
Bukan Istri pilihan
Bab 3
"Selamat pagi Dokter Elvano" Elvano yang mendapat sapaan itu hanya mengangguk kecil seraya terus melangkah menuju ruangannya. Elvano tampak sekali sedang menahan kantuk, mengingat ia baru selsai mengoprasi pasien gagal jantung hingga pukul enam pagi.
"Dokter Elvano memang tiada duanya ya, beruntung sekali perempuan yang akan mendampinginya nanti" ujar salah satu perawat setelah melihat Elvano menjauh.
"Bukannya dia sudah mempunyai tunangan ya? Kalau tidak salah namnya Sasmita Alera, itu lho... Desainer muda yang cantikanya tiada tara itu" ucap perawat yang bername tag Sita.
"Hus-hus! Gosip aja kalian pagi-pagi. Nanti kalau di dengar sama Dokter Elvano bisa gawat. Ayo kembali bekerja!"
Di sisi lain, Elvano sudah sampai di ruangannya. Pria itu hanya melirik singkat ke arah perempuan yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Van, aku udah nunggu kamu dari tadi. Ternyata baru balik ya? Gimana oprasinya, lancar?"
"Lancar, kamu bisa menunggu di ruang tamu. Jangan langsung ke ruangan saya"
Bukannya tersinggung, justru perempuan itu tertawa lembut sembari melangkah menuju Elvano. "Formal banget Dokter yang satu ini, kita sahabatan dari orok lho. Coba dong ubah gaya biacara kamu" ucapnya manja seraya memegang lengan Elvano.
"Zelina" ucap Elvano dengan nada dingin, satu hal yang perlu dicatat, jika Elvano tidak suka disentuh.
"Oke-oke, aku cuma becanda. Sarapan yuk, aku udah panggil Zion juga. Ada resto baru di deket sini, kata temen aku sih enak" ucap Zelina sambil melepas tautan tangannya dari lengan pria tampan di hadapannya itu.
"Tidak, saya butuh istirahat"
Zelina mencebikkan bibir mungilnya, perempuan cantik itu terlihat sekali sedang kesal pada Elvano. "Kamu mah, masa iya cuma aku sama Zion aja. Kan nggak asik!"
"Kamu bisa keluar, saya mau istriahat dulu"
"Vano ih! Padahal aku masih kangen lho sama kamu. Emang kamu nggak kangen sama sahabat cantikmu ini?" tanya Zelina dengan nada menuntut.
Elvano menghembuskan nafas lelah "Zelina, kita ngobrol nanti ya. Saya benar-benar butuh istirahat"
Zelina yang sudah terbiasa dengan sifat Elvano hanya mendengus kesal "Oke! Tapi nanti aku main ke rumah kamu ya? Aku kangen sama sop buah buatan mbok Sumi"
"Hem"
"Yes! Udah lama banget soalnya nggak makan itu lagi. Nanti kita-" perkataan Zelina terhenti kala melihat Elvano yang sudah melangkah ke arah sofa di pojok ruangan. "Kalau begitu aku keluar dulu ya, babay Dokter Elvano!" serunya dengan memasang senyuman lebar.
"Elvano memang selalu menarik" kekeh perempuan itu sembari berlalu pergi.
Sedangkan di tempat lain, Leana selalu melihat jam dinding yang ada di ruang tamunya. Sudah pukul sembilan malam, dan Elvano juga belum kembali.
"Apa aku minta nomernya di mbok Sumi aja kali ya?" monolog Leana dengan kening berkerut. "Astaga! Tapikan ponselku masih di rumah Ibu!" Leana menepuk keningnya. Sedetik kemudian bola mata perempuan itu membulat kala mengingat ia belum memberitahukan pihak prusahaan mengenai libur dadakan yang ia lakukan.
"Ya Tuhan...Pak Sagara pasti ngamuk!" saking paniknya, Leana sampai tersandung karena ingin cepat-cepat sampai ke kamarnya. Ia memutuskan akan menuju rumah Ibunya sekarang juga, bisa gawat urusannya jika Leana menghilang tanpa kabar. Dan saat ini Leana hanya bisa berdoa semoga Sagara tak memecatnya.
Setelah mengambil tas beserta dompetnya, Leana pun dengan cepat menuju pintu utama.
Tetapi, tubuh Leana mematung kala pintu utama terbuka, dengan jelas ia melihat Elvano yang sedang berpelukan bersama seorang perempuan .
"Mas Elvano..."
Anda Mungkin Juga Suka





