
Bukan Mantan Istri Biasa
Bab 3
"Pak Adika bilang Anda boleh tetap di sini, tapi ada syaratnya. Anda harus mengelola Sudut International, salah satu cabang Grup Sandira di Pode dan menghasilkan laba lima persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Dia juga mengatakan bahwa Anda bisa menolaknya, tapi dia tidak akan menjamin keselamatan Grup Riyadi," lapor Ganang dengan sopan.
Laura menggertakkan giginya ketika mendengar ini. Dia telah berjanji pada Legar ketika pria itu terbaring sekarat bahwa dia akan melindungi Grup Riyadi, jadi dia tidak bisa membiarkan apa pun terjadi.
Ayahnya tahu apa kelemahannya dan menggunakan itu sebagai senjata andalan untuk memanipulasinya. Alih-alih memaksanya untuk pulang, pria itu menuntut agar dirinya mengambil alih Sudut International. Apa yang sebenarnya direncanakannya?
"Oke, aku akan melakukannya," ucap Laura dengan enggan.
Dia mengambil pena dan menuliskan namanya di kontrak. Kemudian dia mengambil kartu ATM yang berisi enam puluh triliun rupiah di dalamnya.
Dia terkekeh sambil menatap kartu itu.
Beberapa menit yang lalu, dia sangat miskin sampai uang seratus ribu saja tidak ada di dompetnya. Dia bahkan tidak mampu naik taksi untuk pulang. Akan tetapi, sekarang ....
Jadi, ini yang disebut mendadak kaya?
Karena kesepakatannya dengan sang ayah, rekening bank Laura dibekukan dan dia harus menyembunyikan identitas aslinya demi menghindari pelanggaran kesepakatan.
Selama ini, Keluarga Riyadi selalu memandang rendah Laura. Mereka tidak pernah menganggapnya serius dan hanya ingin berhubungan dengan orang-orang kaya.
Bayangkan betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa dia sebenarnya adalah putri bungsu Keluarga Sandira, keluarga terkaya di seluruh negeri dengan kekayaan triliunan rupiah di rekening banknya.
Tiba-tiba, pikiran Laura melesat ke momen ketika sahabatnya di panti asuhan sedang sekarat. Laura berlutut sambil memohon untuk meminjam uang pada ibu Nikolas, Aprillia.
Wanita itu dengan sombong memamerkan kartu bank platinumnya, tetapi tidak memberikan apa pun pada Laura.
"Tebak berapa banyak uang yang kumiliki di kartu ini? Dua miliar! Apa kamu pernah melihat uang sebanyak itu seumur hidupmu? Tapi, aku tidak akan meminjamkan sepeser pun padamu. Lebih baik aku membeli makanan anjing dengan semua uang itu! Bagiku, teman miskinmu itu tidak sebanding dengan seekor anjing peliharaan."
Laura kembali menggertakkan gigi ketika perasaan terhina dan direndahkan muncul di hatinya.
Jika diberi kesempatan, dia akan memberi pelajaran pada ibu dan adik perempuan Nikolas. Dia ingin membalas dendam untuk penghinaan yang diterima sahabatnya dan dirinya.
Ketika dia masih tenggelam dalam pikirannya, seseorang tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dengan kasar dari belakang.
Laura berbalik dan melihat bahwa orang yang melakukan itu adalah Aprillia.
Aprillia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan menatap Laura dengan ekspresi jijik. Di belakangnya, berdiri banyak wanita kaya yang memegang tas-tas belanja di tangan mereka. Tampaknya mereka baru saja pergi berbelanja bersama.
Laura dengan santai memasukkan kartu ATM ke dalam tasnya, lalu bertanya dengan dingin, "Kamu ada urusan apa?"
Aprillia tercengang melihat sikap baru Laura. Dia tidak menyangka bahwa suatu hari Laura bisa memperlakukannya dengan acuh tak acuh seperti ini. Karena terbiasa meremehkan dan mengintimidasi Laura, Aprillia tidak bisa menerima perlakuan lancangnya begitu saja.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk keluar? Apa kamu sudah selesai dengan semua tugas rumah tangga? Kamu sudah menyiapkan makan siang? Aku akan mengulitimu hidup-hidup jika kamu berani membuat putraku kelaparan. Baju macam apa yang kamu kenakan itu? Kamu benar-benar aib bagi keluarga kami! Kamu telah menikah dengan putraku selama bertahun-tahun, tapi kamu masih saja berpakaian seperti orang miskin. Dasar tidak tahu malu! Keluar dari sini!"
"Aib?" Laura terkekeh mendengar perkataan Aprillia. "Setelah aku menikah dengan keluargamu, kamu memecat semua pelayan dan memaksaku berhenti dari pekerjaanku. Kemudian kamu membuatku mengurus putramu, seperti seorang pelayan. Aku melakukan semua yang kamu perintahkan, tapi apa kamu pernah puas? Tidak. Kamu bahkan menuduhku mencuri perhiasanmu dan menghukumku dengan membuatku berlutut di tengah hujan lebat. Apa kamu ingat itu?"
Para wanita kaya yang ada di belakang Aprillia menunjukkan ekspresi tidak nyaman. Mereka tahu bahwa Aprillia selalu bersikap jahat pada Laura, tetapi mereka benar-benar tidak menyangka bahwa dia akan melakukan hal sekejam itu untuk menyiksanya.
Ketika ketegangan di udara semakin terasa, wanita-wanita itu mulai mengungkapkan berbagai alasan untuk pergi dari sana.
"Kamu ... omong kosong apa yang kamu bicarakan?"
Aprillia mencoba menyela, tetapi terpana oleh kata-kata Laura yang cepat.
"Jangan pura-pura bodoh. Kamu tahu persis apa yang kubicarakan." Laura mengangkat dagunya dan melanjutkan, "Aku sudah muak dengan semua omong kosongmu. Jika kamu berani membuat masalah denganku lagi, aku pastikan kamu akan membayar semua perbuatanmu di masa lalu!"
Anda Mungkin Juga Suka





