
Bukan Menantu Idaman Mama
Bab 2
Bab 2 – Tamu Tak Diundang dalam Hati yang Sibuk
Pesta ulang tahun Sarah digelar megah di ballroom Hotel Aruna, hotel bintang lima milik keluarganya. Kilauan lampu kristal memantul dari dinding kaca, musik jazz mengalun lembut, dan para tamu berdatangan dengan dandanan yang nyaris seperti pesta pernikahan.
Sarah berdiri di tengah ruangan dalam balutan gaun biru muda rancangan desainer kenamaan. Senyumnya mengembang, bukan hanya karena semua mata tertuju padanya, tapi karena satu sosok yang sejak tadi berdiri tak jauh dari panggung utama: Mas Ferdi.
Lelaki itu mengenakan jas abu gelap, posturnya tegap, sorot matanya tenang dan tajam, tanda dari kariernya sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Usianya sepuluh tahun lebih tua dari Sarah, dan selama ini hanya menganggap Sarah sebagai "adik kecil yang manja." Tapi di mata Sarah, ia adalah sosok idaman: matang, mapan, dan... nyaris tak tersentuh.
"Mas Ferdi datang juga..." bisik Sarah pada dirinya sendiri, sambil menahan degup jantung.
"Aku selalu datang tiap kamu ulang tahun, kan?" suara berat Mas Ferdi menyapa dari belakang.
Sarah menoleh, dan senyumnya makin merekah. "Tapi tetap aja bikin deg-degan."
Mas Ferdi tertawa kecil. "Udah 22 tahun, masih kayak anak SMA aja."
"Dan Mas Ferdi masih aja nganggep aku anak kecil," timpal Sarah dengan nada menggoda.
"Kalau kamu terus manja gini, gimana aku bisa berubah pandangan?"
Sarah hanya bisa tersenyum, walau hatinya menjerit. Ia tahu, Ferdi bukan lelaki yang mudah didekati dan dia terlalu sibuk dengan dunia hukum yang penuh tekanan. Tapi malam ini, Sarah hanya ingin jadi gadis biasa yang sedang jatuh cinta. Ia ingin percaya, mungkin saja pandangan itu akan berubah... cepat atau lambat.
..
..
Alya berdiri di dekat meja minuman, mengenakan gaun sederhana berwarna krem yang ia pinjam dari sepupunya. Tidak seperti para tamu lainnya yang tampak percaya diri, Alya merasa seperti masuk ke dunia yang bukan miliknya. Tapi undangan itu datang langsung dari Sarah, dan sebagai teman... ia tak ingin mengecewakan.
Ia memandangi ruangan. Musik, tawa, aroma parfum mahal, semuanya terasa asing tapi juga memukau. Lalu matanya menangkap sosok Reza berdiri tegak di sisi ruangan, mengenakan setelan hitam klasik, tampak semakin dewasa dan berwibawa. Tapi yang membuat langkah Alya terhenti bukanlah Reza... melainkan wanita di sampingnya.
Bu Mirna.
Sosok elegan berbalut kebaya modern, riasannya nyaris sempurna. Ia tidak perlu bersuara untuk membuat orang segan. Hanya tatapan matanya yang dingin bisa membekukan seluruh ruangan.
Reza juga melihat Alya. Sekilas. Cukup satu detik untuk membuat jantungnya berdetak panik. Alya di sini?
Mata mereka bertemu. Tapi Reza langsung memalingkan wajahnya, menjaga jarak. Ia menelan ludah pelan. Di sebelahnya, Bu Mirna sedang sibuk berbicara dengan tamu pejabat. Reza tahu, ia tidak boleh membuat kesalahan. Satu gerakan yang salah, dan ibunya akan mencium sesuatu yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Cinta kepada gadis sederhana bernama Alya.
..
..
Sarah memperhatikan semuanya dari jauh.
Ia tahu Mas Ferdi adalah tamu kehormatan malam ini, tapi diam-diam matanya menangkap gerak tubuh Reza yang kaku, serta pandangan Alya yang tertahan. Ia membaca kecanggungan itu sejelas papan tulis dan itu membuat dadanya sesak.
Bukan karena cemburu, tapi karena ia tahu, cinta seperti itu tak akan pernah dibiarkan tumbuh bebas. Apalagi di tengah keluarga seperti milik Reza.
Sarah menghampiri Alya, mencoba mencairkan suasana.
"Kamu cantik banget malam ini. Serius."
Alya tersenyum tipis. "Gaun pinjeman, Sarah."
"Justru itu. Kamu gak butuh label mahal buat kelihatan spesial."
Alya menunduk, lalu berbisik pelan, "Reza di sana... sama mamanya."
Sarah menoleh sekilas. "Aku tahu."
"Dia bahkan gak berani nyapa aku."
Sarah menghela napas. "Dia hanya sedang menyamar. Jadi putra keluarga terpandang yang sempurna."
Alya menatap sahabatnya. "Kamu nggak marah? Aku... merasa aneh banget."
"Marah?" Sarah tersenyum, tapi matanya tak benar-benar berbinar. "Aku punya Mas Ferdi yang cuma anggap aku kayak anak kecil. Kamu punya Reza yang harus pura-pura gak kenal. Dunia kita sama rumitnya, Alya."
..
..
Beberapa menit kemudian, MC naik ke panggung.
"Selamat malam, para tamu undangan! Kita akan mulai dengan sambutan dari orang spesial di hati Sarah Mas Ferdi, silakan naik ke panggung!"
Tepuk tangan menggelegar. Sarah menahan napas. Mas Ferdi naik dengan tenang, lalu mengambil mikrofon.
"Sarah itu... anak yang terlalu banyak tanya sejak kecil. Dan tiap ulang tahun, dia selalu bilang ke aku: 'Mas Ferdi harus datang ya.' Jadi, meskipun aku baru selesai sidang siang tadi, aku langsung ke sini."
Tawa kecil terdengar.
"Aku nggak tahu, Sarah sudah tumbuh secepat ini. Tapi aku tahu, di balik wajah manja dan gaya mewahnya, dia gadis yang kuat. Dan aku bangga jadi orang yang bisa melihatnya bertumbuh."
Sarah hampir menangis. Tapi ia tersenyum. Karena meskipun Mas Ferdi tak mengucap cinta, kalimat itu cukup untuk membuat malamnya sempurna.
..
..
Di sisi ruangan, Reza mencuri pandang ke arah Alya. Ia tahu tidak bisa bertindak sembarangan malam ini. Tapi batinnya menjerit ingin mendekat.
Namun bayangan ibunya... terlalu besar.
Bu Mirna berbalik menatap Reza. "Tadi itu siapa gadis berbaju krem?"
Reza terkejut sepersekian detik. "Temannya Sarah."
"Hm." Bu Mirna mengernyit. "Tampangnya biasa aja. Tapi gaya duduknya... terlalu percaya diri untuk orang biasa."
Reza hanya tersenyum kaku. "Mungkin karena dia juaranya kampus. Pak Burhan pernah cerita."
Bu Mirna mengangguk, tapi tatapannya masih menelisik. Reza tahu, ibunya sudah mencium sesuatu. Dan jika ia tahu lebih dari itu... semuanya bisa berakhir.
..
..
Malam semakin larut, pesta terus berlangsung, tapi Alya memutuskan untuk pulang lebih awal.
Sebelum pergi, ia menghampiri Sarah. "Makasih ya udah undang aku. Aku pulang dulu."
Sarah memeluknya. "Alya, jangan biarin dunia ini bikin kamu merasa kecil. Kamu punya hak untuk berdiri di ruangan ini. Bahkan lebih dari beberapa orang yang hanya datang karena nama belakangnya."
Alya mengangguk. "Kamu juga."
Begitu Alya melangkah keluar ballroom, Reza menoleh. Tapi ia tetap berdiri di tempatnya, menahan langkah.
Cukup Alya dan Sarah yang tahu tentang mereka. Dunia belum siap. Dan ia... belum cukup berani.
Anda Mungkin Juga Suka





