung dan juga melahirkannya dengan taruhan nyawa. Jadi tidak ada yang bisa menghina anakku selagi aku masih hidup," ujar Lida dengan tegas.

"Tasarah kau sajolah. Indak ta urus dek ambo tu doh" sahut Doko sambil berlalu dari hadapan istrinya yang sedang menggendong bayi merah tersebut.

Wajah anak itu memang terlahir persis seperti ayahnya. Seharusnya Doko bersyukur anaknya sangat mirip dengan dirinya karena banyak orang yang ingin anaknya serupa dengannya. Tapi berbeda dengan Doko, ia malah menganggap hal itu sebagai suatu kesialan, hal itu karena mitos yang diyakini sebagian orang yang mengatakan jika anak terlahir mirip dengan wajah ayahnya maka anak itu akan diramalkan akan membuat kehidupan ayahnya dan juga semua keluarga akan terancam. Mitos yang entah berasal darimana, dan mitos itu juga belum pernah ada yang membuktikan kebenarannya. Akan tetapi mitos itu ada di dalam keyakinan sebagian kalangan.

Tapi Lida tidak peduli dengan mitos yang dipercaya oleh orang-orang itu, karena baginya anaknya itu adalah anugerah dan harus ia jaga dengan baik. Tidak ada yang namanya anak pembawa sial karena semua anak itu terlahir suci. Kita sebagai orang tua harus mendidik anak itu sehingga ia bisa menjadi anak yang baik, bukan malah ikut memojokkan dan juga menghina kelahirannya.

Sambil meneteskan air mata, Lida menyusui bayinya. Ia sangat kasihan dengan bayi mungilnya itu. Baru saja lahir ke dunia sudah merasakan penolakan dan penolakan itu berasal dari ayah kandungnya sendiri yang termakan mitos kuno yang tidak diketahui kebenarannya itu.

Tidak lama kemudian Doko sudah keluar kembali dari kamar. Wajah Lida langsung berubah cerah, ia mengira bahwa suaminya itu datang untuk mengucapkan bahwa ia menyesal karena telah ikut menghina bayi mereka yang baru lahir itu. Namun sekali lagi Lida harus menelan pil pahit, bukannya minta maaf, Doko malah semakin membuat ia merasa dongkol.

"Hei Lida. Ada gak kau pegang uang? Uda pinjam dululah buat bayar kopi di warung," ucap Doko tak tau malu.

"Uang darimana, Da. Apa uda sadar dengan yang uda katakan itu. Aku baru tadi malam melahirkan anak kita. Biaya berobat saja masih di pinjam sama bu Ratih, lalu uda pikir aku dapat uang darimana. Seharusnya uda menggantikan aku cari uang saat kondisi seperti ini, bukan malah minta uang. Apa ida juga tidak kasihan dengan putri kita yang menggantikan aku jualan sayur di pasar. Dimana otakmu, Uda?" geram Lida.

Ia sudah terlalu lelah menghadapi perangai suaminya yang semakin hari semakin menjadi itu. Ia sudah mencoba diam selama ini, tapi sepertinya suaminya itu tidak akan bisa berubah.

"Aku tidak mau berdebat denganmu lagi, Lida. Sekarang cepat berikan uda uang untuk pergi minum kopi ke warung. Pasti masih ada lebih uang dari puskesmas kemarin," kekeuh Doko.

"Terserah uda saja. Yang pasti aku tidak akan memberikan uang sepeserpun pada uda. Uang sisa dari bu Ratih itu hanya akan digunakan untuk keperluan Revan," ujar Lida.

"Revan? Siapa Revan? Aku akan meminta langsung pada orang itu. Kenapa dia yang lebih berhak atas uang itu?" tanya Doko.

"Bahkan nama anakmu saja kau tidak tau, Uda. Seharusnya seorang bapaklah yang memberi nama pada anaknya. Tapi kau malah tidak tau dan tidak mau tau dengan nama anakmu sendiri. Revan adalah anak kita yang baru lahir tadi malam," jawab Lida dengan kesal.

"Oh Revan itu nama anak ini. Mana aku tau, kan kau tidak memberitahu aku. Sudahlah, Lida. Tidak perlu membahas hal yang tidak penting, sekarang lebih baik kau berikan apa yang aku minta. Aku mau pergi ke warung," ucap Doko lagi.

"Pergi saja kalau udah mau pergi tapi aku tidak akan memberikan apa yang uda minta. Aku lebih memilih makan untuk anak-anakku daripada hobby mu yang tidak berguna itu. Kau pasti akan menggunakan uang itu untuk taruhan lagi di warung, aku tidak sudi memberikannya. Jika uda mau minum kopi, buat saja di dapur. Disana ada gula dan kopi, kok" tegas Lida.

Rahang Doko mengeras mendengar jawaban istrinya. Ia sangat marah karena Lida tidak mau menurut padanya lagi, terlebih setelah Lida melahirkan anak yang menurutnya akan membawa kesialan itu. Sekarang saja anak itu sudah membuat Lida berani melawan dirinya. Padahal selama ini Lida tidak pernah berani membantah ucapannya. Talu semenjak anak itu lahir, Lida sekarang sudah berani menjawab apapun yang ia katakan. Doko semakin membenci bayi mungil yang tidak berdosa itu.

Sikap Doko yang seperti itu berlangsung hingga bertahun lamanya. Ia bahkan tidak mau menyebut Revan sebagai putranya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KMJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KMJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 100 Hari Menikah Dengan Si BOS
9.7
Xavi Alonso bukan hanya taipan bisnis yang tak terkalahkan, tapi juga sosok dingin yang menjebak wanita incarannya dalam pernikahan. Saat sang istri merasa tertipu dan menuntut cerai karena perilaku dominannya, Xavi justru memberikan segalanya. Seluruh harta, perusahaan, hingga dirinya sendiri ia serahkan demi memanjakan sang istri. Di balik kemegahan hartanya, sang penguasa angkuh ini ternyata adalah iblis yang tak punya batas dalam mencintai pasangannya.
Sampul Novel Istri Dari Desa
8.5
Asmi sering dihina oleh keluarga suaminya karena penampilannya yang gemuk dan asal-usulnya dari desa. Bahkan, sang ibu mertua menolak kehadirannya karena menganggapnya miskin serta tidak memiliki ayah. Namun, sebuah rahasia besar perlahan terungkap. Sang suami baru menyadari bahwa istrinya sebenarnya adalah pengusaha kaya raya dengan aset di mana-mana. Kini, saat identitas aslinya terbongkar, mampukah keluarga tersebut berhenti merendahkan sosok Asmi?
Sampul Novel Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
8.3
Hilda terpukul saat suaminya, Marsel, meminta untuk menjual rumah warisan orang tuanya demi investasi. Baru setahun menikah, Hilda tak menyangka Marsel begitu pragmatis hingga tega ingin melenyapkan satu-satunya memori fisiknya terhadap mendiang orang tua. Meski Marsel berdalih demi masa depan, Hilda tetap teguh mempertahankan aset tak ternilai tersebut. Konflik ini memicu keretakan besar, membuat Hilda mempertanyakan kembali sosok pria yang ia cintai.
Sampul Novel New duda
8.2
Galuh terpaksa menyandang status duda setelah dikhianati berulang kali. Meski sempat memaafkan perselingkuhan pertama dan kedua, pintu maafnya tertutup rapat saat mantan istrinya kembali bermain api untuk ketiga kalinya. Luka mendalam ini meninggalkan trauma berat bagi Galuh terhadap komitmen pernikahan. Di tengah rasa sakit hati yang menyiksa, mampukah ia menyembuhkan luka masa lalu dan membuka hatinya kembali untuk menemukan cinta sejati yang baru?
Sampul Novel Nick
8.0
Nick Gustron adalah pengusaha sukses yang mendominasi dunia informatika dengan ketegasannya. Namun, dominasinya kini ditantang oleh klien bisnisnya sendiri, Salas Cano, pria asal Venezuela. Persaingan mereka tidak hanya soal bisnis teknologi, melainkan perebutan hati seorang gadis desa yang sederhana. Kedua pria tampan, cerdas, dan kaya ini harus bersaing ketat demi cinta. Siapakah yang akhirnya memenangkan hati sang gadis? Harap bijak, terdapat konten dewasa.
Sampul Novel PLAYBOY PENSIUN!
7.9
Michael Giorgino Orlando, pria mapan dengan karier gemilang, mulai merasa jenuh dalam pernikahannya. Ia kemudian mengejar Sydney, arsitek mal miliknya, meski terus ditolak. Sikap dingin Michael membuat istrinya, Greeta, terabaikan hingga akhirnya meninggal dunia. Dilanda penyesalan mendalam, Michael harus menghadapi wasiat terakhir Greeta agar ia menikahi Sydney. Namun, Sydney yang masih trauma dengan komitmen enggan membuka hatinya kembali.