
Bukan Istri Yang Lemah
Bab 2
Keesokan paginya, Elara duduk di meja makan dengan tenang, menyeruput kopi hitam tanpa gula, sementara mata birunya yang dingin sesekali melirik ke arah pria di seberangnya. Vesper, dengan kemeja putih yang digulung hingga siku dan dasi yang longgar, tampak sibuk membaca koran seolah kehadiran Elara sama sekali tidak penting.
Pagi mereka selalu seperti ini-senyap, tegang, dipenuhi tatapan tajam yang tak pernah benar-benar bersinggungan. Jika ada kata-kata yang terucap, itu hanya pernyataan dingin atau sindiran halus yang lebih menusuk daripada pisau.
Elara meletakkan cangkirnya dengan sengaja, menciptakan suara ringan yang membuat Vesper akhirnya mengangkat kepala.
"Kita harus menghadiri gala amal malam ini," ucapnya datar, matanya menatap pria itu tanpa berkedip.
Vesper menyandarkan punggungnya, satu alisnya terangkat. "Dan aku harus peduli?"
Elara menahan keinginan untuk memutar mata. "Sebagai pasangan suami istri, kehadiran kita di acara publik adalah bagian dari citra keluarga Aldric."
Pria itu menghela napas, seolah pembicaraan ini hanya membuang waktunya. "Kau bisa pergi sendiri."
"Tidak bisa." Elara menyilangkan tangan di dadanya. "Para investor ingin melihat kita sebagai pasangan harmonis. Jika kau tidak datang, itu hanya akan memperkuat rumor bahwa pernikahan kita sedang bermasalah."
Vesper menyeringai sinis. "Pernikahan kita memang bermasalah."
"Tapi tidak ada yang perlu tahu," balas Elara tajam. "Aku tidak akan membiarkan reputasiku hancur hanya karena egomu."
Vesper menatapnya lama, sebelum akhirnya meletakkan korannya di meja dengan gerakan santai yang penuh ketidaktertarikan. "Baiklah. Aku akan datang."
Elara merasa sedikit puas, tapi ia tahu Vesper tidak akan membuatnya mudah. Pria itu tidak akan pernah setuju tanpa memiliki rencana tersembunyi.
Malam itu, Elara berdiri di depan cermin besar di kamarnya, mengenakan gaun hitam elegan yang membentuk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya, dan perhiasan berlian menghiasi pergelangan tangannya. Semua tampak sempurna di luar-seperti topeng yang harus ia kenakan setiap kali muncul di hadapan publik.
Ketika ia menuruni tangga, Vesper sudah menunggunya di ruang tamu. Pria itu mengenakan setelan hitam yang pas di tubuhnya, dasinya sempurna, dan auranya penuh dengan karisma dingin yang selalu berhasil menarik perhatian siapa pun.
Saat mata mereka bertemu, Vesper tersenyum kecil, tapi bukan senyum hangat-lebih seperti permainan yang baru saja dimulai.
"Kau terlihat cantik," ujarnya, suaranya rendah dan licin seperti racun.
Elara tidak membalas pujian itu. "Kita tidak punya waktu untuk basa-basi."
Vesper tertawa kecil. "Selalu serius. Tidak heran aku ingin segera menceraikanmu."
Elara menahan amarahnya dan mengulurkan tangannya. "Kita akan terlambat."
Vesper mengambil tangannya, menuntunnya keluar, tapi cengkeraman mereka lebih seperti dua musuh yang bersiap bertarung daripada pasangan yang saling mencintai.
Malam ini, pertarungan mereka akan berlanjut-bukan di dalam rumah, tetapi di hadapan dunia.
Anda Mungkin Juga Suka





