Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

Adhitama terpaksa menikahi Riani, seorang janda yang asing baginya, demi kepentingan keluarga. Adhit bersikap dingin untuk menjaga jarak, namun ketenangan Riani tak tergoyahkan. Keadaan berbalik saat sebuah tragedi membuat Adhit rapuh dan Riani setia merawatnya tanpa pamrih. Perhatian Riani mulai meluluhkan hati Adhit hingga rasa cemburu pun muncul. Kini, Adhit bertekad meruntuhkan tembok yang ia bangun sendiri demi mendapatkan cinta tulus dari istri yang dulu ia abaikan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pekan ini, Adhit harus membawa Riani ke pesta ulang tahun salah satu kolega bisnisnya yang paling berpengaruh, seorang pengusaha properti bernama Pak Herman. Pesta ini penting. Adhit butuh dukungan Pak Herman untuk proyek terbarunya.

Adhit merasa tertekan. Membawa Riani sama saja seperti membawa bom waktu. Ia harus terus waspada, memastikan Riani tidak membuat kesalahan yang merusak citra dirinya.

"Kau harus bersikap sempurna di sana, Riani," pesan Adhit saat mereka di mobil. "Ini bukan lagi soal keluarga. Ini soal jutaan dolar. Kau hanya perlu senyum dan diam. Biarkan aku yang bicara."

Riani, yang sibuk membetulkan letak selendangnya di bahu, menoleh. "Aku tahu etika sosial, Mas Adhit. Aku tidak akan mempermalukanmu."

"Aku harap begitu," Adhit mendengus. "Di sana akan ada banyak orang penting. Dan mungkin... mungkin ada Kiara."

Adhit mengucapkan nama itu tanpa sengaja. Ia menyesal begitu kata itu keluar dari mulutnya. Ia melirik Riani, mencari reaksi.

Riani diam. Hanya ada jeda singkat sebelum ia menjawab.

"Aku mengerti. Aku akan menjaga jarak. Kau fokus saja pada bisnismu," kata Riani. Sama sekali tidak ada nada cemburu, tidak ada nada ingin tahu.

Ketenangan Riani membuat Adhit kesal. Ia berharap Riani setidaknya bertanya, "Siapa Kiara?" atau menunjukkan sedikit rasa tidak suka. Tapi Riani justru bersikap seperti asisten pribadi yang sedang diberi daftar tugas.

Sesampainya di lokasi pesta, ballroom sudah penuh. Adhit dan Riani langsung menjadi pusat perhatian. Adhit yang baru menikah mendadak menjadi topik hangat.

Adhit segera menggenggam tangan Riani erat. Genggaman ini bukan karena ia ingin melindungi Riani, melainkan karena ia ingin memamerkan bahwa pernikahan mereka baik-baik saja, meskipun ia merasa genggaman itu terasa sangat palsu.

Riani membalas genggamannya, dan seperti biasa, ia menampakkan senyum yang memukau-senyum yang menipu seluruh ruangan.

Mereka berkeliling. Adhit memperkenalkan Riani sebagai istrinya. Riani menyambut semua orang dengan sopan dan ramah. Ia tidak banyak bicara, tapi ketika ia bicara, kalimatnya selalu tepat, singkat, dan berkelas.

"Selamat, Adhit. Istrimu cantik sekali," kata Pak Herman, sambil menatap Riani dengan kagum.

"Terima kasih, Pak," jawab Adhit, berusaha terdengar bangga.

Riani tersenyum. "Terima kasih, Pak Herman. Selamat ulang tahun."

Adhit lega. Riani sejauh ini menjalankan perannya dengan sempurna. Terlalu sempurna, malah.

Saat Adhit sedang serius membahas proyek dengan Pak Herman, Riani berdiri sedikit di belakangnya, memberi ruang tapi tetap dalam jangkauan pandangan.

Di tengah obrolan itu, seorang wanita mendekat. Gaunnya mewah, riasannya tebal, dan matanya memancarkan rasa superioritas yang kuat.

"Adhit! Selamat, ya. Aku tidak menyangka," katanya, menyapa Adhit dengan nada yang terlalu akrab, seolah mereka baru saja bertemu kemarin sore.

Adhit menegang. Itu Karina. Wanita yang sempat dekat dengannya setelah Kiara pergi, sebelum ia dijodohkan dengan Riani. Karina adalah tipe wanita sosialita yang suka gosip dan selalu tahu segalanya.

"Karina. Terima kasih," jawab Adhit kaku.

Karina lalu beralih menatap Riani, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan itu adalah tatapan menghakimi yang panjang dan menyakitkan.

"Oh, jadi ini dia? Riani, kan? Kudengar... kau menggantikan pengantin yang seharusnya?" Karina berkata dengan nada tinggi, cukup keras hingga beberapa orang di sekitar mereka melirik.

Adhit merasa wajahnya memanas karena malu. Karina baru saja merusak sandiwara yang ia bangun susah payah.

"Karina, jaga bicaramu," desis Adhit.

Karina tertawa. "Kenapa? Bukankah itu rahasia umum? Aku hanya penasaran, Adhit. Kau yang seorang perfectionist mau menikahi janda yang..." Karina membiarkan kalimatnya menggantung, matanya merendahkan Riani.

Adhit sudah siap membela Riani, bukan karena ia peduli, tapi karena ia tidak mau urusan pribadinya diumbar.

"Karina, Riani adalah istriku. Kami-"

"Aku tahu, Mas Adhit," Riani memotongnya, dengan senyum yang sama sekali tidak hilang dari wajahnya. Riani melangkah sedikit maju, menempatkan dirinya di samping Adhit, bukan di belakang.

Ia menatap Karina lurus-lurus. Tidak ada amarah, tidak ada ketakutan, hanya ketenangan yang mendalam.

"Selamat malam, Karina," kata Riani lembut. "Aku memang istri Mas Adhit. Mengenai masa laluku, aku tidak melihat itu relevan dengan statusku sekarang, atau dengan kebahagiaan kami."

Karina mendengus. "Kebahagiaan? Coba lihat tatapan Adhit padamu. Dia bahkan tidak mau menatap matamu sekarang."

Karina benar. Adhit memang sedang menghindari tatapan Riani karena merasa bersalah dan terpojok oleh situasi itu.

Karina melanjutkan, "Adhit adalah tipe pria yang hanya peduli pada citra. Kalau kamu tidak bisa memberinya image yang sempurna, dia akan bosan. Apalagi kalau kamu cuma 'pengantin pengganti'."

Riani tersenyum lagi. Kali ini, senyum itu sedikit berbeda. Lebih tegas.

"Aku tidak tahu apa yang Mas Adhit ceritakan tentangku padamu. Tapi aku tahu satu hal, Karina," Riani maju selangkah, kini ia lebih dekat ke Karina daripada Adhit.

"Mas Adhit adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Dia pria yang setia pada janjinya. Dan janji pernikahannya sekarang adalah padaku. Dia bisa saja mencari wanita lain dengan image yang sempurna, tapi dia memilih untuk berdiri di sisiku, menghadapi semua gosip. Aku sangat menghargai komitmennya itu."

Riani membalikkan serangan itu lagi. Dia tidak membela dirinya sendiri. Dia membela Adhit, mengubah penolakan Adhit menjadi tanggung jawab dan komitmen di mata orang lain.

Karina terkejut. Dia tidak menyangka Riani akan membalas dengan memuji Adhit.

Adhit, yang mendengarkan di samping Riani, merasa terkejut luar biasa. Riani tidak hanya menangkis. Dia mengubah hinaan menjadi pujian untuk Adhit. Karina kini terlihat seperti wanita jahat yang mengganggu pasangan bahagia.

"Tentu saja Mas Adhit mencintaiku, Karina. Kenapa tidak? Aku memberikan ketenangan yang dia butuhkan, bukan drama yang dia hindari," Riani mengakhiri, dengan nada yang begitu meyakinkan.

Karina terdiam, wajahnya merah. Dia merasa kalah dalam permainan kata-kata ini. "Baiklah. Aku hanya berharap kebahagiaan itu bertahan lama," ujarnya sinis, lalu berbalik pergi dengan langkah cepat.

Semua orang yang mendengar percakapan itu kembali ke urusan masing-masing, tapi bisik-bisik yang tersisa adalah kekaguman pada Riani, dan rasa malu pada Karina.

Adhit menatap Riani. Ia menarik Riani menjauh dari kerumunan, menuju sudut yang lebih sepi.

"Apa-apaan itu?" tanya Adhit, nadanya tidak lagi marah, tapi benar-benar bingung.

"Aku hanya menjalankan sandiwara, Mas Adhit. Seperti yang kau minta. Sandiwara yang sempurna. Karina mencoba merusak citramu di depan Pak Herman," jelas Riani, tanpa menganggap tindakannya itu luar biasa.

"Kau tidak perlu membelaku! Dan kau tidak perlu berbohong bahwa aku mencintaimu!"

"Aku tidak berbohong, Mas Adhit. Aku hanya memilih kata-kata. Aku bilang kau setia pada janji dan bertanggung jawab. Itu benar, kan? Kau setia pada janji Ayahmu dan bertanggung jawab atas pernikahan ini. Dan kau bisa lihat, hasilnya efektif," Riani menunjuk ke arah Pak Herman yang sedang melihat mereka dengan senyum mengangguk.

"Kau..." Adhit kehabisan kata-kata. Riani memang tidak berbohong. Dia hanya memutar fakta untuk keuntungannya-atau keuntungan Adhit.

"Satu lagi," Riani melanjutkan, matanya menatap Adhit dengan serius. "Jika kau tidak ingin orang lain merusak citra kita, kau juga harus berhenti bersikap dingin di depan umum. Aku membela citramu, tapi kau berdiri di sana seperti ingin lari. Itu justru memancing kecurigaan."

Riani memimpin, membalikkan keadaan lagi. Adhit, sang pemberi perintah, kini menerima kritik atas penampilannya di panggung sandiwara.

"Aku harus bertemu Pak Herman lagi. Kau ikut denganku. Dan kali ini, tunjukkan sedikit kehangatan di wajahmu. Setidaknya, berpura-puralah," perintah Riani.

Adhit merasa ada dorongan aneh untuk mematuhi Riani. Ia tidak bisa membantah logika Riani. Riani telah mempertaruhkan dirinya untuk menyelamatkan reputasi Adhit.

"Baik," Adhit berdesis. "Tapi jangan anggap ini kemenangan."

"Tidak ada kemenangan di sini, Mas Adhit. Hanya bisnis yang harus diselesaikan," jawab Riani, kembali memasang senyumnya.

Mereka kembali ke Pak Herman. Adhit mencoba tersenyum-senyum yang terasa kaku di wajahnya. Riani dengan lembut menyentuh lengan Adhit saat Adhit berbicara, gerakan kecil yang membuat mereka terlihat intim.

Di tengah obrolan serius, Adhit mulai memperhatikan Riani lagi. Riani mendengarkan obrolan bisnis dengan penuh perhatian. Ekspresi matanya menunjukkan dia mengikuti setiap poin yang dibahas.

"Istri Anda sepertinya tertarik pada proyek kami, Adhit," canda Pak Herman.

Adhit terkejut. "Ah, dia... dia memang suka hal-hal baru."

"Aku memang tertarik, Pak Herman. Dari analisis pasar yang Mas Adhit lakukan, sepertinya proyek ini memiliki potensi jangka panjang, terutama di segmen mid-low yang pasarnya belum terlalu jenuh," Riani menyela, memberikan analisis singkat yang membuat Adhit terpaku.

Riani tidak hanya tahu obrolan mereka. Dia mengerti.

"Wow, Riani. Kamu tahu banyak tentang pasar?" tanya Pak Herman kagum.

"Tidak banyak, Pak. Hanya sesekali membaca materi Mas Adhit yang berserakan di rumah," jawab Riani, merendah.

Adhit merasa ada kejutan kecil yang menyerang egonya. Riani, yang ia anggap wanita rumah tangga biasa, ternyata memiliki otak yang tajam.

"Hebat, Adhit. Kau tidak hanya mendapatkan istri cantik, tapi juga otak yang cerdas," puji Pak Herman.

Adhit hanya bisa tersenyum kaku. Ia merasa Riani semakin sulit untuk didefinisikan. Ia sudah menetapkan Riani sebagai 'musuh' yang mudah ditebak, tapi Riani terus menunjukkan sisi-sisi yang membuatnya bertanya-tanya.

Pesta selesai. Di mobil, suasana sudah tidak sedingin sebelumnya. Ada lapisan rasa penasaran yang menyelimuti Adhit.

"Kau tahu tentang analisis pasar?" tanya Adhit, langsung ke intinya.

"Sedikit," Riani menjawab, menatap ke luar jendela lagi.

"Jangan merendah. Itu bukan 'sedikit'. Kenapa kau tidak pernah bilang kau cerdas?"

Riani menoleh. "Apa gunanya? Kau sudah membuat kesimpulan tentang siapa aku di hari pertama, Mas Adhit. Aku tidak perlu menghabiskan energiku untuk mengubah kesimpulanmu. Tugasku bukan menjadi sekretarismu, tapi menjadi istrimu dalam skenario ini."

Jawaban itu benar-benar mengakhiri percakapan. Riani kembali menunjukkan sikap pasif-agresif yang membuatnya selalu unggul dalam setiap argumen.

Sesampainya di rumah, mereka langsung menuju kamar masing-masing. Adhit memasuki kamarnya, tapi ia tidak bisa tenang. Ia membuka laptopnya. Ia mencari di Google, mencoba menemukan jejak digital Riani.

Riani, janda, hutang budi.

Tidak ada apa-apa yang signifikan. Tidak ada skandal, tidak ada berita negatif, hanya beberapa foto lama yang buram.

Adhit merasa frustrasi. Ia butuh tahu siapa Riani. Jika ia ingin mengalahkan Riani dalam permainan ini, ia harus tahu motif Riani.

Di malam yang sama, Adhit tidur dengan perasaan gelisah. Kebenciannya terhadap Riani mulai terasa samar, digantikan oleh rasa penasaran yang terus tumbuh. Ia tidak lagi membenci Riani karena Riani ada di sana. Ia membenci Riani karena Riani tidak bisa ia pahami.

Keesokan harinya, saat Adhit bersiap ke kantor, ia melihat Riani sudah duduk di ruang tamu, bukan di meja makan. Ia sedang menelepon.

"Iya, Tante. Aku tahu. Tapi aku akan tetap melunasinya sendiri. Aku tidak mau Mas Adhit tahu. Aku tidak mau dia berpikir aku menikahinya demi menutupi hutangku," Riani berkata dengan suara pelan, tapi cukup jelas didengar Adhit.

Adhit berhenti di tangga. Ia mendengar kata-kata kunci: hutang, melunasinya sendiri, tidak mau Mas Adhit tahu.

Riani melihat Adhit berdiri di tangga. Ia segera memutus teleponnya. Wajahnya tegang.

"Maaf, Mas Adhit. Aku tidak tahu kau sudah di sini," Riani berkata, menyembunyikan ponselnya.

Konflik baru muncul. Adhit menangkap potongan percakapan yang menjelaskan mengapa Riani bersedia menikah: hutang. Tapi Riani juga ingin melunasinya sendiri, bukan dengan uang Adhit.

"Hutang apa?" tanya Adhit, nadanya menuntut.

Riani menggeleng. "Itu bukan urusanmu, Mas Adhit. Itu urusanku. Dan aku sudah bilang, aku tidak akan menyentuh uangmu untuk ini."

"Tapi kau menikahiku karena itu! Itu sudah jadi urusanku!" seru Adhit.

"Aku menikahimu karena janji pada Ayahmu. Janji itu terpisah dari hutangku. Dan aku akan mempertanggungjawabkan keduanya secara terpisah," Riani menjawab, kembali memasang tembok ketenangannya.

Adhit mendekat. Rasa marah, penasaran, dan kekaguman yang samar-samar bercampur menjadi satu.

"Aku bisa melunasi hutangmu sekarang. Berapa pun. Asal kau jujur padaku," tantang Adhit.

Riani menatapnya, matanya menunjukkan rasa kasihan. "Kau pikir semua masalah bisa diselesaikan dengan uang, Mas Adhit? Tidak. Hutang ini adalah tanggung jawabku. Dan aku akan menyelesaikannya dengan caraku. Kau hanya perlu fokus pada bisnismu. Aku tidak akan mengganggumu."

Riani berdiri, memberikan senyum kecil, dan berjalan ke dapur. Ia meninggalkan Adhit berdiri di tengah ruang tamu, terbungkam oleh wanita yang menolak uluran bantuannya.

Adhit kini tahu ada hutang. Tapi ia tidak tahu seberapa besar, kepada siapa, dan mengapa Riani begitu mati-matian menyembunyikannya. Dan yang paling mengganggu, kenapa Riani lebih memilih untuk menjadi istri kontrak yang dibenci daripada menerima uang Adhit dan menyelesaikan masalahnya?

Riani, tanpa sadar, baru saja memberikan Adhit teka-teki yang paling rumit dalam hidupnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta & Obsesi SANG PSIKOPAT Cantik
9.5
Via terjebak dalam obsesi buta terhadap abangnya, Fatih. Namun, kehadiran Kenan yang telah memujanya sejak SMP mulai menggoyahkan hatinya. Di tengah dilema tersebut, Via menyadari bahwa perasaannya pada Fatih bukanlah cinta sejati. Akhirnya, ia memilih menerima Kenan tanpa menyadari bahwa mereka berbagi kegilaan dan obsesi yang serupa. Akankah ketulusan Kenan mampu menaklukkan sisi gelap Via yang ternyata menyimpan kepribadian seorang psikopat?
Sampul Novel Do You Love Me
9.7
Allia terkejut saat Azzel memintanya menjadi ibu bagi Lia. Sadar akan posisi Azzel yang sudah berkeluarga, Allia memilih mengakhiri hubungan mereka demi kebaikan bersama. Namun, keputusan itu justru memicu kemarahan Azzel yang arogan dan temperamental. Kini, gadis lembut ini terjebak dalam dilema antara rasa cinta dan sikap kasar sang kekasih. Mampukah Allia bertahan menghadapi tekanan dari pria yang tidak mau melepaskannya meski situasi kian rumit?
Sampul Novel HASRAT MEMBARA CEO PERKASA
8.5
Sekuel dari Cintaku Bersemi di Masa Remaja ini mengisahkan Joseph Mikuel, CEO JM Corp, yang tak sengaja bertemu kembali dengan cinta lamanya, Mary Violet. Mary, yang dulu menghilang tanpa penjelasan, tiba-tiba melamar sebagai sekretaris pribadi di perusahaannya. Menggunakan kekuasaannya, Joseph memastikan Mary diterima demi menuntaskan perasaan yang belum usai. Pertemuan tak terduga ini mengejutkan Mary dan memicu tanya: apakah cinta lama mereka bisa bersemi kembali?
Sampul Novel Istri Kedua Tersembunyi
7.9
Raine Alverez terpaksa menjadi istri kedua Leon Castello demi melunasi utang keluarganya. Meski dicap sebagai perusak rumah tangga, ia sebenarnya terjebak dalam perjanjian lama yang diatur sang taipan. Di balik status rahasia itu, Raine harus menghadapi kebencian istri pertama serta cercaan publik. Konflik batin kian memuncak saat ia mulai mencintai Leon. Di tengah intrik dan rahasia besar, Raine berjuang memahami siapa yang benar-benar bersalah dalam pernikahan ini.
Sampul Novel Jerat Cinta Sang CEO
8.9
Terusir dari rumah oleh ayahnya sendiri membuat Emma Karina terdesak hingga akhirnya menyetujui pernikahan kontrak dengan Ethan Marvino. Sebagai CEO penguasa bisnis di Pulau Bali, Ethan sangat protektif dan mengawasi setiap gerak-gerik Emma secara ketat. Namun, stabilitas hubungan mereka terancam saat Emma tidak sengaja mengungkap rahasia besar yang disembunyikan Ethan. Akankah ikatan mereka bertahan setelah kebenaran terungkap atau justru hancur selamanya?
Sampul Novel Kekasih Bayaran
8.1
Demi melunasi utang ibunya, Tiara bersedia menjadi kekasih Adrian Wiratama. Namun, ia justru dicampakkan saat Adrian memilih menikahi tunangannya. Hancur karena hanya dianggap wanita simpanan, Tiara pergi dalam kondisi hamil dan menikahi pria lain demi ketenangan. Sayangnya, hidupnya tetap menderita karena sang suami membenci anaknya. Saat Adrian muncul kembali, ia justru merebut paksa putra Tiara hingga membuat wanita itu nyaris gila dalam kepedihan.