
Bukan Menantu Idaman Mama
Bab 3
Bab 3 – Pertunangan yang Sudah Lama Ditulis
Ruang VIP di lantai 12 Hotel Aruna dipenuhi aroma teh melati dan suasana formal yang tenang. Di tengah ruangan, duduk dua tokoh besar yang pernah mengguncang dunia bisnis di Eropa Bu Mirna Gabriel dan Pak Burhan Wijaya.
Dua sahabat lama, dua pemilik jaringan usaha besar, dan dua orang tua dengan ambisi yang tak pernah padam.
"Saya pesan Pai Moutai khusus dari Beijing untuk pertemuan ini," kata Pak Burhan sambil menuangkan minuman ke dalam gelas kristal.
"Ah, kamu tetap tahu cara menyenangkan tamu istimewa," jawab Bu Mirna dengan senyum kecil yang mengandung kekuasaan.
Mereka bukan hanya rekan bisnis, mereka pernah duduk di bangku yang sama di kampus elite Paris. Mereka tahu cara bicara, cara bersiasat, bahkan cara menekan tanpa terlihat mengancam.
"Mirna," ucap Pak Burhan setelah menyeruput minumannya. "Kamu pasti punya agenda selain mengenang masa lalu."
Bu Mirna meletakkan gelasnya perlahan. "Kita sama-sama tahu. Anak-anak kita sebentar lagi lulus. Dan ini... saat yang tepat."
Pak Burhan mengangguk. "Maksudmu... mempercepat rencana pertunangan?"
"Ya," kata Bu Mirna mantap. "Kita tidak bisa membiarkan mereka sibuk dengan pilihan pribadi yang tidak pasti. Dunia bisnis tidak menunggu cinta tumbuh perlahan."
Pak Burhan tertawa kecil. "Seperti waktu kita dulu?"
"Waktu kita terlalu banyak berkompromi, Burhan. Kita terlalu sering membiarkan 'perasaan' mengganggu kalkulasi. Tapi kali ini, tidak ada ruang untuk itu."
Pak Burhan mengangguk pelan. Ia tahu Mirna tidak pernah bermain setengah hati. Dan memang, sejak dulu mereka sudah merancang Reza dan Sarah akan menyatukan dua kerajaan usaha mereka. Real estate dan media. Struktur sempurna untuk merger skala nasional.
"Reza tidak menolak?" tanya Pak Burhan, sedikit menguji.
"Dia terlalu sopan untuk bilang tidak. Tapi aku tahu anakku. Dia diam-diam keras kepala," jawab Bu Mirna. "Maka lebih baik kita kunci langkahnya sejak sekarang."
Pak Burhan mengusap dagunya, lalu menatap keluar jendela kaca yang menampilkan kota Jakarta malam hari.
"Saya setuju. Tapi Sarah juga bukan anak mudah diarahkan."
..
..
Sementara itu, Reza duduk sendirian di balkon apartemennya. Malam semakin larut, tapi pikirannya belum juga tenang. Ia tak tahu apa yang lebih menyesakkan, hubungannya yang tersembunyi dengan Alya, atau tatapan ibunya semalam saat melihat gadis itu di pesta ulang tahun Sarah.
Ia tahu sesuatu sedang disusun di balik layar. Ibunya terlalu tenang hari ini. Tidak ada kalimat sarkastik, tidak ada pertanyaan licin. Itu pertanda paling berbahaya.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
Sarah:
"BTW, thanks udah datang. Besok aku mau ajak kamu dan Alya makan siang bareng. Gak ada agenda, cuma mau kita ngobrol bertiga kayak dulu."
Reza menatap layar. Ia tahu Sarah bukan gadis polos. Tapi sejak kapan Sarah bermain seperti ini?
..
..
Di tempat lain, Alya sedang menjemur pakaian neneknya. Pikirannya melayang ke malam pesta. Reza. Bu Mirna. Sorot mata Sarah. Semuanya berputar dalam benaknya seperti puzzle yang belum selesai disusun.
Nenek Alya keluar dari dapur sambil membawa teh hangat. "Kamu kelihatan murung. Ada masalah di kampus?"
Alya tersenyum kecil. "Enggak, Nek. Cuma... banyak mikir soal masa depan aja."
Nenek duduk di sebelahnya. "Kalau soal cinta, jangan terlalu dibawa serius kalau belum waktunya."
Alya terkesiap. "Kok tahu?"
"Dari caramu narik napas tiap kali bilang 'enggak ada apa-apa'. Kamu itu kayak ibu kamu dulu. Kalau jatuh cinta, mukanya langsung kayak langit sebelum hujan."
Alya tertawa kecil, lalu memeluk neneknya. "Aku gak tahu, Nek. Reza baik... tapi dunianya beda."
"Kalau cuma beda, bisa dijembatani. Tapi kalau kamu gak diakui di dunianya... itu yang harus dipikirkan."
Alya menatap langit. Ia tahu, cepat atau lambat, akan ada titik di mana mereka harus memilih: menyerah, atau berjuang sampai patah.
..
..
Keesokan paginya, Reza datang ke rumah besar keluarga Burhan. Ia dipanggil untuk sarapan bersama Sarah dan orang tua mereka. Tapi ternyata, Bu Mirna juga datang lebih dulu.
Dan di meja makan, tak ada lagi basa-basi.
"Papa dan Bu Mirna sudah berdiskusi," ujar Pak Burhan sambil mengaduk kopi. "Kita memutuskan, akan mengumumkan pertunanganmu bulan depan. Sebelum wisuda."
Reza menghentikan sendoknya. "Pertunangan?"
Bu Mirna menatap tajam. "Kamu tidak keberatan, kan,?"
Reza berusaha tetap tenang. "Hanya kaget. Tapi... bukankah sebaiknya saya dan Sarah yang bicara soal ini dulu?"
Sarah, yang duduk di samping Reza, mencoba tersenyum.
"Kalian bisa bicara nanti, ini waktu yang pas. Kalian juga udah cukup saling kenal, kan?" Ucap Bu mirna sambil menatap tajam anaknya
Reza menunduk. Ia tahu ini bukan pertanyaan. Ini keputusan. Dan menolak akan sama saja membuka perang.
..
..
Malamnya, Reza mengirim pesan ke Alya. Tapi tak ada balasan.
Karena di saat yang sama, Alya baru saja menerima kabar dari kampus: ia dinyatakan sebagai lulusan terbaik seluruh fakultas. Tapi tidak ada rasa bangga di dalam dadanya.
Yang ia pikirkan hanya satu hal:
Kenapa semua hal baik terasa datang... saat semuanya mulai berantakan?
Anda Mungkin Juga Suka





