
Bukan Cuma Rommate
Bab 2
Gyda menatap pria itu lekat-lekat menahan luapan amarah di dalam dirinya. Sejujurnya emosinya belum stabil gara-gara kejadian yang dia lihat di apartment lamanya. Sekarang dia malah disambut dengan ekspresi wajah menyebalkan yang di tunjukan sang pemilik akun postingan random, gesture tubuhnya apalagi. Mudah bagi Gyda untuk melihat betapa terang-terangannya pemuda itu memperlihatkan ketidaksukaan pada dia. Apakah sekali lagi dia bertemu dengan pria gay?
Padahal kalau mau sombong, Gyda ini sudah banyak sekali mendapatkan pujian dari para kaum adam yang straight. Gyda bahkan bertaruh tidak ada seorang pun yang bisa menolak pesonanya. Tapi sekarang pemuda di hadapannya seolah ingin di beri kesan berbeda, seolah dia istimewa. Jadi ketika dia mendapati situasi semacam ini rasanya Gyda seperti sedang di hina sekaligus menguak luka lama.
Tapi berhubung dia butuh tempat bernaung sekarang, Gyda mencoba mengesampingkan rasa kesal dan marahnya. Gadis itu akan pasang muka tebal dan karena dia sudah berkeputusan untuk tinggal di rumah pemuda bernama Delmar dihadapannya. Anggap saja ini adalah sebuah tindakan urgensi, lebih baik tinggal bersama pria yang jelas-jelas tidak menyukainya daripada harus tidur di jalanan. Gyda tentu tidak ingin di ingat sebagai gelandangan.
Karena itu berpegang dengan kehebatan aktingnya, Gyda kembali memasang senyuman termanis yang selalu berhasil dia andalkan dalam setiap situasi sulit. Dia berharap itu juga cukup untuk membuat pria itu bersedia memberi ruang dan mempersilahkan masuk, alih-alih hanya membuka sedikit pintu dengan penampilan carut marut.
Gyda sekali lagi menanyakan pertanyaan yang sama dengan kesabaran yang semakin terkikis hingga pada titik terdasar. “Aku di terima jadi teman sekamarmu kan, umm… Delmar?”
Pria dengan wajah mengantuk tersebut hanya menggosok pelipisnya malas bahkan dengan tidak sopannya menguap di depan muka Gyda layaknya pria barbar tidak beretika. “Aku butuh teman sekamar pria, bukan perempuan,” jawabnya tegas dan lugas. Bahkan Gyda yakin pria itu sengaja menekan suaranya pada kalimat pria sehingga Gyda bisa mendengar berapa besar penolakan yang pemuda itu miliki untuknya.
Apa sekarang pesonanya sebagai perempuan telah hilang? Atau jangan-jangan dia itu gay sama seperti mantanya? Karena Pria itu jelas-jelas sama sekali tidak terlihat tertarik meskipun Gyda telah mengeluarkan seluruh kharismanya? Holy shit! Ini jelas pertanda buruk. Ada apa dengan para pria di tahun dua ribu dua puluh tiga?!
“Tapi kau jelas-jelas tidak mengungkit soal itu di room chat, di postinganmu juga tidak tertulis begitu.” Gyda mulai kehilangan kesabarannya. Dia menunjuk ponselnya sendiri dan menunjukan bukti bahwa pria itu harus menerimanya karena ini jelas bukan salah Gyda. Menuntut pria itu untuk konsisten terhadap apa yang sudah dia katakan.
“Ya, memang.” Dia mengangguk setuju. “Itu memang kesalahanku, makanya akan aku perbaiki postingan itu nanti saat aku sudah tidak malas lagi,” imbuhnya sambil dengan enteng hendak menutup pintu di depan muka Gyda begitu saja. Membuat kedua mata si gadis kontan membulat.
“Hei, tunggu dulu!” Gyda bersyukur dia memiliki refleks yang bagus sehingga bisa menghentikan pintu sebelum benar-benar tertutup rapat. “Apa maksudnya itu? kau tidak mau menerimaku ?” Nada suara Gyda kini agak naik.
“Ya, aku tidak mau menerimamu,” balasnya ringan tanpa rasa bersalah. Tanpa mempertimbangkan seberapa banyak usaha dan keringat yang telah Gyda keluarkan dari tubuhnya hanya untuk mencapai tempat ini. Dasar pria brengsek!
“Tapi kau sudah setuju untuk membiarkanku tinggal!” Gyda bahkan tanpa sadar sampai menggertakan giginya menahan emosi. Pria bernama Delmar ini lebih menyebalkan dari pada mantan kekasihnya. Sangat tidak berertika dan buruk dalam menghadapi perempuan. “Aku sudah berjalan jauh kemari, berkeringat, dan lelah tapi kau bilang kau akan memperbaiki postinganmu dan mengusirku ? yang benar saja brat!”
“Aku tidak tahu darimana kau berasal, dan apa yang membuatmu sangat memaksa. Ini apartmentku aku yang punya keputusan untuk menerimamu atau tidak. Lagipula aku tidak suka sekamar dengan seorang perempuan,” balasnya lagi dengan nada suara yang tegas.
“Like hell, aku juga benci sekamar dengan seorang pria. Aku muak dengan kalian para jantan bajingan!”
“Kalau begitu kita sama,” sahut Delmar dengan santai kemudian kembali menarik pintunya lagi untuk dia tutup sepenuhnya. “Selamat tinggal, hati-hati di jalan.”
Sekali lagi Gyda menghentikan aksi yang hendak di tuntaskan oleh si pemuda. Membuat pria itu mendesah kencang di depan mukanya. “Tapi aku lebih benci tidak punya tempat tinggal.”
Dia melonggarkan pegangannya pada pintu, kemudian angkat bahu tanpa empati. “Itu urusanmu, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk itu.”
“Oh ya? Sebenarnya ada.” Gyda tersenyum manis sebanyak yang dia bisa. Lalu ketika pria itu tidak fokus Gyda kemudian menghantamkan koper yang dia bawa pada Delmar tanpa ampun lalu mengambil kesempatan itu untuk merangsek masuk saat Delmar mengaduh kesakitan akibat ulahnya. “Permisi, aku masuk ya. Terima kasih sudah mengijinkanku tinggal disini,” ujar Gyda setelah dia masuk kemudian duduk santai di sofa milik Delmar dengan super santai seolah dia adalah pemilik rumah sebenarnya.
“Hei! Kau tidak diterima disini!”
***
“Kurasa sekarang kita harus mulai mengatur segalanya,” tutur gadis itu tanpa rasa bersalah setelah menyuruh Delmar menyajikan teh hangat untuknya.
Delmar merasa bahwa dia baru saja mengalami pembajakan, mengingat bagaimana cara gadis itu masuk ke rumahnya nyaris mirip dengan sebuah perampokan alih-alih memohon untuk tinggal. Delmar hanya bisa pasrah dan mendudukan dirinya dengan tenang di kursi sebrang si gadis, bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa dia malah jadi mengikuti alur yang di buat oleh orang asing ini dan membiarkan dia merajai semua hal di dalam kediamannya sendiri.
Apakah karena dia seorang perempuan? Ataukah karena kasihan? Ya, bisa jadi. Terlebih ketika dia sadar hari sudah gelap di luar. Meski malas meladeni perempuan tapi karena mereka terus berdebat sejak tadi. Maka keputusan untuk mengusirnya dan membiarkan dia berkeliaran diluar rasanya tidak etis. Salahkan didikan dari sang ayah yang memintanya untuk menghormati perempuan. Walaupun sebenarnya dia sempat hampir melupakan wejangan tersebut tadi. Namun sekarang haruskah dia menyesal karena memilih menjadi seorang lelaki gentleman? Ya, Delmar sangat menyesalinya.
“Pengaturan apa maksudmu?” Delmar berucap, melupakan fakta bahwa dirinya bisa mengetahui banyak hal. Tapi terkait perempuan ini dia tiba-tiba merasa bahwa otaknya tersendat begitu saja.
Si gadis tersenyum padanya lagi sebelum memberikan jawaban, “Untuk hidup bersama, tentu saja.”
“Hold it right there.” Delmar langsung mengangkat tangannya, dia jelas tidak menyukai gagasan yang baru saja di ujarkan si gadis padanya. Tidak. Kebaikannya bukan untuk di manfaatkan seperti ini. Delmar tidak bisa terima. “Aku memang setuju dan bilang padamu bahwa aku menerimamu sebagai teman sekamarku. Tapi bukan ini akhir yang aku harapkan.”
“Tapi intinya kau setuju aku tinggal bersamamu dan itu sudah cukup,” balas Gyda tidak ingin kalah.
“Kau masuk secara paksa, lalu aku bermurah hati setelahnya mempertimbangkan apa yang mungkin terjadi padamu di luar sana. Tapi setuju yang aku maksud adalah aku membiarkanmu tinggal disini hanya untuk menginap satu malam saja,” sergah Delmar.
Untuk saat ini dia betulan merasa kesal. Sudah dipukul dengan koper, rumahnya dibajak, sekarang gadis itu bahkan ingin tinggal dengannya untuk waktu lama. Tidak bisa. Delmar jelas tidak bisa diam saja. Karena itu, sebelum segalanya jadi tambah lebih buruk. Delmar lantas menuntut pada si gadis untuk mengerti bahwa dia tidak menerimanya seperti statement awal yang dia ujarkan, “Kamu harus mencari tempat bernaung lain besok pagi. Aku sangat yakin ada banyak rumah yang tersedia di luar sana.”
“Aku ragu bisa menemukan yang lebih baik. Lagi pula, kenapa kau sebegitu tidak sukanya aku disini? tempatmu luas dan sangat sempurna untuk ditinggali oleh dua orang. Faktanya juga tempat ini sangat dekat dengan pusat keramaian daripada di rumah lamaku. Hanya beberapa blok saja dari sini, dan itu bisa di tempuh dengan hanya berjalan kaki,” ungkap gadis itu dengan sangat ceria.
Dia hanya mengambil napas lelah sebelum berucap, “Karena aku tidak suka—” Aneh bagi Delmar untuk berhenti mengucap demi mempertimbangkan perasaan lawan bicaranya. Kenapa harus dia jeda?
“Tidak suka?”
“Tidak suka memiliki teman sekamar seorang perempuan.”
“Terus kenapa? Karena kau gay dan mengharapkan seorang pria untuk tidur bersamamu?”
Delmar langsung terkesiap. Perempuan ini terlalu blak-blakan dan seenaknya mengeluarkan statement. Tapi jika dia berpikir begitu bukankah akan jadi lebih sederhana?
“Sederhana. Perempuan menggangguku, dan aku tidak punya cukup kesabaran untuk menoleransi hal itu.” Delmar tidak mengklarifikasi hal itu dan membiarkan saja gadis itu berpikir demikian tentangnya.
“Nah itu dia mengapa sejak awal aku bilang kita harus mengatur segalanya. Kita butuh sebuah kesepakatan yang adil dan memiliki kompensasi sepadan jika terjadi hal yang tidak kita sukai,” usul perempuan itu dengan percaya diri seolah dia baru saja menemukan sebuah penemuan baru yang berguna untuk seluruh kehidupan.
“Cara bicaramu seperti seorang ahli.”
“Aku bisa bilang begitu karena sebelumnya teman sekamarku juga laki-laki gay juga.” Nada suara perempuan itu tiba-tiba agak berubah sebal ketika mengatakannya.
Delmar hanya menaikan sebelah alisnya, meski heran dengan perubahan itu tapi itu bukan urusannya untuk bertanya. “Lalu tindakan terbaikmu?”
“Kita bisa berpikir seolah kita berdua tidak saling melihat satu sama lain. Maksudku kita tidak perlu saling menganggap bahwa kita berdua ada di tempat yang sama,” jawabnya cepat.
“Mudah bagimu untuk mengatakannya,” timpal Delmar sambil mendecakan lidahnya.
“Akan lebih mudah bila langsung di praktekan,” saran perempuan itu cepat seolah dia tidak ingin kalimat yang keluar dari bibirnya di potong sama sekali. “Ayolah, setidaknya beri aku waktu untuk tinggal disini, sementara aku mencari tempat tinggal lain yang lebih sempurna dari milikmu ini. Ini permohonanku yang paling tulus, aku benar-benar sedang putus asa saat ini,” pungkas perempuan itu lagi sambil memperlihatkan ekspresi yang sulit di mengerti. Tapi meski begitu Delmar tahu bahwa dia tidak sedang mencoba membohongi.
Kini pikiran pria itu dipaksa untuk berpacu. Dia harus memilih antara emosionalnya sendiri ataukah logikanya.
“Selama kau disini aku akan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Bagaimana dengan penawaranku yang satu itu?” tawar perempuan itu lagi. Kali ini Delmar sudah sangat yakin bahwa dia benar-benar putus asa sungguhan.
“Kau bisa melakukan semuanya? Mencuci, memasak, bersih-bersih, buang sampah, dan belanja?” Delmar memang pada dasarnya butuh pembantu untuk melakukan pekerjaan rumah.
“Tentu bisa selama pembagian pembayaran uang sewanya cukup adil dan aku memiliki privasi yang cukup. Why not?”
Mungkin ini bisa berhasil, mungkin negosiasi ini akan menguntungkannya, mungkin juga pertemuannya dengan perempuan aneh ini bukanlah sebuah pertanda buruk atau barangkali perempuan ini betulan malaikat yang di kirimkan untuknya? Delmar rasa dia sudah gila untuk meyakini yang terakhir itu meskipun hanya di kepalanya.
“Delmar Armanath.” Dia mengulurkan tangannya pada si tamu asing yang telah memberikan penawaran menarik.
Perempuan itu menerima uluran tangan tersebut dan menggoyangkannya sebagai tanda kesepakatan, tak lupa dengan senyuman menawan andalannya. “Aku tahu namamu kok, sudah tertulis jelas di akunmu.” jawabnya yang membuat Delmar mendecak sebal.
“Tapi aku tidak.”
“Gyda Lagherta,” tuturnya halus. Entah mengapa dia senang mendengar namanya. Terdengar catchy.
Tanpa sadar Delmar bahkan berceletuk ria tanpa pikir panjang, “Nama yang bagus.”
“Pemberian ayahku, dia menyukai film tentang Vikings lalu mengambil nama itu dari tokoh favoritnya,” jelas Gyda yang padahal Delmar tidak memintanya memberitahunya sesuatu seperti itu.
Delmar hanya menganggukan kepalanya, “Ah, aku bisa mengerti, sangat mencerminkan dirimu sekali.”
“Memangnya apa?” tanya Gyda yang malah penasaran.
“Nope.”
Setelah perbincangan singkat itu kini Gyda melirik kesana kemari. Dia seperti mencari sesuatu dari ruangan di apartment sempurnanya. “By the way, apa ini kamarku?” Dengan mudahnya Gyda bangkit dari posisinya meraih satu pintu yang adalah ruangan pribadi teman sekamar lamanya yang kebetulan masih ditempeli poster-poster nude tubuh wanita. Sial, Delmar belum sempat membereskannya. Bisa gawat bila dia melihat!
“Jangan buka pintu itu!”
Anda Mungkin Juga Suka





