Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Cinta, Ternyata Dusta!

Bukan Cinta, Ternyata Dusta!

Demi menyelamatkan suaminya di masa lalu, wanita ini rela membiarkan kakinya hancur terlindas. Namun, ia justru dibenci mertua, dibuang orang tua, dan akhirnya dibunuh secara keji oleh suaminya sendiri yang ternyata hanya memanfaatkan penderitaannya demi meraup puluhan miliar di internet. Saat mendapat kesempatan kedua dan kembali ke waktu tepat sebelum kecelakaan mobil itu terjadi, ia memilih untuk tidak lagi menjadi tameng. Kali ini, ia hanya menonton dengan tatapan dingin tanpa berniat menolong.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Aku membawa mas kawin 340 juta, enam toko, dan 30-an perhiasan emas. Semuanya telah kamu gunakan untuk membayar utang. Nggak masalah kalau kamu nggak suka sama aku. Kembalikan semua barang-barangku, aku akan pergi sekarang juga."

Para kerabat terkejut mendengar hal itu. "Benaran sebanyak itu? Pantas saja kalian tiba-tiba jadi sukses, ternyata punya menantu kaya."

Wajah mertuaku langsung berubah pucat. "Utang apanya? Mas kawin apaan? Semua itu cuma bohongan, kalian jangan percaya sama ucapannya."

Aku membalasnya, "Nggak masalah kalau kamu nggak mau ngaku, kita bicarakan saja ke kantor polisi."

Mendengar ucapanku, ekspresi mertuaku langsung berubah. "Jalang, kalau sudah nikah, berarti kamu sudah jadi keluarga kami. Memangnya kenapa kalau kami pakai sedikit uangmu?"

Para kerabat mengangguk. "Ya, sudah jadi sekeluarga, nggak perlu dibeda-bedakan lagi masalah uang."

Pada saat ini, pintu ruang operasi terbuka dan suamiku didorong ke kamar perawatan. Mertuaku langsung bergegas bertanya, "Gimana kondisi anakku?"

Sama seperti nasibku di kehidupan sebelumnya, kedua kaki suamiku diamputasi dan menjadi cacat sekarang. Wajah mertuaku pucat pasi. Dia menoleh padaku dan hendak memukulku.

"Jalang sialan, semua ini gara-gara kamu. Kalau bukan karena kamu mau keluar rumah, mana mungkin anakku jadi begini? Dasar pembawa sial! Anakku benar-benar sial menikahimu!"

Saat mertuaku akhirnya pingsan setelah memaki-makiku, aku hanya menatap suamiku yang berbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah pucat dan mertuaku yang pura-pura pingsan. Kemudian, aku melangkah keluar dari rumah sakit menuju toko milikku.

Biaya operasi mencapai 40-an juta dan biaya inap harian sebesar jutaan rupiah. Kini mereka bahkan masih berharap aku yang membayar semuanya? Tidak mungkin.

Dulu, ketika bisnis toko mulai menurun, aku ingin mencari peluang lain. Namun, suamiku menyuruhku untuk bekerja di luar. Sekarang aku masih bekerja di pabrik dan berjuang mati-matian lembur untuk gaji enam juta per bulan. Dari gaji itu, aku hanya menyisakan sejuta untuk kebutuhan makan, sementara sisanya semuanya diambil oleh suamiku.

Dengan membawa kontrak toko, aku tiba di sana dan melihat para pegawai tampak malas-malasan. Bahkan, ada beberapa karyawan yang tertidur. Aku langsung melunaskan gaji mereka dan memecat semuanya.

Pada saat itu, mertuaku menelepon dan memarahi dengan nada tajam, "Jalang sialan, ke mana kamu? Cepat kembali untuk bayar biaya rumah sakit!"

Aku membalas dengan nada dingin, "Nggak ada uang!"

Mertuaku tertawa sinis, lalu memerintahkan, "Kalau nggak punya uang, pinjam saja dulu gaji beberapa bulan sama bosmu."

Dulu, aku pernah mengalami hal yang serupa. Namun pada akhirnya, suamiku dan mertuaku berpura-pura tidak tahu. Mereka menyangkal bahwa mereka pernah menyuruhku meminjam uang. Aku pun harus merelakan dua juta dari gajiku untuk melunasi utang itu setiap bulan. Akibatnya, jumlah yang kuberikan untuk keluarga berkurang dua juta setiap bulannya.

Suamiku sempat memprotes, "Kamu cukup nyisain sejuta saja untuk keperluan rumah tangga, untuk apa ambil uang sebanyak itu?"

Saat mengungkit soal utang itu, suamiku pura-pura bodoh. "Memangnya ada?"

Mertuaku bahkan menuduhku berselingkuh dan memberikan uang pada pria lain. Sekarang mereka ingin aku berutang lagi? Aku hanya tertawa sinis dan langsung menutup telepon.

Aku merombak toko sepenuhnya, mempekerjakan staf baru, dan mengubah konsepnya dari toko pakaian menjadi tempat yang menjual camilan. Sebelum menikah, toko-toko milikku adalah kedai teh susu, sarapan pagi, dan camilan yang selalu ramai.

Namun setelah menikah, semua toko itu dijual atau diubah konsepnya dan bisnisnya terus menurun. Berkali-kali aku memberikan saran, tetapi suamiku selalu mengabaikannya. Ketika aku bersikeras, dia justru memarahiku, mengatakan bahwa bisnis adalah urusan pria.

Keesokan harinya, suamiku memintaku datang ke rumah sakit. Dengan tampang pucat dan lemah, dia menggenggam tanganku dengan erat dan menatapku dengan penuh kasih.

"Chelsea, keluarga kita sekarang benar-benar kekurangan uang, apalagi setelah kejadian ini. Bsa nggak kamu minjam uang dari pabrik?"

Mertuaku yang sedang memakan kuaci di samping, tertawa sinis sambil menimpali, "Jalang sialan itu langsung menghilang kemarin. Dasar nggak tahu terima kasih."

Siapa sebenarnya yang tidak tahu berterima kasih?

Suamiku memarahinya dengan suara pelan, "Ibu, jangan bilang Chelsea begitu."

Mertuaku tertawa sinis, lalu terdiam. Aku langsung menarik kembali tanganku dan menatap kedua orang itu dengan intens.

Mereka benar-benar kompak memainkan peran masing-masing. Kenapa dulu aku bisa berpikir bahwa suamiku benar-benar berada di pihakku? Ternyata semua itu hanya sandiwara. Yang satu berpura-pura baik, yang satu lagi bersikap kasar untuk mempermainkanku.

Aku menanggapi dengan dingin, "Sudah kutanya, nggak bisa pinjam. Bukannya kamu yang nyimpan semua uangku dulu?"

Suamiku mengerutkan alisnya, "Uang itu bahkan nggak cukup untuk keperluan sehari-hari."

Dia sepertinya lupa saat aku jatuh sakit dan tidak punya uang untuk berobat, aku harus meminta padanya hanya untuk mendapatkan sedikit uang. Saat itu, dia berkata, "Cuma demam, 'kan? Cukup oleskan minyak gosok dan minum obat flu saja. Uang susah dicari!"

Jadi, aku terpaksa meminjam dari teman-temanku.

Saat ini, dia berkata dengan nada memerintah, "Kalau nggak bisa pinjam dari pabrik, kamu pinjam saja dari orang tuamu atau temanmu. Bilang saja kita pasti akan bayar."

Aku tertawa mendengarnya. Tentu saja dia akan membayar ... dengan uangku. Dulu, uang yang kudapatkan setiap bulan akan langsung menjadi miliknya. Ketika dulu aku meminjam enam juta dari teman untuk kebutuhan mendesak, utang itu tidak bisa dibayar bahkan setelah setahun berlalu.

Saat aku menanyakannya pada suamiku, jawabannya selalu sama ... tidak ada uang. Padahal temanku sedang membangun rumah dan membutuhkan dana itu, tetapi dia tak peduli.

Aku terpaksa mengambil pekerjaan tambahan. Setiap kali pulang kerja, aku langsung terkapar kelelahan di tempat tidur. Ketika gaji dibagikan, suamiku ingin mengambilnya. Namun, aku berkata bahwa uang itu untuk melunasi utang pada teman.

Suamiku hanya bilang aku bisa menyimpannya dulu sampai jumlahnya cukup. Namun, akhirnya kami bertengkar selama berhari-hari, sampai akhirnya aku menyerah dan menyerahkan uang itu padanya. Tidak cukup sampai di sana, aku pun terkena sindiran pedas darinya.

Setelah jumlahnya terkumpul, dia menghitung uang yang sebelumnya kupinjamkan untuknya, lalu berkata padaku, "Aku nggak perlu diingatkan untuk membayar utang." Setelah itu, dia memberikan uang itu padaku, lalu menyuruhku untuk melunasinya pada teman.

Sekarang setelah para kerabatnya tidak ada yang mau meminjamkan uang, dia kembali berharap padaku. Aku menatapnya dengan dingin dan berkata, "Nggak ada uang!"

Suamiku terkejut, memandangku dengan tatapan penuh tuduhan, "Kamu sudah berubah."

Mertuaku berseru dengan marah, "Kamu nggak mau minjamin uang, jadi kamu rela melihat anakku mati?" Lalu, dia langsung duduk di depan pintu kamar rumah sakit sambil meratap, "Ya Tuhan, kenapa keluarga kami bisa punya menantu seperti ini?"

Ratapan kerasnya menarik perhatian para perawat. Salah satu perawat mendekat dan bertanya, "Ada apa ini?"

Mertuaku menangis, "Menantuku ini nggak mau bayar biaya rumah sakit!"

Tatapan para perawat segera tertuju padaku. Aku menghela napas, lalu menjelaskan, "Maaf, tapi setiap bulan aku cuma menyisakan sejuta untuk kebutuhan rumah tangga. Selebihnya semuanya kuserahkan pada suamiku. Jadi, aku benar-benar nggak punya uang lagi."

Mendengar itu, mertuaku segera menyembur dengan kata-kata kasar, "Gaji segitu nggak ada artinya! Kalau nggak ada uang, pinjam saja. Jangan pura-pura nggak bisa."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "B51645" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B51645
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikah, Tapi Bukan Untuk Dicintai
9.6
Terdesak utang, Lana menerima tawaran Valerie untuk menggoda ayahnya, Cedric Vellani, demi membatalkan pernikahan pria kaya itu dengan wanita pemburu harta. Namun, Cedric yang dingin tak mudah ditaklukkan. Lana justru terjebak dalam pesona sang target hingga hubungan transaksional mereka berubah jadi perasaan terlarang. Saat Valerie merasa dikhianati, Lana harus memilih antara uang atau cinta yang berawal dari kebohongan. Akankah ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Bodyguard Seksi
9.7
Asalina tidak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir sebagai pelindung pribadi bagi seorang CEO yang sangat angkuh. Namun, sebuah insiden tak terduga memaksanya untuk terjebak dalam situasi sulit tersebut. Tanpa pilihan lain, ia terpaksa menandatangani kontrak perjanjian kerja yang mengikatnya dengan sang miliarder. Kini, Asalina harus menghadapi sikap arogan atasannya setiap hari demi memenuhi kewajiban yang telah ia sepakati secara resmi.
Sampul Novel Dikejar Mantan Posesif
9.6
Tujuh tahun silam, Farel Zay Amanta mendadak lenyap dari hidup Refa Aletta Zafana tanpa sepatah kata pun. Kepergian misterius itu meninggalkan luka mendalam bagi Refa. Kini, Farel kembali hadir secara tak terduga dengan sikap yang sangat posesif. Tanpa memedulikan masa lalu mereka yang penuh tanda tanya, pada pertemuan pertama setelah sekian lama, Farel langsung melontarkan tuntutan mengejutkan agar Refa segera menjadi istrinya saat itu juga.
Sampul Novel Jangan Lari Sayangku
9.1
Sanny Chandra mengira pernikahannya dengan Jordan Wijaya hanyalah kontrak sementara yang berakhir dengan perceraian. Namun, setelah menikah, Jordan yang semula dingin berubah menjadi suami yang sangat posesif dan memanjakan istrinya. Sanny terjebak saat Jordan melanggar janji dengan menuntut kewajiban batin hingga ia hamil. Saat Sanny menagih janji cerai dan surat kontrak yang dirobek, Jordan dengan tegas menolak melepaskan istri yang telah ia dapatkan.
Sampul Novel Maria
9.3
Kebodohan masa lalu menghancurkan seluruh harapan Maria. Setelah dikhianati kekasihnya, ia harus menghadapi penderitaan berat karena hamil di luar nikah tanpa tanggung jawab pria tersebut. Tragedi ini kian memilukan saat kedua orang tuanya wafat, tak kuasa menahan beban malu akibat cemoohan orang sekitar. Kini Maria terjebak dalam nestapa, berjuang sendirian di tengah hancurnya martabat keluarga yang telah hilang akibat kesalahan fatalnya.
Sampul Novel Penyesalan Ibu setelah Aku Mati
8.1
Ketika seorang gadis meregang nyawa di tangan pembunuh keji di rumah sebelah, sang ibu justru mengabaikan panggilan daruratnya demi menemani sang adik yang bersiap ujian. Menganggap permohonan tolong putrinya sebagai kebohongan belaka, ia menutup telepon dengan makian. Tiga hari berselang, sebuah kasus pembunuhan sadis terungkap. Sebagai ahli forensik, ibu tersebut diminta memeriksa sesosok mayat tanpa kepala di meja autopsi, tanpa menyadari bahwa jasad yang ia bedah adalah putri yang selalu ia benci.