Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel [BUKAN] PELAKOR

[BUKAN] PELAKOR

Irish harus menelan pil pahit saat penantiannya selama empat tahun dikhianati. Galen, pria yang menjanjikan kesetiaan, justru memilih bersanding dengan wanita lain. Terluka oleh janji manis yang berubah menjadi empedu, Irish tak tinggal diam. Demi cinta dan masa depan, ia nekat mengambil peran sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Galen. Irish bertekad merebut kembali hatinya. Akankah Galen pulang, ataukah perjuangan nekat Irish berakhir sia-sia?
Bab
Bagikan

Bab 2

Galen menemui professor Thomas Mclan. Di ruangannya, terdapat figura professor yang berfoto bersama anaknya. Galen memperhatikan anak professor yang cantik dan tersenyum.

"I'm sorry to disturb your time Mr. Mclan."

"No need."

"Thank you."

Galen menceritakan permasalahannya sekarang.

"Don't worry, you can live with my daugther Emery."

"Sorry Mr?" Galen masih tak percaya, Professor Thomas menyuruh Galen tinggal bersama anaknya.

"Emery tinggal di flat sendirian. Di asrama berbayar, kamu tidak perlu memikirkan uang bulanan, kamu bisa bekerja paruh waktu, jika tinggal di flat. Emery juga kadang berkerja, tapi di lebih banyak meghabiskan uangnya dengan pesta." Galen hanya mengangguk, tidak heran, disini setiap hari jumat, pasti salah satu mengadakan pesta, dan berakhir mabuk-mabukan.

Dan selama dua tahun disini, Galen memecahkan rekor, tidak pernah mabuk, pesta-pesta yang tak ada faedah. Yeah, he act like an innocent girl, and that he was.

"If you want, you can babysit Emery. Maybe like, acompany her to party, or when she bring random guy to her flat."

"I thought, that's not my authority sir."

"Don't worry, I command you."

"I'll try sir." Sebenarnya berat, Galen harus tinggal sama perempuan di flat yang sama. Walau ini negara bebas, hanya Galen sudah terbiasa dengan budaya yang dibawa lahir. Dan Galen juga punya kekasih, walau ia tak mengkhianati Irish. Tapi, siapa tahu ke depan?

"Don't worry, Emery a good girl. Sometimes she act so annoying and became spoiled brat." Galen tersenyum. Demi cita-cita, Galen harus bertekad, apapun yang terjadi ke depan akan Galen arungi, demi masa depan, demi cita-cita, demi janji, akan sebuah kesuksesan.

"I call Emery, she can fetch you. Dia akan menunjukan flat dimana, kamu bisa berkemas dan tinggal sama dia mulai hari ini."

"Thank you for you kindness sir. I don't know, I can't survive without your help." Professor Thomas menelpon putrinya.

"Yo, sup bro." Galen hanya menganga, jika putri, Professor Thomas tidak menghormati orang tuanya, dia menganggap orang tuanya seperti temannya. Walau sudah dua tahun disini, tapi Galen sering melihat, anak-anak disini tetap menghormati orang tua mereka, walau hanya dengan memanggil nama.

"Jemput kawanmu. Dia akan tinggal bersamamu. He will babysit you."

"Are you fucking serious Dad? No! go to the hell, mind your fucking business! I am not a baby, fuck you Dad!" Pekik suara cewek di ujung telpon. Galen merasa tak enak hati, bagaimana ia akan menyerah begini saja? Padahal ia belum berjuang.

"Emery, listen to me. This is for you future, I can control you, when you move."

"Fine! Fuck fine!" Telpon dimatikan. Galen menatap serba salah, pada professornya. Ia berniat membatalkan saja, dan memilih pulang kampung, dengan predikat gagal sebelum finish. Tapi, Galen tak ingin menyerah secepat ini. Ia harus berjuang, seperih apapun itu, walau ia haru terluka-luka dan berdarah-darah.

"Tidak apa-apa. Tempernya kadang jelek, tapi dia anak yang manis." Galen hanya tersenyum serba salah.

"Jika susah cari kerja paruh waktu, bisa hubungi saya. Saya akan membantu, Emery juga banyak uang." Galen meremas tangannya. Kenapa dia harus menyusahkan orang asing ini?

"Dia masih labil, masih 17 tahun. Jadinya, tahu senang-senang aja. Tapi, weekend dia kerja paruh waktu."

"Baik sir."

"Dad! Who the hell, fucking babysit me. I'm adult!" Emery mengamuk, cewek berambut pirang itu berang, karena perlakuan semena-mena sang ayah. 

Galen salah fokus pada pakaian Emery, hanya tanktop abu-abu yang menutupi sebagian perutnya. Dan celana super pendek sebatas paha, tapi ada satu yang lebih menarik perhatian Galen, tato milik Emery. Sebuah tato Winnie The Pooh. Di bawah perutnya, kenapa dia tidak tato Larva saja?

"Oh, that's ma boy. You look so cute, ok come home." Emery langsung duduk di pangkuan Galen.

"Fine dad. Chalenge accepted. He will be my boyfriend. Right baby?" Emery berbalik ke arah Galen dan memegang wajah Galen yang sudah pucat. Keringa dingin, menyucur dari tubuhnya. Mau menepis Emery, ia sudah berhutang banyak sama wanita ini nanti.

"Ok, go get room."

"Bye daddy. Love you." Emery, kiss jauh ayahnya. Dan menarik Galen. Galen ingin kabur dari sana, tapi ia sudah jatuh dalam perangkap iblis betina.

***

Galen melihat flat kecil, yang hanya 1 kamar. Tidak ada sekatnya, bahkan bathtub saja di luar, dan mandi sambil melihat pemandangan keluar.

"I can sleep in the couch."

"You can sleep with me, I don't rape you." Galen tertawa kecil. Sebenarnya Emery orangnya asik, jika kita sudah mengenal dirinya.

"It's ok."

"You have to sleep with me, and no buts." Galen akhirnya mengangguk. Ia harus banyak mengalah, demi masa depan, sekarang Galen bergantung hidup pada perempuan ini, jadi Galen harus menuruti apa keinginan Emery.

Emery Mclan, wanita cantik bermata hijau, sedikit bar-bar dan berhati mulia. Tanpa sadar, Galen tersenyum, ia yakin hari-harinya tak lagi kesepian dan penuh warna jika bersama Emery. Tapi, Galen harus tahu batasnya, bahwa ia punya kekasih dan Irish menunggunya disana.

"Kau bisa mandi dulu." Galen melirik pada bathtub yang terbuka lebar, tak mungkin ia menampakkan auratnya disini.

"Kita bisa memesan pizza setelah ini." Galen hanya diam, dan mengangguk apapun kata Emery.

Galen sudah selesai mandi, dan melihat Emery duduk di sofa, sedang serius dengan ponselnya.

"Oh, Pizza sudah datang. Kau bisa menemaniku, duduk dan makan disini."

"Thank you." Ucap Galen sopan. Ia pun duduk di samping Emery dan mengambil sekeping pizza.

"Kau mau tahu, kau bisa melepas pakaianmu dan itu akan terlihat sexi." Emery menarik kerah kaos oblong Galen berwarna abu-abu.

"Disini dingin." Alibi Galen.

"You're so cute." Emery meloncat ke pangkuan Galen dan mencium bibir tipis lelaki itu. Wajah Galen yang memerah, ia dan Irish tidak pernah berciuman, karena gadisnya begitu polos. Dan sekarang, ada wanita yang menyosor duluan.

"Can you take off from me?" Galen mendorong Emery dan cepat berlari mengambil ponselnya, pura-pura ada yang menelpon. Bagaimana nasibnya ke depan, jika terus seperti ini?

Galen melihat banyak pesan dari Irish. Galen menarik napas panjang, dan membaca satu per satu.

"Hey! Boy, come to mama. C'mon eat pizza with me." Galen dengan berat hati, duduk di samping Emery.

"Kau menelpon siapa?"

"Temanku."

"Temanku sedang mengadakan pesta. Kau bisa ikut bersamaku nanti."

"I'll stay. I rather reading or studying."

"You fucking kidding me?! How on earth, you choose studying over party. Where planet are you from?"

"No, I'm serious. I rather sleep."

"C'mon, we just have fun." Galen mengabaikan ocehan Emery dan menatap ponselnya lagi.

Banyak sekali pesan Irish.

*hi Ai. Aku lagi sibuk bangat, jangan khawatir ya sayang. Aku baik-baik aja. Aku juga rindu kamu, dua tahun lagi. Sabar ya, akhir kita pasti bahagia.*

Galen mengirim pesan itu dan menjanjikan suatu kebahagiaan untuk kekasihnya, tanpa tahu bagaimana nasib mereka ke depan.

Akhir kita pasti bahagia. Bahagia seperti apa yang Galen maksud? Jika ia mengetik pesan saja, diganggu Emery yang bergelayut manja di pangkuannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Pemberhentian Terakhir
9.4
Rana adalah mahasiswi yatim piatu yang berjuang kuliah melalui jalur beasiswa. Kesehariannya hanya terbagi antara belajar dan bekerja hingga ia bertemu Reva, sahabat pertamanya. Namun, ketenangan hidupnya mulai terusik saat Reno muncul dan sosok dari masa lalu kembali hadir. Hubungan mereka kian rumit ketika Dito masuk ke dalam lingkaran pertemanan tersebut. Kini, Rana harus menghadapi konflik perasaan yang melibatkan keempat orang terdekatnya itu.
Sampul Novel DIKIRA MISKIN
8.0
Yudi dan Antika kerap menjadi sasaran cemoohan para kakak ipar yang memandang rendah kondisi ekonomi mereka. Di balik hinaan tersebut, pasangan ini sebenarnya telah meraih kesuksesan besar selama menetap di kota. Begitu fakta kekayaan mereka terungkap, sikap sinis keluarga besar seketika berubah menjadi upaya untuk mendekat demi keuntungan pribadi. Akankah Yudi dan Antika menerima perubahan sikap yang mendadak ini setelah sekian lama diremehkan?
Sampul Novel Hasrat Dilema Dalam Gairah
9.0
Dalam suasana penuh gairah, Aslan perlahan melucuti pakaian terakhir yang menutupi tubuh Endah. Respons pasrah Endah memperlihatkan betapa ia terbuai oleh hasrat yang membara di antara mereka. Saat Aslan mulai menjelajahi keintiman fisik sang wanita, aroma alami dan sensasi menggoda semakin memacu adrenalin lelakinya. Ketegangan romansa modern ini memuncak ketika sentuhan-sentuhan lembut Aslan memicu desahan tertahan, mengunci keduanya dalam dilema nafsu yang mendalam.
Sampul Novel Ingin Tenang, Dengan Menumpang
8.1
Deli merasa sangat terbebani oleh rentetan masalah yang terus menghimpit hidupnya hingga ia merasa lelah secara mental. Demi mendapatkan kedamaian yang selama ini sulit ia temukan, ia memutuskan untuk mencari perlindungan sementara. Deli akhirnya memilih untuk menumpang tinggal di kediaman Dena, adik kandungnya sendiri. Ia berharap dengan menetap di sana, ia bisa menenangkan pikiran dan memulihkan diri dari segala kerumitan yang sedang menjeratnya saat ini.
Sampul Novel MANDUL
9.7
Kehidupan Izza penuh dengan tekanan karena ia tak kunjung hamil meski sudah lama menikah. Setiap hari, ia harus menelan hinaan dan cibiran dari orang-orang di sekitarnya. Keadaan semakin berat saat ia terus dibanding-bandingkan dengan Asih, menantu baru yang langsung mengandung di bulan pertama pernikahannya. Di tengah rasa sakit hati dan ekspektasi keluarga, mampukah Izza bertahan? Ikuti perjuangan emosional Izza demi mendapatkan garis dua yang dinanti.
Sampul Novel Perjalanan Zera
9.0
Setiap peristiwa dalam hidup merupakan bentuk pelajaran berharga yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya. Kisah ini mengajak pembaca merenungi bahwa besarnya kenikmatan yang dirasakan akan selalu sejalan dengan ketulusan hati dalam bersyukur. Melalui perjalanan Zera, kita diingatkan bahwa tidak ada kejadian yang sia-sia, karena setiap momen membawa hikmah mendalam bagi mereka yang mau membuka mata dan menghargai segala pemberian-Nya.