
Bukan Bonekamu Lagi
Bab 2
Nada panggilan video memecah kesunyian malam.
Aku mendorong tubuhku bangkit dari lantai, lututku meninggalkan dua noda lembap di atas permukaan karpet sutra mahal. Aku bahkan tak tahu lagi itu air mata atau keringat.
"Vivian, kamu kelihatan parah sekali." Wajah Mia muncul di layar, ekspresinya campuran antara iba dan marah.
"Aku baik-baik saja." Kebohongan itu meluncur begitu saja, kebiasaan yang tak pernah benar-benar aku kuasai.
"Jangan bohong padaku, Sayang." Suara Mia melunak. "Kamu coba lihat ini."
Ia mengangkat iPadnya. Sebuah artikel eksklusif di Cermin Metropolitan. Judulnya terasa seperti pukulan keras di ulu hati.
[Raja Mafia Baru Novarelle, Adriel Mahendra, Berdansa dengan Pewaris Keluarga Santoso, Stella Santoso. Isyarat Bersatunya Dua Kekaisaran Kejahatan."
Dadaku mengencang.
Tarian pertama di malam penobatan.
Semalam, saat kami terjerat di antara seprai, dia bersumpah aku satu-satunya pasangannya. Sekarang, ada wanita lain di pelukannya, memakai sepatu kristal yang seharusnya jadi milikku.
Dia bahkan tidak memberitahuku kalau upacaranya sudah dimulai.
Di foto itu, Adriel mengenakan setelan hitam yang kupilihkan sendiri untuknya. Jas kustom seratus tiga puluh juta. Aku masih ingat letak setiap kancingnya.
Tangannya melingkari pinggang ramping Stella, ujung jarinya menekan kulit pucat gadis itu. Mereka berdansa begitu dekat, tubuh mereka nyaris menempel. Gaun merah darah Stella mencolok di antara hitamnya jas Adriel.
Kepala wanita itu sedikit menengadah, dengan senyum kemenangan di bibirnya.
"Lanjut baca." Suara Mia lembut, tapi terasa seperti palu godam menghantam dadaku.
Tanganku gemetar saat menggeser layar, mataku menelan setiap detail yang menyiksa.
Tangan Adriel menangkup tengkuk Stella, menariknya semakin dekat. Kakinya bahkan nyaris melilit tubuh Adriel.
Aku terpaku pada layar. Telapak tangannya yang berada di tengkuk Stella, persis seperti tempat dia menciumku semalam.
Jadi begini caranya Adriel menaklukkan wanita, gairah, kekerasan, dan hasrat yang tak disembunyikan.
"Vivian, aku cuma ingin kamu melihatnya dengan jelas. Sekarang kamu sudah tahu, kan?" Suara Mia seperti bongkahan es yang menembus dadaku.
Belum genap dua puluh empat jam sejak dia meninggalkan ranjangku, membisikkan kata-kata bahwa aku satu-satunya di hatinya.
Aku memejamkan mata, perutku terasa mual. Kepalaku menengadah, menolak membiarkan air mata jatuh lagi.
"Terima kasih, Mia. Terima kasih sudah menunjukkan ini."
Suaraku terdengar tenang dengan cara yang menakutkan, seakan-akan itu bukan suaraku sendiri.
"Kamu yakin baik-baik saja, Sayang? Mau aku ke sana?"
"Aku baik-baik saja," kataku, menahan setiap kata di antara gigi yang terkatup rapat. "Lagi pula, ini bukan sesuatu yang mengejutkan, kan?"
Begitu panggilan berakhir, jariku mengetikkan sandi yang hanya aku tahu. Deretan akun rahasia Keluarga Mahendra muncul di layar.
Setiap dolar yang pernah aku cuci untuk keluarga ini selama sepuluh tahun, setiap keuntungan, setiap proyek yang telah disahkan.
Angka yang muncul membuatku tertegun.
Jariku gemetar di atas papan ketik.
Selama sepuluh tahun aku pikir aku mengejar dongeng, tapi ternyata hanya angka-angka dingin yang berkedip inilah yang tersisa untuk kupegang.
Transaksi dimulai.
Aku melirik jam. 48 jam sebelum penerbanganku.
Cukup waktu.
'Adriel Mahendra, ini hadiah terakhirku untukmu.'
Aku bangkit dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Wanita di cermin tampak pucat, kulitnya penuh bekas kepemilikan, memar ungu kehitaman, semuanya dari Adriel.
Air panas seperti lava, membakar kulitku. Aku mengambil spons mandi dan menggosok setiap inci tubuhku, lengan, bahu, leher, dan dada.
Aku harus menghapus setiap jejak dirinya, bekas cakar jarinya, tanda bibirnya, rasa asin keringatnya, gema napas beratnya.
Semuanya harus hilang.
Serat kasar spons merobek kulitku. Butiran darah bercampur busa sabun mengalir ke saluran pembuangan. Rasa sakitnya justru membuatku sadar, mengingatkanku bahwa aku masih bisa merasakan sesuatu selain hatiku yang remuk.
Ponselku tergeletak diam di atas meja marmer. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, tak ada pesan selamat malam dari Adriel.
Bahkan kebiasaan kecil itu kini lenyap.
Aku mematikan keran. Satu-satunya suara hanyalah tetesan air yang jatuh ke ubin. Air berdarah menggenang di kakiku, membentuk aliran merah muda pucat yang perlahan tersedot ke lubang pembuangan.
Seperti sisa kehangatan di hatiku merembes keluar setetes demi setetes, hingga tak bersisa.
Anda Mungkin Juga Suka





