
Bukan Kisah Peterpan Tinkerbell
Bab 2
“HAEKAL!!!” Dimas berteriakan saat tidak sengaja mendorongnya. Dia berbalik badan dan mendapati anak nakal itu meringis dan mengucapkan kata maaf. Dimas yang sudah hafal dengan kelakuannya hanya memutar bola matanya kemudian melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah menunggu mereka.
“Bang mau mampir sebentar tidak di depan sana?” tanya Haekal yang sudah duduk.
“ke mana?” tanya Dimas. “Jangan bilang kau mau membeli kopi lagi?” lanjutnya dengan tatapan menyelidik dan Haekal hanya meringis pertanda jika jawaban Dimas benar.
“Gak ada acara-acara beli kopi lagi. Mau berapa banyak kopi yang mau kau habiskan?”
“Ayolah bang….”
Dimas memutar bolamatanya malas dan melihat 7 tumpukan buku dijok belakang. dia mengambilnya dan menatap kover buku tersebut.
Haekal yang melihat abangnya menatap kover buku tersebut menjelaskan, “Oh itu, beberapa hari yang lalu ada fans yang memberiku buku sebanyak ini. Aku bingung mau kukemanakan jadi sementara aku taruh dijok belakang saja”. Haekal meraih salah satu buku yang bercover dirinya. “Aku bahkan tidak tahu jika aku jadi kover sebuah buku, bukankah ini pelanggaran. Menggunakan gambar orang lain tanpa izin yang bersangkutan?”
“HAEKAL!!! Ini hanya sebuah novel dan mungkin dia mendapatkan inspirasi dari dirimu. Jangan semua kau anggap pelanggaran” Dimas memutar bolamatanya.
“tetapi ceritanya bagus bang”
“Kau sudah membacanya?” tanya Dimas dan mulai membuka halaman pertama. Haekal mengangguk.
“Aku membaca bagian ini, dia sangat pandai merangkai kata bang. Cobalah baca bagian ini” kata Haekal sambil menunjukkan bagian buku tersebut dan memicingkan mata untuk membaca nama sang panulis.
“Sunshine. Sepertinya dia menggunakan nama samaran. karena selama ini aku belum menemukan nama Sunshine” kata Haekal yang melihat nama sang penulis sedangkan Dimas sudah terhanyut dalam bacaan yang ditunjukkan oleh Haekal.
“Kal, kafenya tutup” ucap sang manajer yang duduk di samping sopir dan membuat Haekal mengeluarkan kepalanya keluar mobil dan benar saja apa yang dibilang oleh managernya, kafe langganannya tutup. Haekal melihat jam di ponselnya. Pantas saja sudah tutup karena sudah jam 10 malam. Kafe langganannya itu hanya buka sampai jam 8 malam di hari kerja seperti ini.
“Bang bukankah kau memiliki kafe?” tanya Dimas ke manajer mereka.
“Sebenarnya itu kafe bukan milikku tetapi milik istriku. tetapi sekarang diurus oleh adiknya”
“Bagaimana kalau kita ke sana saja?” tanya Dimas lagi
“Iya bang, kita ke sana saja. di mana itu tempatnya?”
manajer mereka tampak berpikir sebelum mengiyakan. “Baiklah” jawab sang manajer dan mengarahkan menuju kafe.
Sekitar 15 menit kemudian, mereka sampai di jalan menuju kafe tersebut. Karena kafe tersebut berada di jalan yang lumayan kecil sehingga membuat mobil tidak bisa masuk, jadi mereka memutuskan untuk turun dan berjalan.
“Pak tunggu di sini dahulu ya. Kami akan berjalan sebentar ke sana?” ucap Dimas melepas seatbeltnya kemudian memakai topinya.
“Apa tidak sebaiknya saya antarkan saja?” tanya sopir tersebut.
“Tidak usah pak, tidak terlalu ramai juga. lagi pula aku juga ingin membeli makanan di sana. Tenang saja, sudah ada bang Tama jadi aku rasa aman. Bapak nanti akan kubelikan” kata Dimas. Sopir mereka dengan sigap mengangguk dan membiarkan 2 orang tersebut keluar bersama managernya turun dari mobil dengan penyamarannya.
Mereka bertiga berjalan sambil berbincang mengenai jadwal mereka selanjutnya. Tidak sepadat biasanya, namun mereka harus tetap berlanjut mengingat mereka akan mengadakan tur konser.
Haekal sesekali mengendikkan bahunya saat angin malam mengenai kulitnya. Dimas meminta berhenti sebentar saat melihat warung jajanan ringan kesukaannya. Haekal hanya menurut dan matanya mengamati keadaan sekitar.
“Cerita ini sangat bagus” ucap seorang gadis berusia 17 tahun yang membuat Haekal menoleh kearahnya. Ada 2 gadis yang sedang duduk di bangku yang tidak jauh dari warung tersebut dan salah satunya memegang buku bercover yang dia yakini adalah dirinya.
“Kau benar. Sunshine memang berbakat dan berhasil membuat kita terbawa perasaan saat membacanya”
“Buku ini menceritakan kisah seorang penggemar”
“Kau pernah bertemu dengannya?”
“Tidak. Tidak ada yang tahu dia siapa. Dia memakai nama pena untuk semua tulisannya. tetapi ada rumor jika dia berhasil lulus dari Hanyang Universitas”
“WAHH… Benarkah itu? Selain berbakat dia juga pandai”
“Entah itu benar atau salah, tidak ada yang tahu dia siapa. Kita cukup nikmati semua karyanya saja tanpa berniat mencari tahu identitas dia yang sebenarnya”
Haekal mengerutkan dahinya. Ternyata penulis yang bercover dirinya itu memiliki banyak penggemar. Haekal sangat penasaran dengan penulis itu.
“Ayo” Dimas mengajaknya dan Haekal segera mengangguk. Mereka bertiga kembali berjalan dan Haekal sempat mendengar 2 gadis tersebut menyebutkan buku yang sedang mereka baca tadi.
“To My First”
Dan Haekal berniat untuk membacanya, dia berdoa semoga di antara 7 buku yang diberikan oleh salah satu fansnya kemarin ada buku tersebut.
Mereka bertiga sampai di depan kafe yang dimaksud oleh manajer mereka. Tanpa menunggu lagi, mereka masuk ke dalam kafe tersebut dan langsung memesan.
“Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?” ucap salah satu karyawan dalam kafe tersebut.
Sebelum Haekal mengatakan pesanan, Dimas sudah mengingatkan untuk tidak memasan kopi.
“Chocolate 3 big” pesan Haekal.
“Mereka sangat tampan!!!”
Serentak mereka bertiga menoleh ketika seorang gadis berseru di depan gadis yang sedang berkutat dengan laptop. Mereka sempat berpikir bahwa mereka ketahuan ternyata itu bukan ditujukan untuk mereka.
“Aku sudah mendengarnya ratusan kali hari ini” suara lembut itu membelai di telinga Haekal. Ada desahan napas yang terdengar berat setelah melepas kacamatanya.
“Ayolah Ra, kau harus bertemu dengan mereka”
“Sekarang kau yang menjadi penggemar mereka hah?” garis itu mengangkat sebelah alisnya.
“Sepertinya aku akan…” Nara nyaris memekik
“YAKK NARA!!! Kau jangan berteriak! Kau bisa mengganggu pengunjung yang lain” keluh Haera
“Seperti tidak pernah histeris saja saat melihat mereka dilayar laptopku saja” kesal Nara. Haera memutar bolamatanya kemudian berdiri dan membawa mocca kesukaannya.
“Lebih baik kau pulang saja, ini sudah malam” ucap Haera
“Kau mengusirku?” tanya Nara
“Ya! Aku mengusirmu. Ini sudah malam jadi lebih baik kau pulang saja sana. Apa perlu ku antar sampai depan sana?”
“YAKK!!! Aku tidak sepenakut itu” Nara melangkah meninggalkan Haera sambil melambaikan tangannya.
Saat akan kembali kedalam kafe dan berjalan ke barista, Haera mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Sontak Haera menoleh dan mencari sumber suara tersebut. Ternyata yang memanggilnya adalah Tama, suami dari kakak Haera.
“Haera!!!” Tama memanggil Haera sambil berjalan menghampirinya.
“Kak Tama”
“Haera, bagaimana kabarmu sekarang? Dan apakah susah mengurus kafe ini?” tanya Tama yang sudah duduk di salah satu kursi dan Haera mengikutinya.
“Kabarku baik. Untuk kafenya tidak terlalu susah mengurusnya. Beberapa kali kak Hana juga mampir ke sini. Kak Tama ke sini sama siapa? Sendiri atau dengan siapa?” jawab Haera sambil menjelaskan keadaannya dan bertanya ke Tama.
Sebelum Tama menjawab pertanyaan Haera ada 2 orang yang berjalan menghampiri mereka berdua. Haera tidak tahu mereka siapa. Dilihat dari penampilannya saja sepertinya mereka bukan orang sini atau sepertinya belum pernah ke sini sebelumnya. Haera bisa melihat dari penampilannya yang tertutup. Mereka berdua memakai masker dan topi untuk menutupi wajah mereka.
“Bang masih lama gak?” tanya salah satu dari 2 orang tersebut.
Haera hanya diam melihatnya. Namun, ada satu orang yang menarik perhatiannya. Postur tubuhnya tidak asing menurutnya. Haera yakin itu dia. Pemuda yang selama ini Haera sukai. tetapi Haera juga tidak yakin apakah benar-benar dia atau bukan atau hanya imajinasinya saja. tetapi sebuah suara menyakinkan bahwa pemuda tersebut adalah dia.
“Bang ayo balik, aku tadi sudah ditanyai oleh Bang Tio untuk segera kembali.”
Deg… Suara itu? Benar. Itu suaranya!
“Kak sepertinya yang dibilang oleh temanmu ada benarnya. Kau harus segera kembali. Aku juga akan segera menutup kafenya” ucap Haera sambil menahan debaran di dadanya. Haera tidak bisa menahan dirinya jika mereka tetap berada di sini untuk waktu yang lama.
Haera berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar untuk membalik tulisan “open” menjadi “closed”. Tama melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya dan berdiri dari duduknya. Dia menghampiri Haera yang berada di depan pintu.
“Ra… Aku akan balik dan lain kali akan main lagi ke sini” ucap Tama dan berjalan keluar kafe. Dimas dan Haekal hanya tersenyum kemudian mereka pamit.
“Bang, sepertinya kita memiliki berbagai macam penggemar, salah satunya mereka” ucap Haekal setelah mereka di luar kafe.
“Ya. Kau benar. Aku cukup terkejut dengan mereka berdua” tambah Dimas.
Tatapan mereka berhenti pada seorang gadis yang sedang memasukkan papan menu ke dalam kafe. Kegiatan itu menyita perhatian Dimas dan Haekal. Mereka tahu, jika gadis itu mungkin adik dari managernya itu.
**
Haera meringis saat melihat banyaknya manusia yang berada di dalam venue ini. Didepannya sekarang ada panggung besar di mana nanti ada beberapa idol akan memberikan penampilan terbaik mereka. Disinilah Haera berdiri, berdiri akibat Nara yang menariknya dipagi-pagi buta.
Haera ingin sekali menolak, namun melihat Nara yang ingin menangis tadi pagi membuatnya tidak tega untuk menolak lagi. Dan akhirnya Haera di sini, berdiri dengan tiket yang sudah berubah menjadi gelang yang dipakai dipergelangan tangan kirinya.
“Aku sudah bilang untuk tidak memaksaku kan?”
“YAK!!! Kau harus terus bergerak Haera. Kau ingin dia tahu jika kau hidup kan? Jadi ini salah satu caranya. Jadi kau hanya perlu duduk manis dan menikmati saja penampilannya. OKE?”
“YAKKK!!!” Haera berseru hingga membuat beberapa orang di sekitar mereka berdua menoleh dan menatapnya. Haera segera membungkuk untuk meminta maaf pada penonton yang mendengar teriakannya tadi.
“Aku sudah memberikan bukumu. Dia mengambilnya. Setidaknya, dia harus tahu jika ada penggemarnya yang sangat terinspirasi olehnya hingga berhasil membuat buku tentang dirinya.”
Bola mata Haera membesar dan menghadap kearah gadis gila itu yang sialnya adalah sahabatnya sendiri.
“APA??? Kau gila?? Kau memberikannya? Untuk apa? Bagaimana jika dia tidak menyu…..”
“Apa kau tidak melihat postingan di bubblenya? Bukannya kau juga langganan bubblenya?” Nara memotong kalimatnya. Haera mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepala membuat Nara menghembuskan nafasnya.
“Bukalah nanti jika sudah sampai di rumah…” suruhnya dan setelah itu Nara kembali menatap kedepan. Posisi mereka saat ini memang tidak paling di depan namun dari tempat duduk mereka bisa menonton dengan jelas penampilan para idola itu.
Haera mencoba menikmati jalannya acara ini. Sampai akhirnya 9 laki-laki itu muncul dengan gagahnya hingga membuat keadaan di sekitar makin memanas karena teriakan penggemar mereka. Disinilah Haera menyadari jika dia hanya dari dari dari ribuan orang yang menyukai mereka.
Dia terlihat sangat bersinar seperti biasanya. Satu-satunya laki-laki yang terlihat mengagumkan dengan tatapan mata yang tajam di antara member yang lainnya. Seperti namanya, dia terlihat sangat bersinar seperti sinar matahari di antara member lainnya.
Haera berhasil melihat mataharinya dengan nyata. Haera berhasil mendengar suaranya langsung tanpa melalui speaker laptop, hp maupun tv. Haera berhasil menatapnya dengan kedua mata tanpa terhalang layar apa pun. Yah! Haera berhasil! Haera meneteskan air mata saat melihat gerakan dancenya yang begitu luwes.
Dan kali ini Haera membiarkan perasaannya berkembang biak, dia tidak peduli lagi bagaimana nanti jadinya perasaan egois ini. Yang dia dipikirkan sekarang hanya bagaimana mata dan pikirannya mampu merekam setiap detail pergerakannya di atas sana.
Haekal, laki-laki yang mampu membuat sarafnya terkontrol hanya dengan mengikuti pergerakannya. Tidak laptop, hp maupun tv bahkan melihatnya secara langsung seperti ini fokusnya hanya tertuju pada laki-laki itu.
Tidak masalah jika Haera hanya sebagian titik kecil di antara banyaknya penggemar mereka. Baginya, mereka terutama dia adalah matahari yang bersinar dan menerangi hidupnya selama ini.
Haera tidak bisa berkata-kata lagi mereka adalah hidupnya, karena kenyataannya hidupnya jauh dari jangkauan mata mereka. Haera hanya bisa berkata bahwa mereka adalah harapannya, kebahagiaanya, dunianya, inspirasinya, cintanya, kekuataannya, semestanya, dan idolanya.
Terutama pada sosok laki-laki yang kini berdiri didepannya. Menatap kearahnya dengan tatapan tajam dan meneduhkan. Yah! Dia berhasil membuat seluruh tubuhnya kaku dan membuat jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.
Mata Haera mengerjap saat merasakan Nara menepuk bahunya. Mengatakan kalimat yang benar-benar berhasil menariknya dalam lamunan dan keterkejutan karena matanya bertemu dengan mata tajamnya.
“Dia membacanya” bisik Nara.
Haera hanya menoleh pada gadis itu yang kini tersenyum lebar merentangkan tangannya meminta untuk masuk kedalam pelukannya. Lagi dan lagi, air mata Haera menetes dan masuk kedalam pelukannya. Haera menggumamkan kata terima kasih pada gadis yang selama ini menemaninya.
“Dia membacanya dan dia mengetahuinya?” tanya Haera pelan. Haera bisa merasakan Nara menganggukkan kepalanya. “terima kasih Nara, terima kasih banyak”
Bayangan mata Haekal mengarah pada Haera dengan gerakan bibirnya yang tertangkap dengan jelas dimatanya dan juga Nara. Laki-laki itu sedikit tersenyum kemudian berkata tanpa suara.
“Kita bertemu lagi…”
Anda Mungkin Juga Suka





