
Bukan Aku Yang Menjebakmu
Bab 3
Suara langkah sepatu hak tinggi menggema di sepanjang lantai marmer lobi Mahardika Corp yang mewah. Setiap kepala yang berada di sana sempat menoleh, sebagian dengan rasa heran, sebagian lagi dengan tatapan sinis. Wajah itu-yang sempat menjadi bahan gosip murahan selama berminggu-minggu-kini kembali muncul, lebih tegar dari sebelumnya.
Nadira tidak peduli pada bisik-bisik yang mulai terdengar pelan. Dia sudah menghabiskan cukup banyak waktu menelan malu. Kini gilirannya bicara.
"Aku ingin bertemu Elvano Mahardika," ujarnya tegas pada resepsionis.
Gadis di balik meja itu kelihatan ragu. "Maaf, tanpa janji, tidak bisa-"
"Beritahu dia, Nadira Anastasya ingin menemuinya. Katakan, ini tentang malam itu."
Wajah resepsionis pucat seketika. Ia segera menghubungi lantai eksekutif tanpa berkata banyak.
Butuh waktu lima menit yang terasa seperti lima jam sebelum akhirnya seorang pria berpakaian rapi-bodyguard-datang mendekat dan berkata, "Ikuti saya."
Pintu lift terbuka di lantai 42, dan Nadira dibawa menyusuri koridor senyap menuju ruang pribadi Elvano. Jantungnya berdegup keras, bukan karena takut-tapi karena marah. Marah pada dirinya sendiri karena masih mengingat suara laki-laki itu. Marah karena bagian kecil di hatinya masih menginginkan penjelasan.
Begitu pintu besar terbuka, Elvano sudah berdiri di dekat jendela kaca besar, membelakangi Nadira. Tubuh tinggi itu tampak tegang, dan tangan kanannya menggenggam gelas kristal berisi cairan kuning keemasan. Pemandangan kota Jakarta di baliknya seolah tak mampu menyaingi aura dingin yang memancar dari pria itu.
"Aku tidak menyangka kau akan punya cukup keberanian kembali ke sini," ucap Elvano tanpa menoleh.
Nadira berdiri tegak. "Aku bukan datang untuk meminta maaf, karena aku tidak melakukan kesalahan."
Elvano berbalik perlahan. Tatapannya tajam, tapi Nadira tidak mundur. "Tidak bersalah?" Suaranya pelan, namun nadanya tajam. "Kau masuk ke kamarku malam itu dengan tubuh setengah telanjang, menatapku dengan mata mabuk, dan merayap di ranjangku seperti-"
"Berhenti!" Nadira menggertakkan gigi. "Aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu! Aku tak pernah berniat masuk kamar Anda! Aku bahkan tidak ingat apa pun kecuali makan malam di ruang rapat bersama tim."
Elvano menyipitkan mata, seolah mencoba menelanjangi kebohongan dari wajah Nadira. "Lalu siapa yang harus aku percaya? Mataku sendiri atau ocehanmu sekarang?"
"Percaya insting Anda-kalau Anda masih punya hati. Apakah Anda benar-benar percaya aku, sekretaris Anda selama dua tahun, mendadak berubah jadi wanita licik yang menjebak Anda hanya untuk tidur satu malam dengan CEO?"
"Aku percaya bukti. Dan malam itu, semuanya menunjukkan kau sengaja."
Nadira tertawa getir. "Bukti? Bukti mana? Rekaman? Saksi? Atau hanya asumsi Anda karena melihatku di ranjang?"
Elvano tak menjawab.
"Anda tidak pernah bertanya padaku, tidak pernah mendengarkan penjelasan. Yang Anda lakukan hanya satu: melempar uang ke wajahku seperti aku sampah!"
"Karena aku muak!" bentak Elvano. "Aku muak karena... aku-"
Suara pria itu tercekat.
Nadira menatap tajam. "Karena apa? Karena Anda tidak bisa mengendalikan diri Anda malam itu? Karena Anda takut merasa bersalah? Karena lebih mudah menyalahkanku daripada menerima bahwa Anda juga berandil dalam kejadian itu?"
Elvano memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Ia tak menyangka Nadira akan berbicara seterang ini. Wanita itu bukan lagi sosok lemah yang dulu menangis sambil memohon penjelasan.
"Aku tidak datang untuk menggali luka lama, Elvano. Aku datang karena aku hamil."
Hening.
Seketika seluruh ruangan seperti tertelan diam. Hanya detak jam mewah di sisi ruangan yang terdengar. Elvano perlahan menoleh, wajahnya tegang. "Apa?"
"Aku mengandung anakmu," ucap Nadira dengan nada pelan namun pasti.
Elvano melangkah mendekat, matanya membelalak. "Jangan main-main denganku."
"Aku tidak pernah main-main dengan hidupku," balas Nadira. "Dan anak ini... dia bukan hasil rencana. Tapi dia nyata. Aku sudah periksa, sudah cek darah, dan ini benar. Aku hamil hampir dua bulan."
Wajah Elvano berubah. Sebagian dari dirinya ingin menyangkal, tapi bagian lain tahu Nadira bukan tipe wanita yang bermain drama demi simpati.
"Kenapa sekarang kau baru datang?" tanyanya dengan suara rendah.
"Karena aku sempat ingin menghilang dari hidupmu selamanya," jawab Nadira. "Tapi kemudian aku sadar, anak ini punya hak. Dan kau... setidaknya harus tahu bahwa dia ada."
Elvano kembali berjalan ke jendela, membelakangi Nadira. Tangannya menggenggam tepi kaca begitu keras hingga buku jarinya memutih.
"Apakah kau ingin aku menikahimu?" tanyanya tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Nadira terdiam. Ia memandangi punggung pria itu, merasakan rasa sakit lama menggedor dadanya. "Aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku hanya ingin kau tahu. Aku akan membesarkan anak ini sendiri jika perlu. Tapi aku tidak akan diam jika suatu hari dia bertanya siapa ayahnya, dan aku harus menjawab dengan kebohongan."
Elvano berbalik. Wajahnya kelam, matanya mengunci pada wajah Nadira.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah menjatuhkan bom seperti itu."
Nadira mengangkat dagu. "Aku sudah menghabiskan cukup waktu menanggung malu karena perbuatan yang tidak kulakukan. Sekarang, terserah padamu mau jadi ayah atau tidak. Tapi aku tidak akan biarkan anak ini tumbuh dalam bayang-bayang fitnah dan hinaan."
Saat Nadira berbalik, tangan Elvano menahan pergelangan tangannya. Genggaman itu kuat, tapi tak menyakitkan. "Tunggu."
Nadira menoleh, mata mereka bertemu.
"Aku ingin tahu semuanya. Apa yang terjadi malam itu... dari awal."
"Sudah terlambat untuk itu, Elvano," bisik Nadira, suara lirih penuh luka. "Yang kuinginkan sekarang hanyalah keadilan. Untukku. Dan untuk anak kita."
Ia melepaskan diri dan melangkah keluar, meninggalkan pria itu terdiam dengan matanya tertuju pada pintu yang kini tertutup rapat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Elvano merasa kehilangan kendali.
Dan ia membencinya.
Anda Mungkin Juga Suka





