Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

Adhitama terpaksa menikahi Riani, seorang janda yang asing baginya, demi kepentingan keluarga. Adhit bersikap dingin untuk menjaga jarak, namun ketenangan Riani tak tergoyahkan. Keadaan berbalik saat sebuah tragedi membuat Adhit rapuh dan Riani setia merawatnya tanpa pamrih. Perhatian Riani mulai meluluhkan hati Adhit hingga rasa cemburu pun muncul. Kini, Adhit bertekad meruntuhkan tembok yang ia bangun sendiri demi mendapatkan cinta tulus dari istri yang dulu ia abaikan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Adhit benci akhir pekan. Bukan karena dia anti sosial, tapi karena akhir pekan berarti kewajiban. Dan kewajiban terbesar sekarang adalah memenuhi undangan makan malam di rumah utama, rumah kedua orang tuanya.

Rumah itu terasa seperti ruang interogasi, apalagi sejak dia membawa Riani ke sana sebagai istrinya.

"Kau sudah siap?" Adhit bertanya tanpa menoleh. Dia sedang mengancingkan manset di pergelangan tangannya.

Riani keluar dari kamar tamunya. Hari ini dia mengenakan dress selutut berwarna abu-abu muda, sangat sederhana. Tidak mencolok, tapi tetap elegan. Itu membuat Adhit sedikit lega. Dia tidak perlu khawatir Riani akan mencoba menarik perhatian berlebihan.

"Sudah, Mas Adhit," jawab Riani. Dia berdiri di ambang pintu, menunggu.

"Ingat aturannya," Adhit mengingatkan, suaranya tajam. "Ini panggung sandiwara terbesar kita. Ibu akan mengawasimu, mengawasi setiap gerak-gerikmu. Jangan sampai kau membuatku terlihat bodoh, atau membuat diriku semakin terpojok soal warisan."

Riani mengangguk. "Aku tahu tugas sandiwaraku. Senyum, pegangan tangan, angguk."

Ada sedikit nada lelah di suara Riani, atau mungkin itu hanya perasaan Adhit saja. Tapi kelelahan itu cepat hilang, digantikan oleh ekspresi tenang yang menyebalkan.

Di perjalanan, mobil terasa hening mencekam. Adhit sibuk dengan pikirannya sendiri, memikirkan bagaimana cara menghadapi ibunya, Sasmita, yang pasti sudah menyiapkan rentetan pertanyaan jebakan. Ibunya adalah seorang master dalam seni manipulasi emosional.

"Mas Adhit," Riani tiba-tiba memecah keheningan.

Adhit menoleh, sedikit terkejut. "Apa?"

"Apa yang harus aku katakan jika Ibu bertanya tentang... tentang kamar?"

Adhit menatap Riani, matanya menyipit. "Apa? Kau takut melanggar aturan yang sudah kubuat?"

"Aku hanya memastikan skenario kita sinkron. Aku tidak ingin jawaban yang bertentangan dengan ceritamu di depan Ibu. Itu bisa merusak citra pernikahan ini," jelas Riani, suaranya praktis dan logis.

Adhit merasa seperti baru saja dikritik oleh manajer proyek. "Bilang saja kita masih penyesuaian. Bilang saja aku... aku terlalu sibuk dengan kantor, tapi kau sabar menunggu. Itu terdengar manis dan pasrah, kan?"

"Baik. Penyesuaian, sabar menunggu. Aku catat," Riani mengangguk, lalu kembali menatap ke luar jendela.

Jawaban itu membuat Adhit makin kesal. Kenapa dia harus mencatat seperti sedang menghadiri rapat dewan direksi? Kenapa dia tidak sedikit saja terlihat emosional?

Setibanya di rumah utama, suasana langsung terasa hangat-terlalu hangat. Begitu masuk, Riani langsung disambut pelukan erat dari Ibu Sasmita.

"Oh, Sayang! Akhirnya kamu datang. Kamu tahu, Ibu senang sekali kamu sekarang jadi menantu Ibu. Kamu membawa ketenangan," ujar Ibu Sasmita, memeluk Riani erat-erat, seolah Riani adalah anak perempuannya yang hilang.

Adhit memutar bola mata. Tentu saja, Riani membawa ketenangan. Karena Riani itu selembar kertas kosong yang bisa diisi dengan harapan dan manipulasi.

Adhit hanya menyapa ayahnya, Pak Dirgantara, dengan anggukan kaku. Pak Dirgantara hanya tersenyum tipis, matanya mengawasi Adhit dan Riani secara bergantian.

Di meja makan, sandiwara pun dimulai. Riani duduk di samping Adhit. Tangan Riani berada di pangkuannya, tapi setiap kali Ibu Sasmita melihat, Riani dengan cepat meletakkan tangannya di atas tangan Adhit yang tersembunyi di bawah meja. Sentuhan itu sangat singkat, hanya tekanan kecil, tapi cukup untuk menjaga ilusi. Adhit merasa jijik.

Pertanyaan-pertanyaan dimulai begitu hidangan pembuka selesai.

"Riani, kamu suka masakan Ibu? Ibu sengaja masak sup tom yam karena Adhit bilang kamu suka masakan pedas," tanya Ibu Sasmita, tersenyum manis.

Adhit hampir tersedak. Dia tidak pernah tahu makanan kesukaan Riani. Dia bahkan tidak pernah bertanya.

"Sangat enak, Bu. Mas Adhit bilang Ibu pandai sekali memasak," jawab Riani, melirik Adhit sekilas dengan senyum paling meyakinkan.

Adhit hanya bisa mengangguk kaku, mendadak menjadi suami yang perhatian. Ia menyadari betapa mudahnya Riani mengisi kekosongan informasi tentang mereka.

Lalu, datanglah serangan utama. Ibu Sasmita menurunkan garpunya, tatapannya beralih dari Riani ke Adhit, lalu kembali ke Riani dengan tatapan penuh harapan.

"Sayang, Ibu tidak ingin memaksa, tapi kalian kan sudah menikah. Warisan itu... ya, Ibu tahu itu urusan perusahaan, tapi Adhit butuh keamanan. Kami berdua berharap, kalian bisa segera memberikan cicit untuk kami."

Jantung Adhit berdetak kencang. Ini dia. Pertanyaan yang paling ia takuti. Itu berarti, Ibu tahu mereka belum... belum melakukan apa-apa.

Adhit sudah siap membuka mulut, mencari alasan klise seperti "masih sibuk," atau "belum siap," tapi Riani mendahuluinya.

"Ibu, terima kasih atas doanya," ujar Riani, suaranya tetap lembut, tidak defensif sama sekali. Dia bahkan meraih tangan Ibu Sasmita di meja, tindakan yang membuat Adhit terpaku.

"Aku mengerti harapan Ibu dan Bapak. Tentu saja, aku juga ingin itu terjadi. Tapi Mas Adhit, dia pria yang sangat menghargai perasaanku. Dia tahu aku baru saja kehilangan, dan dia tidak mau terburu-buru. Dia bilang, dia mau aku benar-benar siap, secara mental dan emosional, sebelum kami melangkah lebih jauh."

Riani berhenti sejenak, menatap Adhit dengan mata penuh adorasi palsu yang membuat Adhit ingin mencekiknya di tempat.

"Mas Adhit adalah pria yang sangat menghormati. Dan aku sangat menghargai kesabarannya. Kami sedang dalam tahap penyesuaian, Bu. Tolong doakan saja agar semuanya berjalan lancar, ya?"

Boom.

Riani telah membalikkan keadaan. Dia tidak hanya menangkis pertanyaan itu, tetapi dia juga mengubah Adhit menjadi suami yang sangat baik, penuh pengertian, dan menghormati. Alih-alih menyalahkan Riani, Ibu Sasmita justru menatap Adhit dengan bangga.

"Oh, Adhit! Ibu tidak menyangka. Syukurlah kalau kamu bersikap dewasa seperti itu, Nak," ujar Ibu Sasmita, matanya berkaca-kaca.

Ayah Adhit tersenyum, mengangguk. "Ya, bagus Adhit. Itu yang namanya menghormati pasangan."

Adhit ingin berteriak bahwa ini semua bohong, bahwa Riani hanya memainkan peran drama yang sempurna. Tapi ia terjebak. Ia tidak bisa membantah. Jika ia membantah, itu berarti ia mengakui bahwa ia adalah pria dingin yang tidak menghormati Riani. Skenario Riani membuatnya terlihat sebagai pahlawan, dan jika ia melawan, ia akan terlihat seperti pecundang.

Rasa marah Adhit tidak tertuju pada Ibunya, tapi pada Riani. Wanita ini benar-benar lihai. Dia menggunakan aturan Adhit (yaitu menjaga jarak) untuk menjadikannya pria terhormat di depan keluarganya.

Sisa makan malam terasa menyiksa bagi Adhit. Setiap kali Riani berbicara, setiap kali dia tertawa kecil menanggapi lelucon Ayah, Adhit merasa Riani adalah alien yang memakai kulit manusia. Ia terlalu pandai bermain peran.

Saat mereka akhirnya pamit pulang, Ibu Sasmita memeluk Riani sekali lagi. "Kamu itu memang menantu terbaik, Riani. Sabar, pengertian, dan lembut. Tolong jaga Adhit baik-baik, ya."

Riani hanya tersenyum dan mengangguk.

Di dalam mobil, begitu pintu tertutup, suasana dingin kembali memenuhi ruang. Adhit menatap lurus ke depan, tapi rahangnya mengeras.

"Kenapa kau bilang begitu?" desis Adhit, suaranya rendah dan berbahaya. "Kenapa kau harus berbohong bahwa aku menghormatimu?"

Riani menoleh, ekspresinya kembali tenang. "Aku hanya mengikuti instruksimu, Mas Adhit. Sandiwara harus sempurna, bukan?"

"Itu namanya manipulasi, Riani! Kau membuatku terlihat seolah-olah aku pria suci yang sangat menghormatimu! Sementara kau tahu sendiri, aku melakukan ini karena aku tidak mau menyentuhmu!"

"Aku hanya menggunakan kebenaran yang sudah kau deklarasikan di Bab 1," balas Riani, nadanya santai. "Kau yang membuat aturan jarak, Mas Adhit. Dan di depan Ibu, aku hanya membenarkan aturan itu dengan alasan yang lebih diterima masyarakat: rasa hormat dan empati karena masa laluku."

Adhit membanting tangannya ke konsol mobil, tapi ia segera mengendalikan diri. Pengemudi mereka mungkin bisa mendengar.

"Kau sengaja membuatku terjebak, kan? Kau ingin Ibu melihatku sebagai pria yang baik agar kau mendapat simpati dan posisi yang kuat!" tuduh Adhit, matanya menembus Riani.

Riani menggeleng pelan. "Aku tidak butuh simpati, Mas Adhit. Aku butuh ketenangan. Jika Ibu percaya bahwa kau bersikap baik padaku, maka Ibu tidak akan terlalu sering mengganggu kita untuk urusan anak. Bukankah itu juga menguntungkanmu? Kau tidak perlu dipaksa untuk tidur denganku."

Kata-kata Riani menusuk Adhit telak. Riani memang benar. Dengan membuat Adhit terlihat baik, Riani sebenarnya melindungi batas yang telah mereka sepakati. Dia melindungi dirinya dari intervensi, yang secara otomatis melindungi Adhit dari tuntutan konsumasi.

Namun, Adhit tidak bisa menerima bahwa ia 'diselamatkan' oleh Riani.

"Jangan berpikir kau bisa mendikteku," kata Adhit keras. "Aku tahu kau punya motif. Warisan itu. Aku tahu kau pasti punya motif tersembunyi untuk hutang budi konyolmu itu."

Riani menarik napas dalam. "Aku tidak peduli pada warisanmu, Mas Adhit. Aku di sini karena Ayahmu. Bukan karena hartamu. Kau bisa memercayainya atau tidak. Itu bukan urusanku. Tugasku hanya satu: menjadi istrimu di depan mata publik sampai batas waktu yang ditentukan, lalu pergi. Dan selama aku di sini, aku akan menjaga kehormatanku sendiri."

Riani menoleh ke jendela lagi. "Lagi pula, bukankah kau yang meminta aku untuk 'membuat diriku tidak terlihat'? Dengan membuat alasan bahwa kau menghormatiku, aku memastikan tidak ada drama yang menarik perhatianmu. Aku hanya menuruti maumu."

Adhit terdiam. Riani selalu bisa membalikkan keadaan. Setiap kali Adhit menyerang, Riani membalasnya dengan logika dingin yang didasarkan pada aturan yang dibuat Adhit sendiri.

"Mulai sekarang, kau tidak perlu mencoba bersikap manis lagi di depanku," Adhit akhirnya berkata, nadanya lebih lelah daripada marah. "Itu membuatku mual."

"Aku tidak pernah mencoba bersikap manis, Mas Adhit. Aku hanya bersikap sopan," Riani mengoreksi. "Sama seperti yang kau lakukan saat berbisnis dengan klien."

Perjalanan pulang terasa sangat panjang dan sunyi. Begitu sampai di rumah, Adhit langsung turun dan naik ke kamarnya tanpa menoleh. Ia benci wanita itu. Ia benci fakta bahwa Riani, dengan ketenangan dan logikanya, membuatnya terlihat kecil. Ia benci bahwa Riani seolah-olah mampu menavigasi kekacauan ini jauh lebih baik daripada dirinya.

Adhit masuk ke kamar, membanting pintu, lalu menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Ia meraih ponselnya, mencari nama Kiara. Ia harus bicara dengan Kiara. Hanya Kiara yang bisa mengembalikan kewarasannya, mengembalikan rasa pentingnya.

Namun, Kiara sedang di luar negeri, menghindari semua drama ini. Adhit merasa sendirian dan terperangkap.

Sementara itu, di lantai bawah, Riani masuk ke kamarnya. Dia melepas dress-nya. Dia tidak langsung menangis, tapi rasa sakit itu ada. Itu sakit, bukan karena Adhit memarahinya, tapi karena Adhit benar-benar tidak melihat ada hal baik sedikit pun dalam dirinya. Dia melihat Riani hanya sebagai musuh yang mencoba mencuri sesuatu.

Riani duduk di depan meja rias. Dia melihat bayangannya. Dia tahu dia sedang melakukan pekerjaan kotor. Menjadi istri palsu adalah pekerjaan kotor. Tapi janji itu terlalu besar untuk dilanggar. Janji pada Pak Dirgantara, janji untuk memastikan Adhit mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Dia mengambil ponselnya, memeriksa pesan. Ada pesan dari seorang temannya.

"Riani, kamu baik-baik saja? Aku dengar kamu menikah. Mendadak sekali. Dengan siapa?"

Riani hanya membalas singkat, "Aku baik. Ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan. Nanti aku cerita."

Dia tidak bisa menceritakan ini pada siapa pun. Tidak ada yang akan mengerti betapa beratnya berada di samping pria yang matanya selalu memancarkan kebencian.

Riani berjalan ke jendela kamarnya. Ia menatap ke luar. Rumah ini terasa seperti penjara emas. Dia punya segala kemewahan, tapi dia tidak punya kehangatan sedikit pun.

Dia kembali teringat saat Ibu Sasmita memeluknya tadi. Pelukan itu terasa tulus. Itu adalah satu-satunya momen nyata hari ini. Dan dia harus melindungi momen itu. Dia tidak ingin merusak kebaikan Ibu Sasmita dengan drama rumah tangga.

Dia berpikir tentang kata-kata Adhit di mobil: "Aku tahu kau punya motif. Warisan itu."

Ya, motifnya ada. Tapi bukan untuk dirinya sendiri. Itu untuk Adhit. Ironisnya, ia berada di sana untuk menyelamatkan Adhit, tapi Adhit justru membencinya karena ada di sana.

Riani menyalakan laptopnya. Dia tidak punya waktu untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Dia harus menyiapkan presentasi untuk pekerjaannya yang ia lakukan secara daring. Dia adalah seorang desainer grafis lepas, dan dia harus terus bekerja. Dia tidak mau mengambil uang Adhit, bukan karena gengsi, tapi karena dia ingin menjadi mandiri. Dia ingin, saat dia pergi nanti, tidak ada satu pun ikatan, finansial atau emosional, yang menahannya.

Saat Riani fokus pada pekerjaannya, di kamar seberang, Adhit tidak bisa tidur. Ia bangkit, menyalakan televisi dengan suara pelan. Pikirannya melayang pada Riani.

Dia tidak bisa mengerti Riani. Wanita itu menolak uangnya, tidak pernah menuntut apa-apa, dan selalu bersikap logis. Adhit sudah terbiasa berhadapan dengan wanita yang mendamba harta atau perhatian. Tapi Riani bukan keduanya.

Kehadiran Riani di hidupnya, yang seharusnya menjadi benalu yang mudah dipotong, justru berubah menjadi perangkap yang cerdas. Perangkap yang membuatnya terlihat baik di mata orang lain, tapi membuatnya merasa bersalah dan tertekan saat sendirian.

Adhit keluar dari kamar. Ia berjalan melewati koridor gelap. Tujuannya adalah dapur, untuk mencari air dingin.

Saat melewati kamar Riani, ia melihat celah cahaya dari bawah pintu. Riani belum tidur.

Ia berhenti di depan pintu itu, telinganya mencoba menangkap suara apa pun. Yang ia dengar hanyalah ketukan lembut jari di keyboard. Riani sedang bekerja.

Adhit merasa aneh. Mengapa Riani harus bekerja jika dia sekarang istri dari Adhitama Dirgantara? Bukankah seharusnya dia menikmati kekayaan ini?

Rasa penasaran mengalahkan rasa benci Adhit. Ia ingin tahu apa yang Riani lakukan di sana, sendirian, setelah menjalani sandiwara pernikahan yang melelahkan.

Ia mengangkat tangannya, ingin mengetuk. Tapi, ia teringat lagi pada peraturannya sendiri. Jangan pernah memasuki kamarku tanpa izinku.

Ia tidak ingin Riani berpikir ia melanggar aturannya sendiri. Ia tidak ingin Riani merasa menang.

Adhit menarik tangannya kembali. Ia melanjutkan perjalanannya ke dapur. Di sana, ia meminum air dingin dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Riani hanyalah wanita biasa, seperti yang lain. Dia hanya pandai menyembunyikan motifnya.

Tapi keheningan dan cahaya dari bawah pintu kamar Riani terus mengganggu pikirannya. Riani, si janda tenang, telah berhasil menciptakan konflik baru: konflik di benak Adhit, yang mulai bertanya-tanya tentang siapa Riani sebenarnya, dan mengapa wanita itu begitu rela mengorbankan diri demi sebuah janji yang tak ia ketahui.

Adhit kembali ke kamarnya, masih tidak bisa tidur. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak hanya marah. Ia mulai penasaran. Dan rasa penasaran itu jauh lebih berbahaya daripada kebencian.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta & Obsesi SANG PSIKOPAT Cantik
9.5
Via terjebak dalam obsesi buta terhadap abangnya, Fatih. Namun, kehadiran Kenan yang telah memujanya sejak SMP mulai menggoyahkan hatinya. Di tengah dilema tersebut, Via menyadari bahwa perasaannya pada Fatih bukanlah cinta sejati. Akhirnya, ia memilih menerima Kenan tanpa menyadari bahwa mereka berbagi kegilaan dan obsesi yang serupa. Akankah ketulusan Kenan mampu menaklukkan sisi gelap Via yang ternyata menyimpan kepribadian seorang psikopat?
Sampul Novel Do You Love Me
9.7
Allia terkejut saat Azzel memintanya menjadi ibu bagi Lia. Sadar akan posisi Azzel yang sudah berkeluarga, Allia memilih mengakhiri hubungan mereka demi kebaikan bersama. Namun, keputusan itu justru memicu kemarahan Azzel yang arogan dan temperamental. Kini, gadis lembut ini terjebak dalam dilema antara rasa cinta dan sikap kasar sang kekasih. Mampukah Allia bertahan menghadapi tekanan dari pria yang tidak mau melepaskannya meski situasi kian rumit?
Sampul Novel HASRAT MEMBARA CEO PERKASA
8.5
Sekuel dari Cintaku Bersemi di Masa Remaja ini mengisahkan Joseph Mikuel, CEO JM Corp, yang tak sengaja bertemu kembali dengan cinta lamanya, Mary Violet. Mary, yang dulu menghilang tanpa penjelasan, tiba-tiba melamar sebagai sekretaris pribadi di perusahaannya. Menggunakan kekuasaannya, Joseph memastikan Mary diterima demi menuntaskan perasaan yang belum usai. Pertemuan tak terduga ini mengejutkan Mary dan memicu tanya: apakah cinta lama mereka bisa bersemi kembali?
Sampul Novel Istri Kedua Tersembunyi
7.9
Raine Alverez terpaksa menjadi istri kedua Leon Castello demi melunasi utang keluarganya. Meski dicap sebagai perusak rumah tangga, ia sebenarnya terjebak dalam perjanjian lama yang diatur sang taipan. Di balik status rahasia itu, Raine harus menghadapi kebencian istri pertama serta cercaan publik. Konflik batin kian memuncak saat ia mulai mencintai Leon. Di tengah intrik dan rahasia besar, Raine berjuang memahami siapa yang benar-benar bersalah dalam pernikahan ini.
Sampul Novel Jerat Cinta Sang CEO
8.9
Terusir dari rumah oleh ayahnya sendiri membuat Emma Karina terdesak hingga akhirnya menyetujui pernikahan kontrak dengan Ethan Marvino. Sebagai CEO penguasa bisnis di Pulau Bali, Ethan sangat protektif dan mengawasi setiap gerak-gerik Emma secara ketat. Namun, stabilitas hubungan mereka terancam saat Emma tidak sengaja mengungkap rahasia besar yang disembunyikan Ethan. Akankah ikatan mereka bertahan setelah kebenaran terungkap atau justru hancur selamanya?
Sampul Novel Kekasih Bayaran
8.1
Demi melunasi utang ibunya, Tiara bersedia menjadi kekasih Adrian Wiratama. Namun, ia justru dicampakkan saat Adrian memilih menikahi tunangannya. Hancur karena hanya dianggap wanita simpanan, Tiara pergi dalam kondisi hamil dan menikahi pria lain demi ketenangan. Sayangnya, hidupnya tetap menderita karena sang suami membenci anaknya. Saat Adrian muncul kembali, ia justru merebut paksa putra Tiara hingga membuat wanita itu nyaris gila dalam kepedihan.