
Bukan Kisah Peterpan Tinkerbell
Bab 3
Haera kembali mengeluh saat Kaka Hana menghentikan mobilnya di depan gedung tempatnya bekerja selama ini. Haera mendongak menatap gedung pencakar langit tersebut dan menoleh kearah Kak Hana yang sudah membuka seatbeltnya.
“Ayo ikut masuk bersamaku” ajak kak Hana. Haera menggelengkan kepalanya dengan menggigit bibir bawahnya. Takut. Itu yang dirasakannya sekarang. Bagaimana jika dia bertemu dengannya di dalam sana?
“Tidak apa-apa, hanya sebentar saja. Setelah menemui Tama kita segera kembali”
“tetapi bagaimana jika…”
“Haera, sudah kubilang berapa kali kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan tentunya akan mengganggunya” keluh kak Hanna.
Selain dengan Nara, kak Hana juga mengetahui jika Haera menyukai salah satu idola yang berada dalam naungan agensi tempat Tama dan Hana bekerja. Awalnya kak Hana hanya menganggap cukup mengidolakan mereka, namun entah makin lama kak Hana mengetahui perasaan Haera yang sesungguhnya.
Berulang kali kak Hana mengajak Haera untuk bertemu dengan mereka namun untuk kesekian kalinya Haera menolak dengan tegas.
“Ayolah Ra… gak mungkin aku ninggalin kamu sendirian di sini” kak Hana yang berusaha membujuk.
“Gak apa-apa, aku di sini saja”
“Bakal kumatikan mesin mobilnya jika kamu tidak mau turun juga” kak Hana membuka pintu mobilnya. Haera yang melihat itu melebarkan matanya kemudian refleks ikut keluar dari mobil dan dengan sigap dia mengunci pintu mobil tersebut.
“Hanya sebentar saja Ra, tidak lebih dari 30 menit” katanya yang sudah menarik lengan Haera agar mengikuti langkahnya. Tangan kanannya memegang paperbag titipan Tama. Haera hanya bisa diam dan pasrah saat mengikuti langkahnya.
Mereka berdua naik lift untuk mencapai lantai 7. Kak Hana menerima telepon dari Tama dan mengatakan jika mereka hampir sampai ketempatnya. Haera hanya bisa menduga jika kak Hana benar-benar ingin membuatnya cepat mati setelah yang dilakukan oleh Nara kemarin.
Sampai di lantai 7, mereka berdua melangkah menyusuri lorong yang tidak terlalu ramai. Bisa dilihat hanya ada beberapa staff yang berjalan atau bercengkerama. Mereka menyapa kak Hana dengan sopan. Jangan heran jika kak Hana mengetahui ruangan-ruangan yang ada di dalam gedung ini, karena sebelumnya dia pernah menjadi karyawan di sini sebelum dipindah tugaskan di anak perusahaan.
Kak Hana menunjuk satu per satu ruangan yang berada paling pojok koridor hingga yang terdekat. Sepi dan tidak terdengar apa pun di sini, hanya detak jantung Haera yang makin berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Aku tunggu di sini….”
“Masuk Ra!!!” Haera merasakan ada sebuah tangan yang merengkuh bahu dan mendorongnya untuk masuk kedalam ruangan latihan. Haera tolehkan kepalanya dan mendapati jika Tama dengan senyum tipisnya sedangkan Haera melirik kak Hana yang sedang menahan tawanya.
“ke mana perginya Mahen dan Haekal?” suara Tama membuatnya kini sadar sudah sepenuhnya masuk kedalam ruang latihan. Haera memundurkan langkahnya ingin pergi tanpa ketahuan oleh orang yang berada dalam ruangan tersebut. Tama melangkah mendekat kearah 7 laki-laki yang sedang duduk melingkar ditengan ruangan tersebut.
“Bersama dengan member Dream hyung” jawab Tio sebagai leader dari grup Orions. Haera dengan segera berbalik dan sialnya bukannya menabrak pintu yang dirasa tadi berada di belakang melainkan menabrak dada seseorang.
“Siapa?”
Dan tubuh Haera seketika mematung saat mendengar suara yang menjadi favoritnya beberapa tahun ini. Haera memejamkan matanya takut untuk menatap dan memundurkan langkah dan membungkukkan badan sebagai permintaan maaf.
“maaf sudah menabrakmu…”
“Hei jangan coba-coba untuk kabur ya” ucap Tama yang sudah menyadari keberadaan Haera.
Sial sekali hari ini.
Haera menoleh pada Tama yang menarik lengannya menuju ke arah 7 laki-laki yang menatap dengan rasa penasaran.
“Oh bukankah kau yang berada dalam kafenya Bang Tama waktu itu ya? Yang menyuruhnya untuk segera pergi?” itu suara Dimas. Haera menoleh kearahnya kemudian membungkukkan badanku 90 derajat.
“Iya benar! Itu kau kan?” ucap Dimas memastikan.
“Benar itu bang yang dikatakan oleh Dimas?” tanya Yudha
Haera menoleh pada Tama dan dijawab dengan menganggukkan kepalanya. Haera hanya tersenyum kecil kemudian kembali membungkukkan badannya.
“Namaku Haera. Senang bisa bertemu dengan kalian semua”
Tama melihat Haekal yang sedang mencari sesuatu mengalihkan perhatiannya. “Kau sedang mencari apa?” tanya Tama.
“Bang kamu melihat buku yang kutaruh di sini tidak?” tanya Haekal sambil mencari-cari barangnya.
“Buku yang mana? di sini banyak buku. Itu ada buku, di atas meja ada buku”
“Itu bang, buku yang bercover gambarku. Kau melihatnya tidak?”
Sebelum Tama menjawab, seseorang sudah menjawab pertanyaan Haekal.
“Oh maksudmu buku ini?” tanya Dimas sambil menunjukkan buku yang berada di sampingnya.
“Iya bang buku itu. Kau menemukannya di mana?”
“Tidak sengaja kutemukan di bawah kursi. Bukankah ini buku yang kau tunjukkan waktu itu Kal?”
“Buku apa yang kau maksud?” tanya Tama yang penasaran dengan buku yang dicari oleh Haekal.
“Ini bang” kata Dimas berjalan kearah Tama sambil menunjukkan buku tersebut.
Tama yang ditunjukkan oleh Dimas merasa tidak asing dengan buku tersebut. “Buku ini? Bukankah ini buku buatanmu Ra?” tanya Tama.
“Hah? Maksudmu apa bang?” tanya Haekal
“Iya ini buku buatan Haera. Dia penulis novel yang kau cari tadi” jawab Tama.
“Woah!!! Teruslah berkarya Haera. Tulisanmu sangat bagus. Sudah kubaca beberapa tulisanmu” Dimas tersenyum pada Haera dan hampir saja meleleh melihat senyum manisnya seperti itu.
“Kami akan terus mendukungmu!!!” tambah Tio dengan tangan yang mengepal membentuk symbol memberikan semangat.
“Jika kau ingin tanda tangan kami, kemarilah tidak usah sungkan. Kita akan memberikannya secara cuma-cuma” tawa Jeffery dan Haera hanya menanggapinya dengan senyuman juga.
“Ya, kami akan memberikannya secara sukarela” Yudha menimpali perkataan Jeffery.
“terima kasih untuk dukungannya” Haera membungkukkan badan sekali lagi dan berusaha menahan air matanya agar tidak jauh.
“Benar kau penulis dari novel ini?” Tanya Haekal sambil berjalan mendekat dan berdiri didepannya. Haera mendongakkan kepalanya dan terkejut saat mendapati wajah Haekal di depan wajahnya dengan alis yang menukik tajam.
“Ya?”
“Aku ingin bicara denganmu” kata Haekal. Haera mengerjapkan mata dan ingin menghapus air mata namun Haekal menahan tangannya kemudian memberikan tissue.
“terima kasih” Haera mengusap air matanya dengan tissue pemberian Haekal yang entah didapat dari mana.
“Kau ingin membicarakan apa?” kata Tama yang menginstrupsi mereka berdua.
“Hanya sebentar bang. Apa kau juga ingin ikut?” Haekal menjawabnya
“Aku beri waktu 15 menit, setelah itu kembali untuk latihan”
“Jangan kau racuni otak polos adikku!!!” seru Tama yang melihat Haera dan Haekal sudah keluar dari ruang latihan tersebut.
“Tidak akan bang. Aku hanya ingin membicarakan bukunyaaa…. mengapa kalian berlebihan sekali” keluh Haekal.
Mereka masuk kedalam ruangan yang sepertinya sering digunakan oleh member untuk tidur disela-sela latihan mereka. Ada satu set sofa dan beberapa makanan ringan di atas meja dan terdapat kulkas mini diujung ruangan.
“Duduklah” kata Haekal sembari berjalan menuju kulkas mini tersebut.
Haekal kembali dengan membawa buku dan memberikannya kepada Haera. “Ini…” Haekal memberikan buku buatan Haera yang berjudul “To My First”. Haera mengernyitkan dahi menatap kearahnya dan bertanya mengapa dia memberikan buku ini?
Haera mengangkat buku bercover dirinya yang dia berikan padanya beberapa menit yang lalu.
“Untuk apa kau memberiku buku ini?” tanya Haera.
“Aku membelinya ditoko buku beberapa hari yang lalu”
“Bukannya kau sudah membacanya?” Haera mengangkat sebelah alisnya dan Haekal hanya menjawab dengan anggukan kecil. “Lalu mengapa kau membelinya lagi?”
“Untuk memberikanmu tanda tanganku. Lihat, di sana ada tanda tangan member juga” katanya sambil menunjukkan kearah buku yang Haera pegang. Haera dengan segera membuka halaman pertama buku itu dan benar saja terdapat 9 tanda tangan mereka.
“Dan sekarang, kau harus menandatangani di bukuku” Haekal memberi sebuah buku yang bercover dirinya. Haera meringis malu karena itu adalah karyanya. Haera meraih bolpoin dan membuka halaman pertama buku bersampul cokelat itu.
Haera segera menandatangani buku tersebut kemudian menatapnya dengan napas yang memburu. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang hingga Haera mengira Haekal akan mengatakan “Kau sudah bertemu denganku. Sekarang katakan apa yang kau rasakan sejak dahulu?”
Tangannya gemetar sambil meletakkan buku yang masih berada dalam pangkuannya itu kemudian dengan lama Haera menatapnya. Dia tersenyum kecil dan sepertinya menikmati kegugupannya.
Anda Mungkin Juga Suka





