
Bukan Istri Yang Lemah
Bab 3
Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom, memancarkan cahaya keemasan yang menambah kesan mewah di setiap sudut ruangan. Para tamu berdandan sempurna, mengenakan gaun dan jas mahal, sambil bersulang dengan sampanye yang mengalir tanpa henti. Ini bukan sekadar gala amal-ini adalah panggung kemunafikan, tempat di mana semua orang berpura-pura peduli sambil mempertahankan citra mereka di mata dunia.
Di tengah gemerlap itu, Elara berjalan dengan kepala tegak, tangannya bertaut dengan lengan Vesper seolah mereka adalah pasangan sempurna. Tapi di balik senyum anggun yang ia tampilkan, ada amarah yang mendidih di dalam dadanya.
Mereka baru saja tiba, dan ia sudah bisa merasakan permainan yang dirancang Vesper malam ini.
"Lihat siapa yang akhirnya datang," suara seorang wanita menyapa mereka dengan nada manis yang dibuat-buat.
Elara menoleh dan langsung mengenali sosok itu. Ivy Langford. Wanita yang selama ini disebut-sebut sebagai 'kekasih' Vesper.
Mata Elara dengan cepat menelusuri Ivy-gaun merah darah yang menggoda, bibir yang melengkung dalam senyum penuh kemenangan, serta tangan yang dengan santai memegang gelas sampanye seolah ia telah mengklaim tempatnya di sisi Vesper.
Dan Vesper? Pria itu tidak menunjukkan sedikit pun tanda ketidaknyamanan. Bahkan, ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Elara sadar-ini bagian dari rencananya.
"Senang melihatmu, Ivy," Vesper menyapa dengan nada santai, seolah istrinya tidak berdiri tepat di sampingnya.
Elara merasakan jemarinya mengepal di sisi tubuhnya. Ini adalah permainannya. Vesper ingin memancing reaksi, membuatnya terlihat seperti istri pencemburu yang lemah dan putus asa.
Tapi Elara bukan wanita yang mudah dipermainkan.
Dengan langkah tenang, ia menyunggingkan senyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke Ivy. "Aku juga senang melihatmu di sini, Ivy. Aku tidak tahu kau diundang."
Ivy terkekeh pelan. "Oh, tentu saja aku diundang. Lagipula, aku memiliki banyak koneksi di sini."
"Ah, begitu," Elara mengangguk seolah terkesan. "Aku hampir lupa-kau memang punya keahlian dalam... memasuki tempat yang bukan milikmu."
Tatapan Ivy mengeras sesaat sebelum ia cepat menyembunyikannya di balik senyum anggunnya.
Vesper menatap Elara, seolah menikmati pertunjukan ini. "Sayang, kau tidak keberatan kalau aku mengajak Ivy untuk satu tarian, kan?"
Elara bisa merasakan beberapa pasang mata sudah memperhatikan mereka, menunggu bagaimana reaksinya. Jika ia menolak, itu berarti ia mengakui kekalahan. Jika ia menyetujui, ia memberi Vesper kebebasan untuk mempermalukannya di depan semua orang.
Tapi Elara selalu tahu bagaimana membalikkan keadaan.
"Aku keberatan," jawabnya santai, membuat beberapa orang di sekitarnya membelalakkan mata.
Vesper mengangkat alis, tertarik. "Oh? Dan kenapa begitu?"
Elara menyentuh dasi suaminya, menyesuaikannya sedikit dengan gerakan lembut namun penuh kepemilikan. "Karena kita adalah pasangan malam ini, sayang. Jika kau ingin menari, kau akan menari denganku."
Tatapan mereka bertemu, penuh ketegangan yang hampir bisa dirasakan oleh siapa pun yang menyaksikannya. Ivy tampak seperti ingin berkata sesuatu, tapi Elara sudah menarik Vesper ke lantai dansa sebelum wanita itu sempat membuka mulutnya.
Musik berubah menjadi melodi klasik yang lembut, dan Elara meletakkan tangannya di bahu Vesper sementara pria itu melingkarkan lengannya di pinggangnya.
"Kau bermain dengan baik," Vesper berbisik di telinganya. "Tapi kau tahu ini tidak mengubah apa pun, kan? Aku masih ingin kau pergi."
Elara tersenyum tipis. "Dan aku masih tidak akan memberimu apa yang kau inginkan."
Vesper tertawa kecil, tapi ada sesuatu di matanya yang berkilat tajam. "Kau tidak akan bisa bertahan selamanya, Elara. Aku akan membuatmu menyerah pada akhirnya."
Elara mengeratkan genggamannya pada tangan pria itu, menatapnya dengan sorot penuh perlawanan. "Kita lihat siapa yang menyerah lebih dulu, Vesper."
Di antara musik dan tatapan penuh persaingan, perang antara mereka baru saja mencapai babak baru.
Anda Mungkin Juga Suka





